• Ikuti kami :

Nyi Blorong dan RA Kartini Ditinjau dari Berbagai Aspeknya

Dipublikasikan Senin, 21 April 2014 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Orang Indonesia, khususnya orang Jawa, tentu tahu dua wanita kesohor ini: RA Kartini dan Nyi Blorong. Keduanya ialah lambang supremasi keperempuanan yang dikonstruksi dengan cara yang berbeda. Kartini membangun/dibangun kediriannya lewat proses modernisme akut dan absurd yang dilakukan bangsa ini pada awal abad ke-20. Sementara Nyi Blorong terkenal gara-gara ia (konon) merupakan anak kandung Nyi Roro Kidul. Kartini itu modernis, sementara Nyi Blorong tradisional. Yang satu menggumamkan penghormatan kepada nalar dan yang lain bersahaja dengan cara berpikir yang begitu akrab dengan alam (tepatnya laut selatan Pulau Jawa).

Pun demikian, meski hadir dengan cara yang berbeda dan di alam yang berlainan, Nyi Blorong dan RA Kartini memiliki beberapa aspek yang sama. Selain sama-sama perempuan, mereka juga sama-sama terkenal. Yang satu wajahnya ayu kulitnya hitam manis, yang lain wajahnya misterius tapi kira-kira mirip Suzzana. Dan yang pasti dua-duanya menjadi sebuah mitos tentang perempuan Indonesia. Mitos tentang Kartini dan mitos tentang Nyi Blorong.

Hari ini sosok perempuan Indonesia memang lebih heterogen, tidak melulu Nyi Blorong dan tidak melulu RA Kartini. Sudah ada Julia Perez, Manohara Odelia Pinot, Luna Maya, Krisdayanti, Yayuk Basuki, dan berbagai sosok lainnya. Namun tetap saja yang dirayakan ialah Hari Kartini bukan Hari Manohara. Tapi baik adanya cukup hari Kartini saja. Sebab pada hari 21 April, anak-anak Indonesia menggunakan pakaian tradisional. Entah apa yang akan dipakai anak-anak Indonesia jika ada Hari Julia Perez atau Hari Luna Maya. Cukup Hari Kartini saja, jangan tambah lagi. Apalagi Hari Nyi Blorong.

Lalu apa makna kehadiran RA Kartini dan Nyi Blorong bagi perempuan Indonesia? Kartini dan Nyi Blorong sama-sama melambangkan supremasi perempuan. Kartini adalah pendobrak tradisi yang luar biasa. Surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon membuat kita tertegun: “Ya ampun, nasib Kartini!!!” Namun soal tertegun dan kaget tambah prihatin sesungguhnya sudah harus menjadi kebiasaan nan lumrah bagi bangsa Indonesia. Sudah ada ibu yang membunuh bayi, menjual anak, dan mati sebagai TKW. Kurang cerita macam apa lagi bagi bangsa ini untuk prihatin? Prihatin bukan hal yang sulit untuk bangsa Indonesia.

Namun, memang Kartini berbeda. Ia menulis nasib prihatin dan pikiran-pikirannya yang prihatin terhadap nasib bangsa. Khususnya nasib perempuan. Seandainya dulu sudah ada Youtube, mungkin Kartini pun akan curhat seperti Marshanda atau bernyanyi seperti Sinta-Jojo. Namun, karena Youtube belum ada, Kartini menulis. Karena itu ia dikenang.

Selain itu memang ada sebuah kondisi tertentu yang membuat Kartini menjadi seperti sekarang ini. Faktor publikasi dan pencitraan dapat dikedepankan. Bahkan ada yang menghubung-hubungkan Kartini dengan Yahudi karena pikirannya (konon katanya) sedikit mirip dengan ide-ide kaum mason bebas. Apa pun, hari ini ialah Hari Kartini. Suka atau tidak suka, hari ini ialah Hari Kartini.

Sementara Nyi Blorong hadir dengan cara yang sedikit berbeda. Agak sulit mencari hari kelahirannya. Mungkin karena itu tidak ada Hari Nyi Blorong. Padahal kalau soal emansipasi, Nyi Blorong boleh juga. Ia anak tunggal dari Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul. Tidak ada catatan sejarah resmi mengenai Nyi Blorong. Yang ada film tentang Nyi Blorong. Bahkan salah satu filmnya diawali sebuah prolog yang didahului dengan kata konon. Baik saya kutipkan prolog tersebut:

“Konon, inilah ajangnya medan pertarungan para jurig, dari banyak raja-raja maupun pangeran-pangeran yang saling berperang demi memperebutkan cinta Nyi Blorong yang cantik, anggun, lagi sakti, penguasa Gunung Merapi, Puterinya Nyi Roro Kidul.”

“Tidak mudah bagi siapa pun untuk meminangnya. Mencintai Puteri Nyi Blorong berarti darah. Korban telah banyak, bergelimpangan lantaran saling membunuh. Akhir kisah rebutan asmara yang dramatis ini, kini sisa Prabu Dewata Cengkar dari Medang Kamulang melawan Pangeran Teja Arum dari Galunggung.” (Dikutip dari film Perkawinan Nyi Blorong).

Kalau sudah begini, siapa lagi yang lebih perempuan dari Nyi Blorong? Saya rasa Luna Maya pun lewat. Saya belum menemukan kajian serius mengenai keterkaitan Nyi Blorong dengan kaum zionis. Akan tetapi biarlah demikian, toh Nyi Blorong tidak memerlukan Yahudi untuk menguasai Gunung Merapi.

Sosok Kartini dan Nyi Blorong merupakan khazanah keindonesiaan yang mau tak mau harus kita akui keberadaan dan ketidakberadaannya. Di Hari Kartini yang pada tahun ini jatuh pada hari Senin, ada banyak hal yang dapat kita renungkan (terutama kaum lelaki). Sekarang bukan hanya Kartini yang beremansipasi. Hampir seluruh perempuan rajin beremansipasi. Jika dulu kaum lelaki yang menyatakan cinta, kini perempuan sudah biasa menyatakan perasaannya. Jika dulu pemain tinju idola itu Muhammad Ali, kini Laila Ali lebih asyik diperbincangkan. Bukan cuma laki-laki yang bisa menyakiti hati perempuan, hati lelaki pun bisa terluka karena disakiti perempuan. Kini banyak lelaki yang mirip perempuan dan banyak perempuan yang mirip lelaki. Bahkan sudah banyak perempuan yang secara terbuka menyatakan diri menyukai perempuan karena lelaki dianggap tidak setia, suka berbuat dosa, dan hobi menyakiti hati wanita.

Sudah banyak penerus RA Kartini dan Nyi Blorong sekarang ini. Sudah ada banyak perempuan yang menggapai gelar doktor dan professor. Bahkan sudah ada laki-laki yang menjadi perempuan dan menikah dengan laki-laki lainnya walau akhirnya ketahuan. Interpretasi sejarah yang dituduh maskulin sudah diupayakan menjadi lebih feminin. Bahkan tafsir atas kitab suci makin sering dipergunjingkan karena, menurut kaum Kartini dan Nyi Blorong, tafsir atas kitab suci didominasi kaum lelaki.

Dan kini perempuan sudah menjadi anggota DPR, presiden, wali kota, gubernur, tukang becak, tukang tambal ban, kondektur, sopir, sampai tukang bangunan. Tidak ada lagi relawan dan relawati, guruwan dan guruwati, serta mahasiswa dan mahasiswi. Semuanya (dianggap) setara dan sama-sama mampu untuk berkarya. Bukan cuma lelaki yang boleh keluar rumah, perempuan juga boleh. Keduanya boleh bekerja mencipta karya sebaik-baiknya. Sementara anak di rumah boleh di urus suster dan babu yang tidak perlu perempuan. Suster dan babu lelaki sudah saatnya diperjuangkan. Demi kesetaraan.

Namun kini, sekarang ini, makin banyak anak-anak yang berbicara seperti radio. Anak-anak SD yang sudah bingung dengan apa yang disebut bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka belajar bahasa Indonesia dari televisi, bukan dari sekolah. Anak-anak sudah pandai bernyanyi, tapi bukan “Ibu Kita Kartini”; mereka bernyanyi “We Found Love”-nya Rihanna.

Kita sudah ke langit melampaui berbagai zaman. Tapi anak-anak tidak memerlukan Kartini atau Nyi Blorong. Mereka membutuhkan Ibu Soed.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS