• Ikuti kami :

Misteri di Balik Kehadiran NII dan Kartosuwirjo

Dipublikasikan Sabtu, 04 Februari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto
Negara Islam Indonesia (NII) dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo adalah dua nama yang tidak dapat dipisahkan. Kartosuwirjo dikenal sebagai pencetus dan pendiri negara itu. Keduanya juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah masa awal kemerdekaan republik ini. Perihal sejarah NII dan pria yang lahir di daerah dekat Cepu, 7 Februari 1905, itu, beragam pihak punya beragam sikap mengenainya. Ada yang menganggapnya pengkhianat, ada yang mendukung, ada pula yang memandangnya sebagai kenyataan sejarah politik yang serbamemungkinkan.

Mengenai Kartosuwirjo dan berdirinya NII ini, Deliar Noer, salah satu pakar politik dan sejarah yang tersohor itu, mencatat dalam bukunya, Partai Islam di Pentas Nasional: 1945-1965, terbitan tahun 1987. Awalnya, Kartosuwirjo adalah salah satu anggota Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia semasa tahun 1945 yang saat itu dipimpin oleh al-Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan didukung oleh seorang tokoh muda yang menonjol, anaknya, Wahid Hasyim. Saat itu Kartosuwirjo menduduki jabatan pengurus Masyumi di wilayah Jawa Barat.

Pada 14 Agustus tahun 1947, Kartosuwirjo mengumumkan jihad melawan Belanda. Namun, konsep jihad yang dilontarkannya mengandung makna sendiri dan tidak berhubungan lagi dengan sepak terjang kalangan Islam lainnya, demikian kata Deliar Noer dalam bukunya itu. Februari 1948, ia mendirikan sebuah majelis umat Islam di Tasikmalaya untuk koordinasi semua organisasi Islam di Jawa Barat. Sebulan kemudian, Kartosuwirjo menghentikan kegiatan-kegiatan Masyumi dan kelompok Islam lainnya di Jawa Barat (Noer, 1987: 180).

Dalam pandangan Deliar Noer, semasa tahun 1948 hingga sebagian tahun 1949 tampaknya Kartosuwirjo masih mengakui kuasa politik Pemerintah Republik Indonesia sebagai negara dan pemerintahnya sendiri dan melihat dirinya sebagai warga negara Republik Indonesia. Namun, dengan jatuhnya Yogyakarta ke tangan Belanda dalam aksi militer mereka yang kedua tanggal 19 Desember 1948, Kartosuwirjo menganggap Republik Indonesia benar-benar tidak ada (Noer, 1987: 181).

“Dongeng” tentang NII ini hingga saat ini masih menjadi momok di tengah-tengah kita. Kemunculan Panji Gumilang dan KW (Komandemen Wilayah) 9-nya, disertai dengan berdirinya Pesantren Al Zaytun, semakin meneguhkan “dongeng” tentang NII.

Sumber foto: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950: Dari Negara Kesatuan Ke Negara Kesatuan. 1975. Jakarta: Badan Pimpinan Harian Pusat (BPHP) Korps Cacad Veteran Republik Indonesia—Badan Penerbit ALDA.



Tulisan Terkait (Edisi Politik)

Populer

IKLAN BARIS