• Ikuti kami :

Persahabatan Keturunan Arab dan Cina Semasa Pergerakan Menegakkan Kebangsaan Indonesia

Dipublikasikan Rabu, 15 Februari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Masyarakat Arab dan masyarakat Cina di Hindia Belanda dalam masa pergerakan seusai tahun 1928 sedang mengalami kebimbangan batin. Kemudian bermunculanlah dari kalangan para peranakan, baik peranakan Arab maupun peranakan Cina, rasa kebangsaan akan Indonesia. Rasa kebangsaan ini masih seumur jagung pada mulanya, masih banyak hal yang harus diperbaiki sana-sini.

Dengan rasa senasib, masyarakat peranakan Cina dan peranakan Arab saling memberi dan menerima pengaruh gagasan akan kebangsaan di kalangan mereka saat itu. Di situlah muncul persahabatan di antara dua anak lain leluhur, persahabatan dalam medan juang menjadi orang Indonesia.

AR Baswedan adalah seorang pemuka sekaligus pemimpin organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI). Organisasi ini, sekaligus tokohnya itu, adalah salah satu dari sekian banyak tonggak sejarah kebangsaan Indonesia. Baswedan dengan jujur mengakui bahwa salah satu sebab yang membuat orang-orang keturunan Arab di Indonesia punya kesadaran akan kebangsaan adalah orang-orang Cina yang kemudian membuat organisasi modern. Hal itu diterangkannya dalam tulisannya di majalah Panji Masyarakat, 15 November 1974, halaman 14.

Majalah Aliran Baroe, sebuah majalah yang digawangi oleh kaum peranakan Arab-Indonesia di bawah bendera organisasi PAI, mencatat pula bagaimana kedekatan antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat Arab di Indonesia dalam gerakan kebangsaan kala itu. Pada edisi yang terbit Juli 1939, halaman 5, ada sebuah artikel dengan judul “Kwee Hing Tjiat dan Peranakan Tionghoa” dengan tagline “Pergerakan Tionghoa peranakan ‘kaboer’ katanja! Haloeanja tjoema tiroean belaka! Percies Seperti ‘Indo Arab’ sekarang!” Artikel itu mengetengahkan tentang seorang Kwee Hing Tjiat, tentang pikiran serta kritik tajamnya terhadap gagasan kebangsaan kaum peranakan Tionghoa terhadap Indonesia yang masih setengah matang. Pada artikel itu disebutkan:

Disamping itoe kitapoen beloem loepa, bahwa beliau itoe telah berboeat djasa terhadap peranakan Arab, tatkala boeat pertama kali beliau memberi kesempatan seloasnya pada sdr. Ar. Baswedan boeat menjebarkan aliran P.A.I. dihalaman soerat kabarnja Matahari, ialah sewaktoe Arab Indonesia masih tertidoer dengan njenjaknja didalam satoe peradoean jang berdoeri, meroepakan sebagai satoe golongan jang kaboer dan bingoeng, jang tiada tahoe apa toedjoeannja dan apa haloeannja didalam pergerakan.

Mengenai pendirian PAI itu, Deliar Noer, ilmuwan sosial kenamaan, punya pendapat. Dikatakannya bahwa PAI terinspirasi dari organisasi modern yang dibangun para keturunan Cina. Pendapatnya itu dikemukakan dalam buku Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 terbitan tahun 1980.  

Mengenai Baswedan, ia sendiri mendapatkan “pendidikan” dalam mengembangkan kapasitasnya sebagai pemimpin semasa ia menjadi jurnalis di terbitan Matahari. Harian yang sama di kemudian hari menampilkan gagasan kebangsaan PAI lewat tulisan Baswedan. Hal itu tercatat pada artikel Aliran Baroe di atas.

Pada artikel yang terakhir di atas, dikatakan bahwa seorang Kwee Hing Tjiat merupakan tokoh yang dikenal baik oleh masyarakat peranakan Arab.

“Di sini kita tida perloe memperkenalkan siapa adanja t. Kwee Hing Tjiat, karena bagi kita Arab Indonesia, nama itoe boekan ada satoe nama jang asing hingga perloe diperkenalkan.”

Begitu pula AR Baswedan, sosok yang kita bicarakan ini. Ia juga dikenal dan diakrabi oleh kaum peranakan Cina itu di tempo zaman pergerakan. Pada tulisan ini, kami kutip dua surat dari sahabatnya yang berketurunan Cina kepadanya. Surat-surat ini kami kutip dari buku yang berjudul Abdul Rahman Baswedan : Karya dan Pengabdiannya. Karya Suratmin halaman 195--199, terbitan tahun 1989
 
                                                                                 ***
Surat Tjoa Tjie Liang kepada AR Baswedan (25 Februari 1981)
 
Yth. Sdr Abdurachman                                                                   Semarang, 25 Pebruari 1981

Taman Juwono 10

JOGYA


Sdr. yang baik,

Dengan senang hati, untuk memenuhi permintaan Sdr. guna keperluan dokumentasi memoire yang Sdr. sedang susun, bersama ini saya menyatakan, bahwa benar pada bulan2 akhir tahun 1936 dan beberapa waktu dalam tahun 1937, Sdr. pernah numpang tinggal serumah dengan saya di Semarang, yaitu pada waktu kita ber-sama2 bekerja sebagai anggauta redaksi harian “Mata Hari” yang dipimpin mendiang Kwee Hing Tjiat. Juga, setelah Sdr. kemudian meletakkan pekerjaan Sdr. disitu.

Pada masa itu, rumah yang kita tinggali adalah rumah sewa, dan maklum mengingat kita sama-sama “kuli tinta” yang tergolong tak berpunya, maka sebentar sewa disini, dan sebentar sewa disana, berpindah-pindah.

Karenanya pula, kalau tak salah ingat, saya pun hanya dapat menyediakan sebuah kamar dan sebuah “kursi malas” saya bagi Sdr., dan makan pun bersama-sama yang serba sederhana dan seada-adanya, kebetulan pula dimasa itu saya pun hanya makan vegetaris saja.

Namun, mengenang masa tersebut, sungguh saya takjub sendiri, betapa baik hubungan kita, sampai-sampai membuat banyak tetangga terheran-heran, dan orang-orang lain pun demikian juga, yaitu bagaimana saya seorang peranakan Tionghoa, dapat hidup demikian karibnya dengan seorang peranakan Arab.

Ya, pertalian bathinlah yang menjadi pengikat kita masa itu; keduanya hidup untuk cita-cita yang sama: menggugah rasa ke-Indonesiaan diantara golongan-golongan peranakan, yaitu bahwa kami ini ialah orang-orang Indonesia.

Pada sepanjang masa itu, hanya kalau dihari-hari libur saja Sdr. berkesempatan pulang ke Kudus, kepada anak-anak dan isteri Sdr., yang dingengerkan pada embahnya. Yang demikian berlangsung, bukan saja semasa Sdr. masih bekerja pada “Mata Hari” tetapi pun sesudahnya, yaitu waktu pada mula-mula Sdr. lebih giat mempersiapkan dasar-dasar untuk pembentukan PAI.

Kegigihan Sdr., bertahun-tahun hidup dalam serba susah dan kekurangan, dan kebanyak kali pula, terpaksa harus sering-sering berpisah dari anak-anak dan isteri, yang membuat saya kagum. Ya, beruntunglah, sekalian peranakan Arab umumnya, yang kemudian benar-benar menjadi putera-puteri Indonesia, mempunyai seorang perintis yang demikian!
Terhiring doa saya, selalu.
Wassalam

(Tjoa Tjie Liang)

                                                                                ***

Surat Tjoa Tjie Liang kepada AR Baswedan (22Januari 1982)

Semarang, 22 Januari 1982.

Sdr. Abdurachman yang baik,

Kiranya Sdr. sudah pula membaca apa yang ditulis Soebagio I.N. dalam bukunya “Jagat Wartawan Indonesia” mengenai diri Sdr.

Diantara lain/dikatakan, “..... Juga hanya setahun dia bekerja di harian itu (dimaksud “Matahari”), karena setelah dia menjadi Ketua Partai Arab Indonesia, organisasinya minta banyak waktu dan tenaga dari padanya”.

Hemat saya, keterangan yang demikian itu jauh daripada lengkap.

Pertama, kalau saya tak salah ingat, pada waktu itu belum ada yang dinamakan Partai Arab Indonesia; bahkan diwaktu itu Sdr. baru dalam mempersiapkan pembentukan Persatuan Arab Indonesia, sedangkan perobahan bentuk organisasi menjadi Partai, hanya terjadi kemudian.

Selainnya itu, bahwa Sdr. disebut terpaksa berhenti bekerja di “Matahari”, karena organisasi minta banyak waktu dan tenaga Sdr., kedengarannya begitu sederhana. Padahal, saya yang waktu itu sangat dekat dengan Sdr., mengetahui benar, bahwa dengan terpaksa berhenti kerja di “Matahari”, maka langkah ini sesungguhnya adalah suatu pengorbanan material dengan konsekwensi sangat berat, bukan saja bagi Sdr. sendiri, tetapi juga terutama bagi anak-anak dan isteri Sdr.

Mengurusi organisasi pada waktu itu, Sdr. sama sekali tidak mendapat penghasilan satu sen pun. Padahal, waktu itu di “Matahari” Sdr. bergaji 125 gulden sebulan, suatu jumlah yang diwaktu itu cukup lumayan. Sebab, sebagai perbandingan, gaji permulaan seorang lulusan MULO hanya 25 gulden, dan lulusan H.B.S. 50 gulden sebulan. Ini pun kalau beruntung dapat bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda yang besar-besar, yang kemudian lazimnya disebut “Big Five”, seperti Internatio, Borsumy dsb. Kalau diperusahaan swasta yang kebanyakan, tentu lebih rendah lagi.

Juga sebagai perbandingan dapat dikemukakan, bahwa diwaktu itu tidak sedikit orang yang hanya bergaji 15 s/d 25 gulden sebulan sudah dapat hidup berumah tangga yang lumayan. Dengan 125 gulden, orang dapat membeli 25 kwintal (karung) beras kwalitas cukup baik, atau cukup beli +156 gram mas murni.

Tetapi Sdr. telah meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan sebesar itu, untuk kemudian berkeliling dari satu kota ke lain kota, numpang pada teman-teman yang kebetulan menaroh simpati pada Sdr., perlunya ialah untuk dapat menemui dan meyakinkan tokoh-tokoh masyarakat peranakan dan tokoh Arab ditiap-tiap tempat itu. Karenanya, banyak sekali yang menentang cita-cita Sdr. mendirikan Persatuan Arab Indonesia itu. Kiranya, tanpa Sdr. sendiri yang turun tangan dan menghabiskan banyak waktu dalam menemui dan berbicara langsung dengan tokoh-tokoh tersebut, P.A.I. mustahil akan terwujud.

Namun, diseberangnya itu, saya tahu benar, bahwa di masa itu Sdr. dan anak-anak isteri Sdr. sangat menderita, karena penghasilan satu sen pun tiada, dan yang begini masih berkelanjutan bertahun-tahun lagi setelah melepaskan pekerjaan di “Matahari” itu. Di sini lah terletak salah satu keistimewaan Sdr., yang sampai sekarang sungguh membuat saya sangat kagum.

Nah, kalau Sdr. jadi membuat “memoire”, saya kira pantaslah hal tersebut disingguh sekedarnya, karena cukup berharga sebagai suri-teladan generasi-generasi mendatang.

Sekianlah! Salam saya yang hangat untuk keluarga Sdr. dan tentu pula bagi Sdr. sendiri.
Wassalam,
 
(Tjoa Tjie Liang)

Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS