• Ikuti kami :

Pramoedya Berceloteh Tentang Tuhan

Dipublikasikan Senin, 31 Juli 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Kemajuan suatu bangsa atau peradaban sering ditandai dengan kecanggihan cara berfikir yang mampu menghasilkan berbagai gawai yang amat memudahkan hidup. Kemampuan berfikir kritis dan nalar rasional adalah di antara syarat dihasilkannya peradaban ulung tersebut. Semakin sedikit orang yang percaya pada hal-hal di luar penalaran, maka semakin majulah masyarakat tersebut. Ketidakpercayaan terhadap hal-hal gaib dianggap merupakan sebuah perkembangan positif. Banyak yang berkeyakinan seperti itu.

Dalam rubrik Khazanah kali ini, komunitas NuuN menampilkan kembali tulisan Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan yang berkali-kali masuk dalam nominasi penerima Nobel Sastra. Ia menyampaikan persoalan tentang Tuhan dalam kesusastraan. Bagi Pram, sebagian masyarakat masih memahami Tuhan hanya untuk diimani tanpa perlu difikirkan. Sementara Pram menganggap kefanatikan terhadap pemahaman semacam itu menunjukkan cara berfikir yang terbelakang dan amat merugikan. Menurut Pram, jika pemaknaan manusia terhadap Tuhan tidak bisa menolong kepribadian dan kemanusiaan, maka (makna) Tuhan itu layak dikritik.

Demi kemajuan, makna Tuhan harus mengalami perkembangan pemikiran. Menurut Pram, sastra adalah media terbaik bagi mereka yang tidak punya kekuasaan (jabatan dan kekayaan)  untuk memajukan cara berfikir masyarakat mengenai konsep Tuhan. Oleh karena itu, bagi Pram, cemoohan terhadap Tuhan dalam karya sastra tidak perlu dikhawatirkan. Hal itu justru menunjukkan kedewasaan. Pram memimpikan masyarakat yang berkukuh pada nalarnya. Paling tidak, Tuhan harus  dicerap secara rasional. Tentu rasio yang dimaksud adalah rasio dalam pandangan barat. Perkembangan yang sekular tersebut tak terlepas dari trauma Barat pada agama.

Pada abad pertengahan, masyarakat Barat mengalami masa kegelapan. Agama dan gereja yang berkuasa ketika itu tidak memberi manusia kebebasan untuk berfikir dengan kritis. Salah satu akibatnya, lahirlah pertentangan dan ketegangan antara sains dengan agama. Selama ratusan tahun, kemajuan sains dibatasi dan para saintis dieksekusi. Pengalaman pahit dalam zaman yang panjang itu menyebabkan masyarakat Barat, secara kolektif, menyimpulkan bahwa agama bahkan Tuhan adalah penghalang manusia untuk berkembang, mencapai kemajuan dan menghasilkan peradaban yang tinggi.

Dalam Islam ketegangan antara sains dan agama tak pernah terjadi. Tasawuf, Kalam, dan Filsafat Islam tidak mengalami benturan seberat pengalaman Barat. Dalam tulisan yang pernah dimuat dalam majalah Pujangga Baru, Tahun ke-XIII, No. 10--11 April Mei 1952, hlm. 373--377 ini, Pram mendorong para pembacanya, orang Indonesia, umat Islam juga, untuk menjauhi kefanatikan terhadap suatu pemahaman mengenai Tuhan, menghalau berbagai kerugian atasnya dengan mengembangkan rasionalitas. Boleh jadi Pram hanya melihat pengalaman Barat ini sebagai satu-satunya jalan mencapai kemajuan. Agama, dalam hal ini Islam, tak dikenali Pram sebagai tatanan falsafah yang memadai untuk memandang segala persoalan demi mencapai peradaban yang unggul. Ia hanya mampu melihat persoalan dari sudut pandangnya sendiri dan menawarkan solusi dalam cara pandang yang kental dengan worldview Barat.

***

Masalah Tuhan dalam Kesusasteraan

Pramoedya Ananta Toer

Soal Tuhan adalah soal yang tiada habis-habisnya sejak dulu. Untuk mendapat Tuhan, terlebih dahulu orang menyiapkan diri dengan kepercayaan sebagai konsesi. Dengan tiada ini, ia akan lenyap. Kepercayaan adalah pula hal yang sangat luas, yang mana dengan tiada kejujuran akal, sifatnya sebagai kepercayaan hilang-lenyap. Dan apabila kepercayaan bukan buah hasil akal yang mencari sehingga dengannya seseorang tak perlu mencari lagi, dan akalnya terlepas dari suatu beban tersebut untuk mengambil beban yang baru, maka ia akan berubah roman bersama sendi-sendinya: kefanatikan. Dan sepanjang sejarah orang-orang fanatik inilah yang dijadikan umpan di tiap medan pertempuran untuk kepentingan mereka yang berfikir, mereka yang sanggup menggerakkan masa dan akhirnya pula yang mengecap nikmat buah amal masa yang fanatik. Dan kefanatikan itu pula yang membuat orang jadi buta akal, yang cuma melihat satu sinar saja dan itu pula yang ditujunya, hendak direguknya habis-habis, dan sebagaimana halnya dengan laron mencari api, dia terbakar kena apinya-kematian yang romantis. Dan kematian-kematian yang romantis ini selalu datang dan pergi sepanjang zaman, juga dalam buku-buku dalam tiap zaman.

Bagi mereka yang tidak atau tidak mau mengikuti perkembangan alam pikiran individu, memang merasa janggal rasanya bila membaca buku-buku yang antara lain di dalamnya termaktub kalimat-kalimat yang sekan-akan atau memang dengan sengaja meniadakan, mengejek, atau mengingkari adanya Tuhan. Perkataan janggal adalah terlampau lunak untuk itu. Sebaiknya, perkataan itu diganti dengan marah. Dan ini adalah soal yang gampang dimaklumi. Diktator Kebiasaan yang turun temurun itu memang menghendaki agar semua dapat terangkum dalam kekuasaannya. Tapi, sebagaimana juga dalam segala macam ketertiban kemasyarakatan, maka dalam hal ini pun ada berandal-berandal yang menentang kediktatoran Kebiasaan. Dan sepanjang sejarah, mereka ini adalah perintis jalan baru atau dia yang terkutuk dalam perngertian yang luas atau sempit, atau dia adalah kedua-duanya sekaligus.

Dengan kemajuan ilmu pegetahuan dan kestatisan kepercayaan, maka Tuhan seakan-akan mendapat tempat dua macam dalam jiwa manusia. Tuhan di satu tempat adalan Tuhan yang dikehandaki agar dipercaya, dianut, dipatuhi. Tuhan di tempat lain lagi adalah Tuhan sebagai objek, sebagai sesuatu yang dikehendaki agar diurai, difahami.

Jadi kita mengenal Tuhan di dua tempat: Yang harus dipercayai dan Yang harus difahami. Yang pertama adalah akibat—atau hendaknya sebagai akibat—dari yang kedua. Bila yang ada pada seseorang hanya Yang pertama belaka, ini tidaklah mengherankan. Ini adalah suatu soal tukang sulap yang mana seluruh jawaban sudah sedia. Yang kedua adalah soal pencarian, pengertian, perjuangan jiwa—tak ubahnya dengan seseorang yang dengan tekunnya mencari unsur-unsur yang baru yang belum pernah dikenal orang, atau mendapat obat baru yang belum pernah didapatkan orang, atau kelangsungan sejarah kemanusiaan. Kebimbangan atau kesangsian yang sehat adalah lebih baik daripada kepercayaan atau keyakinan yang buta, dan yang hanya baik bagi golongan yang kehilangan akalnya.

Buat mereka yang memandang Tuhan sebagai titik mati yang tak boleh disinggung-singgung, sesungguhnya tidak perlu benar mengutuki demokrasi yang mengakui hak-hak asasi pada manusia, yang mana dengan hak-hak ini pula Sokrates (dalam demokrasi antiknya) mengejek demokrasi yang memberinya hak untuk mengejeknya, tapi juga yang telah mempergunakan hak-haknya untuk meruntuhkan kekuasaan sofisme, dan jadi perintis baru dalam lapangan filsafat, dan sebagai konsekuensi dari keberandalannya, ia harus kehilangan nyawanya sendiri. Dan dengan tiada perintis-perintis sebagai ini, lapangan pemikiran—juga di lapangan ketuhanan—hanya terbatas pada selingkungan kata-kata belaka, dan kemudian pengertian akan tersepak kian kemari. Orang akan terjerat dalam kekuasaan dogma-dogma melulu. Dan sesungguhnyalah: kematian di selingkungan kata-kata belaka adalah kematian yang selamanya mengikuti di belakang tiap perkembangan atau kemajuan. Dan kemampusan ini selamanya menjadi bahaya yang mengancam kedewasaan fikir manusia dari abad ke abad.

Keberanian menghadapi yang baru sangat diperlukan dalam masa perubahan: keberanian yang terbit dari hati yang jujur. Juga keberanian mengaji asas-asas pemikiran yang sesungguhnya jadi jalan untuk mengerti, memahami. Dengan tiada keberanian ini, jalan ke arah penindasan hak-hak asasi terbuka luas-luas.

Kemampusan diselingkungan kata-kata belaka ini sesungguhnya adalah kemampusan yang dimulai dari alam fikiran manusia sendiri. Hanya keberanian yang sanggup menghindarkan kemampusan ini. Orang tahu, bahwa tiap istilah bergeser-geser pengertiannya sepanjang waktu dan keadaan untuk mendapatkan kemasakannya sendiri. Tiap istilah, tiap pengertian, juga tiap pengertian tentang Tuhan.

Kesusastraan sebagai pencerminan kehidupan kemasyarakatan, tentu saja mau tak mau membawa-bawa masalah Tuhan ini di dalamnya. Di lapangan ini, terdapat juga dua tempat untuk Tuhan, yang mana seperti disebutkan di atas: Yang harus dipercayai dan kedua Yang harus difahami. Tuhan di tempat pertama, yang dianggap sebagai pemecah dari segala masalah, adalah yang paling biasa dalam kesusasteraan seperti halnya dalam kehidupan kemasyarakatan. Tuhan di tempat kedua lambat laun tapi pasti kini mulai merayap dalam kesusastraan Indonesia. Suatu hal yang mesti dan harus terjadi, dalam kehidupan masyarakat Indonesia, pun Tuhan yang harus dipercayai, disembah, dan dipohoni, dalam kebimbangan orang terhadapnya. Ia menjadi sesuatu yang harus difahami. Pengertian manusia terhadap sesuatu mendekatkan dia pada sesuatu itu sendiri sekalipun sesuatu itu ada dalam berbagai nama. Dan pemujaan selamanya memberikan kesan, bahwa ada suatu penindasan rohani yang sebenarnya tidak perlu diperkuat dalam suatu ketertiban tertentu.

Pemujaan adalah sahabat karib kefanatikan yang biasanya bergandengan tangan dan tiap kesempatan dipergunakan mereka untuk membunuh akal: malakul maut kemerdekaan berfikir dan kemajuan. Kedua-duanya akan mengakibatkan pembakaran hati mereka yang dihinggapi bila kedua-duanya itu tersinggung oleh barang keras atau lunak—barang yang tak dikehendaki. Tetapi keadaan dan waktu selamanya memberikan kemungkinan baru untuk tiap perkembangan, dan dalam hal ini, rintangan dari pemuja-pemuja akan membangkitkan konflik kemasyarakatan yang berpangkal pada konflik pemikiran. Dan konflik-konflik semacam itu akan terus menerus selama dalam masyarakat itu sendiri masih ada semangat hidup pada anggota-anggota masyarakatnya. Jumlah tidaklah jadi faktor yang menentukan, tapi pembuatan jalan ke arah keinsyafan baru yang jadi pokok soal.

Tentu saja perintisan jalan ke arah keinsyafan baru itu membutuhkan tujuan dan keberanian yang berpangkal pada tujuan; dan kejujuran yang disebabkan karena pemilikan pribadi sendiri kembali. Dengan tiada ini bahaya kematian di selingkungan kata-kata belaka sudah lama menerkamnya jadi korban. Dan dalam masyarakat ini, telah begitu banyak mereka yang kehilangan kepribadiannya, kehilangan diri, telah menderita sakit keras dimakan kuman-kuman kefanatikan dan pemujaan.

Dalam kesangsian sehat yang mesti ditimbulakan oleh alam fikiran yang dinamis, orang mencari pengertian-pengertian baru yang lebih berisi, yang lebih besar dan lebih sesuai dengan kehendak jiwanya buat diisikan pada kata-kata abstrak yang telah dibuat mati. Dan dalam hal ini, masalah Tuhan termasuk di dalamnya. Dan pengertian-pengertian baru—termasuk juga tentang Tuhan—dengan sendirinya akan jauh berlainan sifatnya daripada pengertian-pengertian usang atau yang telah diusangkan yang diberikan oleh Kebiasaaan.

Kalau suatu golongan telah mencemooh Tuhan, ini bukanlah arena Tuhan itu sendiri, justru tiap orang yang berfikir ke arah itu tidaklah akan mendapat penyelesaian yang memungkinkan ia berpuas hati. Cemoohan ini adalah cemoohan yang dilemparkan oleh golongan kepada pengertian-pengertian yang diisikan pada nama itu oleh sang Kebiasaan. Dan bukan kejadian baru hal demikian, pada waktu-waktu yang tertentu, ada saja golongan baru yang berbuat demikian.

Sudah jadi kemestian bahwa orang mengertikan kata-kata abstrak dengan kemampuan rohaninya masing-masing. Dan buat suatu golongan masyarakat yang masih banyak lagi membutuhkan kemampuan rohani ini, mengertikan Tuhan sesuai dengan kebutuhanya yang ia sendiri tak mungkin dapat memenuhinya di dunia ini. Mereka mengertikan Tuhan menurut nafsunya masing-masing yang tak dapat dipuaskan di dunia ini. Dan tidaklah mengherankan mengapa kadang-kadang Tuhan diartikan sesuatu yang maha-maha kuasa, yang sanggup memuaskan segala nafsu kebinatangan mereka, nafsu yang tak kan mungkin dipuaskan di dunia ini dalam keseluruhan hidup seseorang makhluk, nafsu yang tak lagi terangkum dengan kekuatan jasmaninya terutama. Dan karena itu bukanlah hal yang mengagumkan lagi bila golongan demikian menganggap Tuhan yang dipujanya sebagai kepala harem besar (atau sebutlah yang lebih ekstrem lagi: bordeel) dengan sorganya yang penuh bidadari, ideal hawa nafsu sejati—sebagai komandan Kempei (dengan nerakanya lengkap dengan tukang siksa-tukang siksa)—sebagai diktator (karena tak ada di antara keputusannya yang diambil secara parlementer, yang mana seluruh kekuasaan mutlak ada padanya).

Teranglah bahwa golongan yang mengingkari Tuhan pada hakikatnya mengingkari pengertian yang diberikan pada nama tersebut. Pengertian seperti tersebut di atas terbit dari jiwa yang masih harus banyak lagi mengisi diri dengan kejujuran. Dan ini tak dapat diharapkan dapat terlaksana dari kalangan besar. Ini hanya bisa terjadi bila seseorang telah memiliki dirinya kembali, setelah dapat merenggutkan dirinya dari pegadaian Kebiasaan.

Dalam kesusasteraan, konflik pemahaman tentang Tuhan ini telah dimulai sejak dahulu dan tidaklah merupakan kejadian setempat, tetapi yang sesungguhnya adalah suatu pemberontakan seorang pengarang terhadap anggapan-anggapan biadab tentang Tuhan. Malahan seorang pujangga Islam Omar Kayyam di antara begitu banyak rubayyat-rubayyatnya ada pula menyinggung-nyinggung anggapan biadab itu. Juga dalam kesusasteraan Indonesia dewasa ini konflik pemahaman itu telah terbawa kedalamnya. Dan pada suatu waktu tertulis juga oleh Hariadi S. Hartowardojo:

Aku jumpa Tuhan di tikungan. Kucabut keris terus kutikam.

Atau juga oleh Idrus:

Tuhan lama sudah bertukar dengan Tuhan baru.

Keingkaran terhadap pengertian Tuhan yang diakibatkan oleh hawa nafsu rendah, tidaklah patut dikuatirkan. Juga buku-buku kesusteraan yang membawakan sekelumit dari kehidupan kemasyarakatan semacam itu di dalamnya tak perlu benar dinamai buku-buku cabul atau buku yang merusak moral, atau yang lazim di waktu ini: hasil moral yang diamuk krisis. Kesusasteraan sebagai senjata yang utama untuk meraka yang tak punya kekuasaan sebagai kaum politisi, yang tidak punya uang sebagai kaum protokolat, yang tak punya bedil sebagai kaum militer, yang tak punya japa mantera sebagai kaum tenung, adalah yang paling baik untuk memerangi nafsu-nafsu biadab dari massa. Dan ini bukanlah kejahatan. Bahwa ada golongan yang bertahan pada segala macam perbaikan memang ada dan tetap ada dalam masyarakat mana pun jua. Dan itu tak patut mendapat perhatian.

Dangan demikian, pertanyaan mengapa di masa ini banyak pengarang yang mencemoohkan Tuhan dapat disimpan kembali. Dan bila seseorang telah menyadari bahwa di hadapan diri sendiri dan alam tiap manusia adalah telanjang bulat, ia tidak akan kaget pabila pada suatu waktu nama Tuhan berpindah jadi Alam atau Kebenaran, justru yang jadi pokok soal adalah kepercayaan, dan kepercayaan pada pendapat dan kebenaran pengertiannya bahwa dengan itu ia bisa menolong kemanusiaan atau setidak-tidaknya kepribadiannya sendiri. Perpindahan atau pergantian nama ini tidaklah mengganggu rasanya, karena seseorang akan tetap sebagaimana dirinya sekalipun berganti nama seribu kali sehari.

Masalah Tuhan seseungguhnya tidaklah baru buat Indonsia. Konflik pemahaman terhadap-Nya sudah lama ada, juga dalam kesusasteraan. Hamzah Fansuri terpaksa memberikan jiwanya karena ini, berhubung kuatnya diktator Kebiasaan dalam menindas hak-hak asasi manusia. Dan tidak dapat dilupakan Syekh Siti Jenar di masa para wali giat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan yang harus menebus pemahamannya tentang Tuhan dengan jiwa sendiri. Lama setelah masalah ini macet, tiba-tiba pada tahun 1949 muncul buku Achdiat K. Mihardja, Atheis, yang karena keadaan masa yang menguntungkan, tidak perlu lagi mengurbankan jiwa pengarangnya, tapi cukup menggemparkan terutama di kalangan kaum agama. Bukan mengherankan lagi bila buku ini di beberapa keluarga dianggap tabu—keluarga yang takut kehilangan janji-janji muluk dari Tuhannya, Tuhan yang dianggapnya sebagai sesuatu yang kelak akan memenuhi segala nafsu kebianatangannya dan kebiadabannya. Tak ubahnya dengan orang dahulu kehilangan ajimatnya, kehilangan dewa-dewanya yang sekarang dikeram di musium.

(A & F Acy Duta)

***   

Dalam tulisan di atas, Pram seperti menjiplak pengalaman masyarakat Barat untuk diterapkan kepada situasi Indonesia. Pram boleh dikatakan gagal memahami kebutuhan masyarakat Indonesia dan menawarkan standar dan makna “kemajuan” yang tunggal yang sesuai dengan pandangan hidup Barat. Padahal bangsa Indonesia, dengan segala persoalannya, tidak pernah mengalami benturan seperti yang dialami masyarakat Barat. Pram hanya melihat Islam sebagai suatu tata peribadatan penyembahan Tuhan dan tak memahami Islam sebagai suatu tatanan falsafah dan pandangan hidup.       


Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS