• Ikuti kami :

Pak Harto, Monosodium Glutamate, dan Pendidikan Moral Pancasila: Sekadar Kenang-Kenangan Semasa Sekolah Dasar

Dipublikasikan Rabu, 15 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Sekolah Dasar adalah hari-hari jam 7 pagi dengan matahari yang masih segar, bertemu kawan nan penuh senda gurau. Pak Guru dan Bu Guru yang gajinya sengkarut menyambut, mengajar penuh cinta. Belajar membaca dan menulis, juga berhantam dengan teman. Bermain dan mencari mangga muda di belakang sekolah. Dan pada akhirnya mendengar lonceng tanda berakhirnya jam pelajaran sebagai suara kebebasan paling dinantikan.

Sangat sulit untuk mengingat kawan paling manis semasa SD. Belum baligh. Tidak ada yang rumit-rumit semacam cinta atau pemberontakan terhadap tata nilai sekolah. Masa SD ialah masa-masa manis agak asam penuh kegembiraan dan sedikit kususahan.

Saya sudah lupa apa pelajaran yang menarik ketika SD, tapi tidak ada pelajaran yang lebih menarik dari jajan. Masa SD saya, dan ternyata juga banyak kawan-kawan saya, adalah masa kecil penuh Monosodium Glutamate (MSG). Konon katanya zat pelezat makanan itu dapat membuat anak-anak menjadi bodoh. Saya tidak tahu itu benar atau tidak.  Kawan saya yang sering minum Cerebrovit ternyata juga terpental dari 20 besar ranking kelas. Nyaris urutan buncit padahal mami-papinya memberi vitamin setiap hari. Jadi kecerdasan memang bukan tentang apa yang kita mamah, melainkan tentang bagaimana kita memberdayakan akal kita. Itu senalar dengan kata-kata penuh sayang yang begitu lembut: Buku yang baik ialah buku yang kamu baca, bukan buku yang kamu pamer-pamer di jejaring sosial. Haji Agus Salim tetap pintar meski tak mengenal Scott’s-emulsion.

Tentu saja saya lebih suka jajanan ber-MSG daripada vitamin-vitaminan macam Cerebrovit. Gaji Bapak saya tidak cukup untuk vitamin-vitaminan begitu. Chiki Balls, dengan maskot seekor bebek berwarna kuning, ialah salah satu yang sering saya dambakan. Tapi itu terlalu mahal. Jarang-jarang saya beli. Dan mungkin MSG yang dikandungnya juga kurang banyak. Kurang sedap dan gurih. Jajanan kesukaan saya nomor satu adalah mie lidi, baik yang rasa pedas atau pun original. Mie lidi tak bermerk dan tak bermaskot. Harganya Rp 50,- ketika itu. Gurih, pedas, renyah, dan ya begitulah. Mencandukan. Membuat ketagihan seperti kuaci. Sekali mencicipi kita diajak terus untuk menggerus, seperti sapi lapar mengunyah rumput.

MSG lain yang begitu bersahabat dengan kami, anak-anak SD di sebuah kecamatan di timur Kabupaten Bandung, adalah kedondong potong bunga. Ini kedondong biasa yang dipotong dengan seksama sehingga bentuknya menjadi seperti bunga kemudian direndam memakai zat pewarna berwarna kuning dan kemudian ditaburi semacam sambal bubuk. Sambal bubuk ini yang enak. Mungkin perpaduan antara garam, cabe bubuk, kacang tanah yang digerus, dan penyedap makanan (MSG). Saya tidak tahu bumbu itu telah seperti apa membodohkan saya, yang saya tahu itu enak betul. Sangat enak. Harganya Rp 150,- ketika saya kelas 3 SD. Rasanya masih banyak makanan ber-MSG yang katanya bisa membodohkan itu.

Boleh jadi karena terlalu banyak makan MSG, pada masa-masa SD, saya dan kawan-kawan cenderung mengagumi Pak Harto, Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia ketika itu. Pak Harto dalam pandangan kanak-kanak kami adalah sebuah kesempurnaan. Perwujudan dari pada kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam Pancasila beserta butir-butirnya yang banyak itu. Ya, mungkin MSG lah yang membuat anak-anak SD ketika itu mau tak mau dan tanpa perlawanan yang berarti bersedia dipaksa negara untuk menghapal Pancasila beserta butir-butirnya hingga yang paling kecil.

Perpaduan antara MSG, Pendidikan Moral Pancasila (yang kemudian berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Chiki Balls, film G 30 S/PKI, dan komik Tatang. S telah membuat kami anak-anak SD ketika itu menjadi amat kagum pada sosok Pak Harto. Beliau ialah lelaki sempurna yang patriotik, berbudi, rela berkorban, cinta tanah air, tepo saliro, setia kawan, dan mau membantu menyeberangkan nenek-nenek yang hendak menyeberang jalan. Bapak Haji Muhammad Soeharto ialah kesempurnaan.

Setiap peringatan Hari Anak Nasional, kami melihat beberapa kawan sebaya kami bertemu Pak Harto di Taman Mini Indonesia Indah. Disiarkan langsung oleh TVRI yang sedang menjalin persatuan dan kesatuan tanpa iklan. Bahagia sekali nampaknya kawan-kawan kami itu ketika ditanyai oleh Pak Harto: “Kalau nanti anak-anak besar, nanti mau jadi apa?”. Ada anak yang menjawab ingin menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi tentara, dan menjadi guru. Tapi Pak Harto tertawa ketika seorang anak bilang “saya mau jadi Presiden, Pak!”. Ibu Tien dengan kacamatanya yang gelap dan lebar kemudian agak terbahak, tentu dengan sedikit menutup mulut. Sanggulnya tetap tenang dan selendang jingga yang tertata rapi menclok di pundaknya tak bergeser barang semili.

Saya tak pernah sadar bahwa di Hari Anak Nasional ketika itu telah lahir cikal bakal pemberontakan. Seorang anak menyatakan ingin menjadi presiden di depan presiden. Presidennya Pak Harto pula. Anak itu nampaknya tak pernah diculik Tim Bakung. Tapi tidak pula menjadi presiden. Entah ke mana ia, tak terdengar kabarnya setelah menyatakan bercita-cita jadi presiden di Hari Anak Nasional itu. Salah satu kegagalan Orde Baru dan MSG ialah menghentikan anak-anak untuk memiliki cita-cita menjadi presiden. Telah ada niat untuk menggantikan (dengan kata lain meruntuhkan kekuasaan presiden berkuasa ketika itu) Pak Harto, meski gagal.

Kesadaran masa kanak-kanak kami begitu berkabut. Ketika kami terlena dalam kenikmatan MSG, terbuai kesibukan menghapal butir-butir Pancasila dan keterkaguman terstruktur terhadap Presiden Orde Baru, Kakak Budiman dan kawan-kawan sudah berencana untuk menggulingkan kekuasaan. Begitu juga Ustadz-ustadz di Tanjung Priok sana. Bapak Ustadz menyebut Soeharto sebagai Firaun Jawa. Pancasila diragukan kesaktiannya. “Siapa bilang Pancasila itu sakti? Umurnya belum 100 tahun udah dipake maksa orang, nindas orang. Al-Qur’an yang sakti. Sudah 1.400 tahun memberi berkah buat manusia,” ujar sebuah suara yang kemudian ditangkap dan dipenjarakan.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh Kakak Budiman dan Ustadz-Ustadz Tanjung Priok itu terekam dalam nalar kami yang penuh MSG sebagai sesuatu yang tidak boleh, terlarang, dan tidak sesuai dengan kepribadian Pancasila; melanggar prinsip-prinsip idiil berbangsa; mereka tidak secara penuh dan konsekuen melaksanakan ajaran luhur para pendiri negara ini. Tidak bersesuaian dengan GBHN. Merongrong wibawa dan kekuasaan pemerintah. Mengancam persatuan dan kesatuan yang telah susah payah diperjuangkan TVRI.

Negara berhasil menguasai alam berfikir kanak-kanak kami, bahwa Pak Harto ialah perwujudan (yang diseolah-olahkan resmi) dari kebenaran-kebenaran yang kami pelajari dalam PMP atau PSPB. Para guru yang telah mendapat penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dengan sangat baik membangun struktur nalar kami. Bahwa jika ada nenek-nenek yang hendak menyeberang di jalan maka kita wajib menolongnya. Dan seolah-olah, Pak Harto lah yang pertama kali melakukan itu. Pak Harto lah (dan tampaknya bersama Ibu Tien) yang seolah-olah pertama kali menolong nenek yang renta dan papa untuk menyeberang jalan raya yang penuh kendaraan dan bahaya. Ketika itu, beberapa kawan sebaya saya dari pelosok Irian dan Kalimantan belum memahami apa yang dimaksud guru yang sudah ditatar P4 itu. Tidak ada nenek-nenek yang perlu ditolong untuk menyeberang jalan, sebab di tempat mereka belum ada jalan raya. Dinas Pekerjaan Umum masih bergulat dengan jalur Pantura yang secara rutin rusak menjelang bulan Ramadhan.

Orde Baru telah mengerahkan alat-alat negara untuk menguasai struktur nalar masa kanak-kanak kami. MSG, Pancasila, PMP, PPKN, PSPB, P4 adalah alat-alat yang dikerahkan penguasa (semi militer) untuk mencengkeram khayal kami. Bahwa kami tidak diperkenankan untuk dapat membayangkan seorang nenek yang membaca al-Qur’an dengan tenang di bawah naungan kekuasaan Islam. Yang dapat kami bayangkan hanyalah nenek-nenek renta nan papa yang hendak menyeberang jalan.

Masa-masa SD adalah masa yang seragam. Berbaju putih bercelana pendek merah. Tiap hari senin kami membaca Pancasila, UUD 45, menyanyikan Indonesia Raya, menghormati bendera, dan dinasehati untuk setia serta mencintai NKRI. Setiap minggu selama bertahun-tahun. Dan di saat bersamaan, negara saya, negara kami, dirampok hanya oleh beberapa orang. Kami menjadi bangsa yang kecanduan dan tiba-tiba bergantung kepada gandum. Penindasan berlangsung, pemaksaan dilakukan, penzaliman terjadi, sementara kami dicekoki MSG dan dipaksa menghapal butir-butir Pancasila, UUD 45, dan seluruh menteri dalam Kabinet Pembangunan VI.

Masa kanak-kanak yang indah....


Tulisan Terkait (Edisi Kuliner)

Populer

IKLAN BARIS