• Ikuti kami :

Pariwisata dan Bali

Dipublikasikan Sabtu, 25 Februari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Bali terkenal dengan pariwisatanya. Konsep pariwisata Bali ini khas karena berbentuk pariwisata budaya. Dengan Tri Hita Karana-nya, Bali merumuskan sendiri apa yang dimaksud dengan pariwisata. Masyarakat yang tinggalnya ketempatan menjadi daerah pariwisata merasakan dampak perkembangan ekonomi yang menggembirakan.

Begitu juga kawasan wisata Nusa Dua. Terkenal di antero Bali, Indonesia, dan dunia, sebagai resor wisata termewah di Pulau Dewata. Resor Wisata Nusa Dua menjadi ikon dunia sebagai tempat ajang perhelatan akbar internasional. Beragam acara tingkat dunia diadakan di sana. Mulai dari yang bertema politik, kemanusiaan, hingga isu lingkungan hidup.

Sebelum hadirnya resor pariwisata itu, masyarakat Nusa Dua hidup di bawah garis kemiskinan. Setelah adanya resor, masyarakat Nusa Dua dan sekitar dapat merasakan nilai ekonomi dari industri pariwisata.

Namun, di balik itu tersimpan luka yang cukup menyayat.

Nusa Dua dahulu dikenal sebagai kawasan gersang yang tidak baik untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Pada awal tahun 70-an, pemerintah yang berkuasa saat itu mencanangkan sebuah tempat wisata unggul di Bali. Pengelolaannya diserahkan kepada sebuah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pariwisata.

Proses pembangunannya dinodai pembelian secara paksa tanah-tanah masyarakat dengan harga sangat murah dan tidak masuk akal. Di bawah ancaman, hanya diam yang bisa dilakukan masyarakat itu (Madiun, 2010).

Pascareformasi, tidak hilang bentuk-bentuk luka masyarakat Nusa Dua. Lagi-lagi Resor Wisata Nusa Dua melukai hati masyarakat di sana. I Ketut Purnaya (2015) mencatat, ada tujuh peristiwa yang mengiringi sepak terjang kawasan wisata itu dengan masyarakat sekitarnya. Salah satu yang menonjol adalah ketika pengelola resor memutuskan untuk menembokpagari kawasan wisata itu hingga garis pantai. Ini demi menjamin kenyamanan para turis penghuni resor sebagai salah satu syarat world class resort.

Pantai itu juga digunakan oleh masyarakat asli di sekitar resor sebagai tempat upacara keagamaan (Hindu), semacam sedekah laut. Upacara itu sudah dilakukan turun-temurun sejak zaman nenek moyang mereka. Konflik terjadi. Kali ini masyarakat tidak tinggal diam. Reformasi menumbuhkan keberanian mereka untuk melawan penguasa.

Masyarakat, khususnya masyarakat di tiga desa adat, yaitu Peminge, Kampial, dan Bualu, berunjuk rasa. Protes ini juga didukung oleh beberapa politisi asal Benoa, Nusa Dua (Purnaya, 2015).

Ujung-ujungnya, muncul kompromi di antara pihak pengelola resor dan masyarakat. Tembok yang membatasi masyarakat dengan pantai dirobohkan (Purnaya, 2015). Masyarakat dapat kembali melakukan ritual sedekah laut seperti para nenek moyangnya dahulu. Disertai tambahan, upacara ini menarik minat para wisatawan asing dan dijadikan salah satu dari atraksi pariwisata, sebagai tontonan.


Foto: Bali Hotel
Sumber foto: KITLV.nl, Image code 36,912


Tulisan Terkait (Edisi Alam)

Populer

IKLAN BARIS