• Ikuti kami :

Mudik Lebaran: Dimensi Kultural Islam di Indonesia*

Dipublikasikan Rabu, 23 Agustus 2017 dalam rubrik  Tafakur

Setiap habis Ramadlan, umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idulfitri yang diikuti oleh tradisi mudik, mengunjungi kampung halaman. Idulfitri adalah hari raya bangsa Indonesia. Menurut KBBI (2008), raya berarti ‘besar’, seperti jagat raya, alam raya, rimba raya atau jalan raya. Merayakan berarti memuliakan, memperingati, memestakan. Hari raya berarti peristiwa besar dan penting sehingga Hari Raya Idulfitri adalah hari besar dan penting yang dimuliakan oleh setiap orang.

Beberapa kalangan menganggap ungkapan Hari Raya Idul Fitri merupakan sesuatu yang berlebihan. Ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri!” disarankan untuk diringkas menjadi “Selamat Idul Fitri!”. Hari raya itu sendiri telah terkandung dalam kata ‘lebaran’, sebutan lain untuk Idulfitri. Saran untuk menghapus frasa hari raya dalam Hari Raya Idul Fitri disertai munculnya ungkapan Hari Raya Nyepi, Hari Raya Galungan, Hari Raya Natal. Padahal Nyepi, Galungan, atau Natal bukanlah ‘lebaran’ seperti yang terkandung dalam makna Idulfitri. Permainan logika bahasa tersebut agaknya dimaksudkan memperkecil kebesaran Hari Raya Idulfitri yang sangat fenomenal di Indonesia.

Faktanya, di Indonesia, tidak ada hari lain yang menyamai kebesaran Idulfitri. Di negeri ini, Ramadlan dan Idulfitri begitu besar dan penting, disambut oleh ratusan juta manusia, menggerakkan perekonomian yang merata dari ibu kota negara sampai ke pelosok-pelosok desa. Manfaat dan hikmahnya tidak saja dirasakan oleh ummat Islam, tetapi juga oleh semua lapisan masyarakat. Selama Ramadlan dan Idulfitri, kesalehan spiritual, mental, emosional, dan sosial sangat meningkat.

Sepaket dengan Ramadlan dan Idulfitri, mudik lebaran telah menjadi sarana penting dalam mengamalkan beragam kesalehaan di negeri ini. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyajikan dua makna mudik. Pertama, berlayar (pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman). Kedua, mudik bermakna pulang ke kampung halaman. Makna kedua lebih melekat pada frase mudik lebaran.

Mudik lebaran merupakan tradisi yang sangat fenomenal, yang hanya terjadi pada akhir Ramadlan dan sekitar Hari Raya Idulfitri. Tidak ada kegiatan mudik yang lebih besar di luar peristiwa itu. Mudik lebaran tentu memiliki akar budaya di Indonesia.

Dalam tulisan berjudul “Lebaran dan Tradisi Mudik”, dengan mengutip pendapat Umar Kayam (2002), Syukri Rahmatullah menyatakan bahwa pada awalnya, mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa, jauh sebelum era Majapahit. Awalnya, mudik dilakukan untuk membersihkan pekuburan disertai doa bersama kepada dewa-dewa di Khayangan. Tujuannya adalah agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan selamat. Tradisi ini kemudian terkikis oleh datangnya Islam karena ritual itu dianggap syirik.1

Namun, tradisi mudik setahun sekali itu tumbuh kembali seiring dengan semakin kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat. Mudik yang baru ini bukan lagi untuk berdoa kepada dewa-dewa tetapi untuk menunjukkan bakti kepada kedua orang tua dan bersilaturrahim kepada sanak keluarga yang sudah lama ditinggalkan. Hatta kedua orang tua sudah meninggal dunia pun, bakti tetap dapat dilakukan dengan berziarah ke kuburnya untuk memohon ampunan Allah Swt. baginya.

Tradisi mudik baru itu, yang secara substansial berbeda dengan mudik sebelum Islam, dilakukan pada akhir Ramadlan, menjelang Hari Raya Idulfitri. Mudik ini juga tidak terjadi hanya dari kota-kota yang maju ke daerah-daerah pedesaan yang masih tertinggal. Namun juga terjadi antarkota, antarprovinsi, dan antarpulau di seluruh wilayah di Indonesia. Orang-orang yang mencari nafkah di daerah di luar Pulau Jawa biasa mengunjungi keluarga yang berada di Jakarta atau kota lainnya. Lebaran tidak hanya mobilisasi dari kota ke desa, tetapi dapat pula terjadi sebaliknya. Inilah Mudik lebaran, tradisi Islami di Indonesia yang sangat fenomenal, suatu pergerakan massa yang masif dari Sabang sampai Merauke.

Bagaimana tuntunan Islam mengenai mudik ini? Islam tidak memberi tuntunan khusus tentang mudik ini. Akan tetapi, setiap muslim wajib berbakti kepada kedua orang tua, hatta kepada orang tua nonmuslim sekalipun. Hari Raya Idulfitri merupakan salah satu waktu yang tepat untuk menunjukkan bakti kepada kedua orang tua. Perintah ini banyak dijumpai dalam Al-Quran dan Hadits. Misalnya,
 

ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين أن اشكر لي ولوالديك إلي المصير

Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Di Indonesia, mudik lebaran telah menjadi waktu untuk saling memaafkan, sekalipun meminta maaf tidak harus diucapkan khusus ketika Hari Raya Idulfitri. Suasana saling memaafkan melambangkan ukhuwah atau persaudaaraan yang tulus, dan ukhuwah merupakan prasyarat untuk mendapat rahmat Allah. Karunia Allah itu datang dengan perantaraan manusia, kecuali hal-hal khusus seperti mukjizat.

Mengunjungi orang tua, bersilaturahim dengan sanak sedhulur dan saling memaafkan setelah melaksanakan shaum Ramadlan tentu memiliki makna yang khusus. Dalam keadaan batin yang lebih segar, setelah penyucian diri sebulan penuh, mentautkan kembali hati dengan orang tua dan keluarga tentu lebih bermakna. Tentu saja pertemuan dan kunjungan kepada keluarga dapat dilakukan kapan pun, tetapi mudik lebaran memberi nuansa khusus dalam bersilaturahim.

Selain itu, mudik lebaran merupakan sarana yang baik untuk mengenang masa kecil. Masa ketika hidup dalam pangkuan kasih sayang ibunda dan ayah di alam yang permai. Setiap orang yang menghabiskan masa kecilnya di pedesaan tentu akan merindukan suasana itu ketika hidup di kota serba tergesa-gesa, penuh polusi, dan bernafsi-nafsi.

Wahyu Wibisana, sastrawan Sunda asal Cisayong, Tasikmalaya, melukiskan kerinduan ini dalam sebuah sajaknya yang sangat merdu (Rosidi, 1965).

Teduh, alangkah teduh gunungku
Angin bermain di ubun-ubun
Sesekali mesti kujumpainya
Karena hidup hauskan cinta
Pada merekalah adanya
Ada sebabnya aku terkenang
Ada sebabnya aku terputus
Tetapi yang akhir bukan keabadian
Kekasih dalam hati menyanyi lagi

Teduh, alangkah teduh gunungku
Nyata, nyata benar tanda-tanada
Jalan hidup lebar terbentang
Sampai usia akan berakhir
Kepadanya aku kembali
Kepadanya aku pamit2

Menyadari masa lalu tentu penting, sebagaimana kita perlu menimbang makna kembali dan pulang. Hidup kembali di kampung halaman itu sangat bagus. Bukankah Muhammad bin Abdullah juga dibesarkan di pegunungan, jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan rasul. Kerinduan akan alam yang damai ada pada setiap insan karena nenek moyang manusia, Nabi Adam a.s., pernah tinggal di surga sebelum terusir karena mendekati pohon (buah) terlarang. Pada hakikatnya, rumah kita itu di surga. Tempat itulah sebenarnya yang sedang kitu tuju.

Mengenang, memperhatikan, dan mempelajari masa lalu itu sangat penting untuk merancang masa depan yang lebih baik. Dalam surat al-Hasyr 18:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Mudik lebaran harus didukung dan senantiasa harus dilestarikan. Sarana-sarana penyokong kegiatan ini harus terus disediakan dan dijaga. Namun, peristiwa ini juga harus dijaga agar tidak “disusupi” oleh unsur-unsur syirik, termasuk dijaga dari penyelewengan-penyelewengan hati karena mudik kerap juga dijadikan ajang pamer harta dan reputasi kepada sanak saudara. Tuntunan Islam tetap harus dijadikan unsur utama dalam pelaksanaan mudik lebaran

_____________________________________________

*Tulisan ini diringkas dan disunting redaksi nuun.id dari naskah Khutbah Jum’at, Bapak Abdur Rahman Mochtar di Masjid UI Depok, 28 Ramadhan 1438/23 Juni 2017. 

Dimuat di www.okezone.com tanggal 26 September 2008.

2 Sajak ini mulanya ditulis dalam bahasa Sunda dengan Pangbalikan (Tempat Kembali) yang dimuat dalam majalah Mangle. Diterjemahkan oleh Ajip Rosidi dalam buku Kesusteraan Sunda Dewasa Ini (Bandung: Cupumanik, 1966).

Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS