Menyelamatkan Makna “Kerja” di Era Revolusi Industri 4.0
Bagikan

Menyelamatkan Makna “Kerja” di Era Revolusi Industri 4.0

Pada 1 Mei 1886, buruh-buruh di Amerika yang telah mengorganisasi diri melakukan demonstrasi besar-besaran dan juga mogok masal. Mereka menuntut pemanusiaan bagi kaum buruh. Masa itu, ada buruh yang bekerja antara 10-16 jam sehari. Para demonstran membawa spanduk berisi seruan: “8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi”. Demo ini berhasil menunjukkan peran penting buruh. Industri bisa macet dan merugi apabila buruh mogok secara serempak. Mesin-mesin akan menganggur tanpa manusia. Manusia seolah menemukan daulatnya kembali.

Revolusi industri beberapa abad lalu telah mengubah peran manusia dalam tindak produksi massal. Makna kerja menjadi lebih sederhana: datang nyaris setiap hari ke sebuah tempat bernama pabrik, mengerjakan apa yang tidak dapat dikerjakan mesin, dan mendapat upah setiap jangka waktu tertentu. Dalam ekonomi semacam ini, harga manusia menjadi setara dengan mesin uap, batu bara, dan tanah. Sama-sama menjadi faktor produksi. Lebih jauh lagi, manusia (buruh) telah menjadi komoditas. Harga manusia menjadi sekadar tenaganya. Keluhuran manusia direndahkan dalam industri-industri serakah yang alpa pada nilai-nilai peradaban.  Dalam sebuah pabrik, ratusan atau ribuan manusia pada masa itu dipaksa bekerja sampai 16 jam sehari. Manusia-manusia kelelahan lahir batin kemudian memadat di kota-kota besar, menggumam tak jelas, menghasilkan “ngiung” di udara seperti bunyi lebah.

Persoalan ini awalnya terjadi di Inggris Raya (tempat di mana mesin uap ditemukan dan menjadi persoalan), tetapi kemudian menyebar ke Eropa, Amerika, dan Australia lantas diangkut kolonialisme ke negeri-negeri Asia dan Afrika. Luka-luka kaum buruh menganga di mana-mana. Industri melahirkan kapitalisme, keterasingan manusia, dan kemudian mendorong kolonialisme serta perang dunia. Meski menimbulkan banyak persoalan dan luka, manusia tak kapok-kapok mengembangkan revolusi semacam ini. Hari ini, manusia-manusia itu mencanangkan satu revolusi lagi yang mereka namai Revolusi Industri 4.0.

Pada abad ke-19, sebenarnya Karl Marx dan teman-temannya sudah marah-marah, memaparkan teori nilai lebih, teori perjuangan kelas, dan mengajak kaum buruh di seluruh dunia untuk bersatu melawan kaum pemodal. Gagasan ini kemudian mewabah ke mana-mana, pergi ke Asia bersama angin penjajahan, dan menghasilkan pertarungan kelas yang mematikan jutaan manusia. Meski demikian, kisah antarkelas ini terus berjalan. Perjuangan kaum buruh melawan penidakmanusiaan (menurut mereka sendiri) semakin meluas sampai pertengahan abad ke-20 (meski semakin meloyo di zaman ini).

Pada 1 Mei 1886, buruh-buruh di Amerika yang telah mengorganisasi diri melakukan demonstrasi besar-besaran dan juga mogok masal. Mereka menuntut pemanusiaan bagi kaum buruh. Masa itu, ada buruh yang bekerja antara 10-16 jam sehari. Para demonstran membawa spanduk berisi seruan: “8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi”. Demo ini berhasil menunjukkan peran penting buruh. Industri bisa macet dan merugi apabila buruh mogok secara serempak. Mesin-mesin akan menganggur tanpa manusia. Manusia seolah menemukan daulatnya kembali. Aksi tersebut berlangsung hingga 4 Mei. Polisi kehilangan kesabaran dan menembaki para buruh, para buruh melawan, bom meledak, darah tumpah mencabik-cabik kewarasan. Peristiwa itu dikenal sebagai “Peristiwa Haymarket” dan sampai sekarang 1 Mei diperingati sebagai hari luka sekaligus perjuangan kaum buruh. Di Tangerang, segelintir buruh merayakannya dengan bersenam pagi bersama walikota mereka.

“Kerja” setelah revolusi industri memang telah mengubah banyak hal. Ia telah memengaruhi perilaku sosial dan ekonomi manusia. Selain melahirkan luka-luka, industri juga dipercayai memberi harapan bagi kesejahteraan yang merupakan tujuan umum bangsa-bangsa dewasa ini. Berdirinya sebuah pabrik meniscayakan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Saat pabrik didirikan, buruh akan datang dari berbagai daerah. Kamar-kamar sewa akan didirikan, tukang ojek akan diperlukan, dan perut-perut kaum buruh meminta makanan cepat saji karena mereka sudah lelah untuk sekadar memasak. Selain itu, tukang pulsa dan telepon genggam harus berjamuran karena buruh punya waktu paling kurang delapan jam sehari untuk berekreasi. Industri akan mendorong meningkatnya pendapatan per kapita disertai merebaknya masalah-masalah sosial dan moral.

Guna menggemukkan pertumbuhan industri semacam itu, diperlukan manusia-manusia terlatih, terdidik, tidak banyak protes, dan tidak banyak membaca teori Karl Marx. Pada era Revolusi Industri 4.0 ini, kebutuhan akan tingkat keterlatihan, keterdidikan, ketakpedulian, dan keindividualan komoditas manusia (atau untuk lebih sopannya: sumber daya manusia) semakin meninggi. Di sinilah peran penting negara dalam pendidikan nasional: memproduksi sebanyak mungkin manusia latih kerja yang siap mengisi tantangan masa depan. Negara mesti perhatian pada pendidikan ini agar industri dan dirinya sendiri tak kehabisan bahan baku. Pekerja industri dan abdi negara yang tidak banyak omong soal keadilan, soal kebenaran sangat diperlukan bagi ketahanan sebuah bangsa. Pendidikan bertugas memproduksi manusia-manusia semacam itu.

Sebagian pekerja-pekerja itu kelak akan bergaji tetap, setelah sawah dan harta orang tua mereka di kampung halaman menipis untuk biaya pendidikan dan menikah. Gaji yang besar ialah alat konsumsi paling ampuh dan iklan-iklan akan semakin seronok mempropagandakan belanja. Penghasilan tetap dapat menjamin pinjaman lancar untuk macam-macam angsuran. Cicilan rumah dan mobil akan menjadi ciri utama kesejahteraan. Makin mewah, makin besar, makin mahal maka makin mentereng tingkat kesejahteraan yang diperoleh seseorang. Angsuran semacam ini akan membuat bank senang, ekonomi berjalan naik, dan pendapatan per kapita meningkat. Negara dan industri sangat memerlukan manusia-manusia semacam ini. Para agamawan, filsuf, seniman, dan sastrawan tak dibutuhkan, bahkan sering mengganggu dengan kesinisan mereka pada pembangunan.

Inilah kesejahteraan itu. Pekerja-pekerja terdidik yang tidak banyak omong tentang keadilan, tak terlalu peduli hakikat kebenaran, mengangsur mobil dan rumah mereka secara tertib dan rutin. Negara bahagia memunguti pajak, bank senang memetik bunga, mesin industri tak pernah mati, sejahteralah negeri. Di usia tua, para pekerja ini kelak akan merenung tentang makna hidup dan mudah-mudahan masih punya tabungan untuk naik haji. Di sini kita bisa memanipulasi Revolusi Industri 4.0 sebagai sesuatu yang religius sebab religiositas itu sendiri dapat diindustrialisasi.

Kesemrawutan semacam ini dapat diperas ke dalam suatu renungan agak ringkas: apa itu hakikat kerja? Renungan ini boleh jadi tidak produktif dan dapat menghambat laju pertumbuhan. Merenung tentang kata “apa” sangat tidak cocok dengan industri yang gandrung pada kata “berapa”. Akan tetapi, tak ada salahnya kita merenung, toh setelah pemimpin kita menyebut kata “kerja” tiga kali banyaknya, Dolar tetap menyentuh angka nyaris Rp 15.000.

Bagi modernitas, ujung akhir dari bekerja ialah kesejahteraan. Kesejahteraan bendawi, seperti rumah dan mobil tentunya. Bagi kaum Muslim, (seharusnya) kerja dan kesejahteraan tak hanya terbatas pada kekayaan. Seperti makan, kerja ialah sarana bagi manusia agar mampu menjalankan peran ganda kemanusiaannya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Kerja ialah juga ibadah, ialah juga penemuan diri sebagai hamba, ialah juga pengejawantahan manusia sebagai makhluk yang memiliki ruhani. Kerja ialah juga perjalanan untuk mendaki ke atas, berikhtiar terus mengenal diri, dan berharap sampai kepada Tujuan Tertinggi.

Kerja sebagai perjalanan semacam itu tentu tak bisa diganggu dengan tujuan-tujuan sementara dan rapuh semacam kesejahteraan. Apalagi, kesejahteraan yang diangsur selama bertahun-tahun. Ini tak berarti kaum Muslimin tidak boleh mencicil rumah, namun tujuan bekerja harus dibebaskan dari belenggu-belenggu kebendaan semata. Harus ada pelampauan sebab manusia bukan hanya tubuh tetapi juga jiwa. Kerja harus bermakna ruhani karena dengan itu kita akan malu pada Allah jika kita korupsi meski KPK tak mampu menyelidiki. Kerja semacam itu akan memeluk kemanusiaan kita dalam hangat kasih sayang Tuhan. Bukan kerja dalam rutinitas keterpaksaan yang melelahkan, melenakan, mengasingkan, dan kemudian hanya menguntungkan para pemiliki modal.

Mari merenungkan apa itu kerja bersama NuuN.id, sebelum diri kita ditawar para begundal dengan pertanyaan “berapa”.