• Ikuti kami :

Menenggang Rasa Orang-Orang Susah

Dipublikasikan Jumat, 20 Januari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

(Catatan dari Tahun 1977)

Kalau kita menyebut atau mendengar perkataan “Pulo Mas” maka ingatan kita tentu akan tertuju pada sebuah lokasi yang indah di Ibu Kota. Tempat itu dilintasi oleh sebuah jalan raya Jakarta By Pass. Pada masa dulu, di sana terdapat gelanggang pacuan kuda yang megah. Di tempat itu orang-orang biasa berkumpul menghamburkan uang dalam taruhan judi. Pulo Mas! Kini di daerah itu berdiri real estat yang luas, rumah-rumah mewah bermacam-macam harga.

Bukanlah kemewahan yang kita persoalkan di sini. Dan kita pun tidak pula hendak menceritakan kehidupan orang-orang kaya di Pulo Mas itu. Akan tetapi, kebalikannya, kita akan mempersoalkan sebuah kehidupan yang dapat mengetuk rasa kemanusiaan kita di Pulo Mas yang indah itu.

Di balik beragam kemegahan Pulo Mas, ada kehidupan lain yang mengendap. Buruh musiman. Dengan bermodalkan pacul yang mereka bawa dari desa dan pengki yang terbuat secara kasar mereka siap berjuang di Kota Jakarta. Menjadi buruh, atau kuli kasar, sebagai tenaga penggali saluran air, pemasang pipa, kabel telepon, penguruk tanah, dan banyak juga di antara mereka yang dipekerjakan sebagai kuli bangunan. Pagi-pagi mereka dijemput dengan truk untuk dibawa ke tempat di mana mereka bekerja. Dan malam hari mereka pun datang berkumpul kembali di tempat semula.

Banyak kalangan, termasuk gubernur Jakarta ketika itu, Tjokropranolo, mengkhawatirkan kaum kuli itu. “Orang-orang susah” di Pulo Mas yang berjumlah sekitar 1.500 orang itu adalah lahan subur bagi berkembangnya paham yang berbahaya dalam iklim keamanan masyarakat. Maksudnya komunisme yang ketika itu masih menjadi hantu. Ketimpangan nasib amat mencolok di sana. Setiap hari si susah dapat dengan terang melihat si kaya bermewah-mewahan.

Melihat hal tersebut, 30 orang mahasiswa IAIN Jakarta yang terdiri atas lima grup hadir untuk menemani orang-orang susah di Pulo Mas itu. Dengan cara informal, bercakap-cakap santai, sambil menyodorkan rokok keretek, mahasiswa-mahasiswa itu berbagi rasa dengan mereka. Sedikit-sedikit ada pula dakwah di sana. Tentu bukan hal yang mudah menyulap mereka sekaligus menjadi orang yang taat menjalankan shalat lima waktu atau mendirikan jamaah di kalangan mereka setiap waktu shalat. Dengan mata kepala sendiri kita dapat menyaksikan betapa sulitnya mereka mendapatkan air wudhu, sedangkan mencuci tangan yang berlumpur saja mereka kadang tidak bisa.

Ketimpangan nasib yang menganga di kota-kota selalu ada. Miskin dan kaya selalu menjadi kenyataan yang kadang menyakitkan. Si papa sering dipandang sebagai daki yang mengganggu kaum berada. Kumuh dan kotor, tak enak dipandang mata. Mesti disingkirkan dari kota.

Dan tentu saja, pada akhirnya dakwah bukan hanya tentang mengajari orang berwudhu, tetapi  juga tentang menenggang rasa orang-orang susah yang setiap hari dikepung kemewahan yang tak pernah dapat mereka rasakan.

Disadur dari Majalah Panji Masyarakat, 1 Desember 1977, Halaman 41-42.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS