• Ikuti kami :

Penggusuran Tempo Dulu

Dipublikasikan Senin, 23 Januari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Prolog

Yang namanya penggusuran, di perkotaan itu bukan barang aneh. Biasa itu. Wilayah yang digusur juga beragam, biasanya wilayah-wilayah yang tempat masyarakat kecil menggantungkan tali nasibnya. Bisa perumahan masyarakat kecil, bisa tanah orang-orang pribumi yang juga masih masuk dalam keanggotaan organisasi yg bernama masyarakat ekonomi lemah, bisa pasar-pasar tradisional—yang lagi-lagi—tempat masyarakat kecil memenuhi hajat kesehariannya, bisa juga terminal bus, jenis transportasi yang diminati oleh masyarakat kecil karena harganya pas dengan kantung celana dan dompet.

Mengenai penggusuran terminal bus, setahun yang lalu agaknya berembus kabar bahwa Terminal Lebak Bulus, Jakarta, salah satu tempat mangkalnya bus antardaerah di selatan Jakarta, akan dipugar demi memenuhi kebutuhan transit transportasi jenis baru, MRT. Rencananya armada bus antardaerah akan dipindahkan ke sebuah bekas terminal yang terbengkalai di bilangan Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Awal tahun lalu, isu itu terbukti benar. Bus-bus antardaerah yang dulunya parkir di Lebak Bulus sembari menunggu calon penumpang kini mesti transit di Terminal Pondok Cabe. Sayangnya, terminal itu terlalu jauh letaknya bagi calon penumpang yang umumnya warga Jakarta. Dari Lebak Bulus saja, setidaknya membutuhkan dua kali naik kendaraan umum untuk sampai ke sana. Walhasil, tidak ada penumpang yang bersedia naik dari sana.

Para pengemudi bus juga mengeluhkan soal lokasi terminal baru yang jauh dari gerbang tol. Gerbang tol yang paling selatan ya di Lebak Bulus itu. Maka, terminal itu sebatas tempat bus memutar arah saja. Tempat menaikturunkan penumpang tetap saja di Lebak Bulus. Di seberang Terminal Lebak Bulus itu para sopir bus memarkirkan kendaraannya. Ngetem istilahnya. Lebak Bulus malah semakin semrawut.

Soal gusur-menggusur terminal, Jakarta memang jagonya. Salah satu peristiwa penggusuran yang cukup mengesankan dalam sejarah Jakarta adalah terminal di Lapangan Banteng. Sekarang tempat itu berubah menjadi taman kota. Soal ini, majalah Jakarta-Jakarta nomor 9, tahun 1981, membuat liputan tentang penggusuran Terminal Lapangan Banteng pada halaman 53—55.

Cerita di Balik Pengosongan Terminal Lapangan Banteng

Akhirnya, pengosongan Terminal Lapangan Banteng dari sebagian rute bus kota, jadi juga dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 23 Agustus 1981 yang lalu. Tak kurang dari 150 bus kota—atau delapan rute—yang harus “keluar” dari lingkungan terminal dan 350 lainnya masih dapat dimanfaatkan “sisa waktu” dari batas yang telah ditentukan dalam proses pengembalian Lapangan Banteng kepada pemerintah pusat itu. Memang, terminal itu “dipinjam” selama 10 tahun, terhitung sejak tahun ‘71.

Menurut keterangan Kepala Hubungan Masyarakat DKI Jaya Drs Ramona Ginting, “Pengosongan berikutnya akan menyusul, menunggu pengamatan tahap sekarang!”

Diperkirakan akhir tahun 1981 Terminal Bus Kota Lapangan Banteng sudah dapat dikosongkan seluruhnya, yang nantinya—menurut rencana pemerintah pusat—akan dijadikan taman.

Ternyata pengosongan dan pengembalian Lapangan Banteng ini sebelum sempat “meresahkan” orang-orang yang selama ini terlibat dengan napas kehidupannya. Sebagai terminal pusat di situ berkumpul wakil-wakil dari perusahaan bus, para sopir berikut perangkatnya, para pemakai jasa angkutan dalam kota, serta aparat pemerintah daerah yang mengatur kelancaran perlalulintasan.

Dan jangan lupa, terminal ini juga digauli dengan akrab oleh sekitar 60 orang pedagang kecil.

Terminal Surat Kabar

Mereka itu, mendapat izin resmi membangun kios asal sanggup membayar sewa Rp 10 ribu/bulan. Jika hanya pasang meja beratap langit, cukup memberikan “uang kebersihan” sekitar Rp 200 sampai Rp 250/hari, lantas boleh mengadu untung di terminal yang dibangun pada tahun 1968 dan baru dipergunakan tahun 1971 itu.

“Soalnya, ke sinilah setiap harinya penduduk Jakarta dari segala lapisan datang berkumpul. Jadi, di sini pula saya coba adu nasib cari rezeki,” kata Tambunan, pedagang buku baru/bekas yang mangkal sejak tahun 1975 itu. Sebetulnya, pedagang sudah mulai meramaikan tempat itu sejak tahun 1969 pada masa-masa penempatan Lapangan Banteng sebagai terminal pusat di Jakarta itu. Yang terbanyak, tentu saja pedagang makanan dan pengecer surat-surat kabar dan majalah.

Khusus untuk pedagang koran dan buku bekas, punya romantika hidup sendiri. Terutama dari segi penghasilan, selalu tidak tetap dan tergantung pada situasi. Seperti diungkap oleh Nainggolan:
“Kalau pas ada berita hangat, saku saya ikut hangat. Misalnya waktu ada peristiwa pembajakan pesawat Garuda, koran saya laris. Tapi kalau lagi sepi berita, kantong saya juga ikut sepi.”

Tambunan yang penjual buku ikut menimpali, “Saya apalagi. Kalau tidak musim ajaran baru hampir tak ada pembeli yang datang!” Rata-rata para pedagang itu mulai aktif sejak jam 06.00 pagi dan baru “tutup setelah jam 20.00 dengan hasil keuntungan rata-rata antara Rp 1.500 sampai Rp 2.000.

“Semua tergantung nasib masing-masing, laris tidaknya kami Tuhan yang atur. Rezeki tidak bisa dikejar-kejar,” ujar seorang pedagang koran yang tidak mau disebut namanya. Dia bergumul di keriuhan terminal ini selama 12 jam setiap hari, sementara di rumahnya menunggu istri dengan empat orang anak. “Saya sudah empat tahun di sini. Kalau hujan basah, kalau panas ya kepanasan,” sambung jebolan SMA asal Jawa Tengah itu pula.
Para pedagang ini dalam mengambil rezeki tidak terlalu “ngotot” dan serakah. Misalnya untuk koran, mereka ambil di sub-agen seharga Rp 90/koran yang dijual dengan harga Rp 125 dan jika hampir lewat waktu (menjelang sore) “diobral” jadi Rp 100. “Kalau sampai tidak laku, tidak habis terjual, itu risiko kami,” ujar Nainggolan pula.

Agaknya, sejak berdirinya itu, Terminal Lapangan Banteng sudah berfungsi ganda. Di samping terminal bus kota, juga terminal segala macam majalah dan surat kabar. Bahkan majalah bekas pun masih dicari orang, tentu saja dengan harga yang berbeda dari edisi terbaru. “Jika kami tergusur dari sini, yang repot juga penerbitnya. Sebab, di sini sirkulasi koran mencapai 40 sampai 50 persen dari seluruh Koran yang beredar di Jakarta,” kata Tambunan pula.

Soto Madura

Di samping tukang-tukang koran dan majalah, Terminal Lapangan Banteng ini juga jadi tumpuan nasib bagi tukang semir sepatu. “Dulu lebih dari 40 orang, sekarang tinggal separuh.” Kata Eddy yang asal Surabaya. Dia mengaku pernah sekolah, hanya sampai kelas dua SD lalu hijrah ke Jakarta untuk jadi tukang koran. Kemudian tukar profesi jadi tukang semir sepatu.

“Paling tidak sehari bisa mengantongi rezeki Rp 2.500 bersih,” kata Eddy dengan nada bangga. Ia mengawali operasi pada jam 08.00 sampai jam 16.00 dan setiap 10 hari sekali bisa mengirimkan uang sebesar Rp 10 ribu kepada orang tuanya yang bermukim di Surabaya.

Jejaknya ini ditiru pula oleh Santoso, urbanis dari Jember. Ayah dari seorang anak ini merasa cukupan dengan hasil yang didapatnya itu. Maka ia jadi merasa waswas akan hari depannya nanti. Seraya mengangkat kotak semirnya, Santoso mengeluh: “Saya belum tahu mau pindah ke mana, mungkin akan jadi tukang koran lagi.”

Ketika masih di terminal para tukang semir itu memasang tarif Rp 100 sampai Rp 150 sekali semir. Para penumpang yang sedang menunggu bus banyak yang antre untuk minta dibersihkan sepatunya. “Kecuali musim hujan, agak sepi. Mungkin sebentar-sebentar sepatu jadi kotor, mereka malas untuk menyemirkannya,” kata Santoso.

Dengan pendapatan sebesar itu mereka merasa akrab dengan Terminal Lapangan Banteng, dan kalau mungkin mereka tidak mau berkisar dari situ. Memang, ada jalan keluar yang ditawarkan oleh pihak pemerintah daerah. Yaitu tempat penampung pedagang di Proyek Senen Impres Blok-IV. “Saya akan pikir-pikir dulu, mau saja saya, kerja lain asal paling tidak digaji Rp 75 ribu sebulan,” ujar teman Eddy, yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Bersebelahan dengan terminal—di sepanjang gang sempit—ada 15 orang pedagang soto madura. Mendengar tawaran untuk pindah tempat, seseorang memberi perbandingan: “Di sini kami sudah punya banyak langganan, kalau pindah kan berarti harus cari langganan baru lagi.”

Penghasilan mereka rata-rata cukup lumayan. Yang jualan soto madura bisa menjala keuntungan bersih Rp 2.000/hari, sementara kalau musim kemarau penjual-penjual es alpukat mendapat sekitar Rp 2.500. “Jika musim hujan, saya jualan bakso,” ujar Ratman yang mangkal sejak tiga tahun lau.

Tukang sol sepatu juga banyak yang menggantungkan nasib di tempat ini. Seperti kata Naryo, tukang reparasi sepatu yang berasal dari Jawa Tengah itu: “Banyak orang yang suka ganti sol sepatu, umumnya pegawai kecil. Lumayan juga sehari bisa mendapat Rp 1.500.” Dengan pekerjaan ini Naryo bisa menghidupi keluarganya dengan dua anak itu.

Baik para penjual soto madura, nasi rames, tukang-tukang es alpukat, koran dan majalah, semir sepatu, umumnya merasa sudah kerasan mangkal di terminal yang siang malam selalu ramai dengan manusia ini. Dengan dikosongkannya Lapangan Banteng dari perjalanan akhir bus kota, mereka jadi bingung, meskipun ada tawaran tempat lain untuk menampung.

“Kalau saya harus jualan buku di tempat sepi, yah, mana laku?” Keluh Tambunan. Di lain pihak, Nainggolan mengakui: “Selama ini pihak DLLAJR amat banyak membantu kami. Tak pernah ada penekanan. Pokoknya, asal kami selalu beres bisa menjaga kebersihan dan ketertiban, selalu ada kerja sama.”

Begitulah, dengan pengosongan yang sudah dilakukan itu, Lapangan Banteng akan menambah kesegaran napas bagi warga Kota Jakarta bila kelak dijadikan taman yang indah. Tapi di sisi yang lain, para pedagang kecil yang pernah selama bertahun-tahun mencari nafkah di tempat itu, mungkin akan menjadi sesak napas. Mereka kehilangan tempat yang strategis untuk menghidupi diri dan keluarganya. Memang ada tempat penampungan, tetapi akan samakah suasananya dengan tempat yang mereka tinggalkan itu?

***

Memang, terminal bus berfungsi utama untuk menaikturunkan penumpang bus. Selain itu, karena yang dinaikturunkan itu manusia, tentu saja diiringi dengan jasa-jasa lainnya di terminal itu. Dari loket penjualan tiket, penjaja makanan, pedagang asongan, sampai loper koran adalah beberapa contoh industri jasa pendukung terminal. Dengan adanya usaha-usaha seperti itu, calon penumpang sebagai pengguna terminal dapat menyamankan dirinya.

Bukan sebatas itu, di sisi penjaja usaha, terminal adalah tempat meraih nafkah. Dengan adanya terminal itulah anak-beranak di rumah bisa makan dan menyambung hidup ke depan. Vitalnya peran terminal tidak hanya dirasakan oleh para calon penumpang, juga terasa oleh para pedagang di sana. Penutupan terminal mestilah membawanya kepada penutupan lahan mata pencaharian.

Tidak hanya pada kasus Terminal Lapangan Banteng, Terminal Lebak Bulus juga mengalami hal senada. Muncullah kaum pengangguran baru yang melengkapi curamnya kesenjangan sosial dan ekonomi di Jakarta.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS