• Ikuti kami :

Menjadi Insan Logis, Retoris, dan Dialektis Jelang 2019

Dipublikasikan Ahad, 06 Agustus 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Ikhtiar Berpikir Runtut, Bicara Patut, dan Saling Tuntut

Pernah suatu masa, umat Islam berpolitik dengan elegan dan bermartabat. Mereka turut berdebat tentang dasar negara, mulai dari penyusunan Undang-Undang Dasar dengan Piagam Jakarta sebagai pokok pangkalnya hingga perdebatan di konstituante yang sayangnya tak tuntas dan terhenti dengan terbitnya dekrit presiden 1959. Tentunya ada kekecewaan. Saat itu, penerbit dekrit memberikan hiburan dengan pernyataan, “Piagam Jakarta menjiwai UUD NRI 1945.”

Reformasi memberikan angin segar bagi umat, khususnya terkait positivisasi syari’at. Hampir semua partai islam dan berbasis Islam menjadikan syari’at islam sebagai jargon perayu pemilih. Roda waktu berputar, partai pengusung positivisasi syari’at satu per satu undur diri dari gelanggang hingga wacana itu makin lamat-lamat. Kalaupun ada yang setia dengan jargon tersebut, terseok-seok di dasar klasemen, tak melampaui parliamentary threshold. Partai islam yang lain tak kunjung selesai dengan dirinya, baku hantam dengan sudara sendiri serta saling berebut legalitas dan representasi. Jangankan memikirkan keumatan, melerai saudara serumah pun tak kunjung berhasil.

Trend negatif ini sejalan dengan hilangnya nama-nama besar potensial umat, sebagian tersandung hukum, ada yang tidak istiqomah, dan berbagai sabab lain. Dalam dua pemilu terakhir, praktis, umat islam hanya menjadi penggembira, menjadi follower, bukan lagi trend setter seperti masa kemerdekaan, tahun 50-an, dan masa peralihan reformasi 98.

Kini, Kita terpaksa memberikan label Islam pada tokoh yang bukan secara organik lahir dari rahim politik umat islam. Mereka memang muslim, tapi tak benar-benar islami dan paham benar hajat hidup umat Islam.

Partisipasi politik umat di parlemen pun kian menyusut. Akhirnya, jalan yang dipakai adalah jalur non-negara. Umat berkerumun di jalan-jalan, di lapangan terbuka, dan meramaikan media sosial. Ada trend menggembirakan. Umat mulai menanggalkan sekat-sekat ideologis mazhab, ormas, dan partai. Mereka menyatu dalam satu rasa dan prinsip: keimanan. Pertanyaannya: efektifkah? Mampukah kita membungkam pengkritik yang bilang bahwa kerumunan itu hanya buih-buih di lautan?

Jika mau jujur menilik ke dalam raga umat, melakukan autokritik, kita telah keliru merasa dan keliru berpikir. Kita keliru dalam mengekspresikan gagasan searah, lebih jauh lagi menjadi kekeliruan dalam komunikasi dua arah.

Dewasa ini, kita disuguhi berbagai perbincangan, jual beli gagasan, dan perdebatan di ruang publik yang jauh dari kata berkualitas, baik dari segi konten maupun kemasan. Problem tersebut bertitik pangkal pada ketiadaan atau lemah dalam berpikir runtut dan berbicara patut serta saling tuntut. Suatu kondisi umat belum mampu memenuhi kriteria logis, retoris, dan dialektis.

Berbincang-bincang soal berpikir runtut, semenjak 2014, kita seperti hidup dalam keterancaman. Orang mengipasi kecemasan akut yang kita derita. Kita menjadi pasar dan alat. Benci dan fanatisme dikedepankan, rumus berpikir dikesampingkan. Ada ketidaknyamanan dan sumbatan kebudayaan, praduga dan syak wasangka. Kita merasa terancam oleh sesuatu yang tidak benar-benar terbukti. Marah dan senang dahulu, berpikir kemudian. Semuanya mencapai kulminasi, keterburuan mengambil keputusan dan kesimpulan serta kecepatan melupakan persoalan. Titik pangkalnya adalah ketidakmampuan kaum muslim mempraktikkan yang mereka pelajari. Sebagai contoh: di sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu manṭiq, di Kobong, kamar tempat siswa, kita temui pemandangan tak lazim. Beras, kitab, dan ikan asin, bisa berkumpul dalam satu wadah yang sama. Suatu yang musykil diterima, mengingat mereka mempelajari taqsim, klasifikasi.

Kita juga tak mampu bicara patut, terjadi silang pendapat tak berkesudahan sesudah pilpres (pemilihan presiden) 2014 dan pilgub 2017. Kita terbelah pada dua kubu secara diametral dan ekstrem, pembela utama dan pencaci setia.

Selanjutnya, kita bermasalah dalam saling tuntut. Saling merendahkan, mengejek, dan menyindir menjadi keseharian. Kebohongan dan “berita hitam” menjadi kebiasaan.

Ketiganya dapat, secara perlahan, difahami dengan pendekatan ilmu manṭiq, balāghah, dan munāẓarah atau jadal. Kalau istilah orang Barat: logika, retorika, dan dialektika.

I. Berpikir Runtut (Logis)

Aristoteles diakui sebagai peletak batu pertama ilmu Manṭiq (Logika). Porpyrius kemudian menyusun dalil-dalil logika Aristoteles secara sistematis (268--270 CE). Susunan Porpyrus ini disalin dan dilengkapi oleh Atsīruddīn Al Abharī (1265 CE) dalam bahasa Arab dengan tajuk ’Isāghujī. Lalu, muncul ar-Risālat as-Syamsiyyah oleh Najmuddīn Al-Kāṭibī (w 675/1276 CE). Selanjutnya, al-Akhḍarī (w 1546 CE) melakukan penyederhanan dari susunan yang tersebut dalam karya utamanya, Sulam al-Munauraq. Peradaban Barat wajib berterima kasih pada Boethius yang menterjemahkan Isagoge ke dalam bahasa Latin. Proses bernalar warisan Aristoteles yang disempurnakan oleh peradaban Islam sampai pula ke peradaban Barat sehingga mengantarnya menuju zaman modern.

Banyak sekali kajian ilmu manṭiq. Secara umum, ilmu tersebut mencakup:
-          ta‘rīf dan dalīl (definisi dan argumen)
-          idrāk (proses penalaran)
-          ma‘qūlāt (kategori)
-          kuliyat al-khamsah (spesies, genus, differentia, common accidents, dan proper accidents)
-          qiyās (silogisme)
-          khaṭa burhān (sesat pikir)

Ta’rif dan Dalil

Ta’rif (definisi)  yang baik harus mampu men-jam‘u yang semestinya di-jam‘u (mengikat yang semestinya diikat) dan me-man‘u yang semestinya di-man‘u (mencegah masuknya anasir yang semestinya dicegah dan tidak masuk dalam definisi). Contoh definisi yang tidak mampu men-jam‘u (tidak mampu mengikat yang semestinya diikat):

Manusia adalah makhluk primata dan mamalia yang berkulit putih. Definisi ini tidak mampu mengikat orang Negro, Aborigin, Asmat, dan sebagainya dalam label manusia.

Contoh definisi yang tidak mampu mencegah masuknya unsur asing :

Manusia adalah makhluk hidup yang termasuk primata. Karena definisi ini terlalu sederhana, orang utan pun masuk dalam golongan manusia karena dalam definisi ini tidak ditambahkan persyaratan lain yang mampu mencegah masuknya orang utan, siamang, atau gorilla dalam lingkup manusia.

Beberapa komponen ta‘rīf :

  1. Taṣawwur: idrāku mufrodin (mengetahui dan memahami suatu fenomena tunggal--kata). Untuk pendekatan pemahaman, tashawwur dapat diartikan gambaran benak.
  2. Taṣdīq idrāk al-qaḍiyyah (mengetahui dan memahami  kesatuan kalimat--pernyataan).
  3. Qaḍiyyah (preposisi) adalah kalimat yang berisi pernyataan--berita.

Contoh qodiyah: Zaid Berdiri.

Qaḍiyyah terdiri atas tiga unsur:

  • Mauḍu‘ (mubtadā’/‘subjek'): Zaid, dalam balāghah disebut musnad ilaih (sesuatu yang disandari oleh sifat, atribut atau predikat).
  • Maḥmūl (khabar/‘predikat') dalam balāghah disebut musnad. Dalam contoh di atas: berdiri.
  • Thubūtul mahmūl lil mauḍu‘ atau Thubūtul qiyām lil Zaid, adanya atribut atau sifat dan keadaan berdiri yang disematkan pada  diri Zaid, disebut nisbat (hubungan mauḍu‘ dengan maḥmūl), dalam sumber lain dikenal istilah rābiṭah.

Memahami  mauḍu‘ dan maḥmūl secara parsial (tidak paripurna), disebut taṣawwur, hanya faham makna Zaid saja atau berdiri saja. Dengan adanya taṣawwur, timbullah ta‘rīf (definisi).

Memahami mauḍu‘ (Zaid) dan maḥmūl (berdiri) sebagai suatu kesatuan yang utuh dan nisbat (hubungan) antara keduanya (berdirinya Zaid), disebut taṣdīq. Setelah selesai proses taṣdīq, maka dihasilkanlah dalīl (argumentasi).

Contoh redaksi bahasa Arab: Muḥammadun Rasūlullāhi.

Hādhihi qaḍiyyatun  mūjabatun, fa muḥammadun Ṣalla’llāhu ‘alaihi wa sallam mauḍu‘ (ini adalah contoh qadiyah mujabah, Muhammadun SAW adalah mauḍu‘ ‘subjek’) wa Rasūlullāhi maḥmūl (dan Rasūlullāhi adalah maḥmūl ‘predikat’). Faidrāku ma‘na Muḥammadin huwal mauḍu‘ (ketika Anda faham makna kata Muhammad, Anda telah memahami subjek) , wa idrāku ma‘na Rasūlillāhi huwal maḥmūl (ketika Anda faham lafaz Rasulullahi, Anda telah memahami predikat). Wa idrākuka al yaqīniy bi thubūtirrisālati lisayyidinā Muhammadin Ṣalla’llāhu ‘alaihi wa sallam taṣdīq (saat Anda memahami dan yakin atas adanya risalah kenabian dan kerasulan pada diri Muhammad Ṣalla’llāhu ‘alaihi wa sallam, itulah yang disebut dengan taṣdīq ‘membenarkan dengan sepenuh hati’).

II. Bicara Patut (Retoris)

Setelah berpikir secara sistematis (runtut), manusia mesti mengartikulasikan buah pikirnya dengan lisan lalu didokumentasi dengan tulisan. Hal ini menyangkut kepatutan pembicaraan sesuai konteks waktu, tempat, dan lawan bicara (muqṭāḍ al-hal, muqṭāḍ al-maqām, atau muṭābaqah) sesuai dengan prinsip: likulli maqāmin, maqālun (bagi setiap tempat, terdapat pembicaraan yang tepat).
Ujaran yang baik disebut faṣāhah (benar tata bahasanya). Di atasnya, terdapat predikat balīgh (sesuai dengan kaidah balāghah atau retorika).

Khatib Qazwīnī (w 1338) dalam Talkhīsul Miftāh mengklasifikasi Balāghah menjadi tiga:

  1. Ma‘ānī: secara mendasar membahas hubungan musnad ilaih (subjek) dengan musnad (predikat) dari sudut pandang makna. Adapun segi lafaz merupakan tugas gramatika (nahwu). Singkatnya, ma‘ānī adalah ruh gramatika. Dalam ma‘ānī, didedah pula khabar dan insya’ (ujaran atau berita dan perintah), ījāz dan itnāb (ringkas dan panjang ujaran), dan lain sebagainya.
  2. Bayān, mempelajari berbagai gaya bahasa; haqīqat dan majaz (denotatif dan konotatif), isti’ārah (metafora), dll..
  3. Badi': ilmun bihi wujuhu tahsinil kalam, ilmu tentang seni memperindah pembicaran. Di dalamnya, terangkum keelokan lafaz dan keelokan makna, bahasan tindak plagiat, teknik mengutip, dan sebagainya.

Masyarakat Nusantara sedari dulu telah mempelajari ilmu-ilmu ini, jauh sebelum politik etis didengungkan oleh van Deventer pada 1901. Buku pegangan bagi murid pemula dalam balāghah adalah Jauhar Maknun (Al Akhdori); tingkat berikutnya: Uqudul Juman (Assuyuthi, w 1505 CE)

III. Saling tuntut (dialektis)

Saling tuntut merupakan tahap ketiga setelah berpikir runtut dan bicara patut. Yang saya maksud adalah saling menuntut dalil dari lawan bicara. Saling tuntut sudah pada level dialog, berbeda halnya dangan dua yang pertama, masih monolog. Pada tahap ini, kedua pihak saling mendakwa, ber-mu’arodloh, saling gugat, dan ber-mujadalah. Ilmunya disebut ilmu jadal atau munāẓarah. Pemeran dalam dialog ini terdiri dari dua: mustadil dan mu’taridl (pro dan kontra). Pada level dasar, diatur etika mufti dan mustafti, pemberi fatwa dan pemohon fatwa. Khazanah modern mengistilahkan dialektika, kata bersifat dialektis. Khazanah keilmuan klasik bidang jadal di Nusantara banyak menggunakan sumber Turki Utsmani, di antaranya: Qubrā Zādah (Taṣkubra Zāda) dan Hamāmī Zādah. Di antara nama kitabnya: al-Waladiyyah.

Pada peringatan 100 Tahun almarhum Prof. H.M. Rasjidi, 20 Mei 2015, di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Prof. Jimly Asshiddiqie mengungkapkan, almarhum merupakan guru logika dan filsafat bagi dirinya dan rekan sebayanya, yakni Prof. Yusril Ihza Mahendra. Putra Palembang dan Belitong ini, setiap pekan, sorogan pada sang profesor lulusan Sorbonne dan pengajar di McGill. Seiring waktu berlalu, mereka berdua mewarnai jagat keilmuan negeri ini dengan ujaran dan tulisan yang selalu renyah dan layak konsumsi. Skill tersebut tentu tidak mewujud dengan sendirinya, tetapi tumbuh melalui proses panjang, tak terkecuali melalui interaksi dengan Prof. H.M. Rasjidi dalam hal dasar-dasar logika.

Ruang publik akan kering kerontang, miskin inovasi, dan jauh dari keteraturan tanpa logika, retorika, dan dialektika. Masih ada waktu menata diri. Masih ada kesempatan menyongsong 2019. kita periksa kembali yang telah kita bagikan di media sosial, Facebook, Twitter, Whatsapp, dsb.. Untuk menciptakan perbincangan dan jual beli gagasan yang tertib dan bermutu diperlukan laws of the game, rumus-rumus baku yang terangkum dalam tiga kata kunci: berpikir runtut (logis), bicara patut (retoris), dan saling tuntut (dialektis).

Jakarta, 4 Dzulqa’dah 1438 H (27 Juli 2017)



Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS