• Ikuti kami :

Perihal Menyimak: Aku Tak Dengar, Aku Melarat

Dipublikasikan Rabu, 31 Mei 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Guru di Indonesia sering mengalami persoalan yang sama dalam menghadapi murid: dianggap angin lalu. Kita mungkin pernah melihat atau malah jadi pelakunya. Saat masih sekolah dulu, guru tengah memberi penerangan, kita asyik ngobrol dengan teman soal apa saja di luar topik yang dibahas di kelas. Padahal tugas kita sebagai murid sederhana saja, menyimak dan menuruti guru. Akan tetapi hal sesederhana menyimak dan menurut seperti menjadi beban besar bagi kita, bagi para murid.

Tengoklah apa yang kerap terjadi di dalam ruang-ruang kelas di sekolah-sekolah kita. Para murid itu, saatnya disuruh menyimak, malah ngobrol. Waktunya menjawab pertanyaan guru, bibir terkunci rapat-rapat. Diminta menulis karangan, tak dikerjakan. Bila tiba masa untuk menghitung angka, jawabannya malah ngarang. Dan kala harus menurut malah berbantah tanpa henti, “Tapi kan, Bu, tapi kan, Pak… “ kata para murid ini berulang-ulang seperti kaset rusak.

Anak-anak ini bukan hanya tak tahu waktu dan adab, mereka merasa seolah-olah gurunya hanyalah manusia yang dibayar oleh orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan kognitif mereka. Jika tak sesuai dengan egonya, penentangan bukanlah suatu kesalahan. Guru juga manusia yang bisa buat dosa, kilah mereka. Menegur kesalahan guru dengan cara semaunya adalah hal yang wajar saja. Guru itu cuma fasilitator, sarana penghantar pengetahuan yang memperoleh bayaran. Hatta, ketika banyak aturan dan suruhan, guru kerap kali dianggap resek, bikin repot, nyebelin, sok ngatur, atau sekali-sekali morotin siswa dengan LKS atau fotokopian soal.   

Kita tidak senang menurut atau minimal menyimak perkataan guru. Kita pikir ilmu terletak di dalam buku dan kertas latihan soal. Kita jadi kehilangan makna kehadiran guru, kita jadi jauh dari makna belajar, bahkan tak lagi kenal dengan makna ilmu. Anak-anak berangkat ke sekolah dengan niat ingin bergaul, ingin pacaran atau ingin eksis. Agak lurus sedikit, setidaknya ingin dapat nilai bagus, bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang bagus. Sehingga dapat bekerja di perusahaan bagus dan memiliki kecukupan atau malah berlimpah harta. Bisa beli apa saja. Jangankan untuk meraih ilmu dan kebenaran, kita sudah merasa tak perlu lagi mendengarkan alih-alih menyimak perkataan guru. Kita merasa kita lah yang lebih perlu didengarkan dan dimengerti oleh orang lain, termasuk para guru yang tak pernah mau dan bisa mengerti kita.

Di perguruan tinggi lebih parah lagi. Dosen-mahasiswa seperti tak lagi punya dan perlu membina hubungan sebagai guru-murid. Dosen banyak tak peduli, mahasiswa semakin semaunya sendiri. Dosen tak peduli mahasiswanya bolos atau tidak, tak ambil pusing pakaian mahasiswanya compang camping atau tidak, tak merasa perlu cari tahu mahasiswanya datang kuliah habis dugem atau tidak, tak terlalu memikirkan mahasiswanya mengerjakan tugas atau tidak, juga tak begitu peduli moralitas mereka macam bagaimana. Sementara mahasiswa merasa semakin jumawa dan telah pantas lepas dari bayang-bayang otoritas. Ke kelas semaunya, pada dosen melupakan sopan santun, banyak membaca buku dan pantas merasa lebih pintar, juga merasa berhak menununtut dosen dan kampus macam-macam hal karena sudah bayar.

Mungkin tak semua dosen begitu, seperti juga tak semua mahasiswa begitu. Namun perlu kita akui bahwa pemandangan macam begini kerap tampak di berbagai kampus di Indonesia. Tak ada simakan yang berarti dari mahasiswa atas perkataan dosen-dosennya, seperti juga tak ada makna yang utuh dari jiwa dosen yang sampai pada jiwa mahasiswanya, kecuali soal ilmu untuk ilmu, atau ilmu untuk menunjukkan derajat kepandaian diri, atau ilmu untuk pemenuhan kebutuhan materi.

Dalam kehidupan yang lebih sehari-hari, dengan mudah dapat ditemukan bahwa kita lebih suka didengarkan ketimbang mendengarkan. Kita pasti sering mengalami pembicaraan kita dipotong oleh teman atau kita yang memotong pembicaraan orang lain karena tak sabar ingin bicara. Kita pun tak jarang menghadapi atau mendengar pertanyaan-pertanyaan dari orang yang enggak nyimak, persis setelah penerangan panjang lebar usai. Jawaban yang sebetulnya sudah diterangkan, masih saja ditanyakan. Artinya yang bertanya tidak menyimak baik-baik. Adakalanya kita kesal dengan kelakuan begitu. Kali lainnya, kita yang melakukan itu.

Lemahnya kemampuan kita dalam mendengarkan mungkin menjadi cermin akan ketidakmampuan  kita untuk menjinakkan diri sendiri, untuk memimpin diri sendiri. Tanpa berlatih mendengarkan orang lain, kita akan sangat kesulitan menjinakkan dan menguasai diri sendiri. Tanpa kemampuan untuk mendengar, bagaimana mungkin kita dapat mengatur diri untuk melakukan hal yang lebih sulit dari itu?
Kalau sudah begitu, kita hanya akan menjadi manusia yang ingin dimengerti tanpa berusaha mengerti. Kita akan jadi seseorang yang banyak menuntut dengan amat kekurangan empati. Kita akan menjadi sosok yang merasa tahu dan benar, tanpa merasa perlu diberitahu dan pernah salah. Kita akan cenderung mendengar hal-hal yang hanya ingin dan nyaman untuk kita dengar, selainnya seperti tak pernah sampai ke telinga.

Sesungguhnya, yang kita perlukan agar hidup senantiasa tertuntun dan jauh dari kemelaratan adalah ilmu. Upaya pengenalan kita pada hakikat seluruh alam raya, termasuk diri sendiri dan Pencipta memerlukan ilmu. Bayangkanlah, kita ini sedang melakukan sebuah perjalanan. Kita tak bisa kemana-mana dan harus mau menjalaninya. Lalu kita harus pula menghadapi kesulitan, deraan, juga ujian dalam panjangnya perjalanan. Sudah begitu, kita tak tahu tujuan dari perjalanan ini. Tak punya peta, tak tahu harus kemana, naik kendaraan apa, dan menunjukkan sikap bagaimana bila kesulitan dan ujian datang.

Kita pun merasa terperosok dalam kesialan dan marah pada berbagai keadaan. Kita merasa melarat  dan selayaknya tak perlu lahir ke dunia. Yang kita tahu hidup hanya mengantarkan pada kematian tanpa tahu tujuan dan hendak kemana.

Tanpa tahu petunjuk tentang tujuan, kita akan merasa sial dan melarat seumur hidup meskipun bergelimang harta. Tanpa mengenali petunjuk, kita tak akan benar-benar bisa membaca dan sampai pada kebenaran. Dan tanpa berusaha memahami petunjuk, tentu kita akan hilang arah, kebingungan, dan tersesat jauh dalam menempuhi perjalanan menuju kematian, melarat sejadi-jadinya.

Di dalam proses belajar, guru adalah seseorang yang menyampaikan ilmu. Belajar yang menuntut murid aktif tidak langsung bermakna gurunya pasif atau sekadar menjadi fasilitator. Guru memiliki porsi besar dalam pembelajaran untuk menyampaikan ilmu, kebenaran dan teladan. Guru perlu pula memastikan bahwa murid-muridnya sedia menyimak. Pembangunan jiwa yang serius dan sungguh-sungguh dalam belajar perlu senantiasa dibina. Sementara ilmu itu bagaikan air, ia hanya akan mengalir ke tempat-tempat rendah. Ia hanya akan hadir pada jiwa-jiwa yang merendah pada Pemilik Ilmu, merendah pada manusia yang hatinya dipenuhi cahaya ilmu.

Ilmu, kebenaran dan teladan disampaikan lewat pesan dan perkataan, masuk ke dalam sanubari murid melalui pendengaran mereka. Tanpa kesediaan hati untuk merendah diri dan menyimak dengan baik perkataan guru, kemampuan mendengar telinga bisa tiba-tiba lenyap. Tak akan ada ilmu dan keteladanan dari dada guru yang sampai pada dada para murid. Bisa-bisa, guru kita bilang akan ada kajian Kamis malam, kita malah datang malam Kamis. Salah dengar begitu tentu tak terlalu bermasalah. Yang jadi soal kalau salah nyimak berkaitan dengan konsep dan pemahaman, tanpa konfimasi dan pembetulan, bisa berabe seumur hidup. Allah tentu bukan tanpa perhitungan menciptakan satu mulut dan dua telinga bagi manusia.

Dalam sepekan sekali, umat Islam memiliki hari besar yang banyak keutamaannya. Pada hari Jumat, juga pada sholat Jumat, Allah menyempurnakan bagi orang beriman agama mereka dan mencukupkan nikmat-Nya. Di dalam ibadah sholat Jumat yang sepekan sekali itu, umat Islam tidak hanya beroleh kesempatan untuk mendapat kelimpahan ganjaran baik dan dihapuskan dosa-dosanya. Shalat Jumat juga memberikan sarana pelatihan menyimak gratis dan terstruktur bagi umat Islam. Pelatihan bersabar menerima ilmu.

Ulama telah bersepakat bahwa khutbah ialah salah satu syarat sahnya sholat Jumat. Maka ketika khutbah tidak ada, sholat Jumat pun menjadi tidak sah, karena syaratnya hilang. Ketika imam sudah mulai sholat Jumat, seorang jamaah yang baru masuk masjid tentu tak mendengar khutbah. Sholat Jumatnya memang tetap sah, tapi ia berdosa karena lalai mendengar khutbah. Sama halnya dengan seseorang yang telah memasuki masjid sebelum khutbah dimulai tetapi ketika khutbah berlangsung  malah tidur, ngobrol atau bahkan baca Al-Quran.

Kemuliaan membaca Al-Quran jadi tak berarti apa-apa bila telah tiba keharusan jamaah untuk memasang hati dan telinga menyimak khutbah Jumat dengan sebaik-baiknya. Itu sebabnya khutbah Jumat harus dilakukan dengan menggunakan bahasa setempat, bukan Bahasa Arab. Khutbah Jumat disampaikan memang untuk disimak para jamaahnya, bukan untuk belajar Bahasa Arab. Yang disampaikan dalam khutbah Jumat yang singkat begitu pun, bukan soalan agama yang perlu penelaahan panjang. Cukuplah khutbah Jumat menyampaikan makna dan penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti halnya ciptaan Allah berupa dua telinga dan satu mulut, ketentuan Allah untuk khusyuk mendengar khutbah Jumat yang hanya setiap sepekan sekali tentu penuh perhitungan. Kita tidak disuruh diam menyimak perkataan orang berilmu setiap jam atau setiap hari, tidak pula sebulan sekali atau setahun sekali.

Kalau setiap jam atau paling tidak sehari sekali kita harus melakukan yang semacam begitu, tentu kita akan pegal. Ada masanya kita perlu bertanya, mengkonfirmasi, dan mendiskusikan ilmu yang telah kita terima. Kita pun perlu waku khusus untuk mempelajari agama dengan penelaahan yang lebih panjang, dalam dan serius. Tentu waktunya bukan saat khutbah Jumat.

Kalau hanya sebulan sekali, apalagi setahun sekali, bisa jadi kita malah lupa sama sekali tentang keharusan menyimak dan menghayati betul-betul perkataan orang berilmu dengan mempertahankan konsentrasi dan tanpa suara dari lisan sendiri. Jika kita merasa tak penting untuk melatih dan memiliki kemampuan menyimak dengan baik, kemelaratan dirilah yang akan menghampiri. Ilmu tak akan sampai pada orang yang tinggi hati.

Lagipula, Rasulullah Saw memerintahkan para khotib untuk menyampaikan khutbah secara singkat dan memperlama sholat, bukan sebaliknya. Maka seharusnya bukan hal sulit bagi kita untuk melatih diri menyimak perkataan orang lain. Setiap sepekan sekali, dengan semangat hari raya, kita siapkan waktu dan niat untuk khusyuk menegakkan sholat dan melatih telinga serta merendah hati untuk mendengarkan dan menyimak khutbah Jumat.

Kalau sudah begitu, semestinya kita akan jadi manusia yang tahu diri dan mau menghargai ilmu juga orang berilmu. Kita akan makin perlu untuk mengenali Allah dan segala penciptaan-Nya dengan lebih bersungguh-sungguh. Kita jadi bersedia mengerti bahwa untuk mencapai semua hal itu, tempatnya berasal dari dada para guru. Dengan begitu kita tak akan serampangan menunjuk hidung ulama dengan tuduhan asal-asalan. Pada akhirnya, kita bukan hanya tak jadi melarat tapi akan beruntung berlipat-lipat.


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS