Mengenal Ekstremisme Para Pemakan Tumbuhan
Bagikan

Mengenal Ekstremisme Para Pemakan Tumbuhan

Banyak orang yang menjadi vegetarian karena alasan agama, kesehatan, atau nasib. Tapi vegan memiliki idealisme dan agenda sendiri sehingga mereka tidak segan-segan menyampaikan pemikirannya kepada siapapun. Mereka sering menyampaikan pandangan bahwa hewan-hewan tidak diperlakukan secara manusiawi. Padahal, belum tentu juga hewan-hewan ini senang diperlakukan layaknya manusia.

Beberapa saat lalu, warga net sempat gempar ketika seorang blogger vegan asal Spanyol bernama Sonia Sae mengunggah foto rubah peliharaannya di media sosial. Rubah dari jenis fennec itu terlihat sangat kurus dan tidak sehat. Kemudian diketahuilah bahwa si rubah—yang adalah hewan omnivora—hanya diberi makanan berbasis tumbuhan oleh si pemiliknya. Selanjutnya tentu bisa ditebak, berbagai kritikan dan hujatan menghujani perempuan Spanyol ini. Bukan hanya karena rubahnya diberi makan yang tidak sesuai dengan habitat alaminya, tapi juga karena kehipokritannya untuk memelihara hewan liar yang secara alami hidup di gurun pasir itu. 

Seiring dengan populernya gaya hidup vegan, gerakan memvegankan hewan peliharaan memang turut berkembang. Bukan hanya rubah, tapi juga kucing dan anjing vegan pun dapat ditemui saat ini. Tentu saja gerakan memberi makan hewan karnivora dengan makanan hewan herbivora ini menimbulkan kontroversi di Barat sana. Meski sang pemilik—yang membuat peliharaannya menjadi vegan—kerap berargumen bahwa hewan tersebut hidup sehat dan bahagia, tapi para ahli berkata lain. Dalam hal kucing misalnya, seorang ahli gizi hewan mengatakan bahwa memberi kucing makanan vegan sama dengan memaksa kuda untuk makan daging. Selain memaksa untuk mengonsumsi sesuatu yang tidak sesuai untuk tubuh dan fisiologinya, pemberian makanan vegan kepada hewan karnivora juga dapat membuat mereka kekurangan nutrisi sehingga menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Akhir-akhir ini kata vegan memang sering kali mampir di telinga kita. Kata ini sering bersanding dengan vegetarian, bahkan di negeri kita kata vegan dan vegetarian dianggap dapat saling menggantikan. Padahal, vegan bukanlah sekadar cara hidup sehat dengan hanya mengonsumsi sayur-mayur dan buah-buahan, bukan pula resep untuk menjadi kurus, atau jaminan keamanan—pasti halal—ketika mengenakan kosmetik atau mengonsumsi makanan merek terkenal luar negeri. 

Vegan dan vegetarian memang sama-sama tidak memakan daging, tapi sebagian besar vegetarian masih mengonsumsi telur, susu, dan produk olahan hewan lainnya. Sementara bagi vegan, mengonsumsi produk turunan hewan adalah hal yang pantang dilakukan. Bahkan madu, wol, gelatin, atau kulit hewan juga tidak boleh dimanfaatkan oleh manusia. Secara sederhana, veganisme dapat disebut sebagai bentuk ekstrim dari vegetarianisme.

Menurut laman Vegan Society, vegan didefinisikan sebagai, “Sebuah filosofi dan cara hidup yang berusaha untuk mengesampingkan—sejauh dan sepraktis mungkin—segala jenis eksploitasi dan kekejaman terhadap hewan untuk dijadikan makanan, pakaian, dan tujuan-tujuan lainnya; dan secara lebih jauh, mempromosikan perkembangan dan penggunaan bahan alternatif yang bebas dari binatang untuk dimanfaatkan manusia, binatang, dan lingkungan. Dalam bentuk gaya makanan, ini bermakna praktik penghilangan segala produk yang dihasilkan dari hewan, baik sebagian ataupun keseluruhan.”

Definisi di atas baru dirumuskan oleh kelompok vegan tertua ini di akhir tahun 80-an. Mereka telah mencoba merumuskan definisi yang paling pas untuk gerakan mereka, hingga akhirnya sampai pada definisi di atas. Sebagai sebuah gerakan, vegan memang tergolong baru. Umurnya belum ada seabad. Kata vegan dicetuskan pertama kali pada tahun 1944 oleh seorang pembela hak asasi hewan dari Inggris, bernama Donald Watson. Ketika itu, Watson bersama beberapa orang rekannya yang telah menjalani hidup vegetarian merasa  kata itu tidak cukup untuk mendefinisikan apa yang sedang mereka lakukan. Berbeda dengan vegetarian, yang masih makan produk olahan hewan, mereka sama sekali tidak mau mengonsumsi produk yang berasal dari hewan. Untuk mengidentifikasi diri mereka, maka Watson mengambil tiga huruf di awal dan dua huruf di akhir kata vegetarian dan lahirlah kata vegan. 

Jadi, bisa dikatakan bahwa kaum vegan adalah orang yang memiliki idealisme untuk menentang berbagai jenis tindak kekejaman kepada hewan baik dalam bentuk pengonsumsian atau dalam hal pemanfaatan produk-produk yang berasal dari hewan. Bagi mereka, hewan-hewan tengah mengalami bentuk penindasan yang begitu kejam hanya demi kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan hidup manusia yang melahirkan industri hewan seperti susu, keju, wol, atau madu telah menciptakan ketidakadilan sehingga mereka harus diselamatkan dari tangan-tangan kejam manusia. 

Pandangan bahwa hewan bukanlah makanan membuat sebagian besar vegan adalah pencinta hewan dan aktif mengadvokasi hak-hak hewan. Gerakan mereka juga begitu dekat dengan kaum LGBT. Seorang penulis untuk majalah lesbian di Inggris pernah melakukan voting sederhana di grup Facebook komunitas vegan di sana. Hasilnya, hampir 70% dari hampir seribu responden mengatakan bahwa mereka penganut LGBT. 

Menurut analisanya, banyak kaum LGBT yang mengadopsi gaya hidup vegan karena didasari persamaan nasib. Sama seperti hewan-hewan ini, mereka juga pernah ditindas, tidak didengar, dan dilupakan. Menurut mereka, tidak ada yang lebih menderita daripada jutaan sapi, babi, ayam, domba, dan kalkun yang terperangkap di dalam pabrik daging sehingga cara yang paling mudah untuk menghentikan penderitaan itu adalah dengan tidak memakannya. Berdasarkan persamaan nasib yang tragis inilah kaum LGBT menganggap mereka memiliki kasih sayang yang lebih tinggi kepada hewan, sehingga merasa tidak enak jika harus mengonsumsi sesama makhluk yang menderita. Kadang, kasih sayang mereka yang begitu tinggi kepada hewan justru membuat mereka menjadi galak kepada manusia.

Banyak orang yang menjadi vegetarian karena alasan agama, kesehatan, atau nasib. Tapi vegan memiliki idealisme dan agenda sendiri sehingga mereka tidak segan-segan menyampaikan pemikirannya kepada siapapun. Mereka sering menyampaikan pandangan bahwa hewan-hewan tidak diperlakukan secara manusiawi. Padahal, belum tentu juga hewan-hewan ini senang diperlakukan layaknya manusia. Metode kampanye mereka, yang mirip sales kartu kredit di mall-mall, sering membuat orang lain—khususnya warga net—sebal. Ada sebuah anekdot yang berkembang, “Dari mana kita tahu seseorang itu vegan? Jangan khawatir, mereka yang bakal bilang sendiri ke kita.” Anekdot ini menunjukkan bahwa kaum vegan tidak malu-malu menunjukkan diri, bahkan sangat bangga dengan identitasnya. 

Kebanggaan mereka dibangun di atas keyakinan bahwa mereka telah melakukan hal baik kepada bumi, menolong binatang tak berdosa, menolong sesama, dan turut berkontribusi pada perdamaian dunia. Menjadi vegan seolah dirasakan sebagai pencapaian yang sama yang telah diraih para penerima Nobel. Menjadi vegan mampu menghapuskan senjata nuklir, mengakhiri perang dan kelaparan, menghentikan pemanasan global, dan menyebarkan cinta kasih ke seluruh makhluk di dunia dan sekitarnya. Seperti habbatussaudah, vegan adalah obat dari segala masalah.

Namun, tentu saja tidak semua orang setuju dengan gaya hidup ini. Koki terkenal Gordon Ramsay adalah orang yang dikenal keras kepada kaum vegan, sehingga kerap mendapat serangan dari mereka. Ramsay, yang sering dimintai pendapat mengenai masakan para penggemarnya di media sosial, suatu hari ditanya mengenai vegan lasagna yang dibuat oleh seorang pengguna Twitter. Dengan santai koki ini menjawab, “Aku adalah anggota PETA (People Eating Tasty Animal—Perkumpulan Orang-orang Pemakan Daging Enak)”. Tentu saja tidak ada perkumpulan seperti itu. Ramsay sepertinya sedang memlesetkan istilah PETA. PETA justru ialah nama kelompok yang  memperjuangkan hak asasi hewan. Cuitan ini tentu saja mendapat banyak hujatan dari kaum vegan. Bahkan PETA—yang sesungguhnya—merasa perlu angkat bicara. 

“Oh, Gordon sayang. Kami telah mendengar lagu lama itu sebelum ini. Sementara kau menghabiskan waktu mengejek #vegan masa depan, kami bertaruh itu adalah masa depan, sebagian besar koki sedang mengembangkan masakan sehat, ramah hewan dan lingkungan, dan #BerasalDariTanaman.”

“’Dapur neraka’ yang sesungguhnya penuh dengan mayat dan sekresi dari hewan-hewan yang diinseminasi buatan, dikebiri, dan disiksa secara rutin. Seperti yang Paul McCartney bilang, ‘Jika tempat penjagalan hewan punya gelas kaca, maka semua orang akan menjadi #vegetarian.’”

Saat ini, gerakan vegan menyebar dengan pesat di seluruh dunia, khususnya di Barat. Di AS, jumlahnya meningkat enam kali lipat selama lima tahun terakhir dan di Inggris meningkat tiga kali lipat selama satu dekade terakhir. Konon, ada sekitar 1,5 miliar vegan (termasuk vegetarian dan tidak termasuk yang menjadi vegan karena nasib), di dunia. Jadi, wajar saja jika mereka memiliki percaya diri berlebih bahwa vegan adalah masa depan yang pasti dan suatu saat nanti semua orang akan menjadi vegan. Pandangan delusional seperti ini sering diejek oleh warga net pemakan daging. Ejekan seperti, “Kenapa vegan tukang marah-marah? Oh, mungkin karena nggak makan daging,” atau “Vegan adalah feminis di dunia kuliner” atau “Vegan adalah agama baru yang lebih menyebalkan dari aliran kultus,” atau “Menurut penelitian, kan bukan hanya hewan yang punya perasaan. Tumbuhan juga,” dsb.

Lagipula, mungkin PETA memang tidak tahu bahwa di belahan dunia lain ada orang-orang yang dengan penuh kebahagiaan dan suka cita melihat hewan yang akan dimakannya disembelih. Orang-orang itu juga tidak melihat hewan dengan pandangan sentimentil dan tragis, yaitu sebagai korban kekejaman yang perlu diselamatkan. Orang-orang itu tidak gagal dalam mengelompokkan makhluk-makhluk yang ada di alam semesta ini, sehingga dapat mencintai, menyayangi, berbuat adil, dan membawa kebahagiaan, bukan hanya kepada hewan atau bumi semata, tapi juga ke seluruh alam semesta.