• Ikuti kami :

Daripada dan Siapa Tahu: Politik Darurat Melulu

  • Syifaunsyah
  • 02 Februari 2017
  • 847

“Siapa tahu orang Yahudi bisa kalah”, “siapa tahu komunis bisa gagal bercokol di bumi pertiwi ini”, itu dua contoh ujaran yang menggunakan “siapa tahu” sebagai logika. Siapa yang tahu? Orang untung-untungan begitu. Tidak ada ikhtiar manusia yang mumpuni di situ. Itu menyedihkan.

Selengkapnya

Konspirasi Yahudi dan Terlalu Hobi

  • Tri Shubhi A
  • 01 Februari 2017
  • 971

Selain mewaspadai konspirasi Yahudi dan bersikap tepat terhadap isu tersebut, kita juga perlu mengurangi hobi jelek kita. Harus ada yang memulai berpikir lebih terbuka mengenai umat. Sekat-sekat kelompok dan perbedaan mesti disikapi dengan lebih bijak.

Selengkapnya

Keris, Politik, dan Krisis Identitas Kaum Lelembut

  • Syifaunsyah
  • 31 Januari 2017
  • 863

Daya rusak pertarungan politik memang sudah merambah alam setan. Tidak terbayang, di negeri ‘sana’ para lelembut saling bersitegang demi membela calon masing-masing. Sesajen yang enak-enak tak dapat diawasi Bawaslu.

Selengkapnya

Menjual Agama Demi Uang dan Kuasa

  • Tri Shubhi A
  • 30 Januari 2017
  • 1130

Politik memang begitu dan diselenggarakan untuk itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi. Kalau seseorang mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, nah itu perlu diprotes.

Selengkapnya

Dari Mulut Ke Jempol: Soal Kita dan Perujaran Sehari-hari

  • Tri Shubhi A
  • 24 Januari 2017
  • 765

Mulutlah alat perujaran utama dalam kehidupan. Kita mengenal istilah “mulutmu harimaumu” atau “beradu mulut”. Yang pertama tidak diujarkan dengan maksud menyatakan mulut bercorak belang. Harimau ialah penamsilan dari ‘buas’, ‘ganas’, ‘berbahaya’.

Selengkapnya

IKLAN BARIS