• Ikuti kami :

O Pemimpin! Suara Hati Nurani Rakyat!

Dipublikasikan Kamis, 02 Februari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama
Sejak dahulu yang namanya rakyat selalu dituntut untuk sedia berkorban. Dan memang, rakyat selalu yang paling depan ketika kehormatan negara terusik. Pada masa perang, rakyat Indonesia ramai-ramai berkorban. Pun ketika damai. Rakyat Indonesia sudah biasa dipaksa PSSI untuk membayar tiket pertandingan bola Timnas kita. Bayangkan, rakyat kita ialah rakyat yang bersedia membayar, antri dan berdesak-desakan dalam rangka mendukung kesebelasan nasional kita. Menyatakan dukungan dan nasionalisme saja diminta bayar, dan rakyat mau. Di atas kebersediaan rakyat untuk berkorban seperti itu, selalu ada orang-orang yang menampuk keuntungan. Silakan kalikan, 20.000 penonton sepakbola dikali biaya tiket masuk stadion Rp 50.000,-. Rp 1.000.000.000,- sekali pertandingan. Ke mana uang rakyat yang membayar demi nasionalismenya tersebut?

Pemanfaatan pengorbanan rakyat kita bukan hanya terjadi di lapangan hijau. Sejak dulu kala rakyat kita selalu diminta berkorban, dimanfaatkan, ditunggangi kepentingan-kepentingan bahkan dirangsang untuk berhantam demi nafsu segelintir elit. Hari ini kita dapat melihat bangsa kita dipaksa menjadi penempik sorai pergumulan politik para pemimpin. Rakyat diseret-seret, diberi kaos dan spanduk, serta didorong untuk bertarung menjadi pembela pihak tertentu. Dipaksa berbenturan sesama rakyat.

Soal rakyat yang ditunggangi ini memang cerita lama. Sangat lama. Artinya pebaikan soal itu nyaris mandek dalam tata politik dan kebangsaan kita. Hampir seabad lalu, seorang penulis mengirimkan unek-uneknya kepada redaksi Majalah Hikmah. Unek-unek itu kemudian dimuat di Majalah Hikmah, Tahun IX, 21 Januari 1956/Jumadil Akhir 1375, halaman 10. Kalau kita baca sekarang, tentu saja unek-unek sedemikian nampak biasa. Di media sosial sumpah serapah dan perendahan terhadap pemimpin amat mudah kita temui. Namun pada masa itu, perlu keberanian lebih untuk menyatakan pendapat semacam ini. Presiden ketika itu masih sangat galak dan sedang berproses menjadi penguasa yang nyaris anti-kritik.

Oleh karena itu, artikel ini menjadi berarti bagi kita hari ini. Sebab ada masa-masa di mana kata-kata memang ditodong senjata. Kita tak hendak lagi hal itu terjadi. Namun jangan pula bangsa kita menjadi bangsa yang tak pandai menjaga “mulut”. Rakyat mencaci maki pemimpinnya dan pemimpin menghardik rakyatnya. Mulut kotor dan bahasa yang rusak bukan cita-cita kebangsaan kita bukan?

Nah, mari kita baca dengan seksama kritik yang keras dan bermartabat dari masa lalu. Suara rakyat yang jelas tetapi juga disampaikan secara terhormat.

                                                                                ***
Untuk Kamu, O Pemimpin!

Rakyat kita cukup patuh. Cita-cita mereka masih sangat sederhana, hidup damai dan aman serta jauh dari berlebih-lebihan. Sekalipun ia orang yang berada, tetapi perasaan tenggang rasa tidak membiarkannya berbuat demikian.

Sebagai rakyat biasa, mereka lekas percaya kepada kata-kata dan anjuran pemimpin-pemimpin. Dibawa ke sini ia menurut, dibawa ke sana ia pun mengikut. Bagi orang yang semacam itu, beruntung bila ia mendapat pemimpin yang cerdas dan jujur. Kalau tidak tentulah ia akan jadi permainan pemimpin-pemimpin saja; permainan untuk melampiaskan nafsu mereka dan jadi tameng bagi pekerjaan mereka yang tidak jujur dan tidak diingini. Dengan lain perkataan, permainan untuk mendapat kursi empuk dan kekayaan.

Pada umumnya, sifat seperti yang kita katakan di atas masih dimiliki oleh rakyat kita. Sekalipun kini telah mulai kelihatan gejala-gejala yang tidak baik, tetapi belum berurat berakar dan masih mudah mengikisnya. Kalau kita dapat mengatakan sesuatu menurut yang sebenarnya, maka gejala-gejala permusuhan yang timbul pada rakyat adalah karena pemimpin-pemimpinnya, bukan karena watak dan tabi’at rakyat itu sendiri. Kita katakan karena pemimpin-pemimpin, sebab kalau pada satu pemimpin  atau partai ada rasa tidak senang, maka pada pengikutnya terus pula dihembuskan rasa yang demikian atau rasa kebencian terhadap pemimpin atau partai yang tidak disukainya itu. Rakyat jadi berpecah belah dan benci membenci, sekalipun yang satu dengan yang lainnya masih bertetangga atau bahkan serumah. Sebenarnya dalam permusahan ini mereka tidak tahu dengan betul apa yang jadi pangkal-pokoknya. Boleh jadi karena perebutan korsi atau pangkat.

Sebagai contoh pada beberapa partai terjadi perpecahan karena tidak semua pemimpin itu mendapat kedudukan yang diingini masing-masing. Yang kalah meradang dan terus memecah atau mendirikan partai lainnya, supaya ia sampai juga ke tempat yang ditujunya. Anggota partai atau perkumpulan tersebut pecah belah, sedang mereka tidak insyaf bahwa mereka cuma diambil sebagai kuda pelajang bukit. Artinya bukan karena kepentingan mereka (rakyat) malah karena kepentingan pemimpin-pemimpin tadi saja.

Sampai kini telah lebih dari sepuluh tahun kita mengecap kemerdekaan. Kemerdekaan yang kita capai dengan bermacam-macam pengorbanan, yang mana pengorbanan itu kebanyakannya datang dari rakyat jembel sebagai yang kita katakan di atas tadi. Kita katakan mengecap, karena kelezatan itu sekarang baru dirasakan oleh pemimpin-pemimpin saja atau orang-orang yang berdekatan dengan mereka. Bagi rakyat hanya dapat harapan yang muluk-muluk yang diberikan oleh pemimpin-pemimpin itu, harapan yang entah pabila akan tercapai. Harapan atau janji-janji dari pemimpin-pemimpin yang hendak membawa mereka dari neraka kesengsaraan kepada surga kesenangan.

Tetapi kalau janji-janji itu akan tetap janji saja selama-lamanya, dalam pada itu mereka melihat hidup yang berlebih-lebihan dari pemimpin-pemimpin tadi, lambat laun mereka akan insyaf bahwa mereka hanya jadi permainan pemimpin-pemimpin itu. Di sana mereka akan jadi berubah sifat. Disuruh ke kiri ia ke kanan, disuruh ke kiri ia ke kanan, atau setidak-tidaknya ia bersifat masa bodoh (let ‘em alone). Segala-galanya hanya untuk kepentingan pemimpin, fikir mereka, sebab itu biarkan pemimpin-pemimpin itu saja pula membuat segala-galanya. Kita tidak usah turut menolong, karena kita akan menerima janji-janji saja, janji juga tidak akan menjadi kenyataan.

Selain dari pada itu, dan berdasar kepada kenyataan dan penglihatan mata, mereka mengira, seandainya pemimpin-pemimpin itu berlaku jujur dan uang rakyat disalurkan kepada kepentingan negara maka Indonesia di masa ini telah akan dua kali lebih makmur dan sentosa. Stoplah korupsi yang merajalela itu, dan hentikan pengiriman orang untuk pelesir keluar negeri dengan ongkos negara. Beri hukuman yang setimpal ke pelaku-pelaku korupsi, dan enyahkan orang-orang yang tidak jujur dari jawatan, agar kekayaan negara dapat terpelihara.

Korupsi tidak saja merusak moral pelakunya, malah juga keturunan di belakang hari, karena seorang yang dibesarkan dengan harta yang haram tabiatnya akan condong kepada yang haram pula. Atau kita pinjam kata Thabib Fachrudin, sebagai bubuk memakan kayu yang akan merubuhkan sendi-sendi masyarakat.

Dahulu pemimpin mengajak kita supaya bersatu padu, jujur dan patuh. Sekarang kita (dari rakyat) menyerukan seruan yang serupa kepada pemimpin-pemimpin itu. Berlaku jujur dan benarlah, wahai semua pemimpin. Janganlah berkoak-koak menyuruh rakyat supaya bersatu, sedang kamu sendiri adalah pangkal dan biang keladi perpecahan. Kamu menyuruh rakyat supaya jujur dan patuh, tetapi kamu sendiri berlaku curang, dan kepatuhan rakyat hanya kamu gunakan untuk memberi kamu keleluasaan untuk melampiaskan kecurangan kamu tersebut. Untuk kamu sendiri dan klik-klikmu.

Penutup, kami berharap diperbanyak maaf, kalau kami sekarang begini berseru kepada kamu sebagaimana yang kamu serukan kepada kami selama ini.

                                                                                 ***
NuuN.id mengutip secara utuh artikel di atas dengan melakukan beberapa pembaruan. Ejaan lama disesuaikan dengan ejaan masa kini. Redaksi NuuN.id sedapat mungkin tidak mengubah tata bahasa dan penulisan dari tulisan asli.


Tulisan Terkait (Edisi Politik)

Populer

IKLAN BARIS