• Ikuti kami :

Rohana, Sartika, dan Kartini: Dalam Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia

Dipublikasikan Senin, 28 April 2014 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

***

Tulisan ini menceritakan tentang R.A. Kartini yang telanjur dianggap sebagai tokoh pergerakan wanita Indonesia, sedangkan kedua nama lain, Rohana Kudus dan Dewi Sartika, ditempatkan pada level kedua. Dalam tulisan yang dimuat Panji Masyarakat. 22 Dzulqa’idah 1399/15 Oktober 1979, tahun XXI, halaman 35—37, penulis menjelaskan bagaimana peran Rohana Kudus yang sejak umur belia sudah membuat lembaga pendidikan untuk kaum perempuan. Diawali dengan mengajarkan baca tulis huruf Latin kepada teman-teman perempuannya di kampungnya. Selanjutnya, pada tahun 1911 didirikan sekolah untuk perempuan olehnya. Dewi Sartika sendiri, pada tahun 1894 (umur 10 tahun) sudah mengajarkan pelayan-pelayannya baca-tulis huruf latin. Pada tahun 1912 ia sudah membentuk “Sakola Kautamaan Istri” untuk kaum perempuan di Bandung.

Rohana_KudusDalam tulisannya, penulis menunjukkan kronologi kegiatan Rohana dan Sartika untuk kemudian dibandingkan dengan apa yang dilakukan Kartini. Saat keluhan-keluhan Kartini dalam surat-suratnya baru dibukukan dalam bahasa Belanda (1911), dua tokoh ini, Rohana dan Sartika, sudah melakukan aksi konkret. Karena itu, penulis mempertanyakan soal anggapan bahwa Kartini lebih berperan dalam memperjuangkan nasib kaum perempuan di Indonesia ketimbang Rohana dan Sartika. Penulis melalui tulisannya berkeinginan untuk mendudukkan ketiga pahlawan perempuan itu pada tempatnya yang layak.Berikut ini tulisan lengkapnya.

Kedudukan dan Peranan Sewajarnya

Rohana, Sartika, dan Kartini: Dalam Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia


Pendahuluan

“History”, demikian Cicero, “is the witness of times, the torch of thruth, the life of memory, the teacher of life, the messenger of antiquity.”

Sejarah tidak tahu menipu. Kekeliruan dalam penulisan sejarah mempunyai segi-segi tertentu. Dalam hal itu ada kemungkinan si sejarawan tidak tahu atau belum mempunyai bahan-bahan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Tidak mustahil pula kekeliruan termaksud sengaja dibuat oleh si penulis sejarah dengan maksud-maksud tertentu. Kendati bagaimanapun, kelancangan dalam penulisan sejarah lambat laun akan terbongkar juga. Tegasnya: pada suatu ketika harus dibongkar! Dalam rangka termaksud kita sekalian (terutama para pelajar, teristimewa yang menaruh perhatian baik tentang sejarah) mempunyai tanggung jawab moril untuk memenuhi panggilan sejarah tersebut.

Di dalam sejarah manusia, kita sering dipertemukan dengan pribadi-pribadi yang mempunyai peranan tertentu; mereka itu kerap pula dijuluki sang pahlawan. Mendengar nama Voltaire, Montesquieu, dan Rousseau, kita teringat akan Revolusi Perancis yang diilhami mereka dan memberi inspirasi pada revolusi-revolusi lainnya kemudian. Mendengar Lenin kita teringat akan Revolusi Rusia yang telah menumbangkan kekuatan Tsar di sana, yang bagi kaum komunis merupakan starting point menuju arah masyarakat tidak berkelas. Demikianlah sekadar menyebut beberapa contoh, yang sesungguhnya masih dapat disambung dengan parade contoh-contoh lainnya, seperti: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno dan Hatta-nya.

Dalam rangka memperingati hari wafatnya Dr. Allamah Muhammad Iqbal pada tanggal 21 April 1952 yang lalu, Bung Karno antara lain berkata, “Hanya satu bangsa yang berjiwa besar dapat menghargai jasanya pahlawan-pahlawan yang besar. Suatu bangsa yang berjiwa kecil tidak dapat menghargai jiwa pahlawan, oleh karena jiwanya tidak dapat ‘menangkap’ kebesaran si pahlawan itu.” Selanjutnya beliau berkata pula: “Saya bergembira bahwa bangsa Indonesia dapat ‘menangkap’ kebesaran si pahlawan itu.” Selanjutnya beliau berkata pula: “Saya bergembira bahwa bangsa Indonesia dapat ‘menangkap’ kebesaran pahlawan Iqbal sebagaimana dapat ‘menangkap’ kebesaran pahlawan-pahlawan lainnya.”

Tiap-tiap negara mempunyai pahlawan yang dihargai dan dihormati warga negaranya, yang antara lain terdiri atas pahlawati atau pahlawanita (pahlawan wanita). Di Perancis, orang mengenang Joan d’Arc (meninggal dibakar hidup-hidup pada tanggal 30 Mei 1431) sebagai dara pahlawati pembebas negerinya dari kepungan Inggris. Di India, orang menghormati Sarojini Naidu (1879-1949) sebagai patriot, pujangga dan pejuang emansipasi wanita di negerinya. Di Amerika Serikat, orang menyanjung Jane Adams (1860—1935), Clara Barton (1821—1912), Hellen Keller (1880—…) dan Eleanor Roosevelt (1884—…)—masing-masing sebagai pejuang sosial, pencinta manusia, penegak palang merah di negerinya, wanita luar biasa, dan terakhir wakil wanita AS di forum gelanggang internasional. Selanjutnya di Polandia, orang menghargai jasa Manya Seklodovska, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Marrie Currie (1867—1934), sebagai wanita genial dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Di Inggris, orang menghormati Florence Nightingale (1820—1908) sebagai juru rawat teladan. Demikianlah sekadar menyebut nama dan negeri mereka.

Siapakah yang dianggap pahlawanita yang dihargai dan dihormati oleh kaumnya di Indonesia ini? Adi Negoro (dalam ensiklopedia yang disusunnya)—sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya—mencatat: Kartini! Putri bangsawan yang telah menyapu iblis kekunoan dan kekolotan yang bersimaharaja di negerinya. Orang-orang telah banyak yang mendewikan Kartini. Salah satu (jadi bukan satu-satunya) contoh, baiklah kita ungkapkan:Meneropong Gerakan Wanita di Dunia.

Syahdan tersebutlah sebuah buku berjudul Meneropong Gerakan Wanita di Dunia, terbitan Djambatan, Amsterdam-Jakarta, tidak disebutkan siapa gerangan penulisnya. Titel buku tersebut sudah menunjukkan apa kira-kira kandungannya. Setelah menjelajahi antarbenua, sampailah pembahasan buku tersebut pada “Wanita Indonesia”, yang antara lain ditulisnya:

“Bilakah wanita Indonesia mengenal ‘dunia luar’? Lebih terang dan nyata lagi bila pertanyaan itu kita mudahkan dengan: Bilakah anak-anak perempuan Indonesia mulai masuk sekolah, mulai menerima pelajaran serupa dengan saudara-saudaranya anak-anak laki-laki? Jawabannya setelah buku Door Duisternis tot Licht terbit dalam tahun 1911(!!!-ESA). Buku tersebut adalah karangan almarhumah R.A. Kartini dipilih, dikumpulkan dan diterbitkan oleh Mr. Jacques Henry Abendanon, yang antara tahun 1900-1905 menjabat direktur v.h. departemen Onderwijs, Erendienst en Nijverheid di Hindia Belanda. Surat-surat Kartini ditulisnya antara tahun 1899-1904.”

Menelaah artikel termaksud penulis tersenyum dikulum: penulis buku (Meneropong Gerakan Wanita di Dunia) sungguh berani meneropong gerakan wanita di benua demi benua, namun ironis dan tragisnya, tidak meneropong gerakan wanita di negerinya sendiri dengan teliti.

Buku Kartini tersebut pertama kali diterbitkan dalam bahasa Belanda. Bagaimana mungkin bisa memelekkan wanita Indonesia yang menurut pengakuan penulis sendiri: masih buta huruf (baca: buta huruf Latin. Karena sejak Islam sampai di Indonesia, Muslimat Indonesia sudah melek huruf Al-Quran). Apa pula menelaah buku berbahasa Belanda. Baru pada tahun 1922 buku Kartini tersebut disalin ke dalam bahasa Melayu. Akan tetapi baiklah “gugatan” penulis termaksud kita lupakan. Akan tetapi bagaimana dengan kenyataan Rohana Kudus di Minangkabau dan Raden Dewi Sartika di Pasundan?

Rohana Kudus: Srikandi Indonesia kelahiran Minang

Rohana dilahirkan di Kota Gedang pada tanggal 24 Desember 1884. Pada tahun 1896, yakni dalam usia 12 tahun (jadi, empat tahun sebelum Kartini menulis surat-suratnya dalam bahasa Belanda yang mengukuhkan kedudukannya dalam sejarah gerakan wanita di Indonesia), Rohana telah mengajar membaca dan menulis teman-teman gadis sekampungnya. Pada tanggal 1 Februari 1911 (jadi, pada tahun terbitnya buku Kartini dalam bahasa Belanda) dipimpinnya organisasi “Kerajinan Amal Setia” yang kemudian menjadi nama sekolahnya. Pada tanggal 10 Juli 1912 diterbitkan dan dipimpinnya sendiri surat kabar wanita Sunting Melayu sampai tahun 1920. Kemudian beliau memimpin pula gerakan surat kabar Perempuan Bergerak.

Dewi Sartika: Srikandi Indonesia kelahiran Pasundan

Sebagaimana Rohana Kudus tidak penulis berikan “Srikandi Minang”, tetapi “Srikandi Indonesia Kelahiran Minang”, demikian pula Sartika tidak penulis juluki “Srikandi Sunda”, tetapi “Srikandi Indonesia Kelahiran Pasundan”. Pernyataan penulis tersebut dalam waktu yang sama merupakan tantangan pada mereka yang menjuluki: “Sartika adalah Kartini Priangan”.

Sartika lahir 16 hari sebelum Rohana, yakni pada tanggal 4 Desember 1884. Pada tahun 1894, dalam usia sepuluh tahun, Sartika sudah berhasil mengajar tulis-baca pada para pelayannya, walaupun dilakukan secara permainan sekolah-sekolahan, sementara itu istri-istri para bupati sendiri masih belum melek huruf Latin. Pada tahun itu, R.A. Kartini sudah berusia 15 tahun dan agaknya belum mimpi-mimpi menulis surat-surat yang kemudian ternyata bersenjata bersejarah itu.

Pada tanggal 16 Januari 1904, artinya tujuh tahun sebelum buku Door Duisternis tot Licht terbit (dalam bahasa Belanda!), Sartika telah mengajar pada “Sakola Istri” di ruang persidangan kabupaten, dengan 60 orang gadis sebagai murid-muridnya yang pertama. Setahun kemudian, karena ternyata ruangan tidak mencukupi, maka sekolahnya dipindahkan ke Ciguriang, Jalan Keutamaan Istri sekarang, di Bandung.

Demikianlah, pada tahun 1904 Sartika telah mengeluarkan murid-muridnya yang pertama dengan berijazah. Murid-murid beliau itu kemudian mencar ke segenap pelosok tatar Pasundan dan kemudian masing-masing mendirikan sekolah-sekolah khas bagi wanita. Pada tahun 1912 tercatat ada sembilan buah sekolah telah berdiri dan pada tahun 1920 di semua kabupaten di tanah Sunda ini telah mempunyai “Sakola Kautamaan Istri”—malahan juga di beberapa kota kewedanaan.

Kedudukan sesungguhnya bagi Kartini

Dengan ulasan yang serbaringkas tersebut di atas, sedikit banyaknya telah makin jelaslah di mana kedudukan Kartini sesungguhnya dalam pergerakan wanita Indonesia itu. Baik juga dalam pergerakan wanita Indonesia ini. Dalam buku sejarah Indonesia (baik untuk SD maupun untuk SMP ataupun SMA, ataupun bacaan umum) masih jarang kita dapati nama Rohana dan Sartika. Kalaupun sekali-sekali disinggung, misalnya dalam hubungan dengan Sartika, sekadar sebagai “Kartini Priangan” dengan kedudukan kelas di bawah Kartini.

Seorang yang pada tahun 50-an terhitung rajin menulis sejarah tentang Indonesia, ialah Tamar Djaja. Pada tahun 1958 (tahun catatan ini pertama kali dibuat) penulis tanyakan padanya, mengapa dalam bukunya Pusaka Indonesia tidak dimuatnya riwayat Rohana dan Sartika. Tentang Rohana beliau menjawab bahwa bahan-bahan tentang pahlawan wanita itu baru beberapa tahun itu saja didapatnya.Lagipula Rohana saat itu masih hidup, sedangkan buku Pusaka Indonesia hanya memuat riwayat orang-orang besar tanah air yang sudah meninggal dunia. Tentang Sartika beliau berkata bahwa selama itu beliau belum banyak tahu-menahu tentang pahlawati kelahiran Priangan itu.

Dalam hal ini sesungguhnya Sartika masih boleh dikatakan lebih mujur ketimbang Rohana, karena Sartika pernah pula dicatat dalam Ensiklopedia Indonesia susunan T.S.G. Mulia dan K.A. Hidding, walaupun masih belum sepopuler Kartini yang juga mendapat tempat dalam ensiklopedia asing, antara lain dalam Encyclopedie voor Ledereen.

Dengan gugatan di atas hendaklah janganlah diartikan, bahwa pada satu pihak penulis mencoba menurunkan kedudukan Kartini dan pada pihak lainnya menaikkan kedudukan Rohana dan Sartika. Penulis tetap menaruh hormat kepada Kartini. Maksud tulisan ini hanyalah sekadar berusaha mendudukkan Rohana, Sartika, dan Kartini pada tempat yang sewajarnya dalam sejarah pergerakan wanita Indonesia.

Semoga catatan penulis ini mengundang perhatian pada ikhwan sejawatnya yang menaruh minat pada studi sejarah Indonesia. (Dari bandela lama: 1958).

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS