• Ikuti kami :

Pemilu Tahun 1955 dan Kebersatuan Umat Islam: Banyak Baju, Satu Tubuh, Satu Jiwa

Dipublikasikan Rabu, 01 Februari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Akhir-akhir ini partai-partai politik yang menjadikan Islam sebagai asasnya terkesan berjalan sendiri-sendiri dan tidak mau peduli antara satu dan lainnya. Umumnya soal perebutan konstituen yang menjadi pasal. Kepentingan politik jangka pendek masing-masing juga menjadi alasan.

Tahun 1955, masa pemerintahan Kabinet Burhanuddin Harahap, negeri kita menghadapi proses pemilihan politik legal yang pertama: pemilihan umum pertama. Saat itu banyak partai yang berasaskan Islam, baik yang bermassa besar maupun yang kecil. Sebut saja Partai Masyumi (20,59 persen suara) dan Partai Nahdlatul Ulama (18,47 persen suara) sebagai dua partai Islam terbesar dengan banyak konstituen yang hampir merata di wilayah Indonesia, kecuali wilayah timur.

Ada pula partai-partai Islam dengan jumlah dukungan yang kecil seperti Partai Syarikat Islam Indonesia (2,80 persen suara), Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (1,23 persen suara), Partai Politik Tarikat Islam (0,20 persen suara), dan ada beberapa lagi (lihat karya Widjanarko Puspoyo dengan judul Dari Soekarno hingga Yudhoyono: Pemilu Indonesia 1955-2009).

Kalau boleh kita bagi bentuk perjuangan politik menjadi dua tahap, pragmatis (jangka pendek) dan idealis (jangka panjang), kira-kira begini suasana yang terbangun saat itu. Pada saat kampanye menjelang pemilu, masing-masing partai politik Islam itu berusaha merebut hati para pemilih, umat Islam di Indonesia. Masing-masing partai saling berusaha untuk mendapatkannya. Di sini muncul persaingan antarpartai-partai Islam itu (jangka pendek). Akan tetapi, setelah pemilu, kesemua partai itu berpadu ke dalam sebuah jaringan besar, politik umat Islam (jangka panjang).

Menjelang rapat Konstituante pada tahun 1956, tanggal 14 Januari, Abu ‘Ubaidah, seorang anggota redaksi Majalah Hikmah, dalam rubrik Dari Sahabat ke Sahabat menuliskan sebagai berikut:

“Saudara! Betapapun suara yang diperoleh Masyumi, NU, PSII, Perti dan kumpulan pemilih Bulan Bintang dalam pemilihan umum Konstituante yang baru lalu ini, hendaknya diterima dengan lillahi ta’ala. Yang dapat tambahan suara (tertimbang suara yang diperolehnya dalam pemilihan DPR dulu) jangan lantas sombong mengatakan partainya lebih unggul atau lebih benar. Dan yang dapat suara kurang dari duluan, tak usah berkecil hati. Kita harus dapat melepaskan pandangan sempit, diganti pandangan luas meliputi seluruh kepentingan umat Islam Indonesia. Kita akan tersenyum dalam hati, bahwa setelah kita kaji benar-benar, sama saja tujuan partai-partai Islam yang berebut suara dalam pemilihan Konstituante itu.”

Indah benar pernyataan itu. Pernyataan yang ternyata diamini oleh kalangan partai-partai Islam saat itu. Hal itu dapat terlihat pada persidangan-persidangan di Dewan Konstituante untuk merumuskan dasar negara. Mau Masyumi, mau NU, mau PSII, ataupun yang lain, semua satu suara untuk menjadikan Islam sebagai nilai luhur dan dasar negara dan cara menafsir Pancasila dalam pandangan kaum Muslim.

Ini adalah bentuk kita yang seharusnya. Dari dulu hingga sekarang. Banyak baju, satu tubuh, satu jiwa.

***

Sumber foto: Majalah Minggu Pagi, edisi 22 April 1956, halaman 29.

Deskripsi foto: Nyonya Sunarjo Mangunpuspito bersama Nyonya Dr Sukiman menuju ke rapat Masjumi di Alun-Alun Utara Yogya menghadapi kampanye pemilihan umum baru-baru ini.

Tulisan Terkait (Edisi Politik)

IKLAN BARIS