• Ikuti kami :

Menjual Agama Demi Uang dan Kuasa

Dipublikasikan Senin, 30 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Tuduhan kejam berbagai pihak kepada para politisi Muslim sebagai penjual agama amatlah janggal dan lucu. Seorang Muslim yang berpolitik dengan menggunakan agamanya tidak serta merta menjual agamanya. Sebagaimana seorang komunis yang berpolitik dengan ideologinya tidak serta merta dapat dituduh sebagai menjual kekomunisannya dengan harga murah. Sesuatu yang wajar jika seseorang berpolitik dengan cara pandang Islam sebab Islam memang memilki cara pandang terhadap kehidupan, termasuk politik.

Mengajak orang sepikiran sepemahaman untuk berpolitik bukan hal yang aneh. Justru itulah tujuan berpolitik. Seorang Muslim, berpolitik, mengajak Muslim lain untuk menyampaikan aspirasi politik Islam melalui partai Islam, ya itu sesuatu yang sangat wajar. Yang tak wajar itu, seorang komunis mengajak para santri menegakkan syariat Islam dengan jalan memilih PKI. Itu tidak wajar karena dua hal. Pertama, PKI tidak memiliki program menerapkan syariat Islam. Kedua, PKI sudah bubar dan bangkrut, tak relevan lagi untuk diharapkan atau dilawan. Atau non-muslim yang kampanye di pesantren, aneh itu.

Aspirasi politik Islam wajar disalurkan melalui partai Islam. Seseorang yang meminta dipilih dalam Pemilu oleh para santri dan muslim lainnya dengan alasan membawa aspirasi Islam, itu tidak apa-apa. Politik memang begitu dan diselenggarakan untuk itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi. Kalau seseorang mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, nah itu perlu diprotes.

Memang bisa jadi ada orang yang membawa-bawa Islam tetapi setelah berkuasa justru jauh dari aspirasi Islam. Setelah berkuasa malah korupsi dan kawin lagi. Tidak amanah dan mengkhianati umat. Pokoknya jelek lah. Bajingan yang begini ini. Namun demikian, adanya politisi Muslim yang brengsek tidak serta merta menjadikan semua politisi Muslim sebagai bedebah.

Ungkapan-ungkapan semacam “semua sama saja, setelah berkuasa lupa!” merupakan ungkapan yang nampak benar tapi tidak benar-benar benar. Bahkan kalau semua politisi Muslim korupsi dan kawin lagi, itu tidak berarti politik Islam tidak boleh ada. Kalau ada pengendara motor ugal-ugalan, bukan berarti jalan raya harus dihilangkan. Bahkan, andai semua pengendara melanggar rambu-rambu lalu lintas di jalan raya, tak berarti motor harus diberangus. Mobil tidak bisa terbang dan motor tidak bisa berenang.

Tujuan politik Islam bukanlah kawin lagi dan korupsi. Korupsi dan kawin lagi bukan asas-asas maupun cabang politik Islam. Kalau ada politisi Islam yang begitu, ya itu cuma kelakuan orang-orang aja, namanya juga manusia. Mereka juga bukan sedang menjual agama mereka sebab agama bukan barang dagangan dan mereka bukan pedagang. Agama tidak ada harganya (bukan tidak berharga) dan tidak bisa ditakar dengan rumus-rumus ekonomi. Agama tidak dijual di pasar swalayan.

Sebuah usaha penerbitan yang mencetak al-Qur’an tidak dapat kita tuduh sebagai “menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah”. Penerbit-penerbit itu tentu tidak pernah membayar royalti dan berebut hak cipta. Ayat-ayat Allah memang bukan novel karya manusia. Salah memahami kata “menjual” di sana, kita bisa salah menghardik penerbit-penerbit itu dengan macam-macam makian.

Hal lain yang sering kita dengar ialah ungkapan: “jangan membawa-bawa agama ke dalam politik!”. Dan lalu? Kita harus simpan-simpan agama? Ini juga keliru. Sesuatu yang bisa dibawa dan disimpan tentu saja sesuatu yang bisa terpisah dari kita. Seperti baju yang bisa kita pakai dan kita lepas. Atau batu yang bisa kita bawa atau kita buang. Atau juga istri yang bisa kita ajak atau kita tinggalkan. Tapi agama bukan baju, bukan batu, dan bukan istri. Agama tidak serta merta bisa dipakai, dibawa, diajak, dilepas, disimpan, atau ditinggalkan. Istri juga tidak serta merta bisa disimpan, dibawa, dipakai, dan dilepas. Agama, baju, batu, dan isteri merupakan hal-hal yang berbeda dan kita perlu menempatkan hal-hal itu pada kewajarannya. Kita tidak bisa menyimpan isteri dan mengangkut agama. Atau mengajarkan batu dan mengajak pakaian.

Islam ialah sesuatu yang bersama kita. Bukan dalam tubuh jasmani kita, tapi dalam jiwa kita. Ia adalah cara berfikir kita dan cara memandang kita terhadap dunia. Di kamar mandi atau pun di dalam kereta api, kita tetaplah seorang muslim. Berdosa di parlemen atau pun berdosa di masjid tetap saja dosa. Beramal di pasar atau di dalam kamar tetap berpahala. Agama (Islam) tidak untuk dijual, disimpan, dibawa-bawa, atau dilepaskan.

Kalau ada yang menjual agama, dia salah memahami agama, dan dia tidak memahami apa itu jualan. Sebab yang dijual itu biasanya semacam singkong dan beras. Orang memang bisa meraih keuntungan dengan memanfaatkan agama tapi kalau kita kemudian melihat agama seperti roti atau beras, itu jelas keliru.

Kalau pantulan cahaya dari sebuah cermin terlihat redup, jangan dulu salahkan cahayanya. Bisa jadi memang cerminnya yang kusam.

Tulisan Terkait (Edisi Politik)

IKLAN BARIS