• Ikuti kami :

Menenggang Rindu Sjahrir Pada Anak dan Istrinya

Dipublikasikan Jumat, 15 Juli 2016 dalam rubrik  Cerita Foto

Pada masa pemerintahan Orde Lama, ada satu masa di mana orang-orang yang menentang atau tak sejalan dengan pemerintah harus mengalami penahanan. Orang-orang yang turut serta memerdekakan negeri ini ditangkap dan diasingkan. Bukan oleh pemerintah kolonial, melainkan oleh pemerintahan bangsa sendiri. Perbedaan ideologi dan jalan politik disikapi oleh penguasa dan partai yang dekat dengan kekuasaan dengan penangkapan, pemenjaraan.

Orang-orang yang telah berjasa dalam perjuangan itu ditahan, oleh kawan yang dulu sama berjuang. Kekuasaan telah menemui jalannya yang kejam. Kekuasaan telah pergi menuju hasrat yang rendah. Dan karena hasrat yang rendah itu, sekian banyak cerita kepedihan sekaligus ketabahan turut mengairi perjalanan sejarah bangsa ini. Orang-orang yang berlawanan politik dengan penguasa ketika itu diasingkan. Bukan hanya dari masyarakat, melainkan juga dari keluarga. Keluarga yang ditinggalkan oleh si pencari nafkah harus tahu sendiri bagaimana meneruskan penghidupannya.

Beberapa orang yang diasingkan (ditangkap/ditahan/direnggut kebebasannya) itu antaranya ialah Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito dan Sutan Sjahrir. Ketiganya ditempatkan di Penginapan Polisi Militer di Jalan Hayam Wuruk (Jakarta, 1962) selama lima hari pertama penangkapan. Kemudian mereka dipindahkan ke sebuah rumah di Kebayoran.

Selama dua bulan mereka tak diperkenankan untuk bertemu dengan keluarga. Di sanalah Mohammad Roem melihat betapa cinta Sjahrir akan keluarganya. Di meja kamarnya tersusun rapi foto keluarganya. Beberapa kali Roem memergoki Sjahrir sedang mencium foto istri atau anaknya, hidungnya memerah dan matanya berair. Sjahrir yang kita kenal sebagai diplomat ulung itu, menangis di tahanan Orde Lama demi rindu pada keluarganya.

Setelah dua bulan, pada hari Lebaran, mereka kemudian diperkenankan bertemu dengan keluarganya. Setelah itu mereka ditahan lebih jauh di Rumah Tahanan Militer Madiun. Wisma Wilis mereka menyebutnya. Dipisahkan lebih jauh dari keluarganya. Dan orang-orang sesama tahanan (meski berbeda ideologi dan partai tetapi kemudian menjadi saling akrab itu) jadi lebih saling kenal-mengenal karena hidup bersama sehari-hari. Mohammad Roem sangat tahu persis bagaimana Sutan Sjahrir menahan rindu pada keluarganya.

Dahulu sebelum Indonesia merdeka Sjahrir tak menikah. Ia menikah agak terlambat dengan Popi Saleh, sahabatnya sejak bertahun-tahun dan dikaruniai dua anak, Buyung dan Upik. Dulu sebelum merdeka Sjahrir sempat pula diasingkan ke tempat mengerikan bernama Digul. Pengasingnya tentu pemerintah kolonial. Penjajah Belanda. Pernah juga diasingkan ke Bandaneira. Akan tetapi ketika itu Sjahrir belum kawin. Ia tak perlu memendam rindu pada anak dan istrinya.

Barulah setelah merdeka ia mengalami penderitaan terpisah dari keluarga. Dipisahkan, diasingkan oleh penguasa yang dulu ialah kawannya sendiri juga.

Di Rumah Tahanan Militer Jalan Wilis itu, di Madiun itu, Roem, Sjahrir, dan lain-lain mengingat-ingat soal nikah itu. Kemudian, dengan senyum menarik yang terkenal itu Sjahrir berkata: “Saya sudah telanjur kawin. Saya keliru, mengira, bahwa di tanah air yang merdeka, saya tidak akan diasingkan lagi.”

Disarikan dari artikel Mohammad Roem, “Kekeliruan Sjahrir” (dalam Bunga Rampai dari Sejarah [1]), Bulan Bintang, 1977 (Cetakan Ke-2, cetakan pertama 1972), halaman 184-190)

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS