• Ikuti kami :

Pangan Bangsa Tani yang Mengusut dalam Lelajur Ruwet Mie Instan

Dipublikasikan Selasa, 14 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Menurut World Instant Noodles Association, 97.710.000.000 bungkus mie instan telah dikonsumsi penduduk bumi pada 2015. Dari jumlah tersebut 13.200.000.000 bungkus di antaranya dimamah oleh orang Indonesia. Artinya (sepanjang tahun 2015) rata-rata orang Indonesia telah memasak 53 bungkus mie instan.

Tidak ada penelitian lebih lanjut, tapi boleh jadi sebagian besar dari 13,2 milyar bungkus mie itu dimasak oleh mahasiswa tingkat akhir yang tidak selesai-selesai mengerjakan skripsi. Juga santri-santri di berbagai pelosok tanah air yang di akhir bulan terpaksa tak makan nasi. Atau dimasak oleh buruh-buruh susah sepanjang Indonesia Raya. Tak lupa pula, jamaah haji dan jamaah umrah negeri kita yang setiap tahun melimpahi negeri Arab untuk mendekatkan diri pada Tuhan, kerap membawa mie instan dalam perjalanan mereka.

Mie Instan dijual dengan harga Rp 1.450,- per bungkus. Artinya ada kira-kira Rp 19.140.000.000.000,- (Sembilan belas trilyun seratus empat puluh milyar rupiah) uang yang dikeluarkan rakyat Indonesia pada 2015 hanya untuk mengkonsumsi mie instan. Pemamah utama panganan mudah saji ini tentu saja rakyat jelata. Rakyat yang sepanjang sejarah panjang negerinya, bukanlah bangsa penanam gandum. Bangsa petani yang selalu susah dan disusahkan macam-macam pola sosial dan aturan resmi.

Menurut Indonesian Commercial Newsletter (ICN), di Indonesia terdapat kurang lebih 20 perusahan yang memproduksi mie instan, baik yang berskala kecil maupun besar. Sementara itu, merujuk data yang dikeluarkan Bloomberg, pasar terbesar mie instan dikuasai oleh Indofood (70,7 %), Wingsfood (17,2 %), dan sisanya dikuasai perusahaan-perusahaan lain seperti ABC, Nissin dan sebagainya. Guna mendukung produksi tersebut, digunakan tepung terigu yang hampir seluruh bahan dasarnya (gandum) berasal dari pembelian impor.

Menurut Aptindo (Asosiasi penguasaha Terigu Indonesia), total konsumsi tepung terigu nasional tahun 2016 mencapai 6,02 juta ton. Dari total konsumsi tersebut, penggunaan terigu untuk produk mie terbilang tinggi, sebesar 20%.  Sampai saat ini terdapat 30 perusahan penggiling gandum yang memproduksi terigu di Indonesia. PT. ISM Bogasari Flour Mills menjadi perusahaan terbesar dalam produksi terigu. Dua pabriknya mampu memproduksi terigu sebanyak 2.200.000 ton (Pabrik Cilincing, Jakarta) dan 1.308.800 ton (pabrik Surabaya) selama setahun atau 58% dari total produksi terigu nasional.

Perusahaan-perusahaan lain hanya mampu memproduksi terigu dalam kapasitas ribuan ton pertahun. PT. Sriboga Flour Mills, misalnya, “hanya” mampu memproduksi 450.000 ton terigu per tahun. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan impor gandum Indonesia pada 2016 mencapai 8,10 juta ton. Sebagian besar gandum itu tentu saja diimpor untuk dijadikan terigu dan sebagian besar terigu tentu saja digunakan untuk membuat mie instan.

Mari kita catat pelan-pelan. 70,7% pasar mie instan dikuasai oleh P.T. Indofood Sukses Makmur, sementara PT. ISM Bogasari Flour Mills memimpin produksi terigu sebesar 58% per tahun. Indofood dan Bogasari ialah dua perusahaan dalam cakupan Salim Grup pimpinan Anthony Salim (Liem Hong Sien). Salim Grup didirikan oleh Sudono Salim atau Liem Sioe Liong yang merupakan ayah dari Anthony. Pak Sudono lahir di Beijing, pada 19 Juli 1916 dan mangkat di Singapura pada 10 Juni 2012. Sebagai catatan, Salim Grup juga membawahi PT. Indomarco Prismatama yang pada 1997 mulai mengembangkan bisnis gerai waralaba pertama di Indonesia dengan brand Indomaret. Sampai awal tahun 2016, telah terdapat 12.100 gerai Indomaret di seluruh Indonesia.

Maka di Indonesia ini terdapat sekolompok pengusaha yang menguasai 58% produksi terigu, 70,7% pasar mie instan dan memiliki 12.100 gerai waralaba di seluruh Indonesia. Artinya, mereka menguasai produksi bahan baku, produksi bahan makanan (mereka juga memproduksi roti dan panganan lain), serta memiliki jalur distribusi merata nyaris di seluruh Indonesia. Mereka memiliki semua hal untuk menjadi sangat kaya, kecuali pembeli. Dan rakyat jelata menyediakan diri menjadi pembeli semua dagangan itu. Kita tidak boleh menyebut ini sebagai monopoli. Ini ialah persaingan bebas. Ekonomi terbuka di mana para pemilik modal kecil dipaksa bertarung satu lawan satu melawan para taipan raksasa. Dalam kacamata negara, ini selalu baik untuk pertumbuhan ekonomi makro dan iklim investasi. Sekali lagi, Anda atau saya tidak boleh menyebutnya sebagai monopoli.

Bangsa yang tidak pernah tercatat sebagai penanam gandum ini telah melahap pangan bercikal bakal bahan baku impor puluhan trilyun tiap tahunnya. Suatu ketakwajaran yang sulit dimengerti.

                                                                                    ***

Mie merupakan panganan yang telah berabad usianya. Peradaban-peradaban tua telah menyebutkan mie sebagai salah satu panganan yang dikonsumsi sejak lama. Meski demikian, mie instan baru diproduksi untuk pertama kali pada 1958. Penemu panganan mudah saji ini ialah Momofuku Ando yang juga pendiri Nissin Foods, perusahaan panganan Jepang yang telah mendunia.

Di Indonesia, mie instan diperkenalkan pertama kali oleh Indofood pada 1969, empat atau lima tahun setelah peristiwa kelam G 30 S/PKI. Kala itu Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam menjadi produk mie instan pertama yang diperkenalkan kepada masyarakat. Tentu saja meski kandungan gizi di dalamnya amat pas-pasan, harga yang murah dan kemudah-sajian produk ini membuat masyarakat berbondong-bondong menggemarinya.

Menurut situs nutrigizi.com, dalam sebungkus Indomie Rasa ayam bawang (takaran saji 65 gram) terkandung kandungan kalori sebanyak 300 Kkal. Kandungan kalori pada mie instan ditengarai ada di angka 300-420 kkal. Padahal, seorang perempuan bertinggi badan 165 cm dan berat 50 kg dengan aktivitas harian sedang memerlukan kalori sebanyak 2000 kkal per hari. Ini lah penyebab banyaknya konsumen mie instan yang memandang panganan ini “sebungkus kuranggizi dua bungkus kebanyakan”.

Sebenarnya perkara mie instan bukan saja perkara kalori, kandungan gizi, dan perut kenyang atau tak kenyang. Ada sisi lain yang perlu dilihat. Hari ini mie instan telah menjadi panganan bayangan nasi. Padahal masyarakat kita, bangsa kita, ialah bangsa petani penanam padi. Bukan bangsa penanam gandum yang memproduksi terigu dan kemudian mie instan. Boleh dikata, kehadiran mie instan sebagai panganan yang begitu merajalela di tengah rakyat kecil kita merupakan sesuatu yang dibentuk dan diupayakan. Mie instan bukan sebuah kealamian, tetapi ada desain pasar dan industri yang dibangun selama puluhan tahun.

Cara Indomie manjajakan diri (tentu saja lewat iklan) penuh kesan bahwa panganan ini begitu Indonesia. Penggunaan kata “ku” pada kata “seleraku” yang mengikuti kata “Indomie.... Indomie....” menyeolahkan ia ialah selera asli orang Indonesia. Pun beragam tampilan parawira mie instan yang lain. Indomie bukan hanya menghadirkan panganan alternatif di luar nasi. Ia juga telah mengubah mentalitas bangsa petani ini, dari bangsa yang begitu kukuh pada nasi menjadi bangsa pemakan mie yang bahan bakunya impor.

Selain itu, kemudah-sajian mie instan sedikit banyak telah mengubah kebudayaan makan kita. Bagi bangsa kita, memasak juga merupakan sarana pembangunan nilai-nilai, khususnya dari orang tua kepada anaknya. Pada masa kecil kita sering diajarkan untuk senantiasa menghabiskan seluruh bulir nasi yang kita ambil dari piring. Sebulir saja bersisa, orang tua telah menyebut kita tak menghargai petani yang telah berjerih-jerih dalam waktu berbulan. Petani ialah orang-orang yang menanam padi di sawah. Anak-anak akan mudah melihat mereka. Akan tetapi, petani gandum hanya ada di YouTube, jauh di negeri sana, entah di mana. Kita bisa menanam sorgum atau jewawut, tetapi gandum (sebenarnya) adalah asing bagi kebudayaan kita.

Mie instan memang menawarkan kemudah-sajian. Tidak ribet dan cocok untuk manusia yang serba terburu-buru dan tidak mau susah. Namun ia juga menjauhkan kita dari penghayatan akan memasak. Tentu saja ia juga tak menghubungkan kita dengan alam kita sendiri, kecuali imitasi-imitasi keindonesiaan dalam iklan-iklan mereka. Bahan bakunya tetap jauh dari negeri sana.

Kita memang dipaksa berbangga bahwa mie instan produksi bangsa telah merambah dunia. Kantar Worldpanel (sebuah lembaga swadaya konsumen yang berbasis di London) telah menempatkan Indomie pada urutan ke-8 pada 10 merek yang paling banyak dibeli di seluruh dunia untuk tahun 2016. Indomie memperoleh 1,898 juta poin untuk kemampuannya dalam menjangkau konsumen (sebagian besar konsumen itu tentu saja orang Indonesia sendiri). Selain itu, Indomie telah pula diproduksi di Maroko, Nigeria, dan Serbia. Sebagaimana tabiat produk-produk industri raksasa dunia, Indomie telah menjelajahi sudut-sudut dunia, seterpencil apa pun.

Maka kita perlu bangga dengannya. Indomie ialah wajah bangsa Indonesia di pentas dunia. Bangsa agraris maritim yang tak biasa menanam gandum. Kita harus menghayati produk ini sepertimana kita menghayati perjuangan kesebelasan nasional sepakbola kita yang susah juara di pentas apa saja. Atau musti lebih dari penghayatan kita terhadap Tim Piala Thomas dan Uber yang berjuang rutin atas nama negara. Indomie adalah wajah (industri) kita yang menjalar dan terus menjalar ke mana ia mampu mengisap laba. Di mana rakyat bangsa kita merebus mie tanpa perdebatan yang sungguh-sungguh mengenai kandungan gizi atau bahan pengawet di dalamnya.  

Dan perlu diingat, setiap kita menyeruput lelajur mie instan itu ada  Rp 19,140 trilyun uang rakyat yang diisap. Kenang-kenanglah lagu-lagu manis pengantar iklan mie instan itu. Melayanglah pada cita-cita kedaulatan pangan, kesejahteraan bagi setiap orang, dan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga Tuhan, memberkahi makan malam kita bersama mie instan. Amin.

Dan jangan lupa ajukan proposal perjuangan pada perusahan-perusahan yang telah membanggakan negeri kita itu. Dana Corporate Social Responsibility mereka, sisa kecil dari penghisapan industri itu, sangat besar dan cocok untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan mengasihani kaum papa. Jangan sampai tak kebagian.

Tabik!!!


Tulisan Terkait (Edisi Kuliner)

IKLAN BARIS