• Ikuti kami :

Pola Makan dan Ilmu Tentang Batas

Dipublikasikan Sabtu, 11 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Hampir 700 pesan belum terbaca pada sebuah grup wassap dalam satu telepon seluler (ponsel) pintar. Mari kita menengok ke dalam grup wassap itu sebentar. Mumpung ponsel pintarnya punya saya sendiri. Kita lihat jumlah penghuni grupnya. Ada seratusan orang lebih. Pantes riweuh.

Kita berlanjut ke soal pesan. Kita scroll ke atas untuk menemukan pangkal pesan bejibun ini. Pesan bermula dari pagi hari. Dan masih terus berlangsung sampai jelang siang. Ternyata ada pembahasan perihal makanan dan pola makan. Seorang kawan kita di grup melempar pemantik obrolan. Dia mengaku akhir-akhir ini sering sakit. Seorang kawan lain menimpali, mungkin pola makan dan makanannya salah sehingga mudah sakit.

Kemudian obrolan grup wassap itu masuk ke soal pola makan. Seorang mantan vegetarian angkat pendapat. Dia bangga pernah jadi vegetarian selama beberapa lama. Selama itu pula dia jarang sakit. Dia sempat percaya daging sumber penyakit dan yakin jenis makanan lain lebih bersahabat dengan tubuh manusia. Menu makannya berupa sayuran, bebuahan, beberapa jenis karbohidrat, dan protein nabati. Dia mengalihkan uang belanja daging ke pos pengeluaran lain. Tapi pada akhirnya dia menyerah dan memilih kembali makan daging.

“Karena ada Lebaran, ada kumpul-kumpul,” tulis dia. Sampai sekarang dia sehat-sehat saja. Sesekali pasti jatuh sakit. Entah lantaran lelah atau kebanyakan makan daging.

Seorang penyuka segala jenis makanan ganti berkomentar. Dia sebenarnya jarang sakit, tapi punya masalah dengan berat badan. Dia menulis dirinya susah mengontrol nafsu makan. Tiap ada makanan unik, kreasi baru, dan dengan nama agak susah dieja, dia membeli dan memakannya. Tak peduli waktu, tak peduli perut masih kenyang. Selain itu, dia suka jajan. Tubuhnya pun melar. Dia kadang-kadang rindu ingin kurus lagi. Supaya bisa swafoto di Instagram. Di sini keberatan badan dan berlebih makan tak mempengaruhi kesehatan fisik seseorang, melainkan kepercayaan diri.

Obrolan berlanjut. Seorang penganut food combining ikut nimbrung. Dia menjelaskan pola makan baru-tapi-lama ini; baru akhir-akhir ini terdengar lagi, padahal orang sudah menerapkan pola makan ini dari zaman kitab Taurat kali pertama turun.

Inti food combining berupa makan makanan tertentu dengan cara khusus sesuai dengan waktu metabolisme tubuh untuk mencerna makanan. Misalnya saat pagi hari, ketika tubuh sedang membersihkan sisa-sisa makanan, orang sebaiknya tidak memakan makanan berat seperti nasi, daging, dan roti.

“Jangan mencampur karbohidrat dan protein hewani. Cukup minum jeruk nipis peras dengan air hangat sebelum berkumur-kumur atau gosok gigi,” tulis Shinta Soetardjo, penganut food combining itu. Saya sengaja menyebut namanya supaya artikel ini kelihatan lebih bertanggung jawab.

Kepada saya, dia bilang sudah memperoleh kepingan pengetahuan tentang food combining sejak 2009 dan mulai menjalaninya dari tiga tahun lalu. Sejak itulah dia jarang sakit sehingga konsumsi obat-obatan kimia pun berkurang drastis.

Sejumlah penghuni grup meminta Shinta menjelaskan food combining lebih jauh. Mereka mulai tertarik dengan food combining. Shinta pun mendominasi obrolan dan meladeni pertanyaan penghuni grup. Mereka rerata generasi milenial. Karib dengan informasi cepat, gawai pintar, dan kepraktisan, tapi pada saat bersamaan juga menjalani hidup keserbaburu-buruan, dikejar cicilan ini-itu, dipenuhi iklan makanan diskonan dengan memakai kartu tertentu atau malah gratisan untuk seribu pembeli pertama, dan kadang dijerat gaya hidup tertentu.

Maka beberapa pertanyaan pokok mereka ialah, “Kok, ribet, ya? Apakah mungkin pola ini diterapkan? Apakah bakal jadi lebih mahal? Bagaimana kalau lagi makan bareng keluarga dan teman?”

Food combining ini benar-benar berbeda dari pola tradisional khalayak, pola makan 4 sehat 5 sempurna: nasi (karbohidrat), daging atau tempe (protein hewani dan nabati), sayuran, bebuahan, dan susu sebagai penyempurna. Khalayak terbiasa dengan pola 4 sehat 5 sempuna sejak zaman Bapak Soekarno. Pola itu berasal dari seorang ahli gizi bernama Poorwo Soedarmo, jebolan Stovia, sekolah dokter bentukan Pemerintah Hindia Belanda.

Suatu ketika pada masa revolusi, Poerwo melewati sebuah kanal di Belanda. Dari atas geladak kapal tempat dia bekerja sebagai dokter, dia melihat sekumpulan bocah-bocah bermain di tepi kanal. Mereka gemuk-gemuk dan lincah. Kata temannya, dokter landa, anak-anak Belanda bisa gemuk begitu lantaran minum susu.

Poorwo lantas teringat anak-anak di negerinya, Indonesia. Kurus dan kurang gizi. Jangankan susu, makan tiga kali sehari saja masih susah. Kalaupun makan, asupan gizinya kurang. Sering sakit-sakitan pula. Maka pada awal kemerdekaan itu anak-anak Indonesia tergolong sebagai anak-anak paling kurang gizi di dunia. Poorwo berupaya memperbaiki keadaan itu. Caranya dengan memberi masyarakat pengetahuan tentang gizi. Untuk memudahkan, dia bikin slogan 4 sehat 5 sempurna.

Begitulah, dari atas geladak kapal, seorang putra Indonesia berhasil mempopulerkan pola makan yang Indonesia-sentris ini ke khalayak. Tapi jika orang Belanda yang berdiri di atas kapal, pastilah mereka bakal membuat pola makan yang Belanda-sentris, sebagaimana pendahulu mereka menulis sejarah bangsanya di Hindia Belanda yang kemudian dipelajari oleh siswa-siswi Bumiputra.

Zaman berganti. Beberapa generasi silih berganti muncul. Dari generasi 1980-an, 1990-an, sampai generasi milenial. Ekonomi tumbuh, pendapatan naik, informasi menumpuk, pengetahuan bertambah, riset kedokteran berkembang, jajanan beragam, dan gaya hidup makin kompleks.

Anak-anak Indonesia, terutama di kota, tidak lagi kekurangan makan dan gizi. Mereka justru kelebihan panganan, mengalami obesitas, merasakan vetsin, bisa memakan makanan jenis apa saja lintas negara lintas benua, dan, sadar atau tidak, sempat menjajal beragam zat kimia berbahaya seperti boraks dan pewarna tekstil. Hasilnya: gigi kawat dan perut besi. Mungkin lebih sakti daripada Gatot Kaca.

Mereka yang berada di desa nun ufuk timur sana pun sudah berlepas dari busung lapar. Ini sebenarnya klaim pemerintah, bukan saya. Kalau tidak percaya, Anda bisa ketik kata kunci ini di Google, “Kemenkes Tegaskan Tidak Ada Wabah Busung Lapar di Papua.” Kalau masih kurang percaya, ya, kita bisa sama-sama nengok langsung ke Papua. Dengan biaya dari pemerintah, tentunya.

Slogan 4 sehat 5 sempurna pun jadi usang. Khalayak kini memperoleh akses pengetahuan dan informasi tentang gizi lebih banyak dan mudah daripada pendahulunya. Khalayak meyakini, pola makan 4 sehat 5 sempurna bukan satu-satunya pola makan menuju sehat.

Khalayak mempelajari food combining, pola makan vegan (hanya memakan sayuran dan menghindari daging), dan berbagai macam diet. Khalayak juga kian sadar tentang arti penting olahraga. Bukan sekadar senam kesegaran jasmani peninggalan Pak Harto, melainkan juga pergi ke gimnasium sembari swafoto untuk Instagram supaya dapat banyak likes. Maka hidup bakal terasa lebih sehat dan seolah makin diperhatikan orang lain.

Perubahan ini seiring pula dengan ramainya rumah sakit-rumah sakit dengan pasien. Mereka antre menunggu dokter. Kalau Anda pasien BPJS, Anda bisa antre lebih lama. Ternyata khalayak masih sering sakit. Tak mengherankan jika perusahaan asuransi gencar menawarkan produk asuransi kesehatan. Apalagi jenis penyakit makin tidak karuan, tidak sekadar kutilan, kurapan, dan polio.

Para ahli kesehatan bilang, sebagian besar penyakit itu bergantung dari apa yang orang makan dan bagaimana memakannya. Untuk tetap sehat, orang juga perlu mengenal kebutuhan tubuhnya dan memperoleh ilmu tentang batas-batas tubuh menerima asupan makanan. Kemampuan tubuh itu terbatas, sedangkan kemauan orang sering kali tidak berbatas.

Sebuah kisah sohor pernah terjadi pada masa Kanjeng Nabi Muhammad. Seorang tabib di kota Beliau bingung. Tak seorang pun umat Nabi Muhammad sakit. Tabib bertanya pada Nabi Muhammad, “Apa rahasianya, duhai junjungan kami?” Nabi Muhammad menjawab, “Kami adalah umat yang makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.” Di sinilah pengetahuan tentang diri dan batas-batasnya mewujud. Maka, apa pun pola makan orang, entah itu food combining, 4 sehat 5 sempurna, atau vegan, hendaklah berkesesuaian dengan kebutuhan tubuh dan batas-batasnya.

Tulisan Terkait (Edisi Kuliner)

Populer

IKLAN BARIS