• Ikuti kami :

Modernitas di Dunia Muslim

Dipublikasikan Rabu, 23 Desember 2015 dalam rubrik  Tafakur

***

Seorang dai dengan nada tegas berkhotbah di hadapan khalayak: “Mari lindungi anak dan cucu kita dari fitnah dunia. Di zaman modern ini, fitnah dunia semakin menggerus keimanan dan ketakwaan kita!” Kita mungkin sering menemukan peristiwa yang mirip dengan adegan imajiner di atas. Pada saat bersamaan, khotbah tersebut terselenggara dengan rapi ditopang teknologi pelantang suara (speaker), tata lampu yang baik, ruangan berpendingin udara, dan disimak oleh jamaah yang akrab dengan gawai (gadget) untuk kebutuhan pekerjaan, pendidikan, dan hiburan. Secara terburu-buru, kita dapat saja menghakimi peristiwa itu sebagai ironi; ketar-ketir pada modernitas di luar sana yang mengancam kesalehan kaum Muslim di dunia (dan tentu berdampak pada keselamatan di akhirat) sambil menikmati pemberian material dari modernitas itu sendiri, berupa teknologi informasi, profesionalitas kerja, alat-alat rumah tangga, dan sebagainya.

Modernitas memang telah menyerap ke dalam kehidupan kaum Muslim sejak penjajah Eropa mendatangi negeri-negerinya, dari Afrika Utara sampai “Negeri di Bawah Angin” atau Nusantara. Sejak itu pula, ulama-ulama saleh tampil membangkitkan semangat perlawanan sekaligus memberi pedoman kepada masyarakat awam agar tak terjerumus oleh bujuk rayu penjajah. Kemampuan menelaah tawaran-tawaran modernitas Eropa membuat mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, senantiasa menyaring modernitas sehingga hanya meninggalkan manfaat-manfaatnya bagi kaum Muslim. Kita sampai saat ini masih tetap menjadi Muslim dan tak terlalu canggung pada modernitas.

Tulisan ringkas ini bukan suatu tambahan kajian kesesuaian Islam dan modernitas yang telah banyak dibahas, melainkan suatu pemaparan corak-corak modernitas Barat di tingkat falsafi yang sering diabaikan. Dengan memahami corak-corak tersebut, semoga kita makin jeli melihat dan menghindari duri modernitas dalam daging kehidupan sehari-hari.

Corak-Corak Modernitas

Modernitas berasal dari istilah Italia, moderna, yang bermakna ‘kemajuan’. Kemajuan yang dimaksud adalah gerak sadar manusia dari satu titik tertentu menuju ke arah depan yang selalu dipandang lebih baik. Dalam peradaban Barat, modernitas adalah penanda bagi kesadaran-diri manusia dalam menggunakan segala kemampuan akal budi (ratio)-nya untuk menelaah objek-objek di luar diri, yakni alam semesta dan manusia lain. Kurun yang sering ditunjuk dalam sejarah kesadaran-diri ini adalah abad 17 M (renaisans) dan 18 M (pencerahan). Sebelumnya, penjelasan tentang alam dan manusia hanya tersedia dalam mitos dan agama (Nasrani).

Sekurang-kurangnya terdapat lima corak utama modernitas, yakni individuasi, distansi, progress, rasionalisasi, dan sekularisasi (Hardiman, 2003: 73—78). Individuasi adalah keadaan manusia yang memiliki kesadaran-diri penuh bahwa dirinya otentik. Otentisitas manusia dibentuk oleh kemampuan menggunakan akal budi (ratio) dan rasa kepemilikan penuh atas diri sendiri. Diri tak lagi dipandang sebagai hamba dari manusia lain atau konsep-konsep adikuasa, seperti leluhur, dewa-dewa, dan Tuhan. Distansi adalah penarikan jarak antara manusia dan semesta di luar dirinya. Keadaan berjarak ini memungkinkan manusia melakukan penelitian dan pengujian terhadap alam semesta untuk keperluan dirinya, tanpa beban tabu dan larangan yang pernah diajarkan oleh mitos. Progress adalah kesadaran sejarah yang lurus ke depan; yang telah berlalu baik itu teknologi tetapi juga tata pergaulan, ajaran kebajikan, dan kepercayaan selalu dipandang usang jika sudah dibatalkan oleh penemuan-penemuan mutakhir.

Penerapan tiga corak di atas secara utuh dan padu akan menghasilkan corak berikutnya, yakni rasionalisasi. Istilah ini merujuk pada keberhasilan penggunaan akal budi manusia dalam segala pranata kehidupan. Jika tiga corak sebelumnya menggambarkan keadaan batin manusia, rasionalisasi adalah gambaran bagi pengejawantahan keadaan batin itu dalam lingkungan. Max Weber menandakan dua cabang utama rasionalisasi, yakni birokratisasi dalam pengelolaan kehidupan manusia dan teknologisasi dalam rekayasa manusia terhadap alam semesta untuk keperluan dirinya.

Dalam birokrasi dan teknologi, tak ada lagi kuasa ilahiah dan mitos yang menghambat kinerja manusia dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, politik, dan sebagainya. Keadaan ini mewujudkan corak terakhir dari modernitas, yakni sekularisasi. Sekularisasi membuat alam semesta, politik, dan kesusilaan dianggap sebagai peristiwa bendawi belaka yang dapat dikelola oleh kesepakatan-kesepakatan akal budi manusia. Karena akal budi manusia selalu berubah-ubah, semesta dalam pengelolaan sekuler juga kian mengalami perubahan-perubahan.

Yang Terlupakan

Kaum Muslim lebih mengenal modernitas dalam bentuk barang jadi, seperti ilmu-ilmu pengetahuan (positivistik) di lembaga pendidikan, manajemen sumber daya manusia dalam pemerintahan dan perusahaan, teknologi siap pakai yang dijual di gerai, atau pembangunan gedung permanen yang menjulang di atas tanah. Berhadapan dengan itu semua, kita banyak berpegang pada nilai-nilai Islam. Dalam pendidikan di sekolah, misalnya, kita senantiasa memulai dan menutup pembelajaran dengan doa. Ilmu agama tak lupa diajarkan dengan jadwal tertentu, dengan tujuan penanaman akhlak kepada peserta didik. Di perkantoran, kita berusaha menyisihkan waktu untuk beribadah, menjaga pergaulan lawan jenis, dan menunjukkan akhlak terpuji. Saat menggunakan teknologi seperti telepon pintar atau komputer, kita berusaha menghindari dosa yang mungkin diperantarai gawai itu.

Jika nilai-nilai Islam itu sudah terselenggara, apa kita serta-merta selamat dari mafsadah modernitas? Bagaimana dengan lima corak modernitas dalam telaah falsafi di atas? Di sinilah kita mulai melupakan mafsadah yang lebih terpendam. Selain menjalankan ibadah dan menghiasi akhlak sebagai manusia modern, kita juga harus menghindari lima corak modernitas itu.

Islam tidak mengabaikan pentingnya individu, tetapi individu dalam Islam adalah hamba kepada penciptanya, Allah SWT. Sebagai hamba, individu berutang keberadaan kepada Allah dan terkena kewajiban-kewajiban untuk membayar utang itu. Pemenuhan kewajiban sebagai pembayaran utang sesuai dengan fitrah manusia. Islam melarang umatnya memiliki rasa kepemilikan penuh atas diri. Dalam bentuknya yang parah, rasa memiliki atas diri memang membuat individu merasa berhak mengekspresikan apa pun meski melanggar syariat, seperti berzina, meminum khamr, atau merajah tubuh. Emha Ainun Najib dalam beberapa kali kesempatan sering menjelaskan bahwa manusia tidak punya hak milik atas dirinya, melainkan sekadar hak guna pakai.

Islam juga tak menolak distansi tetapi menempatkannya secara wajar. Dalam upaya merekayasa alam, manusia memang terlebih dahulu harus melakukan penarikan jarak antara diri dan lingkungan. Dalam Islam, hal tersebut tidak hanya diatur oleh syariat sehingga tak berlangsung liar dan memusnahkan, tetapi juga disertai kesadaran penuh bahwa alam raya adalah tanda (ayat) keberadaan Allah. Kesadaran tersebut muncul dari olah batin seorang Muslim yang memungkinkannya semakin mengenali hakikat segala sesuatu atas petunjuk Allah, termasuk alam raya sebagai ayat. Laju sejarah dalam Islam juga bukanlah suatu kemajuan lurus, melainkan—dalam bahasa Prof. Wan Mohd Wan Daud—“perubahan teguh” (dynamic stabilism), yakni kelenturan unsur-unsur ragawi dalam Islam ketika bersentuhan dengan tuntunan zaman tetapi tetap mengacu pada unsur-unsur batiniah yang lebih hakiki dan mengatasi ruang dan waktu. Konsep ini membimbing kita dari dua tegangan keliru, yakni pandangan sempit dan sikap kaku atas nama pemurnian ajaran, atau pandangan liberal dan sikap acuh tak acuh atas nama pencocokan ajaran dengan selera kekinian (pembahasan lebih mendalam tentang ini, lihat Al-Attas: 2010).

Dengan merujuk pada tiga corak di atas saja, kita dapat menyimpulkan bahwa modernitas yang tengah berlangsung menyimpan banyak kekeliruan terpendam yang sering dijalani tanpa sadar, termasuk oleh umat Islam. Hal ini akan semakin jelas jika kita mempertimbangkan corak berikutnya, yakni rasionalisasi. Meski mengawali pekerjaan dengan basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah, kita sering melangsungkan itu dengan nalar individualitas manusia modern yang bekerja sebagai profesional dan memandang rekan kerja bukan sebagai manusia utuh dengan keberadaan lahir dan batinnya, melainkan sebagai individu lain peserta persaingan sehat meraih keuntungan-keuntungan.

Rasionalisasi di tahap ini pun meniscayakan penghargaan terhadap seseorang dari capaian materialnya, bukan lagi kewibawaan dan keluhuran batin yang dimiliki seseorang karena kedekatannya dengan Allah dan kedalaman ilmunya. Seorang ulama, misalnya, dapat dipandang (atau justru memandang dirinya) sebagai pekerja profesional yang dihargai bukan karena ilmunya, melainkan kemampuannya menarik perhatian khalayak berbudaya pop. Kalangan pemodal yang merasa mampu membayar “profesionalitas” sang ulama memiliki wewenang menentukan tema acara dan penyampaian yang sesuai dengan tuntutan pasar. Jika tak menyadari adanya persoalan dalam rasionalisasi semacam ini, kita akan mengira bahwa hal tersebut adalah kewajaran asalkan senantiasa bernuansa “nilai-nilai Islam”.

Daryush Shayegan (1997: 22-30) menyebut gejala di atas sebagai skizofrenia kutural, yakni keterbelahan batin kaum Muslim tatkala menghadapi modernitas yang dinamis. Seseorang berupaya menjadi sesaleh mungkin sambil mengerjakan kehidupannya yang sekuler tetapi kebingungan menempatkan Islam dalam peripikir dan perilaku modernnya. Semoga kita terhindar dari kebingungan semacam itu.

***

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS