• Ikuti kami :

Pak Natsir, Wahabi, Ikhwanul Muslimin, Turki, dan Hal-Hal Lainnya

Dipublikasikan Senin, 24 Juli 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Pada tahun 1976, diadakan festival Islam di London selama tiga bulan (April--Juni). Mohammad Natsir menjadi pemimpin salah satu sidang di festival tersebut. Pada konferensi tersebut, Pak Natsir membentangkan materi mengenai Islam di Indonesia dari zaman ke zaman. Selain itu, tentu saja Pak Natsir bertemu dengan banyak kalangan dalam festival tersebut. Para pemimpin Islam dari berbagai negara bertemu dengan pemimpin Umat Islam dari Indonesia tersebut, termasuk pemimpin dari Wahabi dan dari Ikhwanul Muslimin.

Tentu saja Bapak Bangsa kita ini berpandangan positif terhadap perjuangan kaum Muslim, baik yang tergabung dalam gerakan Wahabi maupun Ikhwanul Muslimin. Penghargaan yang baik dihaturkan kepada kedua gerakan tersebut meskipun Pak Natsir tidak pernah menjadi anggota keduanya dan menyebarkannya di Indonesia.

Pandangan-pandangan Pak Natsir mengenai festival tersebut sempat dibukukan dengan judul World Festival Islam dalam Perspektif Sejarah. Selain itu, catatan mengenai acara besar tersebut hadir pula dalam media massa kita. Tak lama setelah Pak Natsir pulang dari London, seorang wartawan Panji Masyarakat, Farid Hadjiry, mewawancari beliau. Hasil wawancara tersebut kemudian dimuat dalam Panji Masyarakat, No. 199, Tahun XVIII, 15 Mei 1976/16 Jumadil Awal 1396, halaman 16—17.

Wawancara tersebut memberikan gambaran bagi kita bahwa Pak Natsir memiliki pergaulan yang luas di kalangan para pemimpin Islam di dunia internasional. Beliau pun dihormati dalam kalangan yang luas itu. Selain itu, beliau juga memiliki pandangan yang tajam mengenai perkembangan dunia Islam. Mantan Perdana Menteri NKRI ini memang dikenal memiliki wibawa yang memadai. Beberapa kali sengketa terjadi antara satu fihak dengan fihak lain di kalangan umat Islam. Pak Natsir tidak menjadi pembela keduanya, tetapi menjadi penengah.

Berikut ini adalah wawancara utuh tersebut. Kami telah melakukan penyesuaian ejaan dan penyuntingan terhadapnya.

***

Wawancara dengan Mohammad Natsir: Konferensi Islam Internasional di London

Konferensi Islam Internasional London ini merupakan satu mata rantai rangkaian acara pameran atau festival atau “mihrajaan” Kebudayaan Islam Internasional yang berlangsung selama tiga bulan: April, Mei, dan Juni 1976.

Ada 33 topik yang dibahas dalam 10 sidang. Sidang (I): mengenai Amanat/Pesan-pesan Islam, dipimpin oleh Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri Republik Indonesia; (II) Ajaran Moral dan Sosial Islam, dipimpin oleh Syekh Mahmud Subhi, Sekjen Jami’ah Da’wah Islamiyah Tripoli, Libya; (III) Qur’an dan Rasul-Rasul, dipimpin oleh Syekh Muhammad Saleh al Qazzas, Sekjen Rabithah Alam Islamy, Mekah; (IV) Hukum Islam dan Negara, dipimpin oleh Dr. Ahmadou Karim Gaye, Sekjen Sekretariat Islam, Jeddah; (V) Wanita dalam Islam, dipimpin oleh Al-Haj Syekh Abu Bakar Gumi, Qodhi Besar Nigeria; (VI) Sistem Ekonomi Islam, dipimpin oleh Dr. Muhammad Umar  Zuber, Presiden Universitas Raja Abdul Aziz, Jeddah; (VII) Islam dan Peradaban Modern, dipimpin oleh Tengku Abdur Rahman, E. Perdana Menteri Malaysia; (VIII) Gerakan Islam Masa Kini, dibahas dalam dua kali sidang. Yang pertama dipimpin oleh Prof. Muhammad Qutb, Fakultas Syari’ah, Universitas Raja Abdul Aziz (Jeddah), dan yang kedua Maulud Kasem Nayed Ben Kasem (Nigeria). Sidang (IX): tentang Islam dan Hari Depan Kemanusiaan, dipimpin oleh Muhammad Abd Yamani, Menteri Penerangan Saudi Arabia.

Mohammad Natsir, selain memimpin sidang pada acara pertama, juga memberikan prasaran tentang Islam di Indonesia pada acara sidang VIII.

Panji Mas: Apa isi paper Bapak secara garis besarnya, dan bagaimana tanggapan konfrensisten terhadap tulisan Bapak tersebut?

M. Natsir: Tulisan itu saya tulis secara deskriptif saja. Menceritakan peran Islam dan umat Islam dari zaman ke zaman di Indonesia, sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Kalau bagi kita di sini, sebetulnya, tulisan seperti itu tidak menjadikan persoalan apa pun, tetapi karena mereka nampaknya baru mendengar tentang Islam di Indonesia, maka serius juga menanggapinya.

Panji Mas: Konon, tema acara ini adalah “Islam dan Tantangan Abad Kini” atau “Islam and the Challenge of Our Age”. Dengan tema semacam ini, apakah kira-kira tujuan festival atau konferensi internasional yang memakan dana, masa, dan daya tenaga yang tidak sedikit itu dapat dicapai?

M. Natsir: Paling tidak, festival dan konferensi ini mempunyai tujuan. Pertama: untuk menumbuhkan persaudaraan di daratan Eropa yang terdiri dari bermacam-macam negara dan bangsa, sebab perlu disadari bahwa Islam adalah agama terbesar kedua di Eropa setelah Kristen. Yang kedua: untuk menghidangkan kepada penduduk Eropa pada umumnya, tentang Islam dalam berbagai macam aspeknya, Islam yang merupakan sumber hidup umat manusia zaman modern ini. Dan nyatanya, berhasil tujuan ini. Masyarakat Eropa, khususnya, dan masyarakat dunia, umumnya, mempunyai pengertian dan pandangan lebih baik terhadap Islam.

Panji Mas: Ada judul yang menarik disampaikan oleh putera Hasan al-Banna yang terkenal itu, Syeif al-Islam al-Banna, ahli hukum Kairo, yaitu “Gerakan Islam Masa Kini”. Saya kira Bapak dapat menerangkan serba sedikit tentang hal ini.

M. Natsir: Dia menceritakan tentang Ikhwanul Muslimin yang kini bertebaran di Timur Tengah, terutama setelah secara resmi di negerinya Mesir dilarang dan para pemimpinnya digantung oleh Nasser. Kini keadaannya jauh berbeda, pemerintah Mesir mengampuni mereka dan bahkan meminta agar mereka-mereka ini pulang ke negerinya. Kini, Ikhwanul Muslimin, kendatipun wadah resminya tak ada, tetapi semangat dan cita-citanya tetap hidup dan muncul dalam bentuk konsepsi-konsepsi, dan kenyataannya, diterima dunia. Misalnya: tentang Bank Islam, konsep Islam tentang ekonomi, pendidikan. Mereka bertebaran, selain di Timur Tengah, juga di Afrika seperti Dr. Kamil al-Bakir di Sudan, Dr. Izdi Ibrahim di Emirat Arab.

Panji Mas: Muhammad bin Abdul Wahab (1700--1787) kelahiran Nejed, jantung padang pasir Arab, nampaknya dalam konferensi ini mendapat perhatian dan dibahas juga. Mengapa?

M. Natsir: Sebabnya, ya, memang penting. Penting terutama karena Muhammad bin Abdul Wahab dianggap sebagai pemula gerakan kebangkitan Islam abad 19. Setelah beliau meninggal, diteruskan oleh muridnya Sa’ud (wafat 1814). Selanjutanya, Said Muhammad Sanusi yang termasyhur itu datang ke Mekah dari Aljazair negeri aslinya, mempelajari ajaran Wahabi, lalu mendirikan Pan Islam Raya. Gerakan Wahabi bertujuan perbaikan semata, menghapuskan takhayul-takhayul dan kepincangan lain, kembali kepada Qur’an dan Hadith. Yang menyampaikan prasaran ini adalah Dr. Muhammad Saad al-Rashid, Fakultas Syariah Universitas Raja Abdul Aziz Mekah.

Panji Mas: Sejak Mustafa Kemal (Atatürk) dapat merebut kekuasaan dari dinasti Ottoman dan memindahkan kekuasaan dari Istanbul yang sejak zaman Muhammad al-Fatih menjadi pusat pemerintahan kerajaan Ottoman (1453) ke Ankara di daerah Anatoli, maka berangsur-angsur Atatürk melepaskan sama sekali segala yang berbau Islam. Tapi, justru, kini, nampak jauh berbeda, bahkan bulan Mei mendatang, konferensi menteri-menteri luar negeri negara-negara Islam justru akan diadakan di Turki. Dr. Saleh Tug, Direktur Lembaga Studi Islam Universitas Istambul dalam Konferensi London, saya lihat juga memaparkan tentang Islam di Turki. Bagaimana menurut penilaian Bapak tentang Turki ini?

M. Natsir: Yah, memang begitulah kenyataannya. Pada zaman Atatürk, huruf Arab harus dibuang, diganti dengan huruf Latin bahasa Turki. Adzan pun harus dengan bahasa Turki. Pendeknya, Islam tertindas, terpendam. Tetapi, setelah tahun 1952-an keadaan ini mulai berubah. Agama Islam diajarkan kembali di madrasah-madrasah. Begitu pula bahasa Arab mulai dipelajari kembali. Kini justru berbalik sama sekali. Yang tadinya dalam forum-forum internasional hanya pasif-pasif saja, sekarang menjadi aktif sekali, bahkan menjadi inisiator pertemuan keislaman internasional.

Di kalangan pemudanya, juga aktif. Ada suatu gerakan dalam bidang agama dan kebudayaan. Sebetulnya tidak hanya di Turki saja, juga negara-negara di Asia yang lain dan Eropa. Golongan pemuda ini pada mengharapkan peranan kembali yang lebih besar para generasi muda Islam di Indonesia!

Panji Mas: Prof. Ishtiak H. Quereshi ex Ketua Universitas Karachi, Pakistan dalam sidang yang X membentangkan: “Islam dan Dunia Barat Masa Lampau, Masa Kini dan Masa Datang”. Ini, saya kira, cukup menarik kalau sekilas diceritakan oleh Bapak kepada pembaca kami.

M. Natsir: Selama ini, Islam di dunia Barat dianggap sebagai saingan. Tetapi, sesungguhnya, Islam amat dibutuhkan oleh Barat yang sedang kekosongan rohani. Dan jangan lupa kini Islam agama terbesar kedua di Eropa. Di Inggris, semenjak 1972-an, Islam di sana mengalami kemajuan besar. Di London, masjidnya besar dan penuh, apalagi di Birmingham. Di United Kingdom ini, ada lebih dari satu juta Muslimin, juga di Finlandia, Yugoslavia, Nederland. Bahkan, dari Munich, Jerman, seorang tokoh wanitanya, Ny. Fatimah Heeren Sarka, mengemukakan konsep “Kehidupan Kekeluargaan dalam Islam”. Juga ex Ketua United Kingdom Islamic Mission, London, Maulana Habibur Rahman, menyampaikan paper masalah “Pendidikan Muslim dalam Masyarakat Non-Islam” dan pemprakarsa festival adalah suatu organisasi yang cukup besar, Perhimpunan Islam Eropa atau Islamic Council of Europe.

Panji Mas: Sebagai pertanyaan terakhir, barangkali, ialah setelah dipertanyakan oleh Amir Syakib Arselan dengan “Limadza taakharal Muslimun, wa limadza taqaddama ghairuhum”, dan setelah berpulangnya Sayid Jamaluddin Al-Afghani, Syeikh Muhammad Abduh, dan yang lain lagi, siapakah kiranya tokoh-tokoh masa kini, termasuk pemudanya?

M. Natsir: Yah, antara lain mereka itu Abdul A’la Maududi Pakistan; Hasan Ali an-Nadawi India; Prof. Muhammad Qutb (adik Syayid Qutb Mesir); Dr. Hamidullah Perancis; Prof. Kurshid Ahmed Pakistan (Direktur Jenderal “Islamic Foundation”); Dr. Ahmad Saker Libanon, di USA; Dr. Ahmad Totondji-Irak; Dr. Tijani Sudan; Dr. Faruqy Pakistan.

Disunting dari Panji Masyarakat, No. 199, Tahun XVIII, 15 Mei 1976/16 Jumadil Awal 1396, Halaman 16—17.


Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS