• Ikuti kami :

"Revolusi Jilbab": Ketika Jilbab Bukan Hanya Tentang Gaya
Bagian Ke 3

Dipublikasikan Sabtu, 06 Mei 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Pada semester 5 (untuk mahasiswi angkatan 86) terdapat praktika klinik di Rumah Sakit. Masalah timbul sehubungan dengan penggunaan RS St. Carolus sebagai salah satu tempat praktek. RS St. Carolus tidak menerima mahasiswi PSIK-FKUI yang berseragam dengan tutup kepala. Hari-hari praktek terus berjalan. Lima mahasiswi yang tetap bertahan dengan seragamnya berupaya mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Dekan FK, Koordinator PSIK, FSI-FKUI, dan pengurus Masjid ARH UI sehingga mereka meninggalkan praktek sekitar dua minggu. Sayangnya, peraturan akademik menyatakan bahwa mahasiswa yang tidak mengikuti praktek selama dua minggu berturut-turut dinyatakan bebas dari mata kuliah tersebut dan harus mengulanginya setahun kemudian. Ini artinya, kelulusan para muslimah tersebut harus tertunda. Setelah itu, mahasiswi berbusana muslimah diperbolehkan tidak praktek di RS St. Carolus oleh pihak pendidikan untuk tahun akademik 1989/1990.

Permasalahan di PSIK-FKUI kembali terjadi pada tahun 1991 karena mahasiswa berbusana muslimah diharuskan praktik klinika di R.S. St. Carolus dengan seragam sesuai dengan ketentuan. Serangkaian pertemuan diadakan kembali antara pihak akademik dengan mahasiswa pada bulan Januari sampai Mei 1991. Pihak akademik menghadirkan Dosen Agama YARSI yang tidak memberikan batasan aurat seperti yang diyakini mahasiswi. 12 orang mahasiswi tetap bertahan untuk memakai seragam praktek yang menutup kepala (ketika itu dikenal dengan “Jikon”= jilbab konde). Kata sepakat akhirnya dihasilkan, mahasiswi berbusana muslimah boleh tidak mengikuti praktek di RS St. Carolus cukup di RSCM.

Pada 16 Februari 1991, akhirnya terbit S.K. Dikdasmen No. 100/C/Kep/D/1991 yang mengatur pemakaian seragam khas sesuai dengan keyakinan peserta didik. Peraturan itu keluar atas desakan MUI yang juga telah mengadakan rangkaian pembicaraan dengan Depdikbud selama setahun. Selain itu berbagai protes dari siswi-siswi berjilbab yang jumlahnya terus bertambah tentu tak bisa diabaikan. Perjuangan bagi para muslimah untuk berbusana sesuai keyakinannya menemui titik terang.

Terbitnya S.K. Dikdasmen ini juga dijadikan momentum oleh para mahasiswi berjilbab FKUI untuk bernegosiasi kembali mengenai seragam praktik. Mereka mengajukan proposal disertai bukti-bukti ilmiah bahwa jilbab itu wajib, kebebasan beragama itu dilindungi UUD dan yang utama jilbab tidak mengganggu pelaksanaan kerja sebagai perawat di rumah sakit. Mereka merujuk pada al-Qur'an, UUD 45, GBHN, Sistem Kesehatan Nasional, S.K. Dikdasmen No. 100/C/Kep/D/1991, Fatwa MUI dan hasil observasi di beberapa rumah sakit Islam Jakarta. Proposal diterima pihak akademik.

Sejak tahun 1991 itu, mahasiswa berbusana muslimah memiliki seragam dengan jilbab bundar, baju lengan panjang dan celana panjang. Keberhasilan memperjuangkan pakaian seragam di PSIK-FKUI diikuti oleh akademi-akademi perawat lainnya seperti Akademi Perawat (Akper) Depkes, Akper R.S. Fatmawati dan berbagai Akper swasta lainnya. PSIK-FKUI menjadi pintu pembuka bagi kebebasan berekspresi mahasiswi di dalam dunia pendidikan tinggi.

Disadur dan disunting dari: Y. Setyo Hadi, “Jilbab: Simbol Kebangkitan Paham Islamisasi di Kampus”,  dalam Masjid Arief Rahman Hakim Universitas Indonesia: Masjid Kampus untuk Ummat dan Bangsa (Lembaga Kajian Budaya Nusantara, Jakarta, 2000 hlm. 125-131)

Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

Populer

IKLAN BARIS