• Ikuti kami :

Menelaah Riba dan Interest: Laporan Pandangan Mata Special Lecture Dr. Ugi Suharto

Dipublikasikan Rabu, 16 Agustus 2017 dalam rubrik  Peristiwa

Kita telah mendapatkan uraian mengenai struktur pemikiran Islam dalam tulisan Dr. Ugi Suharto: "Umat Islam Harus Bersikap Inshof. Dari empat bagian struktur pemikiran Islam, ekonomi (bersama persoalan politik, sosial dan hal-hal lain yang lebih praktis) berada di tingkat paling akhir (tingkat keempat). Persoalan-persoalan di tingkat ini tentu saja perlu ditelaah, ditimbang, dan dinilai dengan struktur lain di atasnya. Ekonomi Islam tak dapat dilepaskan dari pandangan-pandangan fiqih, pemikiran kalam, dan juga Islamic Worldview. Ekonomi Islam ialah pelaksanaan pemikiran Islam dalam persoalan ekonomi.

Dr. Ugi Suharto membahas persoalan ini dalam Special Lecture bertajuk “Pemikiran Ekonomi Islam dan Isu tentang Riba vs Interest dalam Konteks Struktur Pemikiran Islam” yang dilaksanakan pada Sabtu, 29 Juli 2017, di aula INSISTS, Kalibata, Jakarta. Seolah menyambung Daurah Struktur Pemikiran Islam yang dilakukan sehari sebelumnya di Pondok Pesantren al-Hikam, Dr. Ugi menjelaskan bagaimana pemikiran Islam bekerja di tingkat yang lebih praktis, khususnya dalam persoalan ekomomi. Lebih khusus lagi dalam persolan riba dan interest.

Menurut Dr. Ugi, pemikiran ekonomi kontemporer Islam sampai hari ini masih berada pada tahap permulaan. Ekonomi Islam Kontemporer baru sampai pada Islamic banking ‘perbankan Islam’ dan masih dalam persentase yang kecil. Umat Islam belum sampai pada persoalan financial system, terlebih-lebih ekonomi Islam secara keseluruhan. Padahal perbankan adalah bagian kecil dari induk yang besar, yakni ekonomi. Di samping itu, kita masih berada dalam dominasi kapitalisme, bahkan cenderung neo-liberal. Negara-negara (muslim) terikat dengan kebijakan ekonominya masing-masing.

Pengalaman ekonomi umat Islam yang masih lebih banyak berkutat pada persoalan perbankan Islam ini, sering kali menghadapi isu mengenai riba dan interest ‘bunga’. Bagi para ekonom barat, interest baik untuk ekonomi mereka. Namun demikian, bagi orang Islam, interest tidak dapat langsung dianggap sebagai hal baik dan diterima begitu saja. Hal itu terkait dengan perilaku seorang muslim yang dipengaruhi oleh pemikiran Islam. Persoalan seperti interest perlu ditimbang dengan Pandangan Hidup Islam (The Worldview of Islam). Hal tersebut adalah salah satu contoh perilaku ekonomi yang tidak hanya selaras, tetapi juga secara sadar didasarkan pada struktur pemikiran Islam.

Kedudukan riba dan interest perlu diperjelas terlebih dahulu sebelum pembahasan diperluas. Menurut ilmuwan yang lahir di Jakarta ini, riba adalah suatu istilah dalam bidang fiqih yang berarti tambahan sebagai suatu persyaratan dalam pinjaman (qardh). Sementara itu, interest adalah istilah bidang keuangan yang berarti tambahan yang melambangkan konsep nilai waktu dari uang (time value of money). Riba diterjemahkan ke dalam bahasa Inggis sebagai usury, bukan interest. Sementara interest diterjemahkan dalam Bahasa Arab sebagai ‘fa’idah’.Dengan demikian, diperlukan uraian yang jelas untuk memahami hubungan di antaranya, usury ‘riba’ dan interest ‘bunga’.

Menurut Dr. Ugi, riba dapat diklasifikasikan ke dalam (1) penjualan dan (2) pinjaman.


Dalam penjualan, yang menjadi riba adalah (1) kelebihan dan (2) keterlambatan. Penjualan yang dimaksud adalah penjualan dalam bentuk currency ‘mata uang’ atau emas dan perak. Supaya tidak jatuh kepada riba, penjualan tersebut harus merupakan penukaran dengan berat yang sama dan dilakukan secara kontan (on the spot). Sementara itu, penukaran currency dengan komoditas tidak terikat oleh ketentuan yang telah disebutkan.

Pada mata uang yang sama, seperti pada kasus penukaran uang receh menjelang lebaran, penukaran uang tersebut harus dilakukan dengan nilai yang sama pula. Contoh: dua lembar uang pecahan Rp100.000,00 ditukarkan dengan 20 lembar uang pecahan Rp10.000,00 secara kontan. Jika nilai yang ditukarkan itu berbeda, maka dapat jatuh kepada riba.

Dr. Ugi kemudian memberi contoh, yakni yang terjadi dalam penjualan pada pasar valuta asing (foreign exchange). Tukar-menukar mata uang sebagai bentuk jual beli suatu mata uang dengan mata uang lainnya harus dilakukan pada waktu yang sama. Nilai tukar mata uang (exchange rate) dalam pasar valuta asing berubah-ubah setiap saat.  Jika hari ini, 1 BHD dipatok seharga 2,65 USD, maka pertukaran 100 BHD akan menjadi 265 USD. Jika 100 BHD tersebut ditukar dengan 265 USD pada esok hari, itu bersifat riba, meski tidak ada interest pada hal itu. Hal itu terjadi karena terdapat keterlambatan (penukaran dilakukan tidak secara on the spot). Ini adalah contoh riba yang tidak ada interestnya.

Dalam praktik perbankan Islam, yang semestinya terjadi bukanlah transaksi yang ribawi. Untuk itu, produk yang ditawarkan dalam perbankan Islam bukanlah peminjaman uang, melainkan jual beli komoditas dengan cara mengangsur. Penjelasannya: bank Islam membeli satu komoditas, misal: rumah, (yang hendak dibeli oleh nasabah) dengan harga tertentu. Setelah itu, bank menjualnya kepada nasabah dengan harga tertentu pula. Nasabah dapat membeli rumah tersebut kepada bank dengan cara mengangsur. Bank mendapat keuntungan dari jual beli tersebut. Keuntungan jual beli tersebut bukan merupakan transaksi ribawi.

Dalam pinjaman, yang menjadi riba adalah adanya kelebihan yang menjadi syarat pinjaman. Apabila pinjaman diberikan dengan syarat akan mengembalikan lebih dari yang dipinjamkan, maka kelebihan tersebut termasuk ke dalam riba. Namun demikian, apabila kelebihan atas pengembalian pinjaman bukanlah sebuah syarat peminjaman, maka kelebihan tersebut tidak bersifat riba.

Contoh:

  1. Kita meminjam uang sebesar US$1,000 dengan persyaratan pengembalian sebesar US$1,100. Dalam pengembalian pinjaman tersebut, terdapat interest—menurut pandangan keuangan—sebesar 10%, dan interest tersebut sama dengan riba—menurut pandangan fiqih.
  2. Kita meminjam uang sebesar US$1,000 tanpa ada persyaratan peminjaman. Kemudian, kita berinisiatif mengembalikan pinjaman tersebut sebesar US$1,100. Dalam pengembalian pinjaman tersebut, terdapat interest—menurut pandangan keuangan—sebesar 10%, dan interest tersebut tidak sama dengan riba—menurut pandangan fiqih.

 
Berdasarkan contoh tersebut, dapat diketahui bahwa interest (bunga) sebagai istilah di bidang keuangan bisa bersifat riba dan dapat pula tidak bersifat riba. Jadi, perbedaan di antara keduanya didasarkan pada akad peminjaman.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan, Dr. Ugi berpandangan bahwa meskipun interest dapat bersifat riba, ada pula interest yang tidak sama dengan riba. Namun demikian, terdapat pandangan-pandangan lain mengenai interest ini: ada yang berpandangan bahwa interest itu sama dengan riba, dan ada pula yang berpandangan sebaliknya, interest yang ada pada sistem bank hari ini tidak sama dengan riba. Perbedaan pandangan pada tingkat keempat dalam struktur pemikiran Islam tersebut tidak sampai membawa umat Islam kepada perpecahan dalam tingkat yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, sebagaimana pada pembahasan mengenai struktur pemikiran Islam, perbedaan pada tingkat terakhir ini harus disikapi oleh sesama umat Islam dengan inshof. Walaupun begitu bisa dikatakan ijma’ dari segi fiqih bahwa bunga bank pada hari ini adalah riba.

Ekonomi kontemporer Islam sampai pada masa ini baru pada tingkat perbankan Islam yang bahkan belum dapat dikatakan sempurna. Untuk itu, penyempurnaan pengamalan Islam dalam bidang ekonomi hari ini masih terus diupayakan.

Mengenai bank syariah, Dr. Ugi mengimbau agar umat mendukung dan memanfaatkan bank syariah sebagai satu langkah maju dalam bermuamalah. Persoalan mengenai murabahah yang dirasa lebih mahal dibandingkan produk bank konvensional bisa dipahami dengan melihat segi mekanisme pasar, yakni harga cenderung tinggi jika jumlah barang (supply) di pasar sedikit, dan harga akan turun seiring dengan meningkatnya jumlah barang di pasar. Pangsa pasar bank syariah di Indonesia saat ini, dibandingkan dengan bank konvensional, hanya sekitar 5%. Untuk itu, kita perlu mendorong perkembangannya agar bank syariah semakin dapat bersaing dengan bank konvensional secara harga produk dengan turut serta mempergunakannya.

Selain itu, hal-hal yang perlu diingat untuk terus diupayakan umat terkait bidang ekonomi, tahap keempat dalam struktur pemikiran Islam ini: (1) tidak mengedepankan berutang, (2) berbagi di antara yang kaya dengan yang miskin, serta (3) menjauhi gambling atau perjudian.

Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS