• Ikuti kami :

Mikir, Mikir, Mikir Dahulu, Kerja, Kerja, Kerja Kemudian

Dipublikasikan Ahad, 09 Oktober 2016 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

***

Umat manusia mesti bersyukur dianugerahi sesuatu yang khusus oleh Allah SWT. Anugerah yang satu itu adalah akal, yang menjadi sifat pembeda antara manusia dengan makhluk hidup kasatmata (hayawan) lainnya. Saking pentingnya akal pada manusia, para filsuf menakrif manusia sebagai animal rationale atau al-hayawan al-natiq. Terserah selera Anda mau menggunakan istilah yang mana, mau yang nge-Greek, atawa yang ng-Arab. Bebas itu.

Dengan akalnya, manusia mengolah lingkungan. Manusia memikirkan dirinya sendiri, diri dan alam sekitar, dan kemudian dirinya dengan diri yang lain. Lahirlah alat-alat dapur macam gerabah dan centong. Juga tata sosial kemasyarakatan dan pada puncaknya hadir peradaban manusia. Peran akal sangat penting, baik dalam lahirnya centong maupun dalam lahirnya peradaban. Tentu saja kelahiran centong dan kelahiran peradaban memiliki taraf kelahiran yang berbeda.

Fungsi akal adalah berpikir. Dalam tindakan manusia mencipta dan membangun, sunatullahnya diawali dengan berpikir. Manusia mestilah mengawalinya dengan berpikir, apa yang harus diciptakan atau dibangun, untuk apa, tujuannya kepada siapa, dan lain sebagainya. Selanjutnya, si manusia itu mestilah melakukan perencanaan—bagaimana tahapan-tahapannya, apa yang pertama kali musti dilakukan, dan lain sebagainya. Ini bagian dari berpikir juga.

Tahapan terakhir adalah bertindak (kerja). Kerja yang dilakukan manusia mestilah dilandasi oleh apa yang telah dipikirkannya. Kerja adalah mewujudkan apa yang ada dalam pikiran pada dunia nyata. Kira-kira begitulah yang dimaksud dengan kerja, menurut saya. Karena kerja diawali dengan berpikir, maka kata kerja punya hubungan makna yang erat dengan kata pikir. Jika tidak, itu namanya bukan kerja, tapi ayan atau kejang-kejang; bertindak di luar pemahaman.

Demikian, manusia mestilah melakukan prosedur-prosedur di atas dalam tindakannya di dunia nyata. Dalam keseharian hidupnya, dalam tindakan sosial-politiknya, dalam membangun kebudayaan, hingga peradaban. Dengan begitu, mestilah apa yang dicita-citakan manusia pada ranah-ranah itu akan tercapai dengan baik dan sempurna.

Dalam pengelolaan negara, para pemimpin yang diamanatkan rakyat ini sudah semestinya bertindak melalui prosedur berpikir (tujuan, dsb; perencanaan) baru bekerja (bertindak). Makanya agak tidak tepat slogan “Kerja, kerja, kerja” itu tanpa didahului dengan “Mikir, mikir, mikir”. Kerja yang didahului dengan mikir membuat apa yang dihasilkannya menjadi baik. Kalau tidak, bahaya itu.

Membangun bandar udara yang diawali dengan berpikir pasti tidak akan menyertakan air yang melimpah di dalamnya. Kan itu bandara, bukan pelabuhan. Membangun jalan tol yang diawali dengan berpikir akan mengacu kepada tujuannya: memberikan keamanan, kecepatan, kemudahan, dan kenyamanan kepada pengguna kendaraan bermotor. Kalau cuma membuat macet, bahkan kematian, ya apa bedanya dengan gang sempit, bahkan rumah jagal?

Lantas, apa orang zaman sekarang tidak berpikir sama sekali? Bukan begitu maksudnya. Yang dimaksud dalam tulisan ini adalah berpikir yang sempurna, dari A sampai Z atas tindakan yang akan dilakukan. Atau, setidaknya, berpikir yang pantas dan mencukupilah. Nah, ini yang jarang terjadi.

Mengapa? Banyak alasannya. Masalahnya tidak melulu soal gizi. Manusia-manusia di Indonesia tidak semuanya hidup di daerah krisis pangan. Penduduk perkotaan jarang mengalami krisis pangan. Kalau krisis eksistensi, sering. Jadi masalah berpikir tidak selalu berkaitan dengan rendahnya nilai gizi.

Barangkali yang patut dicurigai adalah budaya hidup masyarakat dewasa ini yang ingin serbacepat dan ringkas. Kita digumuli dengan budaya-budaya semacam ini. Kita sering memamah makanan dan minuman yang instan-instan, dari yang tinggal seduh, yang tinggal aduk, bahkan yang tinggal makan.

Sikap kita kepada ilmu juga begitu. Dalam menuntut ilmu, dari zaman sekolah dasar sampai perguruan tinggi, yang instan-instan ini sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Ingin masuk perguruan tinggi bonafide dengan cara cepat? Bisa ke lembaga-lembaga bimbingan belajar terdekat. Ingat, di tempat itu Anda tidak dididik untuk pintar, tapi dididik untuk jago menyelesaikan soal ujian. Kan tujuannya untuk masuk perguruan tinggi bonafide, bukan untuk pintar apalagi untuk memiliki semangat nasionalisme.

Maka berpikir itu jadi serbainstan, tidak perlu yang susah-susah, yang penting dapat dikerjakan, selesai perkara. Maka slogan “Kerja, kerja, kerja” menjadi primadona. Apa saja dikerjakan dan sepertinya kerjalah asas kemanusiaan kita. Padahal, kata Hamka, kalau kerja sekadar bekerja, kera di hutan juga bekerja.

Berpikir adalah hak dan anugerah istimewa yang ada pada manusia. Dengan berpikir, manusia dapat memperoleh dan merawat kemanusiaannya karena sesungguhnya manusia itu harus berpikir. Wahyu Suci memberikan penghargaan yang teramat tinggi kepada manusia yang mau berpikir. Berhenti berpikir, atau setidaknya kalau berpikir pun ala kadarnya, adalah sebuah bencana. Bencana kemanusiaan!

Maka mikir, mikir, mikirlah dahulu, kerja, kerja, kerja kemudian.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS