• Ikuti kami :

Menjernihkan Fikiran, Menata Perasaan

Dipublikasikan Ahad, 30 Juli 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Kita harus akui secara terbuka bahwa akhir-akhir ini kita agak ugal-ugalan dalam cara merasa dan berfikir. Rumus-rumus akal sehat sering kali kita kesampingkan, perasaan benci atau fanatik kita kedepankan. Ketidaksehatan sosial dan sumbatan-sumbatan kebudayaan mengendap dalam hidup kita. Ada ketidaknyamanan dalam hidup kita.

Boleh jadi sebabnya banyak, tetapi salah satu pendorongnya adalah pemilihan presiden (pilpres) 2014. Adu dukungan dan bombardir pendapat saling bersilangan tak sudah-sudah, khususnya di media sosial. Sampai pilkada DKI tahun ini, keugal-ugalan kita semakin menjadi. Kata-kata merendahkan, ejekan, serta saling sindir sampai saling hina bertebaran. Kebohongan dan “berita hitam” berseliweran nyaris menguasai kewarasan kita. Saling sangka tanpa pembuktian menjadi kebiasaan.

Syukurnya, pilpres dan pilkada DKI sudah berlalu. Ada jeda sebelum 2019 datang. Ada baiknya juga, dalam suasana yang sedikit lebih tenang ini, kita merenungkan yang telah terjadi dan melihat ke dalam. Mari melihat laman media sosial kita selama dua atau tiga tahun ke belakang. Apa saja yang telah kita bagikan dan apa saja yang telah kita katakan di muka umum? Apa yang sebenarnya telah kita lakukan dalam dua atau tiga tahun ini? Dengan keterbukaan dan kejernihan diri, mari kita timbang jejak-jejak pikiran kita.

Setidaknya ada beberapa catatan yang patut kita perhatikan bersama. Kita sering kali mudah dimain-mainkan menggunakan kata atau tanda lain yang mengaduk perasaan. Kita mudah jatuh tak suka, mudah pula menjadi pembela utama. Pada pilpres yang lalu, sebagian dari kita mengalami hal ini. Menjadi fanatik calon tertentu dan menjadi pembenci calon lainnya. Boleh kita renungkan, apa penyebab kefanatikan dan kebencian kita itu? Apa benar-benar karena dua sosok yang berlomba di pilpres atau karena ada hal-hal lain?

Mudahnya perasaan kita menjatuhkan penghakiman kepada sesuatu hal, telah menutup kesempatan fikiran kita untuk berlaku wajar. Fanatik dan kebencian telah membuat nalar yang sehat tersumbat. Kita tak lagi dapat melihat semuanya dengan tertib dan saksama. Kita sering kali marah atau senang terlebih dahulu, baru berfikir. Kebencian dan sikap fanatik pula telah membuat kita membangun timbunan praduga yang kita percayai tanpa melalui prosedur pembuktian yang memadai. Kita yakin bahwa suatu ancaman dari sebuah kelompok telah menguasai hari-hari kita tanpa pernah membuktikan keberadaannya secara pasti.

Praduga tanpa pembuktian ini telah mendirikan takhayul-takhayul dalam jiwa kita. Kita membayangkan ada bahaya besar yang mengancam kita, bahaya yang datang entah dari mana, bahaya yang tak pernah kita buktikan secara memadai. Kita membangun kecemasan kita sendiri sehingga menakar kenyataan dengan sangkaan-sangkaan yang belum tentu benar.

Lantas, di atas keadaan jiwa yang tegang itu, orang-orang menyirami kita untuk terus bergerak, mengipasi kecemasan agar kita melawan atau mendukung sesuatu. Kita diombang-ambing dari suatu permainan ke permainan lain. Kalau tidak, kita dipaksa membeli sesuatu dengan dalih fikiran tertentu. Dalam ketegangan dan kecemasan, kita telah menjadi pasar, kita telah menjadi alat permainan kekuasaan. Fikiran kita diperebutkan sembari dijauhkan dari kesadaran.

Di sisi lain, kita dipaksa membeli sesuatu dengan dalih fikiran tertentu. Dalam ketegangan dan kecemasan, kita telah menjadi pasar, menjadi alat permainan kekuasaan. Fikiran kita diperebutkan sembari dijauhkan dari kesadaran. Kita terus bekerja mengumpulkan uang untuk membeli segala macam benda, barang, dan jasa yang kadang-kadang tidak benar-benar kita perlukan.

Perasaan yang tak terarah dan fikiran yang kalut merupakan suatu gejala zaman yang timbul dari banyak ketidakpastian, ketidakyakinan, keragu-raguan, dan ketiadaan pegangan. Kita seperti telah lupa cara untuk berfikir dan merasa secara wajar.

Keterancaman dan khayalan telah membuat kita membangun benteng-benteng pertahanan, menutup diri dari sekian kenyataan. Kalau tak begitu, kita melarikan diri kepada dunia khayalan yang jauh dari kenyataan. Bukan hanya takhayul berupa jin dan kekuatan-kekuatan ajaib dari benda tertentu, melainkan juga takhayul tentang kecantikan, ketenaran, gaya hidup, globalisasi, dan lain sebagainya.

Gejala budaya semacam ini tentu perlu dipertimbangkan dan dihadapi dengan lebih tenang. Keterburu-buruan mengambil keputusan dan kesimpulan disertai kecepatan untuk melupakan persoalan, secara perlahan, harus dikurangi. Menimbang sampai tahap yang memadai (yakin) dan membangun rasa yang pantas atas sebuah hal perlu dikembangkan dengan wajar.

Allah Subhanahu wa taala telah memberi kita jiwa sebagai bekal untuk hidup. Kita memiliki kemampuan untuk mengenali diri. Kita memiliki kemampuan akliah untuk mencerap berbagai kenyataan. Jiwa kita berhubungan dengan jasad, dan ada suatu entitas dalam diri kita yang kelak akan melepaskan diri dari jasad. Jiwa merupakan sesuatu yang tak terlihat dan tak teraba. Mengenalinya di dunia yang penuh kecemasan dan kekhawatiran macam ini tidaklah mudah. Kita diombang-ambing berbagai tipu daya, tanpa kuasa untuk bertahan dan bersandar pada suatu hal.

Kemampuan untuk mengenali diri, mengenali jiwa, dan memahami akal perlu kita tajamkan. Kesadaran kemanusiaan kita, sebagai hamba sekaligus khalifah, perlu diulik baik-baik. Kita harus menggali kedirian kita, menemukan diri yang berdaulat di atas beragam kenyataan yang menyerbu hari-hari. Fikiran kita harus teguh dalam gelombang arus kata-kata yang menderas tak henti-henti. Pada akhirnya, kita dapat sujud secara paripurna di hadapan Allah Yang Esa dengan kesadaran penuh akan kemanusiaan kita.

Kami dari Nuun.id mengajak para pembaca sekalian untuk mengenali persoalan-persoalan dalaman kemanusiaan kita. Patut rasanya, sepekan ini, kita, secara perlahan dan sabar, mencoba menimbang diri; mengurai diri kita dalam kenyataan sehari-hari; melihat kedudukan kita secara jernih dan melihat hubungan-hubungan antara kedudukan kita dengan kedudukan kewujudan yang lain; melihat fikiran, perasaan, dan diri kita yang berlaku di keseharian.

Mari mengenali diri, memikirkan kenyataan, dan merasakan keseharian dengan saksama.


Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS