• Ikuti kami :

Merawat Tradisi, Merawat Agama

Dipublikasikan Selasa, 22 Agustus 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Manusia sesungguhnya hidup sambung menyambung dalam perjalanan waktu. Beragam kebiasaan dan cara hidup diwariskan turun temurun. Berbagai ajaran diajarkan dari bapak kepada anak, dari ibu kepada buah hatinya. Rupa-rupa laku dijalankan terus menerus dari satu generasi ke generasi. Perangkat-perangkat kehidupan terus dijalankan, dirawat, dan diturunkan dari zaman ke zaman; menemani kehidupan manusia, lahir dan batin; merawat makna dan nilai; bertaut sejak kelahiran hingga kematian.

Tentu kita menyadari lahir dan mati bukan sekadar perkara ketubuhan belaka, bukan hanya melibatkan yang jasad. Ada yang melampaui tubuh dan sekadar persoalan biologis dalam hidup manusia. Ada masa lalu; ada masa depan. Ada yang telah terjadi; ada yang telah membiasa. Kita mewarisi perkakas-perkakas kehidupan dari orang-orang terdahulu. Jutaan nafas terakhir yang berhembus, bersambung dengan nafas-nafas pertama bayi-bayi merah. Yang mati meninggalkan segala perbuatan. Yang lahir menerima berbagai jejak untuk menyambung kehidupan. Yang hidup menyambut kelahiran dan melepas kematian.

Kelahiran adalah tradisi, sebagaimana kematian. Kelahiran kita tak sebagaimana kehadiran seekor kerbau. Kematian kita tak sebagaimana matinya lalat. Ada tubuh yang lahir; ada diri yang mulai bertumbuh. Ada jenazah yang terbujur; ada ruh yang berpisah dengan jasad. Ada yang tercerap indra; ada yang tak kasat mata. Di antara keduanya, ada nilai-nilai dan makna-makna yang menumbuhkan berbagai kesadaran.

Rupa-rupa makna disimbolkan dalam bentuk dan warna. Rupa-rupa nilai dipertandakan dalam perilaku sehari-hari. Sopan santun dan ajaran kehidupan dilantunkan dalam pitutur penuh kebijaksanaan. Dari pantun, kita tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Orang menyebutnya pantun nasihat. Anak-anak tak boleh menggunakan dan mempermainkan songkok bapak. Kita tahu bahwa orang tua harus dihormati. Merah lambang berani dan putih lambang suci. Dalam upacara, kita menghormat selembar kain bernama bendera.

Songkok dapat dimaknai sebagai benda penutup kepala yang bisa pula kita pakai untuk berjoget. Bendera hanyalah selembar kain yang dapat pula kita pakai sebagai alas tidur. Namun, kita akan tersinggung apabila songkok bapak diinjak orang. Kita pun marah apabila orang membakar bendera kita. Bukan karena selembar kain dan sebuah songkok kita marah dan tersinggung, melainkan karena makna yang terkandung dalam keduanya.

Berbagai hal yang batin sering kali dipertandakan dalam yang lahir. Nilai-nilai batin dalam kelahiran, perkawinan, dan kematian diperumpamakan dalam beragam bentuk. Inilah tradisi. Bentuk-bentuk (laku dan benda) pengantar kepada makna dan nilai. Setiap kebudayaan memiliki cara tersendiri untuk memperumpamakan nilai dan makna yang mereka anuti. Maka, kehidupan kita sesungguhnya penuh dengan penanda dan perumpamaan. Hal-hal yang tak tercerap diejawantahkan dalam bentuk-bentuk hingga dapat dilihat dan didengar.

Menempatkan penanda dan perumpamaan ini dengan seksama akan mengantarkan hidup kita pada beragam kebijaksanaan. Sebaliknya, salah menimbang macam-macam tanda dan umpama akan melahirkan keruwetan. Sebuah nilai yang ditandakan dengan perilaku bernyanyi dan menari tak perlu ditempatkan seperti ibadah penyembahan dewa. Pujian kepada Tuhan dalam tari Saman hanya jalan untuk menyampaikan pesan-pesan keagungan Tuhan. Ia bukan laku seperti shalat atau naik haji. Puji-pujian kepada Tuhan dan Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Jawa atau Sunda cukup dimaknai sebagai bentuk pengagungan untuk menyuburkan batin manusia. Tak perlu mencari dalil hingga ke Nabi, sebab pasti Nabi tak pernah berbahasa Sunda atau Jawa. Kitalah manusia-manusia Jawa, manusia-manusia Sunda, manusia-manusia Melayu yang sebenarnya telah pandai memilah serta mendudukkan umpama dan tanda sejak berabad silam.

Kita tahu bahwa khutbah Jumat, khutbah Idul Fitri, dan khutbah Idul Adha biasa disampaikan dalam bahasa Melayu, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda. Namun, ketika shalat dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia, kita tahu ada yang tidak tepat. Kita juga tahu bahwa sarung, telekung, baju koko, kopiah ialah beragam sandang yang tak pernah dipakai Nabi tetapi kita gunakan untuk shalat.

Kita bernasyid, membuat film, menulis puisi, dan membuat novel-novel Islam. Kita pula membangun tradisi berharakah, berorganisasi, dan berpartai sebagaimana kita menggunakan mikrofon, telepon genggam, dan internet untuk berdakwah. Sesungguhnya, selama berabad-abad, bangsa kita telah pandai menempatkan umpama dan bentuk dalam sudut pandang agama hingga hari ini.

Kadang, timbul kesilapan dalam menempatkan perumpamaan dan penandaan ini. Yang sekadar tarian ditempatkan sebagai tata cara ibadah yang menyimpang. Nyanyian dihukumi sebagaimana dzikir yang sesat. Syair dan puisi dianggap tak diperlukan sebab telah ada Al-Quran dan As-Sunnah. Di lain sisi, yang sekadar kebiasaan dipandang sebagai keharusan. Yang sebenarnya hanya penanda dipandang sebagai sebuah kewajiban.

Akhirnya, nasi tumpeng dipandang sebagai bid’ah di satu sisi, dan ditempatkan seperti sunnah di sisi yang lain. Dalam keadaan demikian, nasi tumpeng yang seharusnya dimakan bersama dengan penuh khidmat telah berubah menjadi pergolakan. Bahan pangan telah menjadi bahan persengketaan. Kekeliruan menempatkan hal-hal sedemikian telah mengeruhkan hidup kita.

Kini, kita ada di sini, di antara kelahiran dan kematian. Namun, hidup tak hanya tentang kini dan di sini. Ada juga kelak dan di sana. Di hidup ini, kita merawat nilai dan makna dalam perumpaan dan penanda, menginsyafi kemanusiaan, kedirian, dan kehambaan kita. Kelak, kita akan mengajarkan dan mewariskan perkakas-perkakas hidup ini kepada anak dan cucu agar batin masa kini dan depan tetap dinaungi makna dan nilai-nilai baik yang penting bagi hidup.

Mudah-mudahan kita dapat terus melestarikan dan mampu menempatkan dengan saksama tata penanda dan tata perumpamaan dalam hidup kita, belajar merasakan rasa yang sama sebagaimana yang dirasakan orang-orang terdahulu, dan mengajarkan rasa itu pada generasi kemudian. Kita menyambung rasa dari generasi ke generasi dalam rupa-rupa tanda dan umpama hingga terus kita memanjat makna, sampai tinggi dan tinggi, moga-moga sampai pula kita kelak kepada Tuhan.

Pada akhirnya, mari kita terus merawat tradisi, merawat agama.


Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS