• Ikuti kami :

Proklamasi, Sudut Pandang Bung Hatta (II)

Dipublikasikan Kamis, 18 Agustus 2016 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

(Sambungan dari bagian I)

Atas anjuran Sukarni atau Jak, pasukan Peta di sana menangkap dan menawan wedana yang berkuasa di sana beserta dua atau tiga orang Jepang “Sakura” yang mengurus hal beras. Kebetulan pula hari itu Sutarjo Kartohadikusumo, yang pada waktu itu menjadi syucokan Jakarta, singgah di Rengasdengklok untuk memeriksa keadaan persediaan beras, dan ia ikut ditawan. “Coup d’etat” ini terjadi dalam keadaan aman dan tenteram, sehingga tak banyak orang yang mengetahui. Mungkin seorang juru tulis yang tajam pandangannya akan bertanya: untuk siapa dan atas nama siapa Peta itu merebut kekuasaan setempat? Untuk dan atas nama Indonesia Merdeka? Indonesia Merdeka pada hari itu belum lahir. Pemerintah revolusioner pun belum ada!

Waktu sore datang Mr Subarjo sebagai utusan Gunseikanbu menjemput kami. Sukarni tidak menentang. Demikianlah malam itu kami kembali ke Jakarta disertai juga oleh Sutarjo dan Sukarni sendiri. Satu-satunya soal yuridis yang timbul ialah pertanyaan kepada pasukan Peta di sana: “Apa yang akan diperbuat dengan wedana yang ditawan?” Kami jawab lepaskan saja ia. Dari mulai malam itu juga pimpinan revolusi yang akan bermula, jatuh kembali ke tangan Sukarno-Hatta.

Lewat tengah malam setelah mengadakan perundingan dengan sumobuco di mana ternyata Jepang telah mengambil sikap sebagai jurukuasa yang menerima perintah dari Sekutu, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh segala anggota Badan Persiapan, wakil-wakil pemuda dan wakil-wakil beberapa golongan dalam masyarakat. Dalam sidang ini atas anjuran golongan pemuda ditetapkan dengan suara bulat, bahwa Proklamasi Indonesia Merdeka hanya ditandatangani oleh Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi (waktu Indonesia) ini Proklamasi itu dimaklumkan kepada khalayak, disusul dengan menaikkan bendera “Sang Merah Putih”.

Pemuda, mahasiswa, pegawai Indonesia pada jabatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu ke seluruh daerah. Dan wartawan Indonesia yang bekerja pada Domei menyiarkan Proklamasi Indonesia Merdeka ke luar negeri.

Maka Revolusi mulai berjalan!

Keesokan harinya Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang telah ditambah anggotanya dengan putusan sendirinya mulailah bekerja menyusun sendi pemerintahan negara.

Ditinjau dari bukti-bukti yang nyata, pernyataan kemerdekaan Indonesia tidak menjadi soal. Yang menjadi soal ialah caranya.

Golongan pemuda di Jakarta yang bernama Angkatan Pemuda Indonesia (API), mahasiswa dari Sekolah Tinggi Kedokteran beserta golongan Sjahrir, berpendapat setelah diketahui Jepang menyerah, bahwa Proklamasi Indonesia Merdeka dilakukan “secara revolusioner”, yaitu lepas dari segala yang berbau buatan Jepang. Indonesia buatan Jepang pasti dibasmi oleh Sekutu. Bukan Panitia Persiapan Kemerdekaan yang harus melakukannya, akan tetapi Bung Karno sendiri sebagai pemimpin rakyat menyatakan dari muka corong radio ke seluruh dunia bahwa Indonesia merebut kemerdekaannya dari kekuasaan Jepang.

Menurut pendapat kami, Proklamasi Indonesia Merdeka harus ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia karena mereka dianggap mewakili seluruh Indonesia. Jika perlu ditambah dengan beberapa anggota lainnya yang mewakili berbagai golongan dalam masyarakat. Sekalipun utusan-utusan dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil, dan Maluku itu diangkat oleh Jepang, suara yang mereka perdengarkan untuk menyatakan Indonesia Merdeka adalah suara yang cita-citanya rakyat. Dengan ikutnya mereka, terdapatlah simbol persatuan seluruh Indonesia. Rasa persatuan Indonesia itu sangat penting dalam menyelenggarakan Revolusi Nasional. Dan rasa persatuan ke dalam itu lebih penting daripada pertimbangan yuridis dari luar apakah badan ini diangkat oleh Jepang atau tidak.

Soal masa datang yang harus dihadapi bukanlah soal terhadap Jepang yang tidak berkuasa lagi, melainkan sikap terhadap Sekutu yang akan mengembalikan kekuasaan Belanda atas Indonesia. Sebab itu persiapan revolusi bukanlah seharusnya ditujukan kepada Jepang yang sudah masuk zaman yang lampau, melainkan Belanda yang akan kembali menjajah.

Demikianlah perbedaan pendapat yang principeel antara golongan Sukarno-Hatta yang dianggap menempuh jalan legal dan golongan API-mahasiswa-Sjahrir yang menganggap jalan mereka revolusioner.

Dipandang dari jurusan yuridis-formil, memang sikap yang kemudian ini “revolusioner” kelihatannya. Dengan cara yang mereka anjurkan kelihatan Indonesia Merdeka adalah hasil tindakan sendiri dan bukan buatan Jepang.

Akan tetapi ditinjau dari keadaan yang nyata, alasan yuridis-formil itu tidak besar artinya. Revolusi tidak berhitung dengan soal yuridis-formil, melainkan dengan tenaga dan kekuatan yang ada. Orang Belanda yang mau mengembalikan kekuasaannya ke Indonesia tidak menimbang-nimbang apakah kemerdekaan itu buatan Jepang atau  buatan Indonesia sendiri. Bagi mereka tiap-tiap revolusi yang akan melenyapkan kekuasaannya adalah anti-gezag dan harus dibasmi.

Suatu bukti yang nyata, yang tak dapat ditiadakan dengan alasan yuridis-formil, ialah bahwa persiapan untuk Indonesia Merdeka sudah bermula di dalam zaman Jepang. Undang-Undang Dasar yang berlaku lima tahun dalam Republik Indonesia diperbuat dalam zaman Jepang oleh Panitia Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia. Panitia persiapan yang sesudahnya Proklamasi 17 Agustus 1945 hanya mengadakan beberapa perubahan saja, yang tidak mengenai pokok.

Dan apabila benar orang menghendaki tindakan yang betul-betul revolusioner, lepas dari perhubungannya dengan masa lampau, maka seharusnya proklamasi itu dilakukan oleh orang-orang baru sama sekali yang namanya tidak tersangkut dengan kerja sama dengan Jepang. Setidak-tidaknya bukan oleh Sukarno-Hatta. Akan tetapi dalam hal ini kombinasi API-mahasiswa-Sjahrir tak sanggup. Mereka tidak opgewassen (mampu mengambil alih–penyunting) menghadapi situasi revolusioner yang mereka ciptakan sendiri. Inilah kelemahan mereka dalam batinnya.

Mereka terpaksa juga bergantung kepada Sukarno-Hatta untuk mencapai suatu tindakan revolusioner memproklamirkan Indonesia Merdeka. Atau, sebagaimana sikap Sjahrir kemudian, ia memisahkan diri, tidak ikut Proklamasi dan tidak aktif dalam politik sesudah Proklamasi, menolak angkatannya jadi anggota Komite Nasional dan mengambil sikap menunggu waktu yang baik. Sikap ini bukanlah sikap yang dapat disebut menyelenggarakan revolusi, karena untuk revolusi tak boleh waktu terbuang.

Kelemahan batin kombinasi tiga tadi, yang merasa tidak mampu menyelenggarakan sendiri suatu tindakan yang mereka ciptakan, menetapkan dari semulanya kegagalan segala tindakan mereka yang berikut. Golongan API yang dipimpin oleh Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, dan Wikana yang disertai juga oleh Dr Muwardi sonder Barisan Bantengnya, mau memaksa Bung Karno jadi boneka untuk melakukan segala kemauan mereka. Taktik mereka ialah gertak dan intimidasi. Di sini mereka membuktikan tidak mengetahui intimidasi. Di sini mereka membuktikan tidak mengerti hukum revolusi, bahwa revolusi tidak dapat dipimpin oleh seorang boneka. Maunya dipimpin langsung sendiri, dengan tanggung jawab penuh. Revolusi hanya berhasil jika dikemudikan oleh pemimpin yang tahu apa maunya, pandai memperbuat perhitungan yang tepat dan pandai mengukur tenaganya sendiri terhadap tenaga lawannya.

Kelemahannya pula ialah bahwa kombinasi tiga ini tidak satu dalam tujuannya dan dalam semangatnya. Golongan Sjahrir yang kemudian berpendapat tindakan Sukarni cs itu menuju chaos dan anarchi, melepaskan diri dari tindakan bersama tadi dan—seperti disebut di atas—mengambil sikap menanti. Golongan mahasiswa pun insaf kemudian, bahwa mereka diperalat saja oleh Sukarni cs dan ditipu dengan gambaran yang tidak benar tentang keadaan politik dan tenaga perjuangan rakyat. Hati pemuda yang revolusioner-romantik dan perwira, dipikat oleh Sukarni dengan keterangan, bahwa tanggal 16 Agustus pukul 12 tengah hari 15 ribu rakyat akan menyerbu ke kota dan itulah saat yang baik bagi Peta dan pemuda untuk beserta merubuhkan pemerintahan Jepang. Pelajar-pelajar ini mengira, bahwa Peta seluruh Jawa telah siap untuk mengadakan coup de’etat yang direncanakan, bahwa pemuda seluruh Jawa berdiri di belakang API.

Akan tetapi keadaan yang sebenarnya ada lain. Pada saat yang ditentukan itu tidak ada yang terjadi di Jakarta maupun di luarnya. Tak ada 15 ribu rakyat yang bergerak ke kota, tak ada Peta yang bertindak, gerakan pemuda di tempat-tempat lain tak tahu apa yang direncanakan oleh API. Mahasiswa yang kecewa tadi berbalik membelakangi Sukarni cs. Dalam pembentukan Komite Nasional pusat tanggal 19 Agustus, ketuanya menjalankan dengan resmi bahwa golongan mahasiswa berdiri di belakang Sukarno-Hatta.

Jauh daripada suatu kemenangan dari pemuda, penculikan Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok dan kembalinya hari itu juga ke Jakarta adalah suatu pembuktian kepada sejarah daripada bangkrutnya suatu politik dengan tiada perhitungan, yang semata-mata berdasar pada sentimen. Pernyataan pula daripada politik tidak mampu! Karena penculikan itulah maka Proklamasi Indonesia Merdeka, yang mulanya kami tetapkan tanggal 16 Agustus, jadi terlambat satu hari.

Dengan kupasan di atas kami tidak bermaksud mengecilkan jasa pemuda dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jasa pemuda kita besar sekali. Juga mereka, yang tindakannya tidak selalu saya setujui dan bertentangan dengan pendirian kami, dapat saya hargai jasanya. Sikap mereka yang mau benar sendiri dan segera curiga kepada pendirian yang berlainan, banyak menyulitkan jalannya perjuangan. Akan tetapi, apabila semangat mereka tidak begitu meluap-luap pada permulaan Revolusi Nasional kita, maka sukarlah kiranya menghidupkan perjuangan rakyat yang begitu hebat, hingga sanggup menderita bertahun-tahun lamanya.

Kegiatan pemuda bertindak dan mendesak menjadi pendorong bagi pemimpin-pemimpin untuk sadar akan tanggung jawabnya dan mengundurkan diri kalau ia tak mampu. Tidak dapat disangkal bahwa pemuda dan rakyat beserta alat-alat negara Republik Indonesia adalah motor daripada Revolusi Nasional kita. Gambaran bahwa hanya pemuda yang memegang obor Revolusi adalah gambaran yang salah.

Ada golongan pemuda yang berkehendak dari semulanya, supaya pimpinan revolusi di tangan mereka. Tetapi, apabila pimpinan itu tidak diperoleh, janganlah disalahkan orang lain. Carilah keterangannya pada diri sendiri dan pada hukum sejarah yang berdasarkan atas keadaan yang nyata, menempatkan tiap-tiap golongan pada tempat yang seukuran dengan kesanggupannya dan sesuai dengan mentaliteitnya.

Pimpinan dalam revolusi tidak dapat  dituntut, melainkan diperoleh atas kepercayaan rakyat kepada pemimpin-pemimpinnya. Pilihan rakyat mungkin salah, tetapi selama rakyat percaya pada pemimpinnya, selama itu Revolusi dijunjungnya. Hanya kepercayaan rakyat akan kemenanganlah yang membawa kemenangan bagi Revolusi.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS