• Ikuti kami :

Menengok Ramadan, Menjenguk Lebaran

Dipublikasikan Selasa, 20 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Bagi umat Islam, waktu bukan hanya guguran detik yang berjalan runut, teratur dan tak berkesudahan. Waktu tak melulu mekanis. Detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun bukan hanya rentetan pergantian peristiwa-peristiwa yang berjalan lurus tak pernah kembali. Ada detik yang berbeda dengan ribuan detik lainnya. Waktu tak seragam, ada yang istimewa, ada yang luar biasa, ada yang rahasia.

Dan Ramadan ialah karunia Ilahi, bulan yang berbeda dari sekian bulan. Ia bukan Syaban, ia bukan Rajab, ia bukan Syawal. Ia Ramadan. Setahun sekali, selama 1437 tahun lamanya, Kaum Muslim menghiasi bulan ini dengan amalan khusus. Ada yang keistimewaan di Ramadan. Ada shaum, ada zakat. Ada kendali, ada saling mengasihi. Setahun sekali, 1437 kali, sambung menyambung sejak zaman Nabi, berganti generasi dan kita masih menjalankan syariat yang sama. Shaum kita ialah sebagaimana shaum Nabi, shaum para sahabat, para tabi’i, tabi’u tabi’i, para ulama, para pemimpin yang ada dan yang telah tiada. Shaum kita ialah juga shaum ayah-ibu kita, shaum kakek-nenek kita, bebuyut kita, bersambung-sambung menelusuri abad. Lapar kita ialah lapar seperti mana diajarkan Nabi. Lapar yang dirasakan runtutan leluhur sepanjang zaman.

Setahun sekali, menembus seribu tahun. Dalam keberbedaan waktu, jutaan lapar sambung menyambung mendenyutkan nadi yang sama. Dahaga demi dahaga berterusan menembusi waktu, menadah ajaran yang sama. Setahun sekali, ratusan generasi mendaki punggung-punggung Ramadan, mencari cinta dan hakikat kemanusiaan. Dan Allah membukakan pintu-pintu di bulan seribu bulan, di kasih seribu kasih, di Ramadan seribu Ramadan.

Di tahun 1438 ini, di Ramadan ini, patut kita merabai nurani kita sendiri. Menjenguk Ramadan kita hari ini. Di jejak mana lapar kita bertaut, di tanda mana dahaga kita bersimpul. Ia kembali dan kembali menyapa hidup, membasuh tahun-tahun yang berlalu dengan debu dan kekumalan perdebatan dan sengketa. Ia datang dan datang lagi, menunggu sampai pada akhir waktu, tapi di mana kita di sapaan demi sapaannya. Betapa doa-doa menjadi kaku dan kita semakin lupa merasai lapar yang bersilaturahim di perut-perut kita dan perut siapa saja yang berpuasa.

Setelah hantaman peristiwa dan persengketaan yang menggenangi waktu-waktu lalu, sudah seharusnya kita siuman dari banyak khayalan. Setelah pertarungan tak sudah-sudah, setelah perbalahan kata, setelah saling merendahkan dan pengguaran kepuasan atas kesalahan-kesalahan pihak lain, dapatkah kita melihat Ramadan dengan lebih seksama. Dapatkah Ramadan membasuh petarungan antar anak bangsa sejak Pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur dan sekian peristiwa politik yang menyeret kita terus menerus ke mana ia berkehendak. Dapatkah kita siuman dari sekian kesadaran yang dirampas berpuluh-puluh peristiwa yang memalsu seolah kita terlibat penting di dalamnya. Dapatkah kita melihat hal lain selain pertarungan, perendahan dan kepuasaan atas kekalahan pihak lain di Ramadan ini. Tuhan memampukan hati manusia untuk mencinta, selain membenci. Karenanya (dan seharusnya) manusia mampu membangun belas kasih antar sesama.   

Masih ada waktu untuk menengok Ramadan kita. Masih ada waktu untuk menghayati Ramadan dengan lebih seksama. Sebagai waktu ia akan berlalu, ia akan pergi dan kita tak pernah berkuasa atas kepergiannya. Tapi makna Ramadan selalu dapat kita rengkuh sepanjang hayat, dapat kita pikul selalu dalam perjalan menyusuri hidup yang entah sampai kapan.

Ramadan semoga menjadi bekal bagi menghadapi bermacam kepalsuan, berbagai tipuan, yang hendak menyeret kita pada pertarungan yang bukan milik kita. Berbagai bentangan muslihat dunia akan terus menerus menghadang di hadapan, dan Ramadan semoga memberi kita kemampuan untuk melihat hakikat di sebalik macam-macam tipu daya itu kelak.

Dan semoga kita dapat bersiap akan kehadiran lebaran. Bukan hanya tentang pemaafan atau ketupat dan baju baru. Melainkan tentang kita di semesta wujud dan kejadian-kejadian yang terus diciptakan. Akan ke mana Ramadan kita, hendak bagaimana lebaran kita. Kemenangan macam apa yang akan kita rayakan. Makna apa yang akan kita rengkuh di lebaran nanti. Dapatkah kita reguk syair indah Bimbo: Bunga ibadah dalam ikhlas sedekah.

Masih ada waktu beberapa hari lamanya. Mari sejenak menengok Ramadan kita, menjenguk lebaran kita.


Tulisan Terkait (Edisi Ramadhan)

IKLAN BARIS