• Ikuti kami :

Nurcholis Madjid Pasca-Gestapu '65 (III)

Dipublikasikan Kamis, 26 Oktober 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Kita semua telah mengetahui peran Nurcholis Madjid dalam dunia intelektual Islam Indonesia memang cukup penting. Oleh karena itu, menelusuri pemikirannya dengan seksama juga penting untuk melihat wacana keislaman di Indonesia secara keseluruhan. Salah satu buah fikir Cak Nur yang jarang dibahas ialah tulisannya di Majalah Panji Masyarakat 50 tahun lalu. Saat itu ia masih satu barisan bersama para tokoh Masyumi. Tulisan tersebut cukup panjang dan telah kami bagi ke dalam tiga bagian. Pada bagian pertama, kita telah menguraikan peran Cak Nur muda, HMI (organisasi yang ia pimpin selama 2 periode) dan kaitannya dengan pertumbuhan Orde Baru. Pada bagian kedua, kita melihat bahwa cikal bakal gagasan sekularisasi Cak Nur sebenarnya berakar pada persoalan pandangan kaum modernis Islam mengenai ilmu pengetahuan.

Pada bagian ketiga ini, kita akan melihat bagaimana cara pandang Cak Nur terhadap Orde Lama. Kita dapat melihat pandangan sumir Nurcholis muda terhadap komunisme dan Orde Lama dalam potongan tulisannya berikut ini. Dari tulisan ini kita dapat menimbang bagaimana kedudukan Nurcholis muda secara ideologis dan politis. Kalimat "kekuasaan totaliter anti-Islam dan pro-komunis serta khianat kepada Pancasila" yang dirujukkan kepada Orde Lama dapat menegaskan kedudukan Ketua Umum HMI di masa transisi Orde Lama menuju Orde Baru ini.

Seperti biasa, redaksi Nuun.id melakukan penyuntingan dan penyesuaian seperlunya dengan tetap mencoba mempertahankan gagasan asli penulis artikel ini.

Tulisan ini sekaligus menjadi penutup, telaah singkat terhadap pemikiran kecil Cak Nur pada 50 tahun lalu itu.

***

Bagaikan anak kecil yang berjingkrak-jingkrak kegirangan karena diberi alat permainan yang bagus oleh ayah-bundanya, pemuda-pemuda anak-anak ummat Islam yang mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu akibat kemerdekaan tanah air yang dikaruniakan Allah itu menyatakan kegembiraan dan kesyukuran kepada Allah yang tak terhingga, dan serentak mereka berjanji kepada Allah untuk terus membawakan amanat-Nya, sebagai tanda terimakasih kepada-Nya.

Manifestasi daripada kesyukuran itu ialah bahwa mereka kemudian menghimpun diri dan menyusun barisan, untuk menghadapi tugas-tugas perjuangan karena Allah. Himpunan itu lah HMI, Himpunan Mahasiswa Islam, suatu nama yang sederhana dan wajar untuk organisasi. Kesyukuran dan janji kepada Allah itu diungkapkan dalam suatu susunan kata-kata yang amat sederhana tetapi mendalam artinya, yaitu dalam hymne HMI:

“Bersyukur dan ikhlas
Himpunan Makasiswa Islam
Yakin usaha sampai
Untuk kemajuan
Hidayat dan taufik
Bahagia HMI
    Berdo’a dan ikrar
    Menjunjung tinggi syi’ar Islam
    Turut al-Qur’an – Hadits
    Jalan keselamatan
    Ya Allah berkahi
    Bahagia HMI

Jadi adalah suatu hal yang sangat wajar jika sejarah menunjukkan bahwa HMI adalah organisasi mahasiswa yang pertama kali didirikan setelah kemerdekaan. Sebab yang mula-mula terperanjat dan terharu akan karunia Allah yang tak ternilai berupa kemerdekaan itu adalah ummat Islam juga, karena untuk sekian lamanya mereka telah merasakan hidup tanpa kemerdekaan, dan karena mereka jugalah yang paling banyak menderita di bawah telapak kaki kaum penjajah itu. Maka tidak heran jika umat Islam adalah golongan paling tinggi kesadaran kemerdekaannya – meskipun dalam keadaan bahwa mereka bukanlah golongan yang paling terpejar – dan umat Islam adalah bagian daripada bangsa Indonesia yang paling keras menolak bentuk kekuasaan apapun yang merampas kemerdekaan rakyat, meskipun kekuasaan itu datang dari bangsa sendiri.

Hal itu semuanya ternyata mendapatkan refleksinya dalam HMI, sehingga organisasi ini untuk setiap perjuangan di bidang kemahasiswaan selalu merupakan kekuatan yang mempelopori. PPMI yaitu badan federasi organisasi-organisasi mahasiswa extra universiter adalah dibentuk atas prakarsa HMI. Begitu juga MMI, sebuah badan federasi organisasi-organisasi mahasiswa intra universiter, dan juga Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika. Hanya setelah kekuasaan totaliter anti-Islam dan pro-komunis serta khianat kepada Pancasila ditegakkan oleh bangsa sendiri maka HMI secara paksa dicopot dari kepeloporannya, dan jatuhlah PPMI dan MMI ketangan organisasi mahasiswa komunis atau pro-komunis dan anti-Islam. Tetapi Allah tetap memberi izin bahwa pohon baik HMI akan memberikan buahnya untuk dipersembahkan kepada rakyat dan ummat Islam.

Ketika kaum komunis mengadakan pengkhianatan kepada Pancasila dan tanah air, HMI tampil sebagai salah satu pelopor daripada kekuatan yang melawan dan menghancurkan kaum pengkhianat dan pendukung-pendukungnya. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dibentuk dan sepenuhnya diprakarsai oleh pemimpin-pemimpin HMI. KAMI sebagai suatu bentuk joint front daripada perjuangan mahasiswa Indonesia untuk menghancurkan sistem yang dzalim dan menyeleweng sampai sekarang dan untuk seterusnya merupakan alat yang sangat efektif, dengan persatuan yang kokoh dan ikhlas daripada organisasi-organisasi mahasiswa anggota KAMI.

Kini HMI dalam usianya yang sudah sampai tahun keduapuluh merupakan organisasi mahasiswa yang terbesar dan terkuat di Indonesia. Orang-orang asing menyebutkannya sebagai the most powerful Muslim Student. Lebih dari itu, HMI sebagai organisasi Islam secara sadar berusaha sekuat tenaga untuk mengadakan re-orientasi di kalangan ummat Islam, sehingga ummat Islam benar-benar bekerja dan berjuang dalam menyelesaikan masalah-masalah hidup dan kehidupannya menurut ajaran-ajaran Islam dan menjadikan Islam sebagai light star-nya.

Di bawah naungan panji-panji HMI, di masa depan akan terbentuk golongan intelektual Muslim yang benar-benar “Islam-oriented”. Inilah sebabnya maka musuh-musuh ummat Islam dan ke-Islaman sangat kuatir akan pertumbuhan HMI. Partai Komunis Indonesia telah secara tidak langsung membantu populernya HMI dengan pengganyangan-pengganyangan yang mereka lakukan terhadapnya. Malahan PKI telah diikuti pula oleh golongan-golongan lain secara membabi buta.

Dan memandang masa depan yang penuh harapan, HMI membulatkan tekad untuk memberikan isi dan pelaksanaan yang benar daripada dasar negara, yaitu prinsip-prinsip ke-Tuhanan Yang Maha Esa, Peri Kemanusiaan, Persatuan Indonesia, Kedaulatan Rakyat dan Keadilan Sosial, yang perumusannya disebut Pancasila.

Dengan kehendak, petunjuk dan pimpinan Ilahi dan atas do’a seluruh ummat Islam, insya ALLAH HMI akan tetap merupakan sebuah organisasi perjuangan yang kompak, bersatu, berkembang pesat kuantitatif dan kualitatif, dinamis dan sadar-tugas, dan insya ALLAH akan membawakan misinya dengan sukses, li i’lai kalimatillah



Amin

jakarta, 6 Maret 1967/25 Dzulka’idah 1386




Tulisan Terkait (Edisi Setelah Gestapu)

IKLAN BARIS