• Ikuti kami :

Politik dan Hakikat Manusia

Dipublikasikan Senin, 30 Januari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Dalam pandangan Islam, politik itu tidak sebatas berbicara tentang kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga soal akhirat. Buya Natsir dalam buku Pemikiran Dr. Muhammad Iqbal tentang Politik dan Agama, terbitan Mutiara, tahun 1979, mengutip Iqbal, menyatakan bahwa politik (sistem politik Islam) berbicara tentang bagaimana caranya manusia menuju akhirat (kepada Sang Khalik).

Politik sangat berhubungan langsung dengan manusia. Sebab, selain manusia adalah pelaku politik (zoon politicon) juga ada alasan yang lebih dalam dari itu: politik juga berkenaan dengan hakikat manusia yang terdalam, sebagai hamba Tuhan. Soal ini sudah diterangkan oleh para ulama kita terdahulu.

Tak usah jauh-jauh ke negeri-negeri Arab sana, di dalam negeri saja hal seperti ini juga diketengahkan para sarjana Islam yang berwibawa dalam kitab-kitabnya. Sebut saja Qanun Meukuta Alam karya Teungku di Mulek, ulama asal Aceh pada abad ke-17 Masehi. (Qanun Meukuta Alam ini kemudian disalin ulang dan dialihaksarakan oleh Mohammad Kalam Daud dan TA Sakti, disunting oleh Darni M Daud, dengan judul Qanun Meukuta Alam dalam Syarah Tadhkirah Tabaqat Tgk. Di Mulek dan Komentarnya, diterbitkan oleh Syiah Kuala University Press pada 2010).

Perihal hubungan politik antara pemerintah dengan rakyatnya, dalam kitabnya itu dianalogikan oleh Teungku di Mulek bukan sebagai hubungan antarmakhluk, melainkan hubungan intramakhluk. Ini menunjukkan bahwa sedemikian intimnya hubungan politik antara pemerintah dengan yang diperintah.

Sebab karena raja dengan rakyatnya itu seperti jasad dengan ruh, maka jasad tidak ada ruh, maka jasad itu tiadalah hidup. Sebab ruh telah keluar maka jasad tiadalah boleh bergerak-gerak lagi karena telah mati. Maka pasti merasakan jasad itu hancur luruh. Maka dengan demikian antara pemerintah dengan rakyat,” (halaman 11).

Pada karya yang sama, Teungku di Mulek menunjukkan bahwa berpolitik itu juga harus menggunakan ilmu yang terkait dengan dunia dan akhirat. “Ketiga, ilmu. Jika tidak mengetahui ilmu dunia dan akhirat, tidak bisa mengatur kerajaan.” Maka ilmu (pemahaman) yang benar akan dua alam itu menjadi syarat mutlak dalam berpolitik (halaman 12).

Mengenai ini, sebuah majalah umat Islam terkenal di medio 50-an, Majalah Hikmah, dalam catatan editorialnya (rubrik Dari Hati ke Hati) mengemukakan kembali hal senada yang telah diungkapkan oleh para pendahulu ulama kita. Dengan judul “Tasawuf Politik”, Nawawi Dusky, pemimpin majalah itu, menuliskan tentang pentingnya politik dihubungkan dengan pertanyaan utama manusia tentang dari mana, sedang di mana, dan mau ke mana nantinya manusia itu.

Sumber foto: Majalah Hikmah, edisi 14 November 1959, halaman 2.

Teks foto: Halaman editorial Majalah Hikmah mengangkat soal tasawuf politik. 


 


 


Tulisan Terkait (Edisi Politik)

IKLAN BARIS