• Ikuti kami :

Pengaruh Tasawuf dalam Pemikiran Politik Iqbal

Dipublikasikan Jumat, 16 Mei 2014 dalam rubrik  Tafakur

Berbeda dengan konsep politik sekuler, teo-demokrasi yang digagas Muhammad Iqbal memiliki tujuan tidak hanya kepada dunia thabii ini, tetapi juga merambah ke dunia selanjutnya. Bagi Iqbal, tujuan dari politik kenegaraan adalah untuk mengantarkan warga negaranya menuju surga. Itulah peran penting politik kenegaraan.

Muhammad IqbalIqbal sendiri melihat pentingnya peran politik dengan pandangan Islam. Setelah memeriksa beragam persoalan umat Muslim yang hadir di sekitar Iqbal, ia melihat penyebab mundurnya umat Muslim karena kehilangan kekuasaan di segala bidang. Khususnya di bidang politik[1]. Namun, Iqbal tidak melihat politik sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Ia menghubungkannya dengan manusia sebagai pelaku politik. Justru inilah yang kemudian menjadi hal yang ditekankannya. Pada fase awal pemikirannya, Iqbal menjadikan konsep jiwa manusia sebagai fokus kajian filsafatnya. Pada fase itu, muncul gagasan-gagasannya tentang khudi, momin, dan millat.

Konsep politiknya berlandaskan Ide-ide tentang metafisika yang berasal dari Islam. Manusia sebagai insan pengabdi kepada Tuhan adalah titik pusat dari ide politiknya. Ya, manusia menjadi hal penting yang ia bahas, namun bukan manusia sebagai individu yang berdiri sendiri. Bagi Iqbal, manusia harus dipandang dari sudut hubungannya dengan Sang Pencipta. Uniknya, Iqbal tidak hanya menggali konsep ini dari wahyu, khususnya al Qur’an, serta beberapa hadits Nabi yang beredar luas di kalangan ahli sufi, juga penafsiran ahli-ahli sufi yang otoritatif seperti Maulana Jalaluddin Rumi, dan Ibn Arabi al-Jilli, dan lain sebagainya[2]. Kemudian bahan-bahan yang didapatnya itu dibangun secara ijtihad.

Khudi, Momin, dan Millat, Pemikiran Tasawuf

Sebelum melontarkan konsep politik teo-demokrasi yang digagasnya kemudian, Iqbal terlebih dahulu berbicara tentang manusia; apa itu manusia. Soal ini Iqbal berangkat dari ayat-ayat yang menjelaskan tentang tujuan Allah Swt menciptakan manusia, serta bagaimana potensi manusia itu[3]. Menurutnya, sebab Allah menciptakan manusia dengan bertujuan menjadi wakilnya di muka bumi ini[4], manusia dengan segala kelemahannya ditugaskan Allah menjadi wakil-Nya di muka bumi[5]. Maka insan yang diciptakan-Nya itu mendapat kelebihan-kelebihan tertentu yang tidak didapatkan makhluk lainnya: ego yang kreatif. Dalam ceramahnya yang berjudul Human Ego-His Freedom and Immortality[6] ia berbicara apa itu jiwa sebagai pribadi kreatif.

Khudi

Manusia dipahami sebagai pribadi yang kreatif (creative ego/khudi)(creative ego/khudi). Manusia memiliki potensi kemampuan untuk berkreasi, mencipta. Tujuan dari Qur’an untuk manusia, menurut Iqbal adalah untuk menumbuhkan kesadaran yang sejati akan keeratan hubungannya dengan Sang Pencipta dan alam[7]. Dan, dengan kreativitasnya, manusia dituntut untuk menciptakan tujuan hidupnya sendiri dalam rangka memenuhi tugasnya menyembah Sang Pencipta[8]. Alam menurut Iqbal adalah bukanlah semata sebentuk materil, ia adalah cerminan dari “Ego Absolut” yang menciptakannya.

Allah sendiri dipandang Iqbal sebagai “Ego Absolut”, yang mengatasi segala pribadi, yang mutlak, dan menjadi tumpuan segala pribadi[9]. Begitu dekatnya hubungan antara jiwa manusia dengan Allah[10]. Bagi Iqbal, Allah adalah “Hakikat sebagai suatu keseluruhan”, dan pada dasarnya bersifat spiritual. Begitu juga, Dia bukanlah ego, melainkan Ego Mutlak. Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi segalanya[11]. Dalam karya puisinya, Asrar-i-Khudi, Iqbal menunjukkan signifikansi peran ego dengan mengatakan bahwa kehidupan alam semesta ini dibangun pada kekuatan Ego Mutlak[12]. Alam semesta ini pula digambarkan sebagai sesuatu yang terkait erat kepada Ego Mutlak, dalam Kebijaksanaan yang Suci[13]. Dan sebagai Ego Mutlak, Ia menyebarkan energinya kepada ego-ego (jiwa manusia)[14].

Menurut Parvees Ferozen Hassan dalam bacaannya tentang ego kreatif yang digagas Iqbal, hakikat dari ego adalah kekuatan yang diberikan kepada satu di atas yang lainnya[15]. Manusia sebagai jiwa adalah ego. Ego manusia adalah sesuatu yang unik berdasarkan kekuatan yang diberikan Allah Swt kepadanya. Manusia diberikan kelebihan pada jiwanya dibandingkan dengan jiwa yang lain; kekuatan. Kekuatan ini adalah potensi yang ada pada jiwa manusia. Kekuatan juga menjadi potensi jiwa manusia untuk kreatif. Kreativitas menjadi aspek kunci dari konsep khudi-nya Iqbal.

Bagi Iqbal, ego haruslah kreatif, melakukan karya terus menerus sebagai bentuk peribadatan kepada Allah, Sang Pencipta. Baginya, jika ego statis, maka sama saja sebagai kematian fisik dan spiritual si ego; manusia[16]. Lanjutnya, Iqbal mendasarkan kreativitas ego pada Firman Allah yang menyatakan bahwa nasib manusia itu sejatinya didasarkan kepada tindakannya[17]. Iqbal sendiri melihat jika ego tidak kreatif, statis, dalam artian jika manusia Muslim tidak melakukan kreativitas dalam rangka memenuhi peribadatan kepada Allah, sama saja manusia Muslim itu telah mati[18]. Gerak aktif yang kreatif, inovasi, aksi, dan rasa ingin tahu yang mendalam adalah hal-hal yang sangat penting pada ego[19]. Ego yang kreatif ini, selain berangkat dari Wahyu, juga dibangun Iqbal melalui interpretasi guru spiritualnya, Maulana Jalaluddin Rumi terhadap Wahyu. Rumi adalah salah seorang ulama sufi kenamaan yang otoritatif. Iqbal menyatakan bahwa melalui Rumi lah ia mencapai kematangan pemikiran religiusnya [20]. Dari Rumi, Iqbal membangun gerak kreatif sebagai hakikat dari jiwa (ego). Dan baginya, juga merujuk kepada Rumi, hakikat dari dunia ini adalah hakikat yang spiritual[21].

Khudi bukanlah sesuatu yang begitu saja diberikan kepada manusia secara alami. Yang diberikan hanyalah potensi-potensinya. Khudi didapat jika dan hanya jika si manusia Muslim itu melalui usaha terus menerus dan keteguhan hati. Parvees Ferozen Hassan mencatat, dalam Asrar-i-Khudi, Iqbal menunjukkan karakteristik-karakteristik tertentu untuk menumbuhkembangkan ego yang kreatif. Hal-hal itu adalah cinta (Ishg), kemampuan untuk berdikari/merdeka (Faqr), keberanian dan kreativitas[22]. Cinta dipahami Iqbal sebagai keinginan manusia si pencinta untuk terus-menerus mendekatkan diri kepada Yang Dicintai, menyerap sebanyak mungkin Kuasa-Nya dalam bentuk pribadi yang kreatif, ego yang menerima pancaran dari Ego Mutlak. Ini didapat dari konsep cinta jalaludin Rumi. Cinta, menurutnya adalah kekuatan amat dahsyat yang menyebabkan seorang pengecut menjadi raya yang pemberani[23]. Dan cinta dipandang sebagai keimanan adalah cita kerja. Itulah tauhid, working idea[24].

Kedua, adalah Fagr. Ini adalah hal utama dalam konsep khudi. Faqr dipahami oleh Iqbal sebagai kekuatan untuk mandiri, tidak bergantung dengan yang lain, sehingga ia menjadi ego yang tak terkalahkan. Darinya, timbul keberanian. Hal ini sangat ditekankan oleh Iqbal. Terakhir, adalah keingintahuan. Manusia sejatinya bersifat ingin tahu. Sebab jiwa manusia sangat haus akan pengetahuan, dan juga pengetahuan adalah makanan jiwa (ilmu adalah makanan bagi jiwa). Pada perannya sebagai khalifah di muka bumi, keingintahuan manusia adalah instrumen terbesar untuk mengalahkan segala lingkungannya.

Catatan penting diberikan Parvees Ferozen Hassan bahwa faqr tidak dengan serta merta dilepasliarkan. Justru yang menariknya, Iqbal melihat bahwa farg ini akan berjalan sempurna jika mengikuti kaidah syara’. Dipastikan juga bahwa ego kreatif bukanlah sesuatu yang liar menjalang seperti Nietsche, tetapi khudi akan hadir dengan gagah dan sehat jika mengikuti hukum syara’ sebagai bentuk kecintaan, ketundukan, dan kesadaran tertinggi kepada Pribadi Mutlak[25]. Sebagai pecinta, tentu dengan sadar insan Muslim akan patuh kepada perintah dan ketentuan yang diberikan oleh Yang Dicintai. Dengan demikian, cinta tidak akan bertepuk sebelah tangan.

Momin (insan kamil)

Insan kamil (momin) adalah konsep yang dikenal luas di kalangan filsuf Muslim. Abdul Karim al-Jili dan Muhiddin ibn Arabi adalah dua ulama terkemuka yang memperkenalkan konsep ini. Bagi al-Jili, manusia (insan) adalah gambaran Tuhan. Dalam realitas, manusia adalah penghubung kesatuan antara Tuhan Sang Pencipta dengan alam semesta[26]. Manusia adalah tokoh utama dalam penciptaan semesta makhluk-Nya sebab tidak ada makhluk selain manusia yang memiliki kualitas yang serupa Sang Pencipta. Serupa tetapi tidak sama[27]. Al-Jili dan ibn Arabi melihat sosok terbaik dari insan kamil adalah Baginda Nabi Saw.

Bagi Iqbal, Momin adalah manusia (sudah dipastikan Muslim) yang memiliki kekuatan, visi, dan kebijaksanaan terbaik. Karakter ini menurut Iqbal didapat dengan mencontoh pribadi Rasul Saw. Momin memiliki kekuatan yang sangat kuat dan mampu mengatasi segala persoalan di muka bumi. Singkatnya, bisa dikatakan bahwa momin adalah ciri khas kepribadian khalifah Allah di muka bumi. Selanjutnya Iqbal mengatakan bahwa replika dari sifat-sifat ketuhanan Sang Pencipta ada pada manusia jenis ini. Kekuatan, visi, dan kebijaksanaannya melampaui ukuran-ukuran yang dibuat manusia[28].

Manusia super yang diyakini Iqbal ini yang memiliki kemiripan dengan “Manusia Super”-nya Nietzche. Iqbal mengapresiasi konsep filsuf eksistensialis Jerman itu, namun berbeda dengannya, Iqbal justru melihat “Manusia Super” ini berangkat dan berdasarkan Wahyu, tentu saja hasilnya kemudian akan berbeda. Jika Nietzsche melihat lingkungan adalah musuh yang harus ditundukkan demi kepentingan pribadi, Iqbal melihat realitas lingkungan harus ditundukkan demi kepentingan penyembahan, menyembah Yang Maha Pencipta. Begitu pula jika Nietzche melihat manusia sebagai sosok super yang berdiri sendiri, Iqbal melihat manusia menjadi super terkait dengan ‘sesuatu’ yang di luar sana: Allah Swt. Iqbal melihat ‘manusia super’ justru dari al-Qur’an[29].

Dan selanjutnya, momin bukan hanya berdasarkan al Qur’an. Lebih dari itu, momin adalah al-Qur’an dalam bentuk makhluk hidup yang bertindak[30]. Bagi Iqbal, Wahyu bukan sebatas sebagai rujukan. Dalam bebeberapa hal, Iqbal menolak slogan “kembali ke al-Qur’an dan sunnah”. Bagi Iqbal, lebih jauh dari itu, al-Qur’an, sunnah, dan hadits dianggap sebagai kekuatan hidup untuk menggali potensi-potensi ruhaniah, dan juga untuk menyelesaikan beragam persoalan yang insan khudi hadapi. Maka Iqbal menyebutkan slogan “Berjalan dengan al-Qur’an”[31].

Millat (komunitas)

Iqbal melihat dasar dari millat (Komunitas Muslim) adalah tauhid dan risalah kenabian. Dua hal penting ini menjadi penyatu dan jiwa bersama millat di seantero bumi. Dua hal ini menjadi dasar pijakan berpikir semua Muslim (yang taat) dan menyatakannya dalam tindakan. Risalah kenabian menciptakan semangat suci dan kesatuan jiwa Muslim. Iqbal melihat semangat kebangsaan semua Muslim berangkat dari sini[32]. Gagasan Iqbal tentang konsep ini terinspirasi dari Pan-Islamisme yang digagas Jamaludin al-Afgani[33]. Nasionalisme dalam artian sekuler dan wilayah teritorial yang berdasarkan kebangsaan ala Eropa adalah hal yang asing dalam pemikiran politik dunia Muslim. Begitu pula Iqbal, baginya tidak ada alasan untuk tidak akan kebersatuan umat Muslim di manapun ia berada, sebab semua Muslim di muka bumi ini hanya memiliki satu Nabi Besar, satu Iman, satu Yang Disembah, satu Ka’bah, dan satu al Qur’an[34].

Iqbal mengkritik nasionalisme sekuler Eropa. Baginya, konsep yang demikian itu kehilangan dasar moral dan spiritual. Sedangkan moral dan spiritual adalah dasar manusia. Merujuk pada pembahasan tentang khudi, jelas manusia pada hakikatnya adalah jiwa. Artinya, nasionalisme sekuler menjadikan manusia menjadi bukan manusia. Tidak sehat. Politik tanpa adanya dasar moral dan dasar spiritual, menjadikannya jahat kepada alam semesta dan tidak akan pernah dapat menolong manusia untuk menciptakan kedamaian hidup dan bereksistensi[35].

Demokrasi yang digagas Iqbal adalah sistem politik yang berdasarkan kepada Wahyu suci. Tata aturan sosial dalam pandangan Islam adalah bentukan dari syariah yang dengannya menciptakan kebahagiaan bagi manusia. Demokrasi yang seperti ini dapat terwujud jika dilakukan oleh manusia-manusia yang memiliki ego kreatif yang tinggi, manusia-manusia yang merujuk kepada ‘manusia sempurna’, insan kamil. Dalam Islam, konsep politik seperti teokrasi yang otoriter, kekuasaan berdasarkan wahyu khusus yang diturunkan kepada manusia khusus yang dipilih, tanpa bisa dipantau. Islam mengakui otoritas satu individu di atas individu lainnya. Islam, sebagai politik adalah tujuan pada tingkat praktis dalam menyatakan Tauhid sebagai sebuah faktor yang hidup dalam kehidupan intelektual dan emosional manusia, dibutuhkan loyalitas kepada-Nya, bukan yang lain.

Seorang Muslim hidup untuk membuat arah dan targetnya melalui perjuangan yang didorong oleh kebenaran. Prinsip-prinsip yang ada dalam Islam hanya bisa terlaksana dengan sempurna dengan adanya organisasi politik yang bertujuan mengabdi kepada Sang Pencipta dan kemanusiaan (kemanusiaan dalam kacamata Islam). Dalam Islam, penggunaan kekuasaan demi tujuan yang benar, dan menggunakannya dengan cara yang benar pula adalah bagian dari pengabdian kepada Allah Sang Pencipta. Salah satu peran dari fungsi Khalifah Allah di muka bumi adalah peran politik. Hal ini kita akui bersama. Ibn Taymiyah menyatakan bahwa penggunaan kekuasaan demi tujuan yang mulia adalah tugas suci Muslim, tugas keagamaan[36].

Iqbal melihat peran negara adalah untuk mendukung bertumbuhkembangnya ego kreatif. Mengutip perkataan Buya Muhammad Natsir dalam pidato memperingati Hari Iqbal, apa yang diperlukan umat manusia dewasa ini adalah penafsiran ruhani atas alam semesta, emansipasi ruhani manusia, dan dasar-dasar asasi yang universal yang mengarahkan evolusi masyarakat manusia atas dasar ruhani[37].

Realitas yang Ultim, interpretasi Iqbal terhadap al-Qur’an, adalah spiritual, dan menyatakan keberadaannya dalam aktivitas temporal. Hal-hal yang temporal (makhluk) adalah cerminan keberadaan diri-Nya. Maka ia menjadi sesuatu yang suci. Apa yang dianggap sekuler (duniawi) sejatinya adalah sakral. Begitu pula soal tindakan manusia. Sebab tindakan seorang Muslim senantiasa dibuat sebagai bentuk peribadatan kepada Ego Mutlak yang Suci, maka tindakan politik sosial bagi seorang Muslim sudah dipastikan sebagai tindakan yang sakral. Sabda Baginda nabi Saw bahwa semua bagian dari bumi ini adalah masjid. Negara, merujuk kepada Islam adalah usaha untuk merealisasikan maksud-maksud spiritual dalam organisasi manusia[38].

Negara dalam pandangan Iqbal adalah kegiatan mewujudkan prinsip-prinsip yang ideal ke dalam lingkungan ruang dan waktu[39]. Artinya, baginya politik adalah perwujudan dari tindak ego kreatif untuk mencapai kesempurnaan. Telah disinggung sebelumnya, tindakan/kerja adalah perwujudan ego kreatif untuk mendekatkan dirinya sebagai pencinta kepada Yang Dicintai. Sangat ditekankannya unsur spiritual sebagai hal yang utama. Di sini terlihat pengaruh penting ide-ide tasawuf Rumi, Jili, dan ibn Arabi yang oleh Iqbal melalui proses ijtihadnya, menjadi konsep khudi dan momin.

Begitu juga halnya, politik dalam kacamata Iqbal adalah cerminan tindakan khudi, dan insan kamil. Mian Muhammad Sharif mengatakan konsep politik Iqbal menyerupai ide Plato. Iqbal percaya kedaulatan politik sesungguhnya berada pada tangan Allah. Akan tetapi, Allah mendelegasikan kedaulatannya kepada manusia yang ditunjuk-Nya sebagai wakilnya di muka bumi. Kedaulatan yang diberikan kepada manusia ini hadir pada setiap jiwa-jiwa yang memiliki khudi yang kuat, yang pada level tertingginya adalah insan kamil. Oleh karena gagasan politik Iqbal mengacu kuat kepada ijtihad dengan al-Qur’an dan sunnah sebagai landasan, maka insan kamil menjadi penting[40].

***

Demikian, gagasan politik teo-demokrasi Iqbal sarat dengan spiritualitas. Iqbal melihat aspek ruhani adalah tujuan utama manusia. Berpolitik dan gagasan politik adalah demi memenuhi penyempurnaan aspek ruhani manusia. Tujuan ruhani manusia adalah untuk mendekatkan diri, “menemukan” “Sang Ego Mutlak”. Berpolitik sejatinya adal demi memenuhi hal-hal yang demikian itu. Dan, gagasan teo-politik Iqbal sejatinya dapat dijalankan dengan baik jika pelakunya adalah manusia-manusia yang berjiwa kuat; memiliki khudi yang kuat. Puncak dari khudi yang kuat itu adalah insan kamil.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS