• Ikuti kami :

Menginsafi Mutu dan Martabat Politik Kita, Merawat Cinta pada Indonesia

Dipublikasikan Jumat, 25 Juli 2014 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Perhelatan politik lima tahunan di negeri kita telah memasuki babak-babak akhir. Pada tahun 2014 ini kita akan memiliki presiden, wakil presiden, kabinet kementerian, dan juga anggota legislatif yang baru. Ada banyak harapan dan kekecewaaan yang mengapung dari proses yang telah berlangsung. Akan tetapi ada baiknya kita melepaskan diri dari hiruk pikuk keributan dan mulai merenung tentang apa dan bagaimana politik kita dewasa ini.

Politik Bedak-Ginju nan Brutal


Yang harus kita pikirkan sekarang ini, salah satunya, bukan sekadar siapa pemenang perhelatan politik hari ini,melainkan bagaimana politik hari ini dan bagaimana cara-cara kita berpolitik. Bermartabatkah kita dalam cara-cara berpolitik dan ada di tingkat mana mutu politik kita?

Lembar-lembar berita yang penuh keriuhan, sikap para politikus, riuh para pendukung, dan macam-macam omong kosong juga celoteh perkara politik kita pada 2014 ini sebenarnya cukup untuk menunjukkan ada di mutu mana politik kita.Sebermartabat apa perilaku politik kita?

Penyelenggaraan pemilu legislatif telah mengajarkan kepada kita bahwa sebagian besar partai, para politikus, dan para pemilih telah menjadi pedagang yang dalam beberapa hal menanggalkan akal sehat. Tujuan-tujuan pemilihan tidak lagi ada pada alasan-alasan yang murni melainkan alasan-alasan yang lebih cenderung pada perniagaan. Banyak cendekia, yang bertungkus lumus mempelajari macam-macam ilmu selama bertahun, kini berderet menjajakan layanan poles citra dan servis kemenangan politik. Kaum pemberita telah berubah jadi ahli propaganda. Uang menjadi napas politik kita,dan nadinya terus berdetak melantunkan syahwat kuasa yang tak terkendali. Nalar kita ngeloyor ke selokan busuk. Politik kita telah jatuh pada perbedak-gincuan di mana pohon-pohon dan tiang listrik dipenuhi wajah-wajah yang bacin, nyaris di seluruh negeri. Telah terjadi dalam politik kita bahwa pelaku utama yang sesungguhnya adalah para tukang sablon.

Rakyat memilih seorang calon anggota legislatif karena beberapa alasan. Ada yang memilih karena uang, karena pencitraan, karena kedekatan kekerabatan atau kedekatan lain, karena kesetiaan sebagai kader sebuah partai, dan lainnya. Lalu berapa yang memilih karena alasan-alasan waras politik? Seberapa banyak yang menentukan pilihan politik dengan cara pandang Islam?

Ini mutu politik kita. Politik yang masih jauh dari kewarasan. Dengan keributan luar biasa dan memekakkan.

Lalu Pemilu Presiden 2014 ialah suatu perayaan paling brutal politik kita. Perilaku politik kita menjadi semakin jauh dari nalar. Para cendekia berubah menjadi partisan yang tugasnya hanya memuliakan yang didukung dan merendahhinakan dia yang berlawanan. Perusahaan perbedak-gincuan kuasa telah semakin menjadi lonte yang menjajakan ilmunya, menadah rupiah dari macam-macam teknik yang diselubungi kepalsuan ilmiah.

Lalu kita rakyat telah menelan berita-berita dan macam-macam prasangka. Jokowi telah diseret pada citra kekafiran-komunis-Cina, sementara Prabowo dicoreng-morengi kesan penculik-beringasan-bromocorah. Nalar kita tenggelam. Tak ada ruang bagi pembuktian ilmiah. Yang ada adalah perang kesan dan propaganda. Hujjah-hujjah telah mati. Pendapat yang setia pada nalar diancam prasangka dan omong kosong. Kita hanyut dalam keributan luar biasa.

Di dalam berita-berita bohong dan fitnah keji, kita bernapas meningkahi politik kita. Kita telah menjadi bangsa pemberang, bangsa pemamah berita bohong, omong kosong, dan fitnah-fitnah keji. Politik kita adalah politik fitnah, politik penuh pembangunan kesan-kesan bohong omong kosong, dan letupan-letupan emosional tanpa kewarasan. Pemilihan presiden adalah perayaan politik brutal di mana pendukung yang satu dipaksa merendahkan pendukung yang lain sembari memualiakan yang didukung. Perendahan membabi buta dan pemuliaan membabi buta.

Dan para politikus terus bersungut-sungut di atas pertarungan rakyat yang membabi buta itu. Yang busuk menyaru menjadi suci, yang pengkhianat berpura menjadi penyelamat. Mulut-mulut terus berucap, menikmati dukungan membabi buta dan hinaan membabi buta. Para politikus terus menghasilkan omong kosong yang memperkeruh ketegangan. Mereka berjumpalitan bergerak tanpa kemurnian dan cinta. Kuasa adalah satu-satunya lafaz yang ada dipikiran dan hati mereka.

Keadaan yang membingungkan tercipta, kesadaran kita turun pada area nyaris nol, dan upaya-upaya pelanggaran hukum nalar terus dicipta. Sebagian orang Islam tidak lagi menjadikan agamanya sebagai alat meneroka politik, melainkan menjadikan agamanya sebagai pembenar tindakan-tindakan politik. Pandangan-pandangan ngawur bertebaran. Probowo menjadi sangat saleh, sementara Jokowi nyaris menjadi nabi. Bagi para pendukung buta masing-masing capres, tak ada cacat pada Jokowi atau Prabowo, yang ada hanya kemuliaan semata. Doa tak diajukan kepada Tuhan sebagai sebentuk permohonan, doa diucapkan sebagai bagian dari pertarungan.

Para jurnalis tidak lagi bertugas menyampaikan keadaan. Tugas mereka hanya membangun kesan. Kesan jika Jokowi itu suci atau Prabowo itu mulia. Kesan jika Jokowi itu berengsek atau kesan bahwa Prabowo itu beringas. Berita-berita telah menjadi propaganda dan para wartawan telah menjadi agitator. Semua bekerja menciptakan aliran berita yang tohor dan kotor. Penuh kuman dan sampah.Kumuh, bau busuk, dan sumpek.

Politik kita penyok. Benturan besar pertarungan kuasa telah menenggelamkan bangsa ini pada kerusakan mental luar biasa. Kita dihanyutkan fitnah, omong kosong, juga bebusuk lainnya.

Merawat Indonesia


Kita harus segera siuman dari hiruk pikuk politik 2014 ini. Kita harus menjujuri mutu dan martabat politik-berpolitik kita ada di mana. Mengeluhi apa yang terjadi tidak membantu banyak hal. Merutuki keadaan tak memperbaiki apa-apa. Merengeki segala bejat yang ada bukan tindakan yang tepat. Kita perlu membangun mutu dan martabat politik kita.

Cara-cara membabi buta harus kita tinggalkan. Tindakan tanpa rencana yang meletup begitu saja tidak bisa dilanjutkan. Kita sudahi semua. Waktunya memberi ruang bagi jeda, ruang yang lebih lebar bagi perenungan tanpa keributan kalah-menang pertarungan kuasa.

Kita harus membangun politik yang sehat. Politik tanpa fitnah keji dan omong kosong. Juga politik tanpa membenci atau memuja membabi buta. Politik tanpa penghambaan pada uang dan kuasa. Politik tanpa bedak-ginju belepotan. Politik yang benar. Politik yang berlandaskan dan diteroka dengan cara pandang Islam.

Caci maki dan kebencian yang tidak perlu harus dikurangi. Kekokohan dan persatuan umat harus diusahakan. Kebekuan-kebekuan yang menyekat persaudaraan umat harus dicairkan. Langkah politik harus memperhatikan timbangan ilmiah dan musti menghindari prasangka. Umat harus dididik untuk berpolitik secara bijaksana dan dengan energi sewajarnya. Umat harus belajar saling menghormati pilihan yang berbeda. Harus diajarkan cara menapis berita. Orang-orang harus dikukuhkan kediriannya hingga tak selalu larut dalam hiruk pikuk massa.

Kita adalah bangsa yang punya sejarah panjang. Kita bukan bangsa kemarin sore dan sepatutnya bertindak seperti mana sebuah bangsa yang bukan kemarin sore. Politik adalah salah satu bagian dari kehidupan berbangsa tapi bukan keseluruhan kebangsaan itu sendiri. Apa yang terjadi hari ini harus didudukkan sebagai bagian dari perjalanan kita sebagai sebuah bangsa,sebagai orang-orang Indonesia.

Sebagai Muslim, kita tidak perlu menakuti apa-apa dari yang terjadi hari ini. Kita orang-orang Islam bukan kaum perengek. Sejarah telah membuktikan bahwa darah pun, syahid pun kita berikan untuk Indonesia. Sebab Indonesia adalah rahmat Allah SWT bagi kita. Rahmat yang harus disyukuri dengan cara dijaga, dirawat dengan seksama.

Jokowi sebagai seorang presiden memang tak menyenangkan untuk sebagian kita. Tetapi kita telah mengalami banyak hal yang tak menyenangkan dalam kehidupan berbangsa dan cinta kita pada bangsa jauh lebih besar dari kekecewaan kita. Cinta kita pada bangsa ini ialah cinta yang rimbun tumbuh di landasan iman. Cinta yang seharusnya dapat melumat segala jenis kekecewaan. Sebagai Muslim, kita punya adab terhadap pemimpin. Jika ia ada dijalan yang benar, kita dukung. Tapi jika ia melacurkan negeri ini, mengotori negeri ini, kita lawan dengan cara-cara kita. Kita tidak perlu takut akan apa pun sebab kita ada di kebenaran, ada di dalam iman.

Ingatlah bahwa di tanah Indonesia ini pernah hidup wali-wali Allah SWT yang memperkenalkan cahaya Islam. Ingatlah bahwa di Indonesia ini telah berkubur para syuhada yang berperang karena Allah SWT, mengusir halau orang-orang kafir. Di negeri ini shawalat dilantunkan, azan dikumandangkan, shalat dilaksanakan, doa dipanjatkan.

Kita akan tetap berdiri sebagai seorang Muslim yang mencintai Indonesia. Kita akan merawat Indonesia dengan niat karena Allah semata, tidak karena uang atau kuasa. Ikhtiar kita merawat Indonesia dengan cara-cara Islam ialah bentuk penghambaan kita kepada Allah, ibadah kita.

Para penceloteh yang berbeda pandang dengan kita, kaum nasionalis sekuler atau mereka yang antiagama akan terus ada. Tapi keberadaan mereka tak akan menghentikan cinta kita pada Indonesia. Mereka bisa merebut kekuasaan, mereka pernah memenjarakan para ulama dan bahkan mereka pernah memerangi dan mengkhianati kita, tapi sungguh tak sedikit pun mereka dapat mencuri cinta kita pada negeri ini.

Kita akan tetap berdiri merawat negeri ini dengan cinta kepadanya. Sebab Indonesia adalah rahmat Allah SWT yang senantiasa harus dijaga.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS