• Ikuti kami :

Menilik Nasib Cina Muslim di Indonesia tahun 1938 dalam Pertarungan Stigma Cina Versus Pribumi

Dipublikasikan Selasa, 14 Februari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Bagi seorang peranakan Cina yang memeluk iman Islam, percaya kepada Allah dan Nabi, dari sisi keyakinannya, tentu menyenangkan. Namun, dari sisi budaya dan sosial di masyarakat bisa jadi malah menimbulkan masalah. Soal ini bukanlah hal yang sepele, khususnya di masa lampau. Pada zaman kolonial, terjadi perang pelabelan antara masyarakat inlander dan suku bangsa asing yang ada di bumi nusantara. Kasus tersebut terjadi khususnya dalam hubungan antara masyarakat pribumi dengan orang-orang Cina di bumi nusantara pada masa kolonial.

Pada kira-kira tahun 1930-an, apa yang tersebut di atas memang terjadi. Ada stigma-stigma buruk yang tertanam pada masing-masing kelompok masyarakat saat itu. Dalam tulisan yang kami antarkan ini, misalnya, disebutkan bagaimana masyarakat Cina melihat Islam yang merupakan agama masyarakat pribumi sebagai, “… dianggapnja agama Islam itoe ada agama bangsa Indonesia, atau agama Arab, sehingga memasoeki agama itoe ada sama ertinja dengan meleboerkan diri kepada kebangsaan Indonesia atau Arab ….”

Di sisi lain, pada pribumi, orang-orang bangsa Cina itu dipandang dengan penuh curiga, dan dipaksakan melucuti atribut budayanya. Contoh menarik bagaimana Mak Go, seorang Muslim anggota Persatuan Islam Tionghoa (PIT), dipaksa mengganti namanya dengan Mat Gani, juga pengalaman lanjutnya bagaimana dia dipandang secara bermusuhan oleh masyarakat pribumi. “Ia masoek di satoe masdjid di salah satoe negri di Soematra, sekonjong-konjong datang bebrapa orang berkeroemoen-keroemoen datang hendak memoekoelinja.”

Jadilah orang Muslim dengan ras Cina itu dipingpong sana sini.

Seorang aktivis Muslim yang menjadi anggota Persatuan Arab Indonesia (PAI) menangkap cerita yang dikeluhkan oleh Mak Go dan beberapa temannya yang lain. Sebagai seorang Muslim yang berkewajiban untuk menjaga saudara semuslimnya, apa pun rasnya, ia angkat pena. H Bafagieh, si penulis yang berketurunan Arab itu, mencoba memaparkan persoalan dengan berimbang dan turut menyumbangkan kritik yang membangun kepada kedua belah pihak, yaitu masyarakat Cina dan masyarakat pribumi.

Tulisan ini dikutip sepenuhnya dari majalah Aliran Baru, sebuah majalah yang diasuh oleh para keturunan Arab-Indonesia yang tergabung dalam organisasi Persatuan Arab Indonesia, edisi nomor 4, November 1938, halaman 76—78.
 

Masyarakat Tionghoa dan Islam

Tatkala perserikatan Muhammadiyah mau mengadakan kongresnya yang keseperempat abad di Betawi pada dua tahun yang lalu olehnya telah diminta fatwa daripada ramai, daripada pemuka-pemuka perserikatan, pemuka-pemuka pergerakan maupun dari kaum wartawan dari seluruh pers di Indonesia, supaya masing-masing sama suka mengemukakan pikiran-pikirannya yang agaknya bisa menjadi kebaikannya Muhammadiyah, maupun kebaikannya kaum Muslimin dan agama Islam.

Pada tatkala itu kalau tak lupa, oleh Ketua Besar dari PAI Saudara Baswedan, sudah dikemukakan usul kepada Muhammadiyah supaya di samping usahanya menyiarkan agama dan pelajaran Islam kepada segenap golongan umat dan bangsa di Indonesia ini, agaknya ditaruk[i] perhatian pula kepada masyarakat Tionghoa, masyarakat yang ini waktu sedang di dalam kehausan mencari-cari akan segala sesuatu yang mungkin dipakai guna mendidik pri lembaga dan tabiat manusia dari jurusan batin.

Dikemukakan usul itu oleh saudara ketua supaya di samping persarikatan-persarikatan Islam yang asyik membicarakan segala macam soal furu’, soal khilaf  dan soal titel, agaknya ada pula persarikatan Islam yang sebagai Muhammadiyah, tujukan pikiran dan perhatiannya kepada masyarakat yang selama ini dilalaikan orang, lantaran masing-masing sama sibuk bertengkar-tengkaran sesama sendiri!

Usul itu oleh Muhammadiyah sudah diterima dengan baik, walaupun sampai kepada saat ini belum lagi ada kesempatan rupanya akan mempraktikkannya.

Sekonyong-konyong dari Sumatra ada tiba ke Jawa ini akan utusan-utusan dari Persatuan Islam Tionghoa di sana, terdiri dari saudara-saudara bangsa Tionghoa pula, datang keliling ke seluruh negeri untuk menyiarkan agama Tuhan kepada segenap bangsa Tionghoa yang menjadi perhatian seluruh umat Islam yang insaf dan sadar akan kepentingan bangsa itu buat berdiri di sebelah kita, berpimpin jari dengan tidak sesuatu dinding yang memisahkan lagi.

Tak heran kalau kedatangannya itu oleh segenap umat Islam sudah disambut. Pujian dan syukur ke hadirat Tuhan tak lupa diucapkan, mengingat yang dari bangsa Tionghoa sendiri sudah ada kawan sekutu di dalam pergerakan yang dengan susah payahnya sudah bekerja meringankan beban yang jadi tanggungan seluruh kaum Muslimin itu.

Akhirnya tiba di kota ini tiga utusan dari Persatuan Islam Tionghoa itu, terdiri dari saudara Lim Kie Chie. Voorzitter[ii] HB PIT, saudara Mak Go, anggauta HB, dan seorang saudara muda Koeiy Gok Thien yang pandai di dalam bahasa Tionghoa.

Kepada ketiga saudara ini banyak saya berbicara, banyak saya bergaul dan berkumpul selama seminggu saudara-saudara itu tinggal di sini.

Dari pergaulan beberapa hari itu banyak pula saya mendapat pengetahuan akan sikap umumnya masyarakat Tionghoa terhadap Islam.

Pengetahuan saya itu makin boleh saya perluaskan lagi, setelah saya gabungkan dengan perhubungan yang selama ini ada, antara kita kaum PAI di sini dengan banyak sekali kawan dan sahabat Tionghoa dari golongan PTI (Partai Tionghoa Indonesia) yang umumnya sama bersikap netral terhadap suatu kepercayaan di dalam agama itu!

Pada beberapa sahabat Tionghoa yang muda-muda, yang umumnya sama tidak percaya sama agama, banyak pula yang berbicara pasal agama, berbicara tiada guna berdebat, tapi semata-mata hanya untuk mengetahui akan kandungan hati mereka itu!

Tetapi di samping persahabatan dan percakapan pada mereka yang Vrij Denker[iii] itu ada pula bagi saya beberapa kawan Tionghoa yang berpegang teguh kepada agama Tionghoa yang asli, antara siapa saya ada bersahabat karib pula kepada seorang Tionghoa yang kenamaan, yang jadi voorzitter dari salah satu rumah toapekong[iv] di sini.

Dari sahabat saya yang belakangan ini banyak saya mendapat pengetahuan tentang sesuatu yang mengenai agama Tionghoa, bahkan satu tempo tersurung[v] oleh nafsu ‘ingin tahu’ saya telah pernah masuk pula ke toapekong, menyaksikan dengan mata saya sendiri akan upacara yang dibikin oleh golongan Tionghoa di rumah kelentengnya itu.

Dari semua ini pengalaman dan pergaulan, percakapan dan perhubungan, sedikit banyak saya dapat menebak-nebak dan mengira-ngira, bahwa dalam masyarakat Tionghoa ini waktu, walaupun perkara agama itu acap kali menjadi pembicaraan, tetapi tiadalah masyarakat itu memandang munkar, kalau ada antara anggauta sekutunya yang tidak beragama, yang mau memeluk lain agama, yang tidak mau percaya lagi pada segala agama, bahkan masing-masing boleh memilih agama mana saja yang dikehendakinya.

Tapi walaupun begitu, bagian yang terbesar dari masyarakat Tionghoa masih teguh berpegangan agama yang asli dari Tiongkok, agama yang bernabikan Confusius.

Sungguhpun yang berpegangan agama ini, banyak di antaranya yang sekedar ikut-ikutan saja, sekedar oleh adanya kepercayaan yang meliputi di sekelilingnya: bahwa agama Confusius itu ada sebagai kebudayaan Tionghoa yang harus dijunjung, tapi, tidak bisa disangkal, bahwa golongan yang terbesar sama terlibat semuanya ke dalam gelanggangnya ini agama asli dari Tiongkok.

Golongan yang terpelajar dari masyarakat Tionghoa yang terdiri dari “perangkat yang baru” banyak di antaranya yang tidak menaruk kepercayaan lagi pada sesuatu agama, dikatakannya golongan yang memeluk agama itu, golongan yang kuno, golongan ortodoks, dan lain-lain lagi sebagainya.

Lantas ada golongan lain lagi yang jumlahnya keliwat banyak pula, golongan mana dengan berduyun-duyun telah memasuki agama Kristen, agama officieel[vi] yang dipeluk bangsa Barat ini waktu!

Kristen agama bangsa Barat, sehingga memeluk agama itu seolah-olah dianggapnya satu tindakan yang harus dilintasinya pula untuk menebalkan semangat kebaratan yang pada dewasa ini kelihatan tengah berkembang dengan keliwat subur sekali dalam kalangan bangsa Tionghoa di sini.

Agama Kristen dapat menarik banyak golongan Tionghoa, lantaran sifat upacara yang kedapatan di dalam agama itu pun lahirnya ada selaras pula dengan aliran dari modernism Barat itu waktu.

Pergi ke gereja bersama famili, duduk di atas kursi, bernyani-nyanyi, ditambah dengan suara musik yang merdu pula…..!!

Dalam pada itu, memeluk agama Kristen, tidak ada banyak perobahan yang akan berlaku dalam pergaulan antara sesama famili yang masih memeluk agama Tionghoa yang asal, ditambah lagi sikap masyarakat Tionghoa pun tidak memandang hal itu sebagai perbuatan luar biasa yang harus diribut-ributkan, malah dianggapnya bahwa perkara itu lumrah, tidak ada sesuatu apa, dan tidak ada gado dalam kalangan sendiri antara sesama kawan.

Berhubung dengan semuanya ini, kemudian ditambah lagi dengan giatnya propagandisten[vii] Kristen berpropaganda, maka berduyun-duyunlah bangsa Tionghoa yang masuk ke dalam agama Kristen itu, makin hari makin tambah banyak, kian lama kian menjalar. Akhirnya di sana sini lantas ada Sekolah Tionghoa Kristen (Chin Christelijke School), lantas ada Pinkster-Gemeente[viii], lantas ada Balatentara Keselamatan, terpencar dalam segala sudut dan gang di kampung-kampung Tionghoa!

                                                                                ***

Umat Islam yang sama menyaksikan semuanya ini, tidak ada yang berbuat sesuatu, diantapkannya keadaan itu berjalan dengan tidak ada yang memikirkan cara bagaimana mesti adakan propaganda Islam dalam kalangan Tionghoa yang sebesar itu.

Sedangkan demikian, masyarakat Tionghoa pun ada mempunyai pemandangan yang agaknya ‘salah terka’ terhadap agama Islam, pemandangan yang hakikatnya ada keliru, jauh dari kehendak Islam yang sejati!

Dianggapnya agama Islam itu ada agama bangsa Indonesia, atau agama Arab, sehingga memasuki agama itu ada sama artinya dengan meleburkan diri kepada kebangsaan Indonesia atau Arab.

Kepercayaan yang sebagai ini makin bertambah kuat lagi, setelah ada beberapa orang Tionghoa yang masuk Islam, dan orang-orang itu oleh masyarakat Islam dipaksa mesti ganti nama, tidak diizinkan memakai namanya asal.

Yang nama Mak Go diganti dengan Mat Gani, umpamanya! Lim Kie Chie diganti dengan Muhammad Marzuki, Giok Thien dengan Tadjuddin, dan begitu seterusnya!

Kemudian lantas tiba kepada soal pakaian, di mana bangsa Tionghoa yang biasanya bertopi dan berpantalon[ix], mesti diganti pula semuanya dengan peci dan surban sewaktu mereka bersembahyang di masjid atau langgar.

Datang lagi kepada soal istri, di mana nyonya-nyonya Tionghoa yang pada dewasa ini sama mengikuti jejak bangsa Barat, agaknya mereka-mereka itu mesti dipingit pula, diberi kerudung dan tidak diizinkan bercampur gaul pada fihak lelaki sebagaimana yang berlaku pada dewasa ini dalam kalangan masyarakat Islam.

Kepercayaan yang sebagai ini ada hinggap dalam kalangan masyarakat Tionghoa umumnya!

Sebetulnya bagi kita tidak boleh terlalu disalahkan pada masyarakat Tionghoa yang mempunyai faham dan pemandangan sebagai itu terhadap Islam.

Sebabnya ialah: dalam kalangan umat Islam sendiri ada kedapatan banyak sekali golongan yang fanatik, memaksakan seseorang Tionghoa yang masuk agama Islam, akan berlaku dan berbuat sebagaimana yang terlukis di atas.

Dipaksanya bangsa Tionghoa yang Islam itu akan mengganti namanya, mengganti adat istiadatnya, merobah pakaiannya, merobah bahasanya, merobah pergaulannya, tidak diperbolehkan masuk masjid melainkan sesudah hunjukkan[x] surat keterangan bahwa dia betul-betul ada seorang Islam.

Saudara Mak Go, anggauta HBPIT yang tengah di dalam perjalanannya mempropagandakan Islam itu, telah menyatakan keluh kesahnya kepada saya, menceritakan bahwa ia sendiri telah pernah mengalamkan satu kejadian yang sangat memanaskan hatinya. Ia masuk di satu masjid di salah satu negeri di Sumatra, sekonyong-konyong datang beberapa orang berkerumun-kerumun hendak memukulinya, dikatakannya: “Ada Cina masuk masjid!!!” Beruntung Saudara Mak Go dapat membuktikan bahwa ia seorang Islam, yang mempunyai hak penuh memasuki segala masjid dan surau sebagai juga mereka itu!

Saudara Abdulhadi, Voorzitter Muhammadiyah Surabaya, juga telah ceritakan, yang sekali peristiwa ada datang seorang Tionghoa Islam itu berbicara dengan memakai bahasa Jawa Kromo, lantaran oleh yang mengislamkannya, ia telah diberi anjuran, supaya ia berbuat begitu kalau berbicara pada sesama saudara Indonesi-ers.

Di samping semua ini, banyak pula orang Islam yang mau berlaga menjadi khalifah menanyakan seseorang Tionghoa yang Islam itu akan sembahyangnya, akan puasanya, akan iman dan kepercayaannya, seolah-olah Islam itu ada hak monopoli mereka, tidak boleh lain bangsa mengaku Islam, apabila belum diperiksa akan lahir batinnya dan surat keterangannya.

Lantaran adanya semua ini kefanatikan yang menjemukan dalam kalangan umat Islam, maka tidakkan heran kalau masyarakat Tionghoa sudah menaruh anggapan sebagaimana yang saya ceritakan di atas. Akhirnya masyarakat Tionghoa sama lari semuanya daripada menyelidiki hakikat Islam dan pelajaran Islam, sedang kalau ada satu dua yang tertarik, itupun tidak berani pula dinyatakan akan kandungan hatinya, khawatir kalau-kalau bisa menerbitkan kegemparan dalam kalangan sendiri, sementara umat Islam sendiri pun nanti masih ada yang mau meragu-ragukan lagi akan keislamannya.

                                                                                ***

Syukur sekarang bahwa di dalam kalangan Tionghoa sendiri di sini telah timbul kesadaran!

Sengaja saya pakaikan perkataan: “di sini” lantaran kesadaran dari bangsa Tionghoa itu sebenarnya sudah timbul semenjak dari abad yang pertama dahulu dari wafatnya Nabi, timbul menjalar di benua Tiongkok sebelum kesadaran itu timbul di tanah air kita ini.

Saudara-saudara dari PIT yang bermaksud mau mempropagandakan Islam di dalam kalangan Tionghoa itu, mereka sampai tahu akan keadaan yang sebenarnya dari masyarakat Tionghoa terhadap Islam, keadaan sebagaimana yang telah saya lukiskan di atas.

Kesukaran dan kesusahan akan menanamkan bibit Islam kepada masyarakat Tionghoa memang nyata terang sekali, kesukaran yang mana agaknya sukar pula akan dilenyapkan, sebelum terlebih dahulu orang memberantas akan anggapan yang keliru terhadap Islam di dalam masyarakat Tionghoa itu.

Dasar Islam yang mesti dihidangkan kepada masyarakat Tionghoa ini waktu, pun tidak pula boleh dilakukan oleh segala propagandis yang asal tahu akan erti[xi] dan makna beberapa ayat dari al-Quran dan hadith, bahkan selanjutnya propagandis yang menyediakan dirinya untuk menemui masyarakat itu, seharusnya ia mesti tahu akan segala sesuatu yang oleh agama diharamkan karena ia memang haram, dan mana yang diharamkan cuma semata-mata untuk menjaga kiranya orang itu jangan ketarik kepada sesuatu perbuatan yang jadi larangan agama dengan nash yang terang-terang.

Bercampur gaul antara lelaki dan istri umpamanya, ia tidak diharamkan semata-mata lantaran adanya pergaulan dan percampuran antara kedua jenis makhluk itu, tetapi melulu cuma lantaran dikhawatirkan, kalau-kalau antara kedua jenis makhluk itu timbul nafsu birahi yang keduanya sama tak kuasa akan mencegah nafsunya daripada perbuatan yang tidak diizinkan.

Dus, ia dicegah, bukan semata-mata lantaran fihak lelaki itu memang tidak dibolehkan kumpul pada fihak istri, tetapi semata-mata cuma guna menjaga diri. Tegasnya kalau seseorang itu yakin, bahwa ia kuasa akan menjaga dan menahan nafsu hatinya daripada melakukan perbuatan yang tidak diizinkan, maka yang demikian itu masih jadi pertanyaan lagi akan haramnya[xii]!!

Lantaran hal yang begini di dalam Islam ada banyak, sedang yang kelihatan dari kegemaran masyarakat Tionghoa kepada pelbagai macam tingkah dan gaya yang serba kebaratan itu umumnya masih boleh disesuaikan dengan pelaturan[xiii] di atas di dalam Islam, maka bagi seseorang Tionghoa yang semodern-modernnya tiadalah nanti ia akan mendapat sesuatu yang rasanya agak janggal di dalam pergaulan sehari-harinya, apabila ia telah memeluk agama Islam.

Islam made in Najed, made in Yemen of Hadralaut[xiv], memang ... rasanya keliwat sukar sekali buat bisa mendapat jalan dimasukkan kepada masyarakat Tionghoa di sini. Tetapi di samping itu bukankah masih ada lagi di hadapan kita: Islam made in Turki, Islam made in Irnan[xv], made in Iraq, made in Egypt ... yang kesemuanya agaknya dengan mudah bisa dibentukkan kepada sikap pergaulan dari bangsa Tionghoa yang serba kebaratan itu?

                                                                                ***

Ini semua keadaan, dan ini semua kesukaran bukan tidak diketahui oleh saudara-saudara utusan dari PIT yang tengah berkemas hendak memasukkan aliran Islam kepada masyarakat Tionghoa di sini itu.

Tetapi bagi saudara-saudara utusan itu masih ada lain-lain kesukaran lagi yang dikeluh kesahkan, yaitu ande[xvi] kata mereka akan mengambil itu jalan yang paling terutama buat melekaskan tersebarnya Islam di kalangan Tionghoa dengan tidak begitu menghiraukan pada soal-soal furu’, nanti antara kaum Muslimin lantas ada yang bikin ribut, mengatakan bahwa saudara-saudara dari PTI itu telah sesat, tersasar jalan berbuat bid’ah, tidak menurut pelajaran Islam yang sejati, dan lain-lain sebagainya seperti kebiasaannya kaum Muslimin di sini yang umumnya mudah melempar orang-orang dengan rupa-rupa tuduhan yang berat-berat.

Kalau ini sampai kejadian, tentu ia bakal menghalangi akan pesatnya kemajuan bagi PIT sebagaimana yang diharapkan, hal yang mana tentu tidak diinginkan oleh siapa juga dari pemuka Islam yang sadar akan kepentingan adanya PIT buat meneruskan jejaknya.

Berhubung dengan tersebut, perlu sekali pemuka Islam dari segala partij[xvii] dan golongan suka menunjang pikiran dan tenaga pada PIT membantu kerjanya dengan memikirkan dalam-dalam akan segala sesuatu yang mungkin bisa menghemat akan perjalanannya.

Soal ini ada soal umum, yang perlu mendapat perhatian dari seluruh pergerakan Islam di mana-mana tempat!


[i] ditaruh

[ii] ketua

[iii] Orang yang tidak mengakui ajaran agama

[iv] kelenteng

[v] Tersorong/terdorong

[vi] Agama resmi

[vii] Propagandis

[viii] Kegiatan Pantekosta

[ix] Celana panjang pantalon

[x] menunjukkan

[xi] arti

[xii] (sic!, red)

[xiii] peraturan

[xiv] Yang dimaksud dengan Islam made in Najed, made in Yemen of Hadralaut, dan Islam made in Turki, Islam made in Irnan, made in Iraq, made in Egypt adalah kebudayaan dan peri kehidupan masyarakat tempat-tempat itu yang diislamkan. (red).

[xv] Iran

[xvi] andai

[xvii] organisasi


Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS