• Ikuti kami :

Ngurus Kali, Ngurus Anak Cucu

Dipublikasikan Sabtu, 21 Januari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Batavia memiliki belasan kali alami dan beberapa kanal buatan. Masing-masing kali dan kanal membujur dari utara ke selatan dan membentang dari timur ke barat, bersilangan satu sama lain sehingga membentuk pola tertentu. Hingga pelancong dari negeri Barat menamakan kota ini Venezia dari Timur.

Air kali di Batavia berwarna jernih dan arus kanalnya mengalir pelan. Kali dan kanal menjadi urat nadi aktivitas masyarakat. Tiap hari mereka memadati pinggiran kali dan kanal. Mereka mandi, mencuci pakaian, melepas hajat kemanusiaan, dan membawa air dari kali untuk keperluan di rumah. Jika ingin pergi ke tempat tertentu di dalam kota, mereka bisa mencapainya lewat kali dan kanal itu.

Pola hubungan masyarakat Batavia dengan alam tecermin dari pergaulan mereka dengan kali dan kanal. Sejumlah orang berupaya mengelola kali dan kanal sebaik-baiknya agar manfaatnya lestari hingga cucu-cucunya, misalnya dengan membangun terusan-terusan baru. Pemerintah Batavia pun menyadari arti penting kali dan kanal bagi masyarakat. Mereka menerbitkan aturan untuk menjaga kebersihan dan kejernihan kali dan kanal. Antara lain larangan untuk membuang hajat di kali dan kanal.

Namun, selalu ada orang-orang silap. Mereka merusak pergaulan dengan alam. Mereka mengotori kali dan kanal. Kali dan kanal mulai terbebani segala rupa sampah. Alirannya mampat, warnanya keruh, ikan-ikannya mati, dan baunya busuk.

Kali dan kanal membalas perlakuan buruk masyarakat kepadanya. Bibit penyakit muncul dari kali dan kanal, menyerang masyarakat, membunuh orang satu per satu, dan memindahkan pusat kota dari utara ke selatan.

Ketika zaman telah berganti dan nama Batavia berubah menjadi Jakarta pada 1942, kualitas dan kebersihan sejumlah kali memang masih lestari. Alwi Shahab, sejarawan Jakarta, menghadirkan contoh Kali Ciliwung.

Ketika itu airnya masih cukup jernih. Dalamnya bisa dua sampai tiga meter. Bagi anak-anak, berenang sambil menciprat-cipratkan air waktu itu sungguh nikmat. Demikian tulis Alwi Shahab dalam Robin Hood Betawi, halaman 90. Namun, kemudian Kali Ciliwung mengalami nasib serupa kali dan kanal lainnya. Airnya keruh, baunya busuk, dan menjadi sarang penyakit.

Tak ada lagi anak-anak mau bermain di pinggir kali. Kecuali lantaran terpaksa. Gedung-gedung berdiri, jalan-jalan membentang, pembangunan fisik marak di sana-sini. Melahap lapangan bermain anak-anak. Akhirnya, tempat bermain mereka cuma di kali kotor.

Tak terjumpa kembali orang mencuci pakaian dan mengambil air dari kali. Perkembangan teknologi memudahkan pekerjaan masyarakat. Mereka mencuci menggunakan mesin dan air ledeng. Mereka mengambil air dari menara untuk memasak. Harusnya beban kali menjadi berkurang karena perkembangan teknologi. Tapi kali masih penuh sampah, kotor, berbau, dan sarang penyakit.

Ada yang salah dalam pergaulan masyarakat terhadap kali dan kanal. Semakin modern teknologi ternyata tidak menjamin perlakuan manusia terhadap kali menjadi semakin baik. Mungkin ada yang perlu diubah dari cara pandang terhadap kali dan kanal. Bahwa kali dan kanal bukan semata untuk kepentingan orang-orang hari ini, bahwa kali dan kanal tidak hanya soal teknis-mekanis semata, tetapi juga soal bagaimana orang menata hubungannya dengan alam dan makhluk hidup lainnya. Juga penting dibangun kesadaran, bagi orang Islam, ngurus kali juga bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
 
Sumber Foto : Koleksi Tropenmuseum, Belanda

Takarir foto: Sejumlah orang mencari rezeki dengan menjadi buruh cuci di kanal dekat jalan Noord Postweg, sekarang Jalan Pos Utara, Pasar Baru, Jakarta Pusat
 


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS