• Ikuti kami :

Menikmati Dialog Masa Lalu dan Masa Kini: Resensi Ringkas Novel Jejak Cahaya dan Air Mata

Dipublikasikan Jumat, 25 Agustus 2017 dalam rubrik  Peristiwa

Judul Buku : Jejak Cahaya dan Air Mata
Penulis : Nexhma Sheera
Penerbit         : Pustaka Hujjatul Islam (Depok), 1438/2017

Sastra dan sejarah seringkali tak dianggap penting dalam kehidupan manusia. Teknologi, industri, politik, olahraga dan hal-hal lain yang lebih zahir kerap ditempatkan sebagai pokok kehidupan manusia yang berada di atas sastra dan sejarah. Pandangan semacam itu boleh jadi hadir karena perhatian terhadap yang zahir lebih menarik manusia dari hal yang batin. 

Jiwa manusia sesungguhnya amat erat kaitannya dengan sastra dan sejarah. Melalui sastra kita dapat membangun daya khayal yang khas. Sementara sejarah dapat menimbulkan kesadaran akan waktu: masa lalu, masa kini dan masa depan. Keduanya berperan mengukuhkan kedirian (identitas) seseorang. Kemampuan mempertahankan kedirian dari gelombang beragam budaya yang mendesak kita akhir-akhir ini amat bergantung pada kekokohan pemahaman seseorang akan akar dirinya. 

Sastra sering dianggap sebagai cerminan kehidupan. Sebuah karya sastra merupakan tampilan simbolik dari pengalaman pengarangnya. Akan tetapi, sastra bukan hanya dapat menggambarkan pengalaman yang dialami penulis. Pengalaman yang tak dialami penulis pun dapat disajikan dalam sebuah karya sastra. Novel sejarah misalnya. Sesuatu yang terjadi pada waktu lalu, bahkan berabad lalu, dapat kembali dihadirkan melalui kemampuan khayali pengarang. Alam fikiran kita dapat diajak bertamasya menelusuri masa lalu melalui karya-karya semacam ini.

Novel atau karya sastra sejarah kerap diperlakukan agak sumir, dianggap tak pokok, sekadar khayalan dan tak sama sekali layak dijadikan sumber sejarah. Bahkan karya-karya sejarah tentang raja-raja Melayu atau yang semacamnya kerap kali ditempatkan sebagai mitos, legenda dan hal-hal yang dianggap tak ilmiah. Akan tetapi novel sejarah seringkali memberi rasa yang dalam pada kronik-kronik sejarah “formal” yang kadang kaku dan beku.

Jejak Cahaya dan Air Mata, karya Nexhma Sheera (nama pena Dr. Dinar Dewi Kania), menduduki posisi novel sejarah semacam itu. Penulisnya merupakan seorang Doktor dalam bidang Pendidikan dan Pemikiran Islam dari Universitas Ibn Khaldun. Selain menulis novel, ibu tiga orang putri ini aktif sebagai dosen mata kuliah Filsafat Ilmu di Fakultas Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun; Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS); Jakarta dan juga Direktur The Centre of Gender Studies (CGS). Sebelum menulis novel ini, Bu Dinar pernah pula menerbitkan novel berjudul Misi dari Langit (Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 2013).

Tema-tema yang sering muncul dari industri sastra Islam biasanya berupa persoalan cinta antar dua anak manusia, indahnya perkawinan yang sesuai syariat, kisah-kisah penuh motivasi, kumpulan kisah lucu serta mengharukan dan tema-tema “lunak” lainnya. Tema-tema agak berat memang belum diminati banyak kalangan. Novel ini tentu tidak menjanjikan kisah cinta yang berbunga-bunga sebagai terangkum dalam kalimat “akan indah pada waktunya”. Novel sejarah boleh jadi sesuatu yang agak langka di kalangan umat Islam. 

Dalam novel terbaru karya aktivis perempuan ini, kita dapat menemukan tema yang agak berbeda. Kita dapat membaca bagaimana “rasa” keruntuhan Andalusia yang kerap kurang hadir dalam berbagai karangan sejarah. Kita dapat merasakan kepedihan (sekaligus keteguhan) seorang Muslimah yang terlibat dalam kejadian tersebut. Pergulatan iman, keteguhan dalam tubian coba, dan pentingnya ilmu dalam tumbuh kembang atau runtuhnya sebuah peradaban menjadi tema utama Jejak Cahaya dan Air Mata

Meski berlatar sejarah, kita tak akan terlalu banyak menemui kisah-kisah pertempuran yang menegangkan atau kisah keagungan seorang tokoh. Novel ini didominasi pengalaman (khususnya pengalaman batin) seorang Muslimah yang dengan keimanan dan ketabahannya menerima takdir keruntuhan negeri yang ia cintai: Granada. Segala derita, kemeranaan dan sengsara ia balut dalam iman. Macam-macam kepedihan dan luka tak menggoyahkan keyakinannya terhadap Islam. 

Pengalaman batin seorang tokoh di abad ke-7 tersebut dihadapkan-hadapkan dengan keadaan masa kini secara paradoksal. Keteguhan masa lalu dalam naungan Islam ditampilkan berlawanan dengan kehidupan (Barat modern) di masa kini yang penuh kegamangan dan kehampaan batin. Masa lalu dan masa kini, Barat dan Islam, keteguhan dan kehampaan, serta berbagai fikiran (juga perasaan) tokoh-tokoh dalam novel ini jalin menjalin menyusun keutuhan yang khas. 

Kisah sedemikian mungkin terhasilkan karena “strategi”cerdas Dr. Dinar dalam menata alur dan penokohan dalam novel keduanya ini. Pada awalnya ini adalah kisah tentang Michael R. Gardner, seorang arsitek muda nan sukses dengan perusahaan konsultan lumayan besar di New York. Perusahaannya diterpa krisis dan ia memutuskan untuk pergi ke Spanyol, negeri ibunya. Namun bukan krisis yang membuat lelaki ini pindah ke Spanyol. Dalam novel ini dikisahkan:

“Bukan krisis yang membuatnya meninggalkan Amerika, meski semua orang mengira demikian. Ada panggilan yang entah berasal dari mana. Raul sendiri selalu sulit untuk menjelaskan. Namun, ia sangat ingin mengembangkan bisnis di negeri kelahiran ibunya. Walaupun ada hal lain selain bisnis. Namun ia tak pernah bisa memastikannya.

Kehidupan Amerika telah menggiring banyak orang pada kelesuan dan hidup yang semakin hambar tak bermakna. Orang-orang Amerika selalu didera persoalan yang mereka sendiri tidak pernah benar-benar mengerti. Uang, himpitan gedung-gedung yang menyongsong langit dan kesibukan yang seperti tak pernah berakhir, menghasilkan suasana batin yang sumpek. Sebagian orang berramai-ramai mendatangi pusat-pusat spiritual untuk menenangkan diri. Meditasi dan Yoga menjadi trend baru.

Raul tak sedikitpun tertarik dengan hal-hal semacam itu. Dia pernah mencobanya sekali, tapi ketenangan yang didapatnya terasa semu. Ada persoalan mendasar yang tak dapat diselesaikan dengan meditasi. Ia tak tahu pasti apa yang membuat jiwanya selalu tak nyaman. Dia tak percaya agama apapun dan mendukung pendapat Nietsze yang menganggap agama adalah candu bagi manusia. Namun diam-diam dan tak ia sadari sepenuhnya, Raul merindukan sesuatu yang lebih bermakna dalam hidup” (halaman 7-8).

Raul yang mengalami kehampaan batin sedemikian dalam, “bertemu” sosok lain dari abad ke-15. Bukan hantu atau arwah penasaran tentu saja, melainkan sebuah buku catatan. Ia menemukan buku itu di rumah neneknya, di Madrid. Buku tersebut merupakan catatan harian seorang Muslimah bernama Ayesha Abdurahman. Seorang Muslimah dalam hempasan kehancuran kesultanan Islam di tanah Granada. Pasukan Salib memasuki kota kelahirannya, menghancurkan buku-buku dan memaksanya pindah agama. Tetapi ia teguh, segala penderitaan dan kemeranaan ia jalani dengan tabah. Penuh kesabaran ia mempertahankan iman dalam siksa dan ancaman Inquisisi yang kejam.

Ayesha memulakan catatannya:

“Aku masih berdiri di sini, sendirian, menatap suram dari balik jendela kamar. Dari jauh tampak Istana Al-Hamra, membayang di kedua bola mataku. Pucat, tetapi tetap menunjukan keperkasaannya, walau kematian sekarang sedang bergerak ke arahnya. Langit di atasku mulai dikuasai kegelapan ketika awan-awan kelabu berbaris bagai pasukan yang merangsek dari arah utara. Aku menahan air mata yang hampir meluncur, menyaksikan kota kelahiranku yang sedang sekarat. Dia telah kehilangan nafasnya, kehilangan ruh yang selalu memberikan ketenangan pada penduduknya. Ketakutan kini menggantung di udara bersama awan-awan hitam, mengintai bagai serigala lapar yang siap menerkam jiwa-jiwa yang lemah” (halaman 38-39).

Alur dan penokohan seperti ini menghasilkan keunikan tertentu. Pertama, terdapat dua sudut pandang penulis terhadap dua tokoh. Ketika mengisahkan Raul, penulis menjadi pencerita tokoh ini, sehingga si tokoh dirujuk sebagai “dia”. Raul adalah orang kedua yang sedang diceritakan dalam novel. Namun ketika Raul membaca catatan Ayesha, penulis berpindah menjadi “Aku”. Semua catatan Ayesha yang dibaca Raul menunjukan bahwa penulis berada dalam sudut pandang orang pertama. Nexhma Sheera menjadi “aku” ketika mengisahkan Ayesha.

Dua sudut pandang ini menghasilkan sebuah keterlibatan khayali/imajinatif dalam lintas waktu. Pembaca diajak merasakan segala rasa dan pengalaman Ayesha di abad ke-7. Sudut pandang “aku” terhadap tokoh ini membuat kita sebagai pembaca seolah menelusuri beragam curahan perasaan Ayesha. Nexhma Sheera mengajak kita untuk terlibat dan merasakan berbagai pengalaman subjektif seorang Muslimah di penghujung kekuasaan Granada dan di awal kekuasaan kaum Salib. Narasi-narasi sejarah tentunya amat jarang menampilkan hal-hal sedemikian.

Tentu saja pengalaman subjektif Ayesha ini tidak pernah ada dalam dunia nyata. Tidak ada Ayesha Abdurrahman di Granada pada abad ke-15 Mesehi. Para peneliti biasanya memisahkan mana yang fiksi dan mana yang faktual dalam karya-karya sastra sejarah di masa lalu. Kita tahu bahwa Ayesha ialah fiksi, tapi keterlukaan Muslimah di penghujung Andalusia tentu saja faktual. Yang faktual ini ditampilkan secara fiksional. Kita dapat menemukan “kebenaran-kebenaran fiksional” dalam novel ini. Jika kita dapat menempatkannya secara bijak, kita tentu dapat melihat “kebenaran-kebenaran faktual” keruntuhan Andalusia dengan lebih intens. Data-data sejarah mengenai tahun, tempat dan peristiwa akan mendapatkan aliran “rasa” dari novel ini.

Sementara tokoh Raul yang ditempatkan dalam sudut pandang orang kedua, memberi kita (umat Islam) jarak yang tepat untuk melihat pihak lain dengan lebih berempati. Penggambaran Raul sebagai seorang Ateis yang terjebak dalam kehidupan modern yang materialistik memberi kita ruang untuk memahami “dia yang lain”. Pergulatan batin menuju iman tidak pernah mudah. Apa yang dialami Raul dalam kisah ini tentu saja hanya situasi fiksional yang diciptakan penulis. Namun dari kisah ini kita dapat melihat kegamangan hidup yang tanpa keyakinan.

Penokohan semacam ini menawarkan “dialog” yang menarik antara keteguhan keyakinan dan kehampaan hidup. Diam-diam novel ini telah mengajak kita untuk membahas persoalan yang cukup pelik, dialog antar peradaban. Khususnya dialog antar Islam dan Barat.

Keunikan kedua yang dapat kita rasakan ketika membaca novel ini ialah tentang alur novel. Raul yang hidup di masa kini terhubung dengan Ayesha di abad ke-15 melalui sebuah buku. Kita diajak mondar-mandir dari masa lalu ke masa kini dan kemudian mendialogkan keduanya secara saksama. Novel ini ialah cerita berbingkai dengan alur yang menarik. Kita diajak membayangkan Spanyol di abad ke-15 dan era kini. Pergulatan seorang Muslim dan Ateis di waktu yang berbeda dalam tempat yang sama. Alur semacam ini menghadirkan imajinasi tentang perubahan dan perkembangan peradaban. Spanyol yang dulu dikuasai kesultanan Islam menjadi Spanyol kini yang khas Eropa.

Alur ini pula yang membuat masa lalu dan masa kini terasa akrab. Masa lalu tak lagi menjadi sesuatu yang terpencil dan jauh, tetapi terlibat dan relevan dengan masa kini. Apa yang dirasakan Ayesha beberapa abad silam dapat memberi getaran pada Raul di masa kini. Bagi kita yang membaca, novel ini menghadirkan masa lalu dalam kemasan yang lebih hidup dan manusiawi. Tuturan-tuturan Ayesha Abdurahman berusaha mengalirkan kekuatan iman yang menembusi zaman.

Jika pun ada perangkat yang terasa kurang dalam novel ini, di antaranya ialah penggambaran latar cerita. Baik latar waktu mau pun latar cerita. Bagi pembaca Indonesia, membayangkan Madrid di masa kini tentu harus dilakukan dengan bersusah payah, khususnya bagi mereka yang tak pernah mengunjungi kota ini. Membayangkan “Pukul 7 malam di Madrid, Raul melangkah keluar dari Bandar Udara Internasional Adolfo Suárez Barajas” (halaman 8), jelas tidak mudah. Atau barangkali “Udara pegunungan mengalir dari pegunungan Sierra Nevada, memenuhi ruang jiwanya dengan kesejukan yang sulit didapatkannya di New York” (halaman 108). Eksotika umum Spanyol, seperti matador, yang akrab dengan sebagian orang Indonesia rasanya dapat menolong jika ditambahkan dalam deskripsi latar di novel ini. Atau hal lain yang lebih akrab dengan banyak orang Indonesia: FC Barcelona dan Real Madrid. 

Jejak Cahaya dan Air Mata nampaknya memberi harapan yang cukup baik bagi perkembangan sastra kita di masa yang akan datang. Setidaknya, ikhtiar untuk menampilkan tema-tema peradaban dalam sastra kita telah dimulai. Novel ini mengajak kita untuk keluar dari tema-tema populer yang lebih bersifat pribadi (kisah cinta, perjuangan hidup) menuju tema yang lebih luas, yang membicarakan nasib umat.

Penajaman karakter tokoh, pola-pola dialog yang lebih dalam dan pembahasan masalah-masalah yang lebih filosofis tentu diharapkan hadir pada karya-karya berikutnya. Mudah-mudahan Jejak Cahaya dan Air Mata mampu mendorong para penulis untuk lebih berani membahas tema-tema yang lebih serius. Sebab urusan umat ini bukan sekadar masalah perkawinan dan rezeki, tetapi juga masalah-masalah kebudayaan dan batin kita yang lama terabaikan. 


Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS