• Ikuti kami :

Merenungi Keseharian, Mengukuhkan Tradisi

Dipublikasikan Sabtu, 14 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Dalam kehidupan kita senantiasa mencari yang paling dekat dengan diri. Orang-orang mencari yang terdekat pada tubuh, pada diri, pada keluarga, pada masyarakat atau pada keyakinan. Manusia sesungguhnya senantiasa terlibat dengan segala hal yang dianggap dekat. Pada tubuhnya ia dekat, pada keluarganya ia dekat, pada masyarakat dan juga pada keyakinan. Akan tetapi sebenarnya manusia selalu ada dalam keseharian dan terlibat dalam tradisi.

Manusia hidup dalam waktu. Kebudayaan-kebudayaan yang ada kemudian memenggali waktu dalam perhitungan-perhitungan khas, sehingga kita mengenal detik, jam, hari, pekan dan bulan. Dalam siklus waktu itu lah kita hidup, menjalani nasib dan takdir kita masing-masing. Kita berlaku membangun dan menjalani beragam peristiwa. Yang rutin, yang berlalu, yang terjadi sekali seumur hidup, yang dikenang dan yang dilupakan. Dalam hidup kita mengalami luka tetapi juga bergembira, kita pernah bersedih dan pernah pula bahagia. Hidup adalah tentang beragam laku dan kejadian. Tentang beragam peristiwa yang senantiasa kita alami.

Dalam waktu kita mengalami keseharian. Laku rutin dan peristiwa-peristiwa yang semakin lama semakin membiasa terus kita jalani. Kita telah ribuan kali mengalami pagi hari dan selalu mengalaminya kembali. Kita menua dengan ribuan pagi hari. Pagi hari yang sebenarnya tak pernah sama, meski matahari yang terbit ialah matahari yang kemarin juga, yang esok hari pula. Matahari yang sama. Pagi hari telah menjadi rutin. Pagi hari semakin berlalu dan membiasa. Kita seakan tak mengalami hal yang berbeda dan bermakna ketika menjalani pagi hari. Juga ketika tidur, mandi atau memakai sandal. Semua telah berjalan begitu saja. Segala yang membiasa telah tak lagi kita periksa. Padahal di keseharian telah banyak kekeliruan.

Segala yang membiasa dan berlaku begitu saja telah mengendurkan kesadaran kita. Tanpa sadar ribuan pagi hari dan ribuan peristiwa telah terus berlalu menimbun nasib dan usia. Kita meninggalkan jejak-jejak yang jauh yang tak lagi tersentuh di belakang sana. Keseharian semakin ruwet dan kita terseret di dalamnya. Tak lagi menyadari dan kehilangan rasa pada perjalanan, pertemuan dan perpisahan. Semua menjadi serba begitu saja dan menghambar di tengah serba kesibukan dan macam-macam kecemasan.

Kita perlu jeda untuk mengurai keseharian kita. Tentu saja keseharian telah menjadi semakin rumit dengan media sosial dan keragaman kabar. Kita telah menjadi makhluk yang menunduk di stasiun-stasiun dan di dalam bus kota. Menunduk memisahkan diri dari banyak orang, lalu tenggelam dalam benda-benda kecil di dalam genggaman kita. Dalam keramaian, kita terpencil dan hanyut dalam kesunyian masing-masing.

Kita perlu mengurai hal-hal yang telah terasa membiasa. Sandal yang berantakan telah membiasa dan karenanya kita tak melihat ada yang keliru di dalamnya.  Kekeliruan-kekeliruan telah membiasa dan kita menganggap tak ada yang salah atasnya. Sementara kita tak lagi punya kehendak untuk merenungi yang demikian. Kita telah sibuk dengan yang rutin. Kita perlu memikirkan ulang banyak hal. Sehingga sehari-hari lebih memiliki makna. Kita perlu kembali mencium tangan orang tua kita. Hal-hal yang telah dianggap tak bermakna dan merepotkan harus kita kukuhkan kembali. Kita harus menghidupkan kembali tradisi kita dalam keseharian. Sebab pengenyahan tradisi dari keseharian telah menggiring kita pada kepraktisan tanpa kebermaknaan.

Perkembangan teknologi dan perilaku informasi yang berkembang luar biasa tidak boleh menenggelamkan kemanusiaan kita. Keseharian yang semakin menuntut kepraktisan harus kita lalui dengan keyakinan dan pandangan yang kukuh terhadap tradisi. Sebagai muslim, keseharian dan setiap desah nafas kita sesungguhnya terlibat pada sekian banyak peristiwa yang menembus waktu. Pada tahap ini lah seharusnya Islam ialah juga tradisi yang memaknai keseharian kita. Islam bukan hanya seperangkat tata cara menyembah Tuhan, lebih jauh dari itu, Islam ialah cara pandang kita terhadap kebenaran dan kenyataan.

Bukankah shalat kita ialah juga shalat yang dilakukan Nabi, para ulama, dan bermilyar-milyar manusia yang pernah hidup, sedang hidup dan akan hidup. Shalat telah terjadi selama 14 abad. Dilakukan bersambung-sambung antar generasi, oleh sekian ribu bangsa, oleh sekian juta suku. Bertriliun takbir memanjat ke langit selama 14 abad, bertrilyun tahmid mengiringi kehidupan 14 abad, bertrilyun tahlil diucapkan manusia-manusia 14 abad lamanya. Tahlil, tahmid dan takbir selama 14 abad membersamai hari-hari Muslim dari berbagai bangsa, di luasan wilayah 5 benua banyaknya.

Kita perlu menyigi kembali keseharian kita dengan takbir, tahlil dan tahmid 14 abad lamanya itu. Hingga pagi hari kita tersambung pada Nabi, pada lafaz-lafaz di shalat shubuh Hamzah Fanshuri, Jami’i, Imam al-Ghazali, Imam Syafi’I, Tabi’I dan sahabat Nabi. Pada iman kita, terdapat persaudaraan yang dalam, yang terikat salam pada semua muslim dan shalawat kepada Nabi.

Di luasan teknologi dan gelombang informasi yang menderas melimpahi hari-hari kita, kita harus tetap merasakan cinta Nabi. Nabi Muhammad yang mencucurkan air mata penuh sayang kepada kita, umatnya. Nabi yang cintanya ialah tempat bergantung kita di hari perhitungan kelak. Hidup kita harus mengikuti jalan Nabi. Sederas apa pun informasi, setinggi apa pun perkembangan teknologi, kita harus tetap di jalan ini, jalan pemuliaan terhadap ajaran Nabi:

Hidup hanya untuk Allah
Mati hanya untuk Allah

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS