• Ikuti kami :

Para Penikmat Kota

Dipublikasikan Kamis, 19 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Bau sedap yang terpendar dari lilin aroma terapi atau pendar lampu neon di lantai sekian puluh mungkin akan lebih indah tanpa orang-orang miskin. Trotoar-trotoar kota perlu ditata sedapat-dapat agar kita bisa berjalan dengan tenang. Kami perlu ketenangan dan kenyamanan. Hidup tenteram dan damai tanpa disibukkan dengan urusan-urusan hidup orang lain. Gembel-gembel itu mesti disingkirkan. Orang-orang jelata ialah daki kumuh yang membuat kota kami tak permai. Harus ditiadakan. Sebab, mereka bau, jorok, dungu, dan tak layak. Kami tak mau bersanding dengan mereka. Kami mulia dan kaya (atau setidaknya selalu ingin jadi orang kaya) mereka papa dan hina.

Kami harus mendukung pemerintah melayani mimpi-mimpi kami, warganya. Di Paris sana, di New York sana, di Zurich, Madrid, dan Venesia, di mimpi-mimpi kami, hasrat dilayani sebisa-bisa. Pemerintah kota kami harus seperti pemerintah kota-kota itu. Kami perlu ruang-ruang pribadi, urusan kami tak lagi dicampuri orang lain. Tentu kami akan tertib, teratur, dan merasa berperadaban. Asal kami bisa melakukan apa pun yang kami suka tanpa perlu peduli dengan orang lain.

Kami perlu kebebasan. Cita-cita kami ialah keterbukaan memuaskan keinginan tanpa hambatan, tanpa harus peduli dengan urusan orang lain. Yang kami perlukan adalah kota tanpa kaum berserban, kaum yang menggeruduk hasrat-hasrat kami untuk bersenggama secara bebas, minum-minum secara bebas, atau apa pun secara bebas.

Kami perlu membangun dalil-dalil dengan saksama. Kami harus paksakan pendapat kami kepada semua orang; bahwa kebenaran tidak boleh mereka rengkuh sebab mereka tidak sanggup meraihnya. Kami harus paksakan pendapat kami kepada semua orang; bahwa bersanggama, berjudi, mabuk, dan kemesuman adalah urusan kami sendiri, orang lain tak perlu ikut campur. Persetan sok moralis itu. Pemerintah dan aparat harus sepakat dengan kami. Kalau tidak, kami tuduh saja mereka sebagai kaum yang menindas hak asasi manusia. Tiran! Kami harus paksakan pendapat kami kepada semua orang; bahwa kaum berserban harus dimusnahkan.

Kami tidak boleh dituduh sebagai antiagama. Bahkan kami harus bisa tetap merasa saleh bersama dosa-dosa. Caranya mudah saja. Kami dukung orang-orang serampangan yang mengaku cendekia. Mereka akan mencarikan dalil-dalil pembenaran bagi setiap hasrat kami. Tentang perzinaan, mereka bisa carikan dalil-dalil pembenaran. Tentang menikmati arak, tentang berjudi, atau apa saja. Kaum cendekia yang seperti mesin produksi dalil pembenaran atas setiap hasrat kami ialah sahabat terbaik kami. Untuk mereka kami lemparkan rincing-rincing receh agar mereka senang. Semakin mereka gila, semakin membuat kami senang.

Satu lagi tugas mereka, cendekia sahabat kami itu. Mereka harus bersedia memojokkan kaum beragama. Perempuan-perempuan berjilbab yang mengejek-ngejeki jilbabnya sendiri kita beri tempik sorai semeriah-meriahnya. Biar dia senang dan semakin senang memojokkan kaumnya. Yang fasih mengeja huruf-huruf Arab tapi bersedia mendukung kaum liwat, kami junjung sebagai tokoh pembebasan. Kami perkenalkan kepada dunia seluas-luasnya. Biar dia senang dan semakin senang. Kami pun senang.

Dunia ialah tempat kami bersenang-senang sembari merendahkan orang lain. Kaum yang ingin merampas hak kami untuk bersenang-senang, memuaskan hasrat sepuas-puasnya, akan kami rendahkan serendah-rendahnya. Kaum yang selalu ikut campur urusan perkelaminan kami, kami bodoh-bodohkan sepuas kami. Tentu saja dengan dalil-dalil dan celoteh kaum cendekia sahabat kami. Sekali lagi, beri tempik sorai semeriah-meriahnya untuk mereka dan jangan lupa lemparkan receh beberapa picis biar mereka juga ikut senang.

Ah, betapa indahnya kota yang tanpa jelata dungu dan kaum beragama. Pemerintah menjadi pelayan terbaik bagi hasrat dan keinginan-keinginan kami. Bar, tempat pelacuran, dan segala jenis pemuas nafsu mesti disediakan. Tidak, jangan tuduh kami kaum pendosa. Kami tetap lebih benar dari siapa pun. Kami yang paling mulia. Dan mereka yang beragama harus lebih bodoh dari kami. Pendapat ini akan kami paksakan kepada siapa pun. Titik!

Jangan bilang kami ini hanya peduli pada diri sendiri. Kamilah yang berkampanye penghentian sirkus lumba-lumba. Kami juga yang peduli terhadap kebebasan perempuan memamerkan tubuhnya. Sekian ratus orang asing telah kami undang untuk peduli pada orang-orang miskin. Proposal-proposal untuk menolong orang miskin telah kami sebarkan ke seluruh dunia. Sumbangan-sumbangan dunia untuk mengajari orang-orang miskin cara mencuci tangan telah kami kumpulkan dari mana-mana. Tentu saja kami mendapatkan upah yang layak dari menolong orang miskin itu. Sudah nasib kaum miskin untuk dimanfaatkan karena kebodohan mereka. Kami sudah memberi mereka program-program yang layak agar mereka menyingkir dari kota dan tak merusak pemandangan.

Kami juga tidak malas bekerja. Perusahaan-perusahaan penyedot daya ekonomi bangsa ini telah kami layani sekuat tenaga. Nafsu perusahaan-perusahaan itu untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari bangsa ini telah kami layani dengan baik. Lihatlah bangsa kita telah bisa membeli apa saja. Hasil jerih payah mereka, setiap rupiah keringat mereka telah kami gasak dan kami tukar dengan barang-barang yang sebenarnya tak mereka benar-benar butuhkan. Kami tidak bersalah, kami hanya bekerja.

Inilah mimpi yang kami perjuangkan selama bertahun-tahun lamanya. Betapa nikmatnya hidup di sebuah kota tanpa daki-daki kejelataan. Tanpa kaum beragama yang resek dan sok ikut campur. Betapa enaknya ketika hasrat dapat dipuaskan sampai tumpah. Kami menikmati hidup kami dari jerih melayani hasrat-hasrat lain. Kami memperkosa kemanusiaan kami sendiri sembari merendah-rendahkan kaum beragama. Tentu saja pemerintah harus mendukung kami karena kami yang benar.
Ah, betapa indahnya!

Indah ndhasmu!

Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS