• Ikuti kami :

Orang-Orang Madura, Alam, dan Tuhan

Dipublikasikan Kamis, 23 Februari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Tidak semua manusia bisa berdampingan hidup dengan lingkungan alamnya secara baik. Ada manusia yang mencoba membuat rekayasa terhadap alam demi keberlangsungan hidupnya, ada pula yang menyerah kemudian pindah ke daerah yang lebih baik.

Pandangan manusia abad kini tentang alam terlihat janggal. Alam diposisikan sebagai objek dan diperlakukan dengan semena-mena demi kepentingan manusia. Istilah subjek-objek di sini dapat dilihat dari cara pandang manusia terhadap lingkungan alam sekitarnya, dalam istilah beberapa ahli Barat disebut sebagai rasio instrumental. Kita, sebagai Muslim, tidak dapat menerima istilah rasio instrumental itu, cara pandang terhadap sesuatu dari sudut kepentingan pribadi, bahkan hasrat dari si pemandang.

Tidak, kita tidak begitu. Bagaimanapun, alam adalah makhluk Tuhan. Allah SWT, dengan kun faya kun-nya telah dengan baik menciptakan alam ini. Alam di mata seorang Muslim seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang suci. Suci di sini karena alam menjadi tanda akan Zat yang Mahasuci, Dia yang Maha Gaib. Ia menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada kita, manusia, dengan Rahmat dan Rahim-Nya.

Begitu pula di sisi manusia, kita, seorang Muslim sudah mendaku bahwa tujuan kita hidup semata untuk beribadah kepada Allah. Menjadi Khalifah di muka bumi ini adalah pokok beribadah kepada Allah. Kita menjadi semacam “perpanjangan tangan”-Nya di muka bumi. Bumi yang juga merupakan alam menjadi ladang suci untuk kita menunaikan tugas suci.

Dengan begitu, bahwa hubungan manusia dengan alam merupakan bagian hubungan manusia dengan Tuhan. Di sisi ini terlihat kembali kesucian alam raya ini. Tentu suci di sini tidak menyebabkan kita akhirnya menyembah alam, seperti pepohonan, batu, gunung, dan lain-lainnya. Yang kita sembah tentu saja Allah yang Ahad itu semata, Sang Penyebab semua ini.

Di ujung timur Pulau Jawa, di Pulau Garam, masyarakatnya agaknya mengerti soal ini. Mereka adalah para khalifah Allah yang ditugaskan-Nya untuk menciptakan amal kebaikan di pulau yang bernama Madura. Majalah Panji Masyarakat edisi 176, tanggal 1 Juni 1975, menurunkan tulisan di halaman 11-13 tentang bagaimana manusia-manusia Madura dengan keislamannya dapat berinteraksi secara patut terhadap alam gersang Pulau Madura.

MENINJAU KE MADURA

Dengan predikat yang ideal, Madura seringkali disebut sebagai “Pulau Harapan”. Kenyataannya, alam Madura sendiri cuma membentangkan kegersangan yang pelit. Luasan tanah sulit digarap dengan kondisi pengairan yang sungguh-sungguh minta ampun di musim kemarau. Anda kenal tontonan karapan dan aduan sapi Madura yang khas? Maka sesungguhnya, sapi benar-benar merupakan sesuatu yang teramat vital untuk hidup petani di sana. Sebagai ‘energi’ penggerak bajak-bajak, tentu saja, dan terutama sebagai ‘produsen’ yang mensuplai pupuk untuk sedikit memperlunak kegersangan yang parah itu.

Ada juga tanah gamping yang keras itu memberkahi kekayaan, berupa gips untuk kebutuhan pabrik semen di Gresik. Dan kapur, untuk mencukupi berbagai keperluan pembangunan yang menggalak dewasa ini. Sayangnya, untuk pembakaran kapur itu, sebagaimana halnya untuk batu merah, seringkali dipakai kayu yang diperoleh dari clongan yang tanpa pandang bulu terhadap reserve kehutanan yang sudah demikian limit. Dengan sendirinya kondisi pengairan menjadi semakin parah lagi: terlalu banyak air yang terbuang ke laut pada musim penghujan.

Laut nampaknya lebih pemurah. Di Kalianget, sejak lama telah dipabrikkan garam. Dan di sepanjang pantai, terdapat tidak kurang dari 190 desa-desa nelayan, dengan 11.078 biji perahu-perahu besar maupun kecil. Pantai Sepolo yang terletak di kawasan Kabupaten Bangkalan merupakan pelabuhan nelayan terbesar di Jawa Timur, sesudah pelabuhan Muncar di pantai selatan Banyuwangi. Hasil penjualan ikan basah saja (tidak termasuk ikan kering dan diasinkan) di seluruh Madura, pada tahun ‘73 tercatat mencapai nilai rupiah sebesar 875.558.565,-.

Akan tetapi dari total jenderal dua setengah juta penduduk se-Madura, ternyata cuma terdapat 49.384 orang nelayan. Minyak yang sedang dalam penggarapan akhir-akhir ini, tentulah tidak mungkin akan membasahi juga seluruh penghidupan di luar sektor laut. Dapatlah dipahami, jika penghijauan dan pengairan masih saja dicanangkan sebagai sesuatu yang mutlak diperlukan untuk Madura.

Warna-warni yang Kontras

Seorang pejabat Madura berkata: “24 tahun penghijauan Madura, hasilnya tidak memuaskan.” Lepas dari sementara penilaian, bahwa penghijauan sekarang ini agak kendor dibandingkan dengan kiprah di tahun-tahun lima puluhan, ucapan itu sendiri membayangkan betapa kerasnya alam di Madura.

Barangkali kekerasan alam itulah yang telah melahirkan temperamen Madura yang serbakeras, dengan todik dan arek bulu ajam yang sederajat dengan badik Mangkasar dan rencong di Aceh. Carok pun dikenal orang sebagai cara penyelesaian akhir, yang tidak kalah seramnya dengan duel menurut gaya koboi-koboi Texas, maupun gangster Chicago dari zaman Al Capone.

Akan tetapi sebenarnya ini hanya sebahagian saja dari keseluruhan ‘tampang Madura’, yang secara utuh merupakan sebuah lukisan dengan komposisi warna-warni yang majemuk.

“Tre-pottre Songennep” umpamanya, justru terkenal dengan dialek logat dan lenggangnya yang gemulai, tidak kalah dengan kehalusan ‘Den Ayu-Ayu’ Solo dan Yogya.

Madura memang melahirkan tampang-tampang yang keras dan kasar dengan pici (plus kumis) melintang, akan tetapi Madura pun melahirkan priayi-priayi yang berbobot, di samping para ulamanya, yang di sana disebut dengan predikat kehormatan Bindara, Lora, Mak Ke ataupun Kiyahi.

Kita baca pula sejarah Madura, yang pernah menampilkan figur Kek Lessap yang legendaris, anak perempuan ronggeng yang hampir-hampir menguasai seluruh Madura, tetapi kemudian berantakan oleh pikatan seorang peronggeng juga. Akan tetapi Madura pun pernah menampilkan figur legendaris yang lain: Jokotole yang saleh dan tak terkalahkan. Juga Trunojoyo yang sebarisan dengan Karaeng Galesong dari Mangkasar dalam menghadapi penjajah Belanda dengan semangat Islam.

Lantas di mana sebenarnya letak keharmonisan dari adukan cat warna-warni yang serbakontras itu?

Abantal Ombak, Apajung Syahadat

“Iman dan kerja keras” akan ternyata merupakan warna dasar dari pembawaan hidup Madura. Kekeringan Madura mengharuskan mereka untuk bergelut menghadapi kekerasan tanah melawan ombak lautan, atau mengambil pilihan terakhir: melompat ke Jawa. Ternyata di sini pun, terutama di kawasan-kawasan Eks Karesidenan Surabaya, Malang, dan Besuki, mereka merupakan pekerja-pekerja keras yang ulet, di kebun-kebun (onderneming), di sawah, maupun di pasar-pasar. Pelabuhan Muncar di Banyuwangi itu pun hampir-hampir dirajai oleh reng majengan Madura juga.

Kemiskinan sering kali dipandang sebagai pelincir kepada komunisme yang tak bertuhan, sebaliknya kemakmuran materi yang melimpah kepada hedonisme yang membelakangi peribadatan. Suatu keajaiban agaknya, jika penghuni-penghuni Pulau Harapan yang hidup dari bergemelut dengan kepelitan alam yang minus ini, justru memiliki khazanah ruhaniyah yang makmur. “Tiap lima kelompok punya surau, untuk sembahyang dan tidur bujangan.” Kata Radin Ismail, Eks Sekretaris Karesidenan di Madura. Menjelaskan selanjutnya R Ismail, “Berbeda dengan priayi Jawa, priayi-priayi Madura sejak kecil memang dididik mengaji.” R Husein Diptruno, Residen/Pembantu Gubernur di Bondowoso itu pun, di tengah-tengah lawatan dinas tidak malu-malu untuk bersembahyang malam. Ibadah ini malah diyakininya sebagai salah satu dari kunci-kunci sukses. Sementara falsafah hidup nelayan Madura, menyatakan semangat kerja keras mereka yang dipadukan dengan kegairahan iman itu sebagai berikut:

“Abantal Ombak, Asapon Angin, Apajung Syahadat”

(Berbantal Ombak, Berselimut Angin, Berpayung Syahadat)

Sidi Ghazalba membedakan antara sikap fanatik yang bersifat positif, dan fanatisme yang bersifat negatif. Bagaimana Madura dengan todik-nya yang senilai dengan rencong di Aceh itu? Dalam hal ini Buya Hamka pernah mengemukakan: sebagai manifestasi dari ghirah, yaitu kecemburuan seseorang jantan, yang tanpa itu berarti dayyust: bersikap dan berpendirian sebagai banci yang pengecut. Penglafazan ghirah ataupun iman dan pembawaan keras, tentu saja akan lebih banyak bergantung pada kadar pribadi tiap orang. Yang berilmu tidak akan sama dengan si awam. Demikian pula sang priayi dengan orang udik. Sama halnya yang sudah berasam garam seribu pengalaman dengan yang kerdil. Di samping itu daya tahan terhadap perangsang-perangsang di luar maupun terhadap dorongan-dorongan dalam yang bersifat nafsu, tidak bisa dipukulratakan, sekalipun sama-sama berada di bawah satu payung syahadat.

Cium tangan pun diperadatkan buat para ulama, bisa juga menunjukkan gejala dari dua kemungkinan antara fanatik dan fanatisme. Tawadhu (sikap respek) tidaklah dapat kita samakan saja dengan sikap taklid membuta (Madura: norok buntek) yang memitoskan dan mengultuskan pribadi-pribadi tertentu. Meskipun kita juga sependapat, bahwa esensi dari tawadhu tidak mesti dimanifestasikan dalam wujud cium tangan, dan juga tidak terbatas untuk hubungan yang vertikal semata-mata.

Lepas dari kesemuanya itu, kita merasa sulit untuk membayangkan Madura tanpa ulama, sama halnya tanpa apajung syahadatnya. Untuk menjajaki sampai di mana peran ulama yang merupakan semacam The Invisible Government (penguasa di belakang kelir) di Madura, AKABRI pernah mengadakan Operasi Taruna Wredhha (Sitarda) pada tahun ‘72. Sehubungan dengan itu R Muhd Waji Sastranegara, seorang pejabat Pemda di Pamengkasan (kebetulan memagang juga perwakilan Panjimas di sana), mengemukakan istilah yang dipopulerkan sekarang ini: The Informal Leaders. Membenarkan kenyataan tersebut, R Soenarto, yang memiliki diploma Bestuur Academie dan besluit Gubernur itu pun seraya menunjuk sabab musababnya: “Karena kiyahi-kiyahi di sini mempunyai gezag”.

Prenduan yang Menarik

Tanpa Ra Bakir, ribuan hektar kopi dan cokelat (terutama di kawasan-kawasan Eks Karesidenan Malang dan Besuki) bisa terancam penyerobotan besar, produksi bisa jadi merosot sampai 50%, demikian pendapat di lingkup PT Perkebunan (Persero) XXIII di bawah Tuan Ong Jing Kie (Sekarang: Bapak Utomo Haryo Hudyo) yang beragama Nasrani. Sejauh itulah contoh gezag seseorang Bindara di hadapan kepada image kaum bajingan. Untuk daerah sendiri, seorang seperti Ra Bakir tak dapat melepaskan fungsi pokok sebagai Pemimpin PBB (Pondok Pesantren Banyuanyar), salah satu di antara tiga puluh pondok pesantren yang terserak di Kecamatan Palengaan di kawasan Kabupaten Pamekasan.

Walhasil di kalangan ulama (sudah tentu terdapat perkecualian-perkecualian juga) nampak kerja keras mereka sendiri: dalam menghadapi sekian santri-santri melarat yang tak mungkin ditolak/diusir, dinamika waktu yang menurut modernisasi dengan konsekuensi materil yang mahal, di samping kemestian civic mission yang tak terelakkan dalam tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. Bagaimana menempatkan bajingan-bajingan dalam kerja yang halal, adalah salah satu konsekuensi (way out) yang melibatkan contoh seperti Ra Bakir untuk bergelut dalam dunia perekonoian juga. Bagaimana memecahkan kemusykilan pengairan, adalah contoh lain dari civic mission sebuah pesantren seperti Ponduk Bettet yang berada di bawah asuhan Ra Hifni itu.

Adalah menarik, keadaan di Prenduan dalam kawasan Kabupaten Sumenep, di mana terdapat pesantren besar Luk Guluk yang masih tradisionil, dan sebuah pesantren modern (Tarbiyatul Mu’allimin al Islamiyah) Darul Hikam yang baru mulai pada ujung tahun ‘71. Menarik juga hubungan antara KH Fathurrahim-Zain (besan Eks Gubernur Jatim Samadikoen) sesepuh pesantren modern tersebut. Dengan pejabat direkturnya, seorang kiyahi bujangan yang masih berusia 23 tahun (Ky Idris Jauhari, Direktur: Ky Ahmad Tijaniy sementara masih bekerja pada Rabithah al Alam al Islami di Makah). Di sini terdapat suasana tawadhu yang hidup, di mana kalangan ulama tua yang menghayati (paling tidak memahami) dinamika keadaan (‘ashrah, wal ‘ashri) bisa saling bahu-membahu dengan pihak muda, tanpa mengorbankan respon masing-masing, dan tidak pula dengan kehilangan integrasi dengan umat dalam segala kemajemukannya. Keluar, kaum senior itu pun mampu menghidupi umat pada gairah perkembangan penghidupan duniawiyah, baik di sektor perikanan laut, pertanian maupun perdagangannya, di mana peran dominasi nonpribumi pun telah dapat dielakkan.

Partisipasi

Dari keadaan di Prenduan, ternyata bahwa pendekatan yang bersifat tawadhu dari semisal Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) untuk meratakan perkembangan, dengan menyebar ke kalangan ulama majalah dan kitab mutakhir berlogat Arab yang disusun oleh “sesama rekan ulama” di luar tanah air, atau ikut menyalurkan pembinaan perkaderan dari dan untuk pesantren itu sendiri (dengan istilah Ketua Dewan Dakwah M Natsir: tanpa merusak shibghoh sesuatu pesantren), ternyata lebih luwes dan sampai pada sasarannya, daripada macam pendekatan yang bersifat menggurui, atau yang merupakan pembinaan secara superior.

Kita pun tak mungkin membatasi pengertian “ulama” semata-mata dari kalangan selingkar tembok-tembok pesantren. Kepribadian seorang akademikus dan tokoh Muhammadiyah seperti Dr Kusnadi (khususnya sepanjang dikenal selama beliau berdomisili di Bondowoso), justru telah mengesankan image tersendiri buat sementara priayi Madura di sana, sebagai seorang “ulama” juga atau taruhlah sebagai “Bapak Keruhanian”, sehingga membekaskan keyakinan sampai ke masalah shalat malam pada pribadi semisal R Husein Pembantu Gubernur itu. Kita serasa cenderung untuk berpendapat, bahwa esensi ke-ulama-an diwarnai oleh penghayatan ruhaniyah secara simetris di sebelah segi akli serta duniawinya kehidupan di bawah payung syahadat itu. Wa’llahu A’lam!!!

Abantal Ombak, Asapon Angin, Apajung Syahadat, Berbantal Ombak, Berselimut Angin, Berpayung Syahadat adalah bukti bagaimana orang-orang Madura bersikap kepada alam Pulau Garam yang terkenal gersang. Kegersangan Madura justru bukan menjadi alasan mereka untuk mengeluh. Ombak ganas, angin yang dapat menenggelamkan layar-layar mereka jadikan kawan. Ya, ombak dan angin mereka tundukkan dengan adil, tanpa berlebihan. Semuanya itu berangkat dari keyakinan syahadat (Islam) sebagai payungnya.

Orang-orang Madura taat betul kepada orang-orang yang berilmu tinggi dalam agama. Peran para ulama ini punya andil besar dalam membentuk karakter dan sikap batin orang Madura. Khususnya sikap batin mereka terhadap alam. Di mana pun alam itu.

Sepertinya orang Madura sadar betul akan perannya sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Alam gersang malahan memacu semangat mereka untuk berbuat baik (amal makruf). Meskipun sebagai manusia, mereka memiliki kekurangan-kekurangan, tapi secara umum kita dapat melihat bagaimana iman yang menjadi pandu dan penyemangat mereka untuk berkawan dengan alam, berbuat baik kepadanya, memperbaikinya dengan kerja keras. Semuanya demi persembahan orang-orang Madura kepada Allah.


Tulisan Terkait (Edisi Alam)

Populer

IKLAN BARIS