• Ikuti kami :

Pembunuhan Si Putri Salju: Peran al-Wahmiyyah dalam Suasana Pasca-kebenaran

Dipublikasikan Ahad, 31 Desember 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Salah satu perhatian kita tatkala membicarakan suasana pasca-kebenaran (post-truth) adalah ihwal merebaknya hoax atau berita palsu. Dalam sehari, beranda Face­book ki­ta atau grup-grup WhatsApp  kerap dipenuhi oleh aneka kabar he­boh tiada ta­ra. Diantaranya soal politik nasional seperti mengapa tokoh ini harus dibenci se­­­­­tengah ma­ti sedangkan tokoh itu harus dipuja sepenuh hati, sampai soal kesehatan se­per­­­­­ti meng­apa produk ini berbahaya dan cara mengatasinya. Dengan kecakapan tertentu dalam mengutip dalil agama, (pem­­­­buat) ho­ax akan menyerang kesadaran eksistensial kita yang terdalam. Su­­­­dah sejak la­ma, manusia menganggap kesehatan, politik dan lebih-lebih agama se­ba­gai sesuatu yang penting bagi keberadaan dirinya. Ketiganya men­ja­min ke­se­­­lamatan manusia saat sen­diri, saat bermasyarakat, dan saat di akhirat.

Lantas apa yang terjadi sesaat setelah hoax menyerang kesadaran kita da­n sesaat sebelum jemari kita menyebarkannya, lantaran benak ki­­­­­­ta memutuskan hal tersebut layak diketahui sebanyak mungkin orang? Be­­­­­­berapa tulisan tentang hoax di media massa banyak mengarahkan sorotan pada ke­ren­­­dah­­an literasi masyarakat Indonesia. Intelektual dan tokoh perbukuan, Haidar Bagir, meng­­­­­­­awali artikel menariknya berjudul Amnesia Buku dengan data angka literasi Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti secara des­­­­­krip­tif oleh Central Conecticut State University (terjemahan bebasnya, barangkali, Uni­­­­versitas Negeri Konektikut Tengah atau UNKoT, yang dibaca “angkot”). Saat kita tak terbi­­­asa menelaah sesuatu me­la­lui bacaan yang pengumpulan data, analisis, dan argu­mentasinya telah di­u­ji­kan di tengah khalayak terpelajar, kita akan gampang ya­kin pada ke­bo­hong­an yang tersaji di dalam hoax.

Kerendahan li­te­­r­asi hanya me­­nerangkan ke­terbatasan wawasan kita kala me­mandang keadaan. Dalam be­­­berapa ka­sus, kita sering se­cara tak sadar turut menjadi pem­buat sesuatu yang belum di­­­tentukan ha­­kikat ke­be­nar­an­nya, tetapi sudah kadung menganggang­gap benar. Dalam rangka men­­­jawab per­­tanyaan di paragraf kedua, tulisan ini akan me­naruh perhatian pada da­ya a­­ka­­liah kita tat­­kala ter­jadi hal semacam i­tu, dengan meng­a­cu pada sedikit wa­was­an dari film Je­pang dan fil­safat Islam.

Sepuluh Tikaman

Ada sebuah film Jepang yang menarik untuk menjadi contoh bagi argumen tu­lis­an ini, yakni The Snow White Murders Case (2014) yang membahas cara kerja jejaring so­­­sial, dalam hal ini Twitter, membentuk opini khalayak jagad maya itu. Film di­­­­mulai dengan adegan perempuan tak bernyawa yang tubuhnya ditikam secara asal-a­sa­l­­an, sebanyak 10 kali dan lalu dibakar, di lembah Shigure. Perempuan nestapa itu ber­na­­­­ma No­riko Miki. Karena keterbatasan tertentu, polisi kebingungan mencari pe­la­ku­­­nya dan me­dia massa hanya bisa mengabarkan kebingungan itu.

Saat meyaksikan berita tentang pembunuhan itu, se­o­rang awak televisi, Yuji Aka­ho­shi, menerima telepon dari teman SMA-nya, Risako Ka­ri­no. Risako ternyata re­kan ker­ja si korban. Ia yakin betul telah mengetahui siapa pelakunya dan meminta Yu­ji un­tuk me­­la­ku­kan investigasi. Yuji yang sebenarnya bukan siapa-sia­pa di ke­re­dak­si­­an kan­tornya me­­ra­sa perlu untuk menerusi permintaan itu. Ini sekaligus menjadi pang­gung pem­buktian a­tas kemampuannya dalam menghasilkan sebuah karya jur­na­listik. Ia sam­­pai­kan tekad de­­mi tekad pembuktian itu di dalam cuitannya di Twitter, yang dengan se­­­ge­ra ditanggapi ba­­nyak pengikutnya. Mereka semua penasaran karena se­orang Yuji, yang biasanya men­cu­­it seputar tempat makan yang enak di Jepang, ki­ni berbicara ten­tang upaya menelusuri ka­­­­sus pem­bunuhan yang sedang ramai di media.

Dalam keterangan Risako, Yuji mendapatkan informasi bahwa pembunuhan ter­se­­­but dilakukan oleh rekan kerjanya yang lain, Miki Shirono. Menurut Risako, alasan pem­­­­bunuhan Noriko oleh Miki adalah kecemburuan. Keduanya memperebutkan per­ha­ti­­­an atasan tampan mereka yang bernama Satosi Shinoyama, dan Satosi lebih memilih un­­­­tuk mendekat kepada Noriko, yang dijuluki The Snow White atau (meminjam ter­je­ma­h­­­an be­bas atas istilah ini yang sudah akrab di Indonesia) “Si Putri Salju”. Sebagai in­for­­­­masi tam­bahan, nama Snow White dalam film ini adalah nama merek dagang sabun ke­­­­cantikan yang diproduksi oleh perusahaan tempat Noriko, Risako, Miki, dan Satosi be­­­­kerja.

Sam­bil bercakap-cakap dengan Risako, Yuji mengambil gambar video sebagai be­­­­kal pe­ne­lu­sur­an “investigasi”-nya. Dari percakapan itu, Yuji terus melakukan pe­ne­lu­su­r­­an dan pe­re­kaman ke dua orang di kantor tersebut, yakni Michan (rekan kerja Mi­ki yang lain) dan si atasan tampan, Satosi; beberapa teman kuliah Miki, yang memberikan ke­terangan tentang kehidupan masa lalu Miki; hingga orang tua dan teman kecil Mi­ki di kam­­pung halamannya.

Hasil laporan tersebut ditayangkan dalam dua episode laporan investigasi di sa­lur­an te­­­le­vi­si tempat Yuji bekerja. Atasannya senang ketika rating acara itu melonjak. A­pa­­lagi Yuji me­lakukan penyuntingan sedemikian rupa atas video yang diperolehnya se­hing­­ga meng­­­ha­dirkan kesan tegang dan membuat penasaran. Misalnya, wajah semua narasumber yang di­sa­­­mar­kan, sorotan dan pengulangan atas beberapa kalimat narasumber yang me­nyu­­­dut­kan Mi­ki, dan kemunculan teks dalam video yang memancing opini penonton un­­tuk mem­­­be­nar­kan kecurigaan tersebut.

Dalam acara tersebut juga dihadirkan be­be­ra­pa “pa­kar” untuk mengomentari motif-motif pem­­­bu­nuhan. Di u­jung film terkuaklah bahwa pelaku sebenarnya atas pem­bu­nuh­an Si Pu­teri Salju a­da­lah Risako Karino, dengan alasan yang sama yang di­tu­duh­kan­nya ke­pada Miki, dan beberapa alasan lain. Film ditutup dengan kilas balik pem­bu­nuh­­an se­benarnya oleh Ri­sako terhadap Noriko serta penggambaran Mi­ki yang me­rasa lega ka­re­na terlepas dari tuduhan yang membuatnya ham­­­pir bu­nuh diri itu. Setelah selama dua minggu lebih keasyikan menyumpahi Miki, war­ganet de­ngan sangat segera beralih ke sosok lain untuk disumpahserapahi, yakni si a­pes ber­na­ma Yuji.

Al-Wahmiyyah yang Digambarkan

Meski kasus utama yang diangkat adalah pembunuhan, film ini tak sampai mem­­­­­ba­­wa penonton pada ketegangan. Komedi justru mengambil tempat di banyak ba­gi­­­­an. Film ini hendak menampilkan peran me­­­­­­dia ma­­s­sa yang berlebihan dalam menggiring opini masyarakat. Di sini, televisi dan Twitter menjadi corong utama untuk meng­gam­bar­kan ke­a­da­­­an tersebut. Hal ini dapat mengingatkan kita pada dua generasi berbeda yang me­nik­­mati informasi secara berbeda, tapi hingga kini masih sering terkena bi­­­­­­­­sikan ho­­ax yang sama.

Hoax barangkali men­­jadi a­wet berlalu la­­­lang di udara karena ada per­so­al­­an akaliah dalam diri kita sendiri, yakni ke­­tika fakultas al-wahm­iyyah kita keliru dalam me­mak­­nai se­suatu. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1995: 150-154) menjelaskan al-wahm­iyyah adalah satu di antara lima indra internal di da­­­­lam akal kita. In­­dra in­­­ter­­­nal sendiri adal­ah sesuatu yang dikenali secara intuitif ke­ti­­ka kita me­re­f­lek­si­kan cara akal ki­­ta me­ng­­o­lah informasi yang datang dari penge­li­hat­an, pen­ci­um­an, pe­ng­e­­capan, pen­­de­­ngar­­­an, dan perabaan, atau indra eksternal. Mes­­ki terbagi menjadi li­­ma bagian, in­dra internal adalah satu en­titas, yakni jiwa manusia yang berkaitan dengan da­­ya pikir dan biasa di­se­but ‘aql

Pada mu­la­nya, in­­for­masi ten­tang ob­jek dicerap oleh indra eksternal lalu di­­­cerna akal me­lalui in­dra internal pertama, yakni al-hisy al-musytarak, atau common sen­se. Saat me­­­lihat angkot Bo­gor, angkot Depok, dan seikat bayam, mi­sal­nya, kita akan ser­­­­ta merta me­­­mahami bahwa a­da dua benda berjenis “mobil” (yakni angkot Depok dan Bo­­gor) dan dua ben­da berwarna “hi­­jau” (yak­ni bayam dan ang­kot Bogor). Pemahaman i­­­tu muncul ham­pir di semua o­rang de­ngan indra eksternal yang se­hat, meskipun kita tak per­­­­nah memeriksa de­finisi pasti mo­bil dan hijau di dalam ensiklopedia otomotif atau fisika.

Setelah ke­dua angkot dan se­i­kat bayam itu sudah ti­dak lagi di ha­dapan mata ki­ta, kesan ke­ti­ganya tetap mem­be­­­­kas da­lam ingat­an karena di­­simpan o­leh indra in­ter­nal ke­dua, yakni al-kha­yā­liy­yah, a­tau fakultas re­pre­sen­tatif. Melalui fakultas ini, kita dapat ju­ga me­­ngkombinasikan segala c­i­t­ra­­an yang ter­sim­pan menjadi sesuatu yang baru meski da­­­lam benak belaka, seperti “ang­­­kot dengan sti­ker ber­gambar bayam di seluruh bagian pin­­tunya”.

Setelah fakultas representatif menyimpan segala citra objek, seiring bertambahnya pengalaman hidup, maka semakin bertambah pula citra yang tersimpan dan da­­pat direkayasa di dalamnya, di sini indra eksternal ketiga yang menjadi perhatian kita, yak­­ni al-wahmiyyah, atau fakultas estimasi. Pada indra ini berlangsung pemaknaan be­­­rupa penilaian dan pu­tus­an atas citraan-citraan yang ada, seperti cinta atau benci, be­nar atau sa­lah, dan baik atau buruk. Tanpa inteleksi, yakni petunjuk Allah berupa makna yang ti­ba pada jiwa ki­ta, al-wahmiyyah kerap menjadi musabab kekeliruan kita dalam mem­­­beri pe­nilaian dan pu­tu­san atas objek. Sebabnya kita cenderung menilai sesuatu ber­da­­sarkan ingatan atau pengalaman pribadi masa lalu, juga berdasarkan tafsiran se­ke­hen­dak naluri kita.

Kumpulan penilaian dan putusan tersebut, terlepas dari benar (berkat in­te­­leksi) atau sa­lah (tanpa inteleksi), disimpan di dalam indra internal ke­em­pat, yakni al-hā­­fizhah dan al-dzākirah, atau fakultas retentif dan rekolekif. Setiap ka­li al-wahmiyyah i­­­ngin mem­be­ri makna atas objek yang dihadapi, indra keempat ini memasok pu­tus­an dan penilaian yang telah menjadi simpulan sebelumnya.

Indra internal terakhir adalah al-mutakhayyilah, atau fakultas imajinatif. Dalam fa­­­­kultas ini, seluruh citra, bentuk, dan mak­na diterima serta diklasifikasi berdasarkan ka­­­­tegorisasi tertentu. Kerja akaliah ini meng­hasilkan fungsi mutakhayyil atau imajinasi in­­­drawi, yang berhubungan dengan se­gala keterampilan memproduksi perangkat teknik dan karya seni manusia; dan al-mu­fak­kirah atau imajinasi rasional, yang berhubungan de­­­­ngan segala kegiatan intelektual ma­nusia.

Saat seorang seniman membayangkan se­bu­­­ah lukisan abstrak yang akan di atas kanvas, ia dapat membayangkan dua angkot yang ber­­­­jalan di sebuah pohon bayam raksasa. Begitu pun dengan seorang pakar modifikasi mobil yang sedang me­­­­rancan angkot yang bisa mengangkut tumpukan bayam dari kebun ke pasar se­­­cara sangkil. Ketika itu mutakhayyil tengah bekerja di benak keduanya. Sementara, di saat seorang ah­­­­li ilmu pangan bekerja sama dengan ahli biologi merancang rekayasa genetika va­rie­tas bayam yang baik bagi kesehatan sopir angkot, al-mufakkirah tengah bekerja di be­nak mereka.

Uraian tentang proses kerja akaliah sederhana di atas dapat kita pro­­­yeksikan kepada film The Snow White Murders Case. Khususnya untuk memahami cara berita palsu merusak al-wahmiyyah. Produser film ini menampilkan ilustrasi “pem­bu­nuh­an” yang dilakukan Miki berdasarkan keterangan pal­­su dari Risako, dan komentar-ko­men­tar warganet di Twitter atas tahap demi tahap in­ves­­­tigasi abal-abal ini berdasarkan cu­itan Yuji. Kemudian dilanjutkan dengan mendengar keterangan demi ke­te­­rangan yang disampaikan narasumber acara Yuji, kita diberi ilustrasi visual ten­tang kegiatan Miki di kantornya.

Dalam adegan-adegan itu, Miki digambarkan berwajah di­ngin, bertatapan mata sadis, dan kerap merencanakan sesuatu terhadap Si Putri Salju ke­tika rekan-rekan kerjanya sedang tidak memperhatikan. Di kesempatan lain, Miki di­gam­barkan tengah cemburu karena Si Putri Salju berbincang hangat dengan si atasan tam­­pan. Hal ini mewakili dengan baik ba­­­­gaimana al-wahmiyyah, di benak Yuji dan pe­mir­­­sa yang percaya pada Risako, per­la­han-lahan merekayasa sosok Miki yang pada mu­la­­nya hanya dikenal melalui selembar po­­t­ret pemberian Risako saja.

Keadaan semakin runyam ketika pendapat pemirsa mulai betebaran di jagad ma­ya. Cuitan berisi tuduhan, makian, atau sekedar unjuk rasa prihatin, mengarah secara se­ra­gam ke sosok Miki. Semua cuitan itu dimunculkan sebagai siluet di sisi layar se­hing­ga tak mengganggu gambar utama yang sedang berlangsung. Bukankah keadaan ini ham­pir se­­ring terjadi di kehidupan kita?

Pada mulanya, kita tak ter­la­lu peduli pada keadaan di luar, karena urusan skripsi dan harga beras lebih pen­ting un­tuk dipikirkan. Namun kemudian, teman-teman dekat kita, yang kita kenal baik di tem­pat kita mengaji atau berorganisasi, turut meributkan suatu berita yang diberi pe­nye­dap i­su agama. Tanpa mau memeriksa kembali kebenaran berita itu, kita secara liar dan mem­­babi buta turut mewaspadai atau menuduh satu pihak sebagai musabab ma­lapetaka. A­pa­­lagi jika ingatan pribadi atau kolektif kita (sebagaimana kerja al-wahmiyyah) tentang pi­­hak yang sama di ma­sa lalu (seperti kekalahan politik dan kontestasi lain) tu­rut ambil ba­­gian dari kerusakan proses berpikir itu, seperti keluarga Miki yang sem­pat di­sudutkan o­­leh warganet.

Saat al-wahmiyyah tak dibarengi usaha intelektual yang benar untuk sampai pa­da makna sesuatu, pikiran kita akan terus tegang karena diombang-ambing dari satu ho­ax ke hoax lain, dari desas-desus lama ke desas-desus paling baru. Hal-hal semacam itu menuntut ki­­ta untuk terus bergerak atas nama ini atau demi perlawanan atas itu. Kita sampai lupa bah­wa berdasarkan takrifnya, manusia adalah makhluk yang berpikir, bukan makhluk yang ber­­­­gerak secara naluriah seperti binatang.

Menjaga akal pikiran dengan mencari dan mem­­­pelajari sesuatu ber­da­sar­­­kan sumber ilmu yang benar dan tahap memperoleh ilmu yang juga benar adalah langkah awal untuk me­lepaskan diri dari ke­bu­rukan macam itu. Tentu sam­­bil tak lupa untuk sebanyak mungkin ber­doa agar ditunjukkan o­leh Allah bahwa yang haq adalah haq, dan yang bathil adalah bathil.

Kalau keadaan tersebut sudah terwujud, misalnya dalam kurun setahun ke de­pan, kita akan bisa “bernafas” di dunia maya dengan lebih lega, tanpa polusi kepalsuan ber­nama hoax dan kepanikan tak bermuara. Suasana pasca-kebenaran, perlahan akan ter­gantikan dengan kebiasaan memeriksa sesuatu, setidaknya di kalangan kita yang ma­sih awam, berdasarkan takrif (pembatasan) yang disepakati secara ilmiah, seperti kamus atau ensiklopedia.

Kalau ingin lebih mendalam lagi, kita bisa menelusuri te­rus ha­kikat dan kebenaran segala sesuatu sampai ke keapaannya yang abstrak dan fi­lo­­so­fis. Sebab penjelasan di kamus bisa jadi terlalu sempit, kalau tak ingin sampai me­­­nyebutnya keliru. Salah satu contohnya adalah arti kata al-wahmiyyah yang telah di­se­rap ke dalam bahasa Indonesia menjadi waham. Dalam Kamus Besar Bahasa In­do­ne­sia, waham berarti “Keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan du­ni­a nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga”, se­hi­ng­ga kata ini menjadi terkesan selalu cemar dan, yang paling parah, kehilangan makna e­­pistemologisnya sebagaimana dirumuskan para filsuf.

Wallahu a’lam

 

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1995. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.

Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS