• Ikuti kami :

Politik Indonesia Kontemporer: Sudut Pandang Bang Sanip (Bukan Nama Sebenarnya)

Dipublikasikan Ahad, 05 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Melihat keadaan politik kita akhir-akhir ini yang terasa dan keliatan semakin menggawat membuat saya merasa perlu untuk menemui sohib saya. Bang Sanip, seperti disebut dalam judul, bukan nama sebenarnya. Penyamaran nama ini dilakukan agar diri Bang Sanip beserta keluarga senantiasa aman. Maklum, musim pembungkaman. Apalagi pendapat Bang Sanip sering kali mengarah kepada subversif. Meski Orde Baru sudah tamat, mentalitas kekuasaannya masih sering muncul. Jadi penting untuk melindungi Bang Sanip.

Setelah panjang lebar mengisahkan pendapat dan telaah saya terhadap keadaan bangsa dewasa ini, saya menunggu pendapat Bang Sanip. Saya tatap lekat-lekat wajahnya yang penuh gurat-gurat ketegasan (atau penderitaan? Kurang jelas memang).

“Bagaimana pendapat Bang Sanip?” ujar saya mantap.

Bang Sanip tak segera menjawab. Ia malah menyeruput kopinya. Ruap harum kopi menguap di udara. Sedikit kepul masih tersisa di atas gelas. Ia menarik dan kemudian mengembuskan napas agak dalam. Seperti menyulurkan segala beban ke udara. Matanya kemudian menerawang. Seperti memikirkan banyak hal. Ini pasti soal bangsa ini. Memang berat memikirkan bangsa.

Tapi ia tak juga menjawab. Hampir semenit lebih. Cuma hening di bale-bale itu. Meja-kursi kayu tetap diam (ya emang mau ngapain?). Udara memberat karena asap rokok. Waktu seperti lambat memanggul detik satu demi satu. Hening. Bang Sanip melamun.

“Bang,” saya mencoba memecah hening.

“Hah?” Bang Sanip agak terkaget.

“Apaan?” Bang Sanip kayak baru sadar saya hadir di dekatnya.

“Itu, Bang, gimana pendapat Bang Sanip perihal apa yang saya paparkan panjang lebar tadi?” Saya tetap memburu pendapat Bang Sanip.

“Ah, elu mah ngomongin politik melulu. Kayak yang ngerti aja.”

Ini dia yang saya maksud sebagai subversif. Acuh terhadap politik, tak peduli, dan bias.

“Minggu kemaren anak ane masuk rumah sakit. Kena DBD. Ngutang lagi dah. Yang dulu aja belum kebayar, nambah lagi,” Bang Sanip malah cerita kesengsaraannya.

Pembicaraan akhirnya dipenuhi oleh kisah-kisah keseharian Bang Sanip yang susah. BPJS dan KJP tidak serta-merta menyingkirkan kesengsaraan. Atau pilkada dan pemilu. Pergantian pemimpin tidak meniscayakan perubahan-perubahan yang berarti bagi kemanusiaan Bang Sanip.

“Bang Sanip nggak ikutan demo?” tanya saya kemudian.

“Pengen sebenernya, tapi kan musti kerja. Bukannya nggak peduli, tapi nggak semua orang bisa ninggalin kerjaan atau jalan kaki ke Monas” ujarnya agak nelangsa.

“Setelah demo kemarin, penghasilan nambah, Bang?” saya penasaran. Apa sebenarnya yang dirasakan Bang Sanip dari demo itu?

“Sama aja. Buat orang kecil kaya saya mah yang penting berusaha. Kalau nggak usaha, emang siapa yang mau peduli?” jawabnya seperti acuh terhadap kehidupan.

Bang Sanip itu penjaga perlintasan kereta partikelir. Penghasilan tetapnya cuma Rp 300 ribu sebulan. Sisanya harus mengharap “kencleng” 1.000-2.000 dari orang-orang yang lewat perlintasan kereta yang ia jaga. Semakin hari, semakin sedikit orang yang peduli untuk menyisihkan 1.000-2.000 itu. Keselamatan bersama yang dikelola bersama semakin tak berarti. Kebetulan yang lewat situ kebanyakan mahasiswa yang lebih suka dan percaya pada gubernur galak daripada menghargai usaha partikelir begitu.

***

Politik di mata orang-orang macam Bang Sanip memang semakin tak bermakna. Perlu diketahui, Bang Sanip tidak punya HP Android dan akun Facebook. Twitter dan Instagram juga tidak punya. Tapi tolong jangan tertawakan Bang Sanip. Tidak semua orang “beruntung” dan bisa bermedia sosial. Bang Sanip dengan demikian tak terpapar pertarungan kelas cie-cie-an sampai hujat-hujatan di internet. Dia juga tidak terlibat perang tanda pagar. Bang Sanip tidak punya alat dan waktu untuk itu semua.

Hidup Bang Sanip berliku dari satu kebertahanan menuju kebertahanan lainnya. Laku politik para politisi dan para pendukungnya terlihat tidak nyata dalam pandangan lelaki penjaga perlintasan kereta itu. Bang Sanip ialah orang di luar keributan, di luar pertarungan, dan tak terperhatikan. Namun, selalu diperebutkan tiap pemilihan.

Seharusnya kita yang suka ribut di media sosial itu bersyukur masih bisa ribut, masih bisa saling merendahkan dan menghujat satu sama lain. Di luar sana, di luar laman-laman maya yang mendominasi pikiran dan waktu kita, masih banyak orang seperti Bang Sanip. Tidak bisa berkomentar dan tidak bisa mengungkapkan pikiran tentang presiden di media sosial. Bang Sanip kan nggak punya media sosial.

Sementara kita semakin berani mengkritik siapa saja, termasuk presiden dan pejabat lainnya. Kita makin suka menghujat pejabat dan ada pejabat yang makin suka menghujat kita. Politik kita ialah politik saling hujat dan saling hardik, saling tuntut dan saling ancam. Saling merasa lebih kuat, lebih tinggi, sembari merasa yang lain rendah dan lemah. Begitu terus-menerus. Nyaris tanpa kesadaran.

Dan di tengah keributan semacam itu, Bang Sanip harus mencari utangan untuk membayar utang. Kelak dia harus mencari utangan lagi untuk kembali membayar utangnya. Utangnya selalu semakin banyak dan hidupnya semakin berat. Terus dan terus berhutang. Sementara kita terus ribut tentang benar dan salah. Tentang menang dan kalah.

Kalau Bang Sanip kenapa-kenapa (misalnya tewas tertabrak kereta), tentu kita akan berlomba-lomba menjadi yang paling memiliki kepedulian. Menjadi yang terdepan dalam membela Bang Sanip. Kita akan menyebarkan berita kemalangannya, akan menyesalkan nasibnya, lewat tanda pagar.

***

“Jadi, gimana pendapat Abang soal politik sekarang ini?” Rasanya masih penting untuk mengejar pendapat Bang Sanip.

“Sekarang mah terserah ajalah pemimpin-pemimpin kita mau ngapain. Terserah juga orang-orang mau ngapain. Mau bikin partai kek, mau bubarin partai, terserah aja. Yang penting ane bisa pinjem duit 300 rebu buat bayar utang kemaren,” katanya semakin ketus.

Itulah pandangan politik Indonesia masa kini dari kacamata Bang Sanip. Akhirnya saya punya bahan tulisan untuk saya sebar di media sosial saya.


Tulisan Terkait (Edisi Politik)

Populer

IKLAN BARIS