• Ikuti kami :

Mohammad Natsir tentang Kebudayaan

Dipublikasikan Rabu, 04 Oktober 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Pada tahun 1986-1987, beberapa orang yang saat itu dianggap mewakili kaum muda Islam berdialog dengan Mohammad Natsir, seorang perwakilan generasi tua. Pembagian generasi semacam ini tentu saja tak perlu ditempatkan secara ketat. Akan tetapi kita dapat melihat, pada beberapa sisi, Pak Natsir memang "orang tua" dari Amien Rais, Kuntowijoyo, A. Watik Praktiknya dan tokoh-tokoh lain dari generasi muda (ketika itu, 30 tahun yang lalu). Dialog antara generasi tua dan generasi muda itu kemudian direkam dan dibukukan. Sayang pita video rekaman itu diserang jamur karena tersimpan lama. Namun catatan dialog itu masih "terselamatkan" karena dibukukan dengan judul Percakapan antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak (Jakarta: Laboratorim Dakwah dan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia, 1989).

Dalam buku tersebut, macam-macam persoalan diperbincangkan. Dari mulai sekularisasi, hingga masalah nativisasi dan Kristenisasi. Isi buku memang menunjukan pesan seorang Bapak kepada generasi selanjutnya. Buku berbentuk tanya jawab tersistematis ini dapat menjadi estafet simbolik pemikiran Islam di Indonesia. Khususnya dari generasi Pak Natsir kepada generasi Pak Amien dan kawan-kawan.

Salah satu bagian dari buku tersebut bertema Islam dan kebudayaan. Para pemuda mengajukan pertanyaan-pertanyaan konseptual terhadap Mohammad Natsir. Lelaki peletak gagasan dasar NKRI tersebut kemudian menjawabnya dengan runut. Tanya jawab konseptual seperti ini tentu saja amat penting untuk meletakkan dasar-dasar berfikir bagi perkembangan kebudayaan Islam.

Dari tanya jawab soal kebudayaan itu, kita dapat melihat seorang modernis Islam yang berusaha menempatkan agama (Islam) lebih dari sekadar tata cara penyembahan terhadap Tuhan. Islam bukan hanya tentang shalat, bershaum, membaca Qur'an, berkurban dan naik haji. Itu semua bagian dari Islam tetapi Islam tak hanya soal itu. Agama anutan para Wali ini juga merupakan suatu kebudayaan yang lengkap. Islam juga berbicara tentang politik, bahasa, sastra, sejarah, manusia, politik, ekonomi dan lain-lain perikehidupan manusia.

Berikut hasil wawancara tersebut, redaksi nuun.id melakukan pengutipan dan penyuntingan seperlunya.

***

Islam dan Kebudayaan: Potret Sejarah

Kembali pada masalah kebangkitan Islam. Ada orang menganggap bahwa Islam dapat bangkit di abad modern ini apabila mampu “mengejawantahkan” dalam sistem budaya masyarakat. Bagaimana pendapat Bapak mengenai hal ini? Kalau benar demikian, apakah Islam mempunyai hal yang secara objektif dapat dikembangkan dalam sistem budaya, katakanlah budaya yang Islami. Bagaimana pendapat Bapak?

Mengenai hubungan Islam dan kebudayaan, sebenarnya saya pernah membuat beberapa tulisan dan ada juga yang saya sampaikan secara lisan. Misalnya pada peringatan Hari Iqbal (21 April 1953, di Jakarta). Pendapat saya dapat disimak pada tulisan atau pidato tersebut.

Inti pendapat saya sebenarnya sama dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. HAR. Gibb dalam bukunya Wither Islam, bahwa “Islam itu sesungguhnya lebih dari suatu sistem agama saja, Islam adalah suatu kebudayaan yang lengkap”. Saya sengaja menyitir pendapat Gibb ini, sekaligus untuk memperlihatkan objetivitas dan keterusterangan pandangan akademiknya, yang terlepas dari rasa fanatik. Ia berpendapat demikian semata-mata didasarkan pada pengamatan dan pemeriksaannya yang teliti dan seksama. Kalau kita membaca kepustakaan, sebenarnya tidak hanya Gibb saja yang berpendapat demikian, melainkan berpuluh-puluh ahli ilmu pengetahuan dunia dengan berbagai latar belakang agama dan bangsa mengakui hal yang senada.

Hal tersebut dapat terjadi karena dua hal. Pertama, karena Islam (al-Qur’an dan Sunnah) sendiri memang mengandung dasar-dasar yang memungkinkan berkembangnya suatu kebudayaan bagi pemeluknya. Kedua, dari bukti sejarah kita mengetahui bahwa Islam pernah menjadi pusat kebudayaan. Jasa-jasa Islam terhadap perkembangan berbagai ilmu pengetahuan, lewat para pemikirnya (seperti Ibn Sinna, Ibn Rusyd, al-Kindi, al-Farabi, Abu al-Wafa’, dan sederet nama lainnya), diakui oleh para sarjana Barat.

Sejarah telah memberi tahu pada kita, bahwa bangsa mana pun yang berjuang demi kelangsungan mereka, dengan menempuh mara bahaya demi mempertahankan eksistensinya tentu pada suatu saat akan mempunyai tingkat peradaban yang tinggi mereka akan menemukan kebudayaan sendiri. Mereka dapat memberikan “pelajaran budaya” pada bangsa-bangsa lainnya, di samping memberikan “warisan budaya” pada keturunan atau bangsa-bangsa di belakang mereka. Ini adalah sunatullah, yang berlaku baik di Barat atau di Timur, sejak dari bangsa Cina, India, Mesir, Romawi, Arab, sampai bangsa-bangsa dunia Barat sekarang ini.

Kedatangan Islam sendiri (pada zaman Rasulullah) telah mengubah secara drastis budaya masyarakat jazirah Arab yang tadinya biadab, tidak dikenal dan tidak diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain; menjadi budaya yang kemudian diperhitungkan dan diakui perannya dalam sejarah peradaban manusia. Semua ini terjadi karena Islam memang mempunyai potensi membawa penganutnya untuk mencapai tingkat peradaban dan kebudayaan yang tinggi.

Bapak menyebutkan bahwa Islam memang mempunyai “potensi budaya”, mungkin Bapak dapat menjelaskan lebih lanjut pengertian “potensi budaya” ini?

Yang saya maksud dengan “potensi budaya” ialah bahwa dalam Islam terdapat faktor-faktor atau anasir-anasir yang mendorong pemeluknya untuk hidup bermasyarakat dengan budaya yang tinggi. Sesungguhnya potensi ini amat banyak, tetapi beberapa yang penting dapat saya sebutkan sebagai berikut.

Pertama Islam menghormati akal, kedua Islam mewajibkan pemeluknya menuntut ilmu, ketiga Islam mendorong pemeluknya untuk beriinisiatif, dan keempat kaum muslimin dilarang bertaqlid, menerima sesuatu sebelum diperiksa kebenarannya. Dari keempat hal ini jelas terlihat bahwa apabila kaum muslimin benar-benar memenuhi tuntunan agamanya mereka akan terdorong untuk menggali rahasia-rahasia alam yang akan membuahkan ilmu pengetahuan dan pada gilirannya akan menumbuhkan kebudayaan yang maju.

Di samping keempat sifat di atas, ada beberapa potensi lain yang mendukung berkembangnya budaya dan ilmu pengetahuan. Potensi yang dimaksud antara lain ialah Islam mamandang perlu atas hidup keduniaan, sebagai bekal dan rangkaian kehidupan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan akhirat. Tidak ada dikotomi dunia dan akhirat dalam Islam, karena keduanya merupakan tahapan kehidupan yang harus dilalui oleh manusia. Islam juga mengajak pemeluknya untuk melakukan interaksi dan akulturasi demi kemajuan. Tiap muslim diseyogyakan untuk pergi meninggalkan kampung halaman untuk melakukan silaturahim bertukar pandangan, pengetahuan dan pengalaman. Ada kewajiban bagi tiap muslim (yang mampu) untuk menunaikan ibadah haji. Dari sisi lain, ibadah ini adalah merupakan forum interaksi antar kaum muslimin sedunia, dari berbagai bangsa dan berbagai warna kulit.

Budaya Islam: Mata Rantai Penyelamat Budaya Dunia

Tadi Bapak mengemukakan tentang bukti sejarah, yaitu bahwa Islam memang mampu mengantarkan kemajuan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Mungkin Bapak bisa menjelaskan lebih lanjut?

Mengenai hal ini sebenarnya sudah banyak sekali diulas orang, baik di kalangan Islam maupun non Islam. barangkali saya hanya akan mengemukakan sebagian kecil saja. Pertama, tentang peran penerjemahan hasil budaya dan ilmu pengetahuan bangsa-bangsa lain, terutama bangsa Romawi kedalam bahasa Arab pada masa Khalifah al-Mansyur dan khalifah-khalifah berikutnya, adalah merupakan upaya “penyelamatan” perkembangan budaya dunia. Sebagaimana kemudian diketahui, banyak di antara karya budaya pada masa Romawi yang hilang aslinya dan hanya dapat diketahui dari terjemahannya dalam bahasa Arab. Sebagai contoh misalnya, Raja Romawi pernah mengirimkan satu buku dari pujangga ahli ilmu hitung yang masyhur, yang bernama Eucludes, dan beberapa kitab fisika ke Baghdad. Oleh al-Mansyur kemudian diperintahkan untuk diterjemahkan dalam bahasa Arab, dipelajari, disebarluaskan dan dikembangkan oleh ilmuwan muslim pada masa itu.

Pekerjaan menerjemahkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu dilakukan oleh semacam “majlis hikmah” yang terdiri atas para ilmuwan baik muslim maupun non-muslim, yang bekerja dan digaji sepenuhnya oleh khalifah. Hal yang serupa dilakukan pula oleh khalifah-khalifah lain, seperti Harun al-Rasyid dan al-Makmun. Dengan cara kerja yang demikian, banyaklah ilmu pengetahuan yang berharga, yang hampir lenyap di muka bumi, kembali terpelihara. Bahkan, sebagaimana saya kemukakan tadi, banyak di antara kitab-kitab tersebut yang sudah tidak dijumpai lagi orisinilnya. Inilah saya katakan bahwa kebudayaan Islam waktu itu merupakan mata rantai penyelamat bagi perkembangan budaya dunia.

Kedua adalah yang menyangkut dasar-dasar rasionalitas, penghargaan akal, keterbukaan dan sebagainya sebagaimana telah saya kemukakan tadi. Potensi ini menjadikan kebudayaan Islam waktu itu berkembang secara mencengangkan. Sebagai ilustrasi misalnya, semasa orang di Barat mengharamkan menggunakan penyelidikan dengan akal, kemudian mereka memburu dan menghukum Galileo Galilei, karena pendapatnya tentang planet bumi yang berputar, maka kerajaan Islam waktu itu bahkan mendorong dan mewajibkan untuk menggunakan akal manusia untuk memajukan ilmu dan kebudayaan. Kerajaan mencari dan melindungi ahli lmu, seni dan filsafat dari segenap penjuru untuk berkhidmat memajukan ilmu. Di masa Gereja malarang pemeluknya membaca kitab agama lain dan memasukkan kitab-kitab itu dalam daftar bacaan yang “berbahaya” bagi pemeluknya, sebaliknya khalifah-khalifah Islam memerintahkan menerjemahkan kitab dari berbagai agama dan mazhab yang ada pada waktu itu, untuk dibaca, diketahui dan diperiksa oleh ahli fikir Islam. Berani menempuh kesulitan, tak enggan menerima kebenaran walau datangnya dari fihak lain, tak takut menolak kebatilan sesudah diperiksa dan diselidiki, walau pun datang dari fihak sendiri. Inilah kunci kemajuan!

“Renaissance Timur”

Demikianlah pada permulaan abad ke 8 Masehi, berkembanglah Kebudayaan Islam. Orang Islam menunjukkan kemampuannya menerima dan mengambil alih kebudayaan yang tinggi dari bangsa terdahulu, dari Yunani, Romawi, Persia, India, Mesir dan sebagainya; kemudian mereka mempunyai kebudayaan yang lebih berkembang lagi.

Dari uraian tadi terkesan bahwa kebudayaan Islam waktu itu banyak diwarnai oleh hasil terjemahan atau pengambilalihan budaya luar. Apakah tidak ada buah karya kaum muslimin sendiri?

Ada! Dan justru kemegahan kebudayaan Islam waktu itu terutama karena penemuan-penemuan orisinal oleh para ilmuan Muslim. Memang pada mulanya kebudayaan Islam diwarnai oleh hasil karya terjemahan atau pengambilalihan budaya dari luar. Namun setelah para ilmuwan muslim mempelajari apa yang datang dari luar tersebut, mulai berkembanglah penemuan-penemuan baru di bidang ilmu dan budaya. Sebagai contoh misalnya, Yakub bin Ishak bin Sabrah al-Kindi adalah orang yang banyak karyanya di bidang ilmu Tabib, astronomi, matematika dan musik. Contoh lain misalnya Abu Nasr al-Farabi, adalah ahli ilmu mantiq, falsafah dan membahas masalah-masalah “politik ekonomi”, yang akhir-akhir ini merupakan bidang ilmu yang makin banyak dikaji orang. Abu Ali Husein bin Abdullah bin Sina adalah sarjana yang masyhur terutama di bidang kedokteran. Asy-Syifa, suatu ensiklopedi dalam 19 jilid besar, merupakan karya Ibn Sinna yang sampai saat ini masih tersimpan di Universitas Oxford. Dan masih sederet ilmuwan Islam lain yang berjasa mengembangkan ilmu di berbagai bidang.

Orang mungkin tidak menyadari bahwa metode experiment adalah hasil temuan ilmuwan Muslim. Seperti kita ketahui, metode eksperimental ini merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam metode keilmuan kita saat ini. Demikian pula penemuan berbagai zat kimia, termasuk obat-obatan, banyak dilakukan oleh ilmuwan muslim waktu itu. Penggunaan chloroform dan opiat sebagai obat, misalnya, pertama kali diperkenalkan oleh tabib muslim waktu itu.

Dengan demikian tidaklah berlebihan, bila pada masa kejayaan kebudayaan Islam waktu itu disebut sebagai timbulnya kembali ruh kebangkitan kebudayaan dunia yang hampir tenggelam, sebagai “renaissance” yang 600 tahun lebih  awal dari renaissance di Eropa yang terjadi di abad ke 15.

Keterpaduan Nilai Islam dalam Budaya

Dari uraian tadi Bapak telah menjelaskan betapa potensi ajaran Islam bagi pengembangan budaya manusia. Namun Bapak belum menjelaskan bagaimana Islam berperan di dalamnya, sehingga yang berkembang adalah suatu kebudayaan yang Islami. Bagaimana pendapat Bapak?

Kalau kita katakan bahwa Islam mengandung potensi bagi perkembangan kebudayaan yang maju, sebenarnya terkandung pengertian pula bagaimana nilai-nilai Islam itu terkandung dan mewarnai kebudayaan manusia. Yang saya maksud ialah bahwa Islam tidak pernah mengajarkan adanya pemisahan antara agama dengan kehidupan manusia, kehidupan berbudaya, termasuk di dalamnya kehidupan bermasyarakat dan bahkan dalam berpolitik.

Pemisahan antara agama dan kehidupan bermasyarakat sebenarnya merupakan kegagalan menangkap arti yang penuh dari agama. Ini terjadi akibat pengaruh pemikiran kebendaan yang makin kuat dalam kehidupan dunia modern. Inilah sebenarnya yang perlu kita fikirkan sebagai manusia yang hidup di alam modern, untuk memahami hakikat apa sesungguhnya agama itu dan apa fungsinya. Agama seharusnya menjadi pemimpin dan pemandu (hudan) bagi manusia untuk mencapai perkembangan setinggi-tingginya, dalam mengembangkan kemampuan rohaniahnya, akhlaknya, inteleknya dan fisiknya. Selanjutnya agama menetapkan, memelihara dan menyelaraskan hubungan antara Khalik dan manusia, dan antara manusia dengan manusia yang lain.

Mengenai pengaturan hubungan antar manusia, agama memelihara hubungan dalam semua aspek kehidupan. Ini berarti dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan antar bangsa, juga tidak dapat dipisahkan dari agama. Agama bukan sekadar ajaran yang mengatur kehidupan individu saja. Dengan demikian, betapa mungkin agama, yang menjadi penjelmaan semua aspek itu, dapat dipisahkan dari kebudayaan? Sebagaimana dikemukakan oleh Iqbal, tauhid yang merupakan sari ajaran Islam, adalah merupakan suatu “working idea” bagi kehidupan bermasyarakat, berbudaya. Pancaran tauhid akan menjelma dalam setiap aspek kehidupan manusia. Kita semua telah sama-sama melihat, bagaimana akibatnya apabila kebudayaan terlepas dari bimbingan dan jiwa tauhid yang suci-bersih, serta dipastikan dengan akhlak dan ibadah yang sehat.

Pada akhir uraian ini saya akan mengingatkan kata-kata Prof. Satar Khairi, seorang Guru Besar dari Berlin, katanya: “Jika dalam pergaulan hidup kita sekarang ini tidak ada kertas, timbangan, kompas, gula, ilmu kimia, di situ barulah dapat kita rasakan betapa banyak yang telah kita terima dari peradaban Islam”.

M. Natsir, Pesan Perjuangan Seorang Bapak (Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Laboratorium Dakwah, 1989). Hlm 107-116.

***

Catatan yang dapat dilihat dari wawancara ini ialah pandangan khas kaum modernis terhadap kebudayaan. Islam dipandang sebagai agama yang dapat bersesuaian dengan perkembangan zaman. Namun kita perlu melihat dengan lebih teliti perkembangan zaman yang dimaksud. Kerap kali perkembangan zaman itu ialah perkembangan zaman Barat dengan penghormatan utama kepada rasionalitas manusia. Tentu saja modernisme Barat (dengan pemusatan terhadap rasionalitas di dalamnya) tidak diterima kaum modernis Islam dengan begitu saja. Ada kritik dan penyesuaian-penyesuaian meski kadang di tingkat yang lebih filosofis tetap menyisakan celah-celah persoalan. Hasilnya, kaum modernis tidak hanya menyerap beberapa anasir modernisme dengan kritis, tetapi juga menjadikan Islam sebagai jalan keluar dari persoalan-persoalan moderni.

Apa yang telah diusahakan Mohammad Natsir dan generasi pendahulu kita tentu amat lah berharga. Ialah tugas kita untuk terus merawat warisan pemikiran ini, menguatkan yang baik dan memperlengkapkan yang kurang. Kajian-kajian kebudayaan dan Islam yang lebih mendalam tentu diperlukan agar bangsa kita dapat mengukuhkan keislaman di tengah Indonesia yang memang beragam.

Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS