• Ikuti kami :

"Revolusi Jilbab": Ketika Jilbab Bukan Hanya Tentang Gaya
Bagian Ke 1

Dipublikasikan Sabtu, 06 Mei 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Hari ini muslimah dapat merayakan pakaian dengan beragam cara. Warna-warna berbagai dan cara memakai bermacam tampil dalam keseharian berjilbab muslimah kita. Lebih jauh lagi, jilbab telah masuk ke arena peragaan busana, butik-butik ternama, dunia industri, bahkan pergaulan kelas atas. Jilbab tak lagi sekadar pertanda ketaatan dan iman, melainkan juga perlambang gengsi dan ciri pergaulan urban. Berjilbab tak kalah mentereng dari memakai rok mini.

Tentu saja perayaan jilbab semacam itu tak ada salahnya. Namun ada baiknya kita menengok ke masa-masa yang lalu. Pada suatu ketika di negeri ini, jilbab pernah dianggap lambang keterbelakangan, kampungan, anti-kemajuan, dan ketakmampuan mengikuti arus perkembangan zaman. Berjilbab di sekolah atau kampus negeri mendapat tantangan. Kaum muslimah yang berjilbab dianggap ekstrem, tak berkemajuan, dan tak taat aturan. Berjilbab memerlukan perjuangan. Bukan sekadar gaya-gayaan.

Catatan perih sekaligus goresan perjuangan ini terekam dalam sebuah buku berjudul Masjid Arief Rahman Hakim Universitas Indonesia: Masjid Kampus untuk Ummat dan Bangsa. Ada baiknya kita membacai beragam peristiwa perihal jilbab tersebut. Sebab pada akhirnya, berpakaian bagi muslim bukan sekadar gengsi dan gegayaan. Bukan sekadar industri dan perayaan kemodisan. Lebih jauh dari itu, pakaian ialah bagian dari ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya.

Nuun.id menyadur tulisan tersebut dan melakukan penyuntingan seperlunya.

***

Pada dasarnya bangsa Indonesia ialah bangsa yang beragama. Kesadaran beragama pada masyarakat kita cukup tinggi, begitu pula di kehidupan akademik kita. Hal yang sama dialami para mahasiswa aktifis masjid Arif Rahman Hakim Universitas Indonesia (ARH-UI). Kesadaran untuk menjalankan perintah agama dengan sempurna selalu bersemi pada diri aktifis-aktifis itu. Salah satu tanda kesadaran itu ialah perubahan pada tata pakaian kaum muslimah. Kesadaran untuk berjilbab dengan lebih seksama mulai hadir dalam diri pada muslimah, termasuk para mahasiswi di UI. Generasi jilbab di kampus muncul pada awal tahun 80-an dan kemudian menjadi suatu hal yang tidak 'aneh' lagi pada era 90-an. Jilbab menjadi simbol identitas muslimah menandai kebangkitan kesadaran Islam. Tahun-tahun itu ialah tahun-tahun awal dari apa yang sering disebut sebagai “revolusi jilbab”. Kota-kota besar sedang dilimpahi meningkatnya kesadaran beragama di kalangan terpelajarnya.

Di sekolah-sekolah menengah negeri favorit dan di kampus-kampus ternama para muslimah mulai mengenakan kerudung lebar yang menutupi kepala, leher hingga dada tersebut. Namun kesadaran tersebut mendapat tantangan keras. Diawali dengan SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 52/C/Kep/D/82 pada tahun 1982 tentang seragam sekolah di Sekolah Menengah. Peraturan tersebut tak memberi tempat yang cukup bagi jilbab untuk hadir di ruang pendidikan negeri.  Peraturan itu kemudian diprotes oleh beberapa siswi SMA Negeri di Jakarta. Melalui Lembaga Studi Islam, mereka melayangkan surat ke sekolah-sekolah. Berharap pemakaian jilbab bagi siswi muslimah tidak mengalami hambatan dan tekanan.

Departemen P & K saat itu memberi reaksi atas peristiwa tersebut. Dalam siaran pers-nya, Pemerintah menyatakan siap membantu siswi berjilbab untuk pindah ke sekolah swasta. Pernyataan tersebut didukung oleh Mendikbud Nugroho Notosusanto, pada tahun 1984. Mendikbud memberi pernyataan singkat: "penting sekolah atau kerudung?". Berbagai hambatan tersebut justru menguatkan tekad sejumlah siswi berjilbab untuk mempertahankan keyakinannya. Pada tahun 1988, siswi berjilbab dari SMA 1 Bogor sempat menuntut kepala sekolah ganti rugi sebesar 100 juta Rupiah. Hal tersebut dikarenakan kepala sekolah tersebut mengeluarkan peraturan, siswi yang mengenakan jilbab ke sekolah dianggap tidak mengikuti pengajaran.

Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

IKLAN BARIS