• Ikuti kami :

Ngobrol-ngobrol bersama Ustadz Syamsuddin Arif tentang Wacana dan Media

Dipublikasikan Sabtu, 09 September 2017 dalam rubrik  Ngobrol Ngobrol

Secara fitrah, manusia ialah makhluk yang selalu ingin tahu. Manusia ialah makhluk yang kerap penasaran dan bertanya-tanya akan banyak hal. Mengetahui dan pengetahuan ialah kebutuhan alami manusia. Beragam cara ditempuh manusia untuk mengetahui apa yang ia ingin ketahui. Bertanya, berfirkir, mencoba, menguji dan mencari.

Pada zaman ini, membaca menjadi cara yang paling lazim untuk mengetahui sesuatu. Sementara teknologi yang mendekat hingga ke genggaman manusia, telah menyediakan limpahan bahan bacaan yang meraksasa. Pengetahuan jenis apa pun dipercayai dapat ditelusuri mesin pencari dalam jaringan dengan cara yang amat mudah. Internet telah dimitoskan sebagai penuntun pengetahuan yang cepat, ringkas meski tak selalu tepat.

Semua orang dapat membaca sekaligus dapat menulis. Segala jenis tulisan bertumpuk bersambung-sambung menghampiri genggaman kita. Menggerakkan jemari untuk terus bergerak, menuntun mata untuk selalu membaca. Kita dihampiri kebudayaan bermedia massa yang amat ramai, di mana pembaca dapat terlibat lebih dengan mambagikan, mengomentari bahkan mencaci maki sebuah tulisan. Keadaan semacam itu menuntut kearifan dan juga kebijksanaan dalam memilah bahan bacaan.

Berikut pandangan Dr. Syamsuddin Arif tentang media massa dan budaya membaca kita.  


Tulisan Terkait (Edisi Terkini)

IKLAN BARIS