• Ikuti kami :

Peringatan HAMKA: Kemerdekaan yang Diisi dengan Keserakahan akan Menghasilkan Kehancuran

Dipublikasikan Kamis, 17 Agustus 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Alam kemerdekaan telah memberi kebebasan bagi bangsa kita untuk berkarya dan membangun. Kita bukan lagi bangsa yang terjajah, yang mesti tergopoh-gopoh memperjuangkan hak-haknya. Di alam merdeka ini, kita dapat membangun pendidikan, politik, ekonomi, dan pribadi kita sendiri. Kemerdekaan patut disyukuri dan perlu juga disadari, ada perjuangan berjuta-juta manusia di masa lalu sana sehingga kita dapat menyesap beragam keleluasaan dalam hidup di hari ini. Ada jerih payah orang-orang terdahulu dalam sekian pencapaian bangsa yang kini kita nikmati.

Namun, di alam kemerdekaan ini pula, kita dapat dengan bebas memanjakan hasrat, mengejar macam-macam kenikmatan dunia. Kita tak perlu berpayah-payah memikirkan perjuangan sebab Belanda sudah pergi puluhan tahun lalu. Di antara keademayeman hidup itu, menyelinap serigala hati yang membahayakan kehidupan: gaya hidup yang berlebihan, bermewah-mewahan.

Kehendak untuk bermewah-mewahan akan melemahkan mutu batin bangsa kita,membuat anak-anak muda tak punya gairah lain selain menjadi kaya. Tak ada lain hal selain kemegahan bendawi yang menjadi cita-cita orang-orang kita. Dalam keadaan sebegini, akhlak, nasionalisme, dan semangat berkorban untuk bangsa akan semakin terkikis. Kemewahan sering kali membawa penyakit individualisme, melunturkan jalinan persaudaraan antarmanusia.

Masalah semacam ini bukan hanya terjadi hari ini. Puluhan tahun lalu, Buya HAMKA telah melihat hal yang demikian. Pembangunan berbagai tempat yang memanjakan hasrat, beragam acara yang meluluskan nafsu, dan penghalalan macam-macam yang haram bermunculan di alam Indonesia merdeka. Pada kala itu, 1977, gubernur Jakarta, Ali Sadikin, telah mengupayakan judi sebagai jalan untuk menebalkan pendapataan daerah. Hal-hal lain yang semacamnya pun menjamur. Pembangunan ke arah pemanjaan hasrat manusia dengan sekecil-kecilnya peran serta negara pada kehidupan pribadi menggala di mana-mana. Seperti menampung hasrat kota besar yang semakin mengikis moralitas, persis seperti yang terjadi pada Jakarta hari ini.

Apa yang diungkapkan HAMKA berpuluh tahun lalu itu, dimuat dalam buku Dari Hari ke Hati halaman 130--134 oleh Penerbit Panji Masyarakat pada tahun 1998, tetap terasa tepat untuk kehidupan kita hari ini. Ini dapat diartikan, fikiran HAMKA memang luas menyambung hingga masa depan. Dapat pula diartikan, kelakuan semacam itu tetap lestari hingga kini, dan artinya lagi, beberapa unsur bangsa kita memang tidak maju-maju sejak masa HAMKA itu.

Berikut tulisan HAMKA bertajuk Racun Pemusnah Bangsa. Redaksi NuuN.id menyalin dan melakukan penyuntingan seperlunya, tentu saja dengan tetap berusaha mempertahankan maksud asli penulis.

***

Racun Pemusnah Bangsa

Gaya hidup mewah adalah racun yang amat berbahaya yang dapat memusnahkan kekuatan suatu bangsa. Sebab dengan kemewahan itu orang ini hidup melebihi dari kekuatannya. Tepat bunyi pepatah lama yang terkenal: katak hendak jadi lembu.

Taktik penjajahan jiwa yang terakhir, yang dilakukan oleh bangsa-bangsa penjajah kepada Negara-negara yang baru mencapai kemerdekaannya, ialah membangkitkan keinginan hidup mewah. Karena bilamana bertambah mewah hidup orang, bertambah pudarlah cita-citanya. Yang satu hendak melebihi yang lain dalam kemewahan. Kemewahan dalam membangun rumah-rumah, kemewahan dalam menghiasinya, kemewahan dalam kehidupan sehari-hari, ditambah lagi dengan berdirinya tempat-tempat bersenang-senang bagai cendawan tumbuh di musim hujan. Rumah-rumah perjudian, pelacuran, tempat-tempat hiburan di mana perempaun mempertotonkan tubuhnya, dan hotel-hotel yang menyediakan pelacuran kelas tinggi. Semua dikerumuni oleh orang-orang yang telah biasa hidup mewah dengan menghabiskan uang beribu-ribu.

Orang-orang perempuan maju ke muka, berlomba merebut kehidupan sehingga alat-alat penghias diri, alat-alat kecantikan, lebih melebihi mahalnya, sanggul saja berbagai macam coraknya. Kemudian muncullah lomba kecantikan, memperagakan diri, lomba ratu-ratuan. Perempuan muda yang cantik tampak ke muka memdedahkan (memamerkan) dada, pinggul, dan pahanya, ditontonkan bersama dan diputuskan oleh juri siapa yang lebih cantik lalu diberi hadiah. Maka ratu-ratu kecantikan itupun mestilah menjaga kecantikan itu jangan sampai menurun. Dan ini pun menghendaki perbelanjaan banyak dan mewah. Macam-macam nama yang diberi bagi ratu-ratu itu; Ratu Personality, Ratu Luwes, Ratu Daerah, Ratu Propinsi, Ratu Nasional, dan Ratu Internasional!

Sehingga pikiran orang setiap hari hanya terpaku ke sana. Pekerjaan Negara, politik, ekonomi, dan sosial yang mestinya dihadapi dengan sungguh-sungguh menjadi dicampuri oleh kebimbangan karena kurang tidur dan kurang waktu, serta fikiran yang terpecah. Dan orang pun berusaha dengan giat mencari harta sebanyak-banyaknya untuk memenuhi hidup yang mewah itu.

Apalagi kalau senyumnya orang perempuan telah dapat menaklukkan hati seorang laki-laki, cita-cita yang mulia, kejujuran, dan kesungguhan bisa kian lama kian pudar, karena pertahanan jiwa telah runtuh. Di sana lah timbulnya korupsi, manipulasi, penggelapan uang Negara atau uang lain, pemasukan barang impor di luar ketentuan pemerintah (penyelundupan), sehingga Negara dirugikan berjuta bahkan bermilyar. Rahasia Negara yang penting pun bisa dijual karena kesetiaan kepada Negara tidak ada lagi, dan semangat patriot telah padam, karena panggilan dari kemewahan tidak teratasi. Akhirnya keadaan bertambah lama bertambah bobrok, yang miskin bertambah miskin.

Dendam kesumat dari yang melarat kepada yang kaya raya dari jalan tak halal itu bertambah memuncak. Rumah tangga pun hancur, istri tidak mempercayai suaminya, sebab bila suaminya melakukan kunjungan ke luar daerah ada saja berita buruk yang sampai kepadanya. Setengah perempuan jatuh karena berdendam kepada suami. Sepeninggal suami keluar, dia pun keluar pula, dia pun melepas hati dengan alasan kesepian. Dan hasil dari persengketaan suami dengan istri ialah jatuh hancurnya pendidikan anak-anak, sehingga untuk mengobati kekecewaan hati kepada ibu bapaknya, dia (anak) pergi menghisap ganja atau narkotik.

Maka hilanglah sari kemuliaan bangsa, hilanglah suatu yang selama ini dia megahkan. Patung-patung dan tugu-tugu peringatan perjuangan kemerdekaan yang berdiri di tempat-tempat yang penting, di simpang-simpang jalan, seakan-akan sudah bisu tidak bersuara lagi. Apa yang digembar-gemborkan dengan “Semangat 45” hilang terpendam menjadi kenangan indah dari orang-orang yang mengalaminya, namun yang akan datang kemudian tidak mengerti itu lagi.

Yang mereka lihat sekarang bukan itu lagi, yang mereka lihat sekarang pemuda laki-laki yang tak dapat dibedakan lagi dengan pemuda perempuan, karena rambutnya sama panjang dan sama bercelana, berkumpul menghisap ganja. Yang mereka lihat sekarang gadis-gadis kecil umur belasan tahun berbelanja ke toko serba ada mengeluarkan uang puluhan ribu, pemberian kekasihnya yang sebaya dengan ayahnya! Sehingga ada menjadi pameo orang. Sengaja barang yang dijual orang di pasar sekarang sudah sangat mahal harganya. Hanya satu saja yang murah ialah harga perawan.

Muballigh-muballigh, guru-guru mengaji, ahli-ahli dakwah, tidak bosan-bosannya memberi peringatan kepada umat akan bahya gaya hidup mewah ini. Bahwa tidak mungkin satu dosa hanya berdiri tunggal. Dia pasti bertali temali, sambung menyambung dengan dosa yang lain. Dan kemewahan adalah sumber yang amat berbahaya dari segala macam dosa.

Tentu saja muballigh-muballigh atau ahli dakwah atau guru ngaji semacam ini menjadi tertawaan orang. Dia dituduh fanatik, rekasioner, tidak mengerti berubahan zaman, kolot, dan tentu saja orang mencibirkan bibir apabila melihat guru-guru ngaji semacam itu datang ke dalam satu majelis!

Kemungkaran dan kemaksiatan bertambah hari bertambah memuncak, guru-guru ngaji dan khatib-khatib tentu saja jadi cemoohan orang, sampai pernah terjadi di Jakarta, seorang Penguasa menyindir guru-guru agama yang suka mengeritik penguasa melegalisasi judi untuk belanja daerah, silahkan angkat kaki dari daerah ini! Lama-lama guru ngaji dan khatib-khatib itu pun terpengaruh juga, ada yang memilih berdiam diri, tidak angkat mulut lagi, ada pula yang berdiam tetapi dia tetap menyumpah, setengahnya lagi tetap berkeyakinan bahwa tidak ada satu ulasan pun untuk mempertahankan yang bathil, ada lagi yang terus menentang segala kemewahan dan ekor serta eksesnya itu, demi cita kepada bangsa dan Negara ini.

Tetapi tidak pula kurang pemuda-pemuda yang merasa dirinya progresif membela sikap penguasa yang mengadakan segala macam maksiat itu. Bahwa itu dibolehkan oleh agama. Judi sekarang lain dari judi zaman Nabi. Judi sekarang adalah untuk menggaet hot money, uang panas yang tersimpan di tangan orang-orang kaya, biar mereka ludeskan di meja judi, sebab itu, menurut fatwa beliau, judi yang diadakan pemerintah itu bukan haram, malahan mustahab.

Dan mereka itu pun turut serta menyalahkan para muballigh, khatib-khatib, dan muballigh yang mencela segala yang munkar meracuni negara itu;

“Jangan hanya nahi munkar, melainkan teruslah amar ma’ruf.”

Namun bahaya ini tetap lebih besar dari apa yang diperkirakan oleh anak muda yang telah mengorbankan fatwa agama untuk kepentingan membela yang munkar itu. Di Thailand pihak militer mengambil alih kekuasaan, maka salah satu yang diberantas lebih dulu adalah segala macam maksiat yang telah menghancurkan semangat perjuangan bangsa Thai itu. Rumah-rumah hiburan malam, night club, tempat-tempat judi, rumah pelacuran yang dinamai panti pijat dihapuskan dengan keras. Pelesir malam dibatasi, sehingga kota Bangkok yang selama ini tempat istirahat serdadu-serdadu Amerika yang lelah berperang di Vietnam, sejak beberapa bulan ini tidak sehebat dulu lagi.

Akhirnya Ferdinand Marcos di Filipina pun bertindak. Segala racun yang merusak menghancurkan semangat bangsa Filipina ini sudah mulai pula dibatasi dan banyak yang telah ditutup.

Di Indonesia sendiri, setelah tiga dan empat tahun dicoba menuruti segala racun yang datang dari luar ini, dengan meresmikan judi, mengizinkan night club, mandi uap, hostess, panti pijat, kasino, dan lain-lain itu; mulailah orang-orang yang bertanggung jawab memperhatikan dan merasakan, bahwa bahaya yang terkandung daripada segala tempat ini lebih besar dari manfaatnya.

Gubernur Jakarta Raya, Ali Sadikin dalam beberapa kesempatan telah menyatakan di hadapan orang-orang terkemuka dalam kalangan agama, untuk meminta pengertian mereka. Apa sebab melegalisir perjudian. Beliaupun tidak mungkir bahwa perbuatan judi itu tidak dibenarkan oleh agama; namun beliau meminta pengertian!

Tegasnya, bahwa hati kecilnya telah merasakan bahwa memang rasa imannya sebagai orang yang juga menganut Islam tidak membenarkan perbuatan itu.

Gubernur Jawa Barat, Solihin, dan Wakilnya, Nasuhi, telah menegaskan bahwa mereka tidaklah ingin mengorbankan rakyat dengan mengadakan perjudian untuk membangun daerahnya. Gubernur Nusa Tenggara Barat meminta dengan segala hormat agar film-film buatan Indonesia sekarang yang menayangkan adegan ranjang tidak dimasukkan ke daerahnya karena tidak sesuai dengan rakyatnya.
Gubernur Jawa Tengah pun telah mulai pula menyatakan pendiriannya bahwa daerahnya tidaklah hendak meningkatkan pendapatan daerahnya dengan judi.

Bahkan walikota Makassar, Patomo yang terkenal selama ini mempertahankan judi untuk pembelanjaan daerahnya, telah menyetopnya.

Dan presiden Soeharto pun telah berkali-kali memperingatkan, apalah artinya pembangunan yang sedang kita selenggarakan saat ini kalau kepribadian bangsa dikorbankan?

Ketika menerima pemuda-pemuda yang datang dari seluruh Daerah Indonesia untuk menaikkan Bendera Pusaka di Istana Merdeka pada 17 Agustus 1972, Presiden peringatkan kepada pemuda-pemuda itu, agar memperhatikan keadaan di Ibukota dengan seksama, ada yang patut diteladani, tetapi banyak pula yang tidak sesuai kalau dibawa ke daerah.

Sengsaralah orang-orang yang menjadi tempat memesan fatwa untuk menghalalkan barang yang haram, karena ingin mendapat pujian dan pandai menyesuaikan diri.

Moga-moga terlepaslah bangsa dan Negara ini dari kehancuran yang tidak mustahil diatur dari luar untuk menghancurkan bangsa dan Negara ini.

Dan harapan terakhir, janganlah sampai terjadi pengambilalihan kekuasaan dari sisa demokrasi yang telah dan masih ada, walaupun sedikit, kepada pemerintah diktator militer seperti yang telah terjadi di Thailand dan Filipina itu. Yang timbul dari sebab bosan melihat Negara menuju kehancuran moral dan mental.

Hamka, Dari Hati Ke Hati (Jakarta: Panji Masyarakat, 1998), hlm. 130--134.

***

Mesti kita ingat baik-baik, nasionalisme bukan sekadar upacara bendera dan pesta perayaan kemerdekaan yang meriah, bukan pula sekadar teriakan “NKRI harga mati!”, “Saya Pancasila!”, atau “Kerja, kerja, dan kerja!”. Nasionalisme ialah juga menjaga marwah, fikiran, dan jiwa bangsa kita agar tetap kukuh, tak goyah digoda kemewahan duniawi. Sebab orang-orang yang hatinya lemah, yang cintanya pada dunia teramat besar, akan mudah pula menjual aset negerinya, menjual bangsanya.

Semoga berkah Allah kepada Buya HAMKA.

Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS