• Ikuti kami :

Pakaian: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Dipublikasikan Rabu, 26 April 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Kalau misalkan di suatu ba'da Isya' kita lihat di ujung gang si mbakyu Nurlela menunggu seseorang sambil menyedot kretek, memakai tanktop dan ‘celana gemes’ sejengkal di atas pahanya, atau di suatu siang berangin kencang kita menjumpa si Junaedi yang memakai koko dan sarung isbal, tangan kanan memegang buku, tangan kiri menahan tiupan angin yang menyingkap rahasianya yang paling imanen di balik selembar sarung tenunnya, atau kita lihat si Aseng memenuhi undangan candlelight dinner Dubes Zimbabwe dengan memakai celana training dan kaos partai, apa artinya?

***

Secara kasat mata, kita akan melakukan penilaian terhadap pakaian seseorang terkait dengan adat dan adab yang bersangkutan. Kita akan menilai Mbak Nurlela sebagai wanita jalang, Si Junaedi sebagai santri, dan Si Aseng sebagai orang yang selalu remidial ujian PKN. Padahal pandangan kita itu bisa jadi tidak sepenuhnya benar. Bagaimana kalau sebenarnya Mbak Nurlela bekerja sebagai penjaga warnet, yang kebetulan dapat shift malam dan sedang nunggu jemputan ojek onlen? Bagaimana kalau Junaedi habis narikin iuran kematian di kampung? Bagaimana kalau ternyata Aseng hadir di Kedubes mewakili unsur atlet bulutangkis partai tertentu?

Tapi toh kita tidak berbicara tentang kemungkinan. Sebab, mengira kemungkinan seperti itu tidak dilakukan oleh orang banyak dan kemungkinan itu sendiri pun belum tentu sepenuhnya benar. Mengira-ngira seperti itu spekulatif, seperti judi. Orang tentu akan lebih suka memilih, merasa mudah, bahkan memudah-mudahkan menilai orang lain dengan penglihatan kasarnya yang ditambah dengan pertimbangan nilai adat budaya setempat yang telah mapan, sebagai ukuran untuk mengukur apa yang lazim dan apa yang tak lazim.

Penilaian pada zahiriah adalah bagian dari dzan. Ia secepat dan sesederhana cinta pada pandangan pertama. Memang umumnya, seringkali pandangan pertama itu salah dan tak mewakili hakikat yang sebenarnya. Tetapi dalam menilai orang lain yang baru dilihatnya untuk pertama kali, (banyak) orang (merasa) tidak perlu menunggu dibuka mata batinnya, ia hanya (merasa) cukup melihat pada apa yang dikenakan oleh orang lain.

Artinya pakaian bukan sekadar lembaran benda yang sekadar dililitkan di tubuh manusia tanpa memiliki arti. Di balik pemakaiannya, ada satu atau beberapa arti dan tujuan tertentu. Ada makna-makna dan nilai-nilai. Di sana juga ada perangai, ada tanda, ada simbol dan identitas, ada rujukan ke satu kelompok tertentu, ada status sosial, sampai ada Tuhan yang diwujudkan melalui kepasrahan manusia menuruti kaidah dasar yang diatur Tuhan dalam hal berpakaian. Anak muda yang membusungkan dada memakai baju bergambar wajah Usamah bin Ladin bisa dipastikan menyetujui tindakan revolusioner. Pengamen yang hampir enam hari dalam sepekan memakai baju bertuliskan OI, bisa ditebak punya gagasan anti pemerintah. Orang yang kesehariannya memakai gamis dan celana sirwal di atas mata kaki, bisa dipastikan merujuk pada satu kelompok tertentu, dan lain sebagainya.

Kalau ada sebuah peribahasa berbunyi “bahasa menunjukkan bangsa”, cocok kiranya kita bikin peribahasa sendiri berbunyi “pakaian menunjukkan bangsa”. Sebab, berbicara tentang pakaian, kita sedikit banyak juga akan berbicara tentang manusia beserta segala produknya, karena hanya manusia yang sadar mengenakan pakaian sendiri. Homo sapiens, Pithecanthropus Mojokertensis, hewan, dan tumbuhan tidak memiliki kesadaran itu.

Kalau kita gali lebih dalam, sejatinya kesadaran bahwa manusia butuh sandang, bermula sejak manusia mengenal aurat. Sejak manusia mengenal bahwa malu dan aurat itu bersisian. Syahdan, dahulu kala ketika Adam masih di surga, ia memakai pakaian dari cahaya. Setelah teperdaya oleh Iblis dan Adam memakan buah terlarang, hukuman yang langsung diberikan oleh Allah adalah memadamkan pakaian cahaya yang menutupi aurat Adam dan Hawa. Lalu tampaklah hal yang ternyata tidak enak dilihat oleh keduanya, sehingga mereka segera memetik daun pohon Ara untuk menutupi benda yang tampak tak pantas dilihat itu. Itulah awal mula munculnya kesadaran manusia memakai sandang. Setelah rasa malu diperkenalkan oleh Allah melalui serangkaian peristiwa yang melibatkan Iblis, pelanggaran, dan dosa. Secara alamiah, sudah dari sononya tabiat manusia adalah butuh pada pakaian, berkebalikan dengan hewan yang tidak butuh pakaian. Tapi kalau kemudian ada manusia yang tidak butuh pakaian dan malah memakaikan pakaian pada hewan, ini yang tidak alamiah. Artinya: menyimpang.

Ketika Allah menciptakan makhluk baru bernama manusia dan menyertainya dengan akal, akal itu baru tumbuh dan berguna, lebih-lebih setelah manusia (Adam) dan keturunannya diturunkan ke bumi karena melanggar larangan Tuhan. Bumi tidak seperti surga. Semua yang dibutuhkan dan harus diperoleh oleh manusia di bumi harus dipikirkan matang-matang, melalui serangkaian usaha, yang nanti disempurnakan oleh pengalaman. Bukan diperoleh cuma dengan isyarat, lalu keinginannya muncul tiba-tiba. Manusia seharusnya bersyukur kepada Allah karena ditipu Iblis di surga, sebab karena ditipu itulah kita diturunkan ke bumi dan anugerah akal yang dianugerahkan Tuhan khusus kepada manusia baru benar-benar dapat digunakan setelah kita hidup di bumi.

Kesadaran manusia mengenakan pakaian, tidak bisa dipisahkan begitu saja daripada konsep hayawan al-natiq yang disandang oleh manusia. Sebab, al-natiq hanya bisa dilakukan jika ada akal (al-‘aql). Akal jugalah unsur yang menentukan manusia untuk memilah dan memilih yang baik atau yang buruk, yang benar atau yang salah. Sebab itu, taklif (pembebanan amanah), perhitungan dosa, dan pahala hanya disyari’atkan pada manusia yang berakal. Karena itu, orang gila boleh tak berpakaian, sebab ia tidak berakal.

Akal menumbuhkan daya kreatif manusia. Ketika seiring waktu manusia berpencar di muka bumi, mereka harus menyesuaikan diri dengan tempat mereka hidup. Manusia yang hidup di pantai, menemui kenyataan bahwa udara pantai panas. Maka mereka membuat baju dan celana yang pendek saja. Manusia yang hidup di daerah yang dingin bersalju memaksa mereka membuat pakaian tebal dari kulit binatang dan lain sebagainya. Manusia gunung, gurun, dan hutan pun awalnya menciptakan pakaian atas dasar kebutuhan. Ketika manusia telah bersuku-suku dan komunitasnya menjadi lebih besar, nilai pakaian ditingkatkan dari sekadar kegunaan menjadi guna-makna. Makna pun bermacam-macam, diiringi simbol. Zaman berkembang, falsafah keindahan dalam berpakaian pun terus berkembang seiring perkembangan manusia, menggiring munculnya satu kecenderungan yang bernama fesyen.

Akal menentukan pakaian seseorang. Pengalaman dan lingkungannya yang kemudian membakukan seleranya. Akan tetapi akal saja tidak cukup untuk menjadikan manusia benar-benar menjadi manusia dalam berpakaian. Di sisi lain, akal tidak cukup sebagai unsur tunggal untuk menentukan pakaian seseorang. Kita perlu yang namanya wahyu.

Wahyu itulah yang kemudian memberi batasan bagi akal untuk terus mengembangkan keindahan berpakaian. Dunia modern yang semakin industrialis, membuat fesyen yang sebelumnya telah membunuh nilai-nilai dan makna-makna pada pakaian menjadi sekadar gegayaan, keren-kerenan, kini malah terperosok ke selokan yang lebih dalam. Fesyen mengubah selera masyarakat banyak, mengonstruksi sedemikian rupa selera masyarakat menjadi sama, diubah-ubah secara periodik, dikembangkan terus oleh perusahaan-perusahaan pakaian yang memang tujuannya bukan mengembangkan nilai-nilai yang bermakna, tapi mengumpulkan nilai-nilai rupiah.

Sebuah celana dalam pun, meski tersembunyi dan fungsinya tetap sama dengan celana dalam yang lain, bisa jadi harganya berbeda jauh.  Masyarakat banyak di dunia sekarang ini memilih bukan pada nilai utilitas dan makna, tapi karena fesyen. Karena selera. Karena artis itu pakai pakaian itu, kita membeli pakaian yang dipakai artis itu. Kita membayangkan menjadi dia selama baju itu dikenakan. Kita kehilangan kedirian, identitas, dan jati diri kita. Kalau berpakaian sudah tanpa arti, kita akan semakin kehilangan kemanusiaan kita.

Wahyu itu penting untuk menyelaraskan keinginan kita untuk mengembangkan batas keindahan. Karena kita hidup sebagai makhluk berakal sehat yang dibebani syari’at berpakaian, fesyen sebagus apapun, kalau menampakkan aurat masih saja dianggap tidak benar. Cara berpakaian orang gila tidak perlu kita tanggapi karena apa yang ia kenakan lepas dari akal.

Pakaian memiliki arti yang sangat penting. Pada sisi yang paling penting, pakaian menggambarkan watak, juga pandangan seseorang kepada Tuhan. Kita sering mendengar urutan kata “sandang, pangan, papan”. Urutan itu tidak bisa dibalik. Martabat dan harga diri wajib didahulukan daripada kehidupan dan beranak pinak. Kita seharusnya lebih memilih mati karena tidak makan daripada makan tapi tidak berpakaian.  Orang Jawa punya peribahasa bagus, “ajining sariro soko busono”, orang selalu dihargai dari penampilannya. Meskipun pada kenyataannya, dimensi penghargaan yang hakiki bukan pada pakaian dan aksiden-aksiden yang menempel pada kita.

Kata ustadz, Allah tidak melihat pada harta dan pakaianmu, tapi melihat pada hatimu. Karena kita tidak bisa melihat  yang batin, kata ustadz lagi, Nabi memudahkan kita menghukumi seseorang dari yang zahir-zahir saja. Yang batin, yang tersembunyi, yang misteri, kita serahkan urusannya kepada Allah. Seperti kawan saya yang bernama Munif, misalnya. Hampir tujuh tahun berkawan, dalam keadaan apapun saya tidak sekalipun melihat bajunya dikeluarkan. Ia kukuh mempertahankan pakaian dan model baju masuknya seperti itu, meski fesyen telah berubah berkali-kali. Ia begitu kukuh menyembunyikan alasan mengapa ia berpakaian seperti itu. Mungkin kita yang menjadi korban fesyen tidak paham nilai-nilai seperti itu. Kita hanya tahu selera, bukan makna.

Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

Populer

IKLAN BARIS