• Ikuti kami :

Mencoba Tetap Menikmati Sepakbola, Setelah Kepergian Ricko Andrean Maulana

Dipublikasikan Jumat, 28 Juli 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Ricko Andrean, 22 tahun, seorang Viking, tewas dikeroyok orang-orang kalap ketika mencoba menyelamatkan seorang The Jakmania. Peristiwa terjadi ketika pertandingan Persib vs Persija (22 Juli 2017) memasuki masa jeda. Di Gelora Bandung Lautan Api, di stadion kebanggaan masyarakat Jawa Barat, seorang manusia diinjak, dipukuli, ditendang dan disakiti secara semena-mena. Berita-berita berhamburan, ucapan duka bertebaran, tetapi kepergian Ricko seharusnya menghasilkan sebuah kesadaran: Kita harus bisa menikmati sepakbola yang layak dan wajar bagi manusia.

***

11 Februari 2001, saya mendatangi Stadion Siliwangi. Waktu itu saya masih kelas 3 SMP. Saya mau nonton pertandingan Persib melawan Persija. Sampai Siliwangi ternyata tiket di loket sudah habis. Saya biasa menonton di Tribun Selatan, tempat anak-anak Viking Persib Club mendukung kesebelasannya. Waktu itu saya memakai kaos biru yang agak kebesaran untuk anak SMP. Di bagian depannya ada tulisan Viking warna kuning, di bagian punggung ada tulisan “Persib Sang Legenda”.

Saya mencari Kang Rudi Boseng yang biasanya ngurusin tiket, tapi enggak ketemu. Waktu itu harga tiket Tribun Selatan Stadion Siliwangi masih Rp 4.000,-. Akhirnya saya berputar mencari tiket. Di dekat Graha Siliwangi ada seorang calo dikerubungi banyak Bobotoh. Dia masih punya tiket Tribun Utara beberapa lembar. Saya buru-buru mendekati calo itu. Harga resmi tiket yang Rp 4.000,- telah naik menjadi Rp 20.000,-. Saya tak peduli. Uang jajan hampir seminggu tandas untuk tiket itu. Pertandingan tak lama lagi akan dimulai. Setelah dapat tiket, saya buru-buru menuju Tribun Utara.

Waktu saya mau masuk, saya melihat ada kerumunan saling teriak dan berlari. Ada sekumpulan berbaju oranye sedang bersitegang dengan beberapa orang. Beberapa orang berbaju biru mengawal mereka. Saat itulah saya mulai “mengenal” The Jakmania, melihat mereka secara langsung untuk pertama kali.

Persib kalah 0-1. Lebih menyesakkan gol kemenangan Persija dicetak pemain Persib sendiri. Nana "Berlin" Supriatna mencetak gol bunuh diri di menit 31. Beberapa kericuhan kecil terjadi selepas pertandingan. Melengkapi kerusuhan sebelum pertandingan dengan The Jakmania.

***

Sejak saat itu, ditambah “kasus Kuis Siapa Berani”, kebencian terhadap The Jakmania mulai menyeruak di kalangan Bobotoh, khususnya Viking. Kata-kata kasar, coretan di kaos, spanduk, bahkan stiker yang mengutuk The Jakmania bertebaran. Kebencian demi kebencian terus dibangun. Saya tidak bisa mengelak, awalnya saya turut serta dalam arus itu. Semasa SMA saya dan kawan-kawan biasa mengucapkan kata-kata kotor setelah menyebut Jakmania. Fikiran muda saya tidak dapat mencerna masalah itu dengan bijaksana. Yang saya tahu hanya satu, Jakmania ialah musuh yang telah mengusik harga diri kami sebagai Bobotoh Persib.

Bagi kami menjadi Viking, menjadi Bobotoh, ialah jatidiri sebagai orang Sunda. Menjadi Bobotoh bukan hanya sebatas terlibat mendukung kesebelasan sepakbola bernama Persib. Menjadi Bobotoh ialah juga menemukan harga diri. Di tengah kekalahan dan keterpojokan atas banyak hal, menjadi Viking, menjadi Bobotoh Persib, ialah cara yang mampu kami lakukan untuk menunjukkan kehadiran kami. Saya sendiri tak mampu untuk menggaya dan mengada dengan motor atau mobil. Di tengah pergaulan mewah Kota Bandung yang semakin tak mampu kami jangkau, mendukung Persib memberi ruang bagi kami untuk memiliki arti di kota kami sendiri. Pelan, Persib menjadi harga diri yang lekat.

Setelah kuliah di Depok, saya menemukan suasana lain. Pernah suatu ketika, saya diteriaki orang di Stasiun Tebet gara-gara buka jaket dan lupa kalau saya pakai kaos Persib. Pada masa-masa ini saya bertemu kawan-kawan yang ternyata The Jakmania. Kami ngobrol, saling debat dan bicara tentang Viking-The Jakmania. Tapi tidak pernah saling pukul. Paling jauh hanya ejek-ejekan.

***

Tahun berganti tahun, permusuhan itu terus berkobar, kebencian itu makin menjalar. Api amarah di mana-mana. Mulai ada yang terbunuh, mulai ada yang terluka. Rangga Cipta Anugerah tewas di Gelora Utama Bung Karno, 27 Mei 2012. Setelah itu berderet nama-nama meregang nyawa hanya karena kebencian antar pendukung. Harun, Rovy, Agen Astrava. Dan hari ini, giliran nyawa Ricko Andrean Maulana.

ASTAGHFIRULLAH, 16 TAHUN!”.

Saya baru sadar, saya pertama kali melihat The Jakmania di Siliwangi itu enam belas tahun yang lalu. Kini umur saya dan mungkin sebagian besar bobotoh yang mendukung Persib pada 11 Februari 2001 itu, telah lebih dari 30 tahun. Ketika kebencian itu pertama menjalar, Ricko masih berumur 6 tahun. Rovy yang meninggal di Bekasi itu baru setahun umurnya.

***

Lama saya tak menonton Persib ke Stadion. Hanya sekali-sekali. Tapi ketika Persib masuk Final Piala Presiden 2015, ada gairah tak tertahan. Persib main di Gelora Bung Karno (GBK). Lawannya Sriwijaya FC. Adik saya kasak-kusuk cari tiket dari teman-temannya di Bandung. Tak ada. Saya telepon Viking Jakarta, tak ada. Akhirnya, di hari Ahad itu saya bersama adik saya nekad ke GBK. Kita tidak ikut rombongan dari Bandung. Kami berangkat sendiri dari Depok, melewati beberapa kerumunan The Jakmania. Beli tiket langsung di hari pertandingan.

Setelah masuk GBK, saya agak terkejut dengan posisi duduk kami. Sebelah kanan kami, Tribun Samping VIP Utara. Di kiri kami Sriwijaya Mania beratribut kuning. Di tribun atas, wilayahnya Singa Mania dengan warna serba hijau. Singamania ini berkarib dengan The Jakmania. Ketika mereka bernyanyi di atas kami, ada syal The Jak dikibarkan. Saya melihat ke atas, spontan berteriak “Woy, Bang! Kita saudara, jangan mau dipecah belah sama The Jak!”. Orang-orang lain ikut berteriak. Jarak kami dan mereka kira-kira 10 meter saja. Beberapa anak The Jak mengacungkan jari tengah ke arah kami. Perang caci maki terjadi secara semena-mena. Kami saling menghujat dan mengumpat. Anak-anak The Jak itu akhirnya diamankan aparat.

Jika Anda belum pernah merasakan atmosfer macam itu, Anda akan bilang kami bodoh. Tapi keadaan pertandingan selalu berbeda. Ada yang sulit dikendalikan. Suasana stadion bukan suasana biasa seperti di kantin atau ruang kelas. Saya tidak sedang berbicara tentang siapa yang lebih bernyali. Kami yang berani mendukung Persib di Jakarta dengan melewati gerombolan The Jak, atau anak-anak berjarak 10 meter di atas kami itu yang jumlahnya sedikit tapi berani menyusup di antara kami yang ribuan. Ini bukan tentang siapa yang lebih bernyali, siapa yang paling berani dan siapa yang benar-benar lelaki.

Ini tentang keadaan di dalam masa, di dalam kerumunan dan di dalam stadion yang amat berbeda dan khas. Ini tentang keadaan sepakbola yang sebenarnya sangat indah. Ribuan orang dengan semangat dan kecintaan yang sama. Bernyanyi bersama. Membuat gerakan-gerakan yang kompak. Memberi tepuk tangan, memberi dukungan. Di luar permusuhan, sepakbola sebenarnya sangat indah. Dan kebencian hanya merusak itu semua.


Tanpa kebencian, tak akan ada saling umpat dari orang-orang yang sebenarnya tak saling kenal, boleh jadi seagama, sudah jelas satu bangsa dan pasti sama-sama manusia. Tanpa kebencian terhadap The Jak sebenarnya menonton Persib ialah sesuatu yang wajar-wajar saja, baik-baik saja dan tidak berbahaya. Tanpa kebencian tak akan ada saling merendahkan di sepakbola. Bahkan sepakbola seharusnya mengajarkan kita untuk saling menghormati. Mendukung tim kebanggaan, menghargai kesebelasan lawan. Tanpa kebencian, fair play, repect dan sportivitas tak akan pernah menjadi omong kosong.

***

Adik saya kebetulan pergi ke Bandung pada 22 Juli kemarin itu. Dia menonton di Tribun Timur, tak jauh dari tempat Ricko dikeroyok. Ketika permusuhan ini pertama kali berkobar, adik saya belum tahu apa-apa, umurnya masih 3 tahunan. Ricko kira-kira 6 tahunan pada 2001 itu. Ada jutaan anak seusia Ricko, seusia adik saya, seusia Rovy, yang mewarisi kebencian terhadap The Jakmania. Ada ribuan anak seusia Harun, seusia Agen Astrava yang mewarisi amarah terhadap Viking.

Berapa puluh juta kata-kata kebencian? Berapa ratus ribu ungkapan kotor telah dihasilkan selama 16 tahun permusuhan ini? Berapa ibu, bapak, kakak atau adik yang menangis karena kehilangan orang yang mereka cintai akibat sengketa dua kelompok suporter ini? Seberapa besar kebangkrutan kemanusiaan kita, kemerosotan nurani kita akibat kebencian ini?

Sepakbola telah mengajari kita ketabahan dan kesetiaan, menerima kekalahan dengan tetap menjaga kehormatan. Sepakbola telah memberi kita jatidiri di tengah himpitan pembangunan yang seringkali menyingkirkan keberadaan kita. Sepakbola telah memberi kita kebahagiaan ketika tim yang kita dukung memenangkan pertandingan atau bahkan menjuarai kompetisi. Sepakbola telah mendidik kita untuk bersahabat, bersaudara, solid mendukung kesebelasan kebanggaan.

Sepakbola telah memberi kita sekian rasa. Sedih, terluka, tabah, gembira dan bahagia. Namun sayangnya dari sepakbola juga kita belajar untuk membenci. Lalu menjalarkan kebencian itu. Enam belas tahun lamanya kita terus menggemakan permusuhan. Menumbuhkan amarah di hati jutaan anak-anak yang mencintai Persib dan Persija. Awalnya hanya kata-kata, lalu mengendap menyentuh harga diri, hingga tak terkendali menjadi kekalapan yang meluap, menjadi daya rusak yang melukai bahkan membunuh.

Ketika Ricko berusia 6 tahun, kita telah memulai kebencian itu, menjalarkannya melalui kata-kata kasar dan kotor di dalam stadion dan di luar stadion. Perjalanan Ricko, juga anak-anak lain yang menjadi Bobotoh, diwarnai kebencian yang membatu dan terus membatu. Namun, enam belas tahun kemudian, Ricko melawan kebencian itu dengan nyawanya. Ia hendak menolong seseorang yang dibenci ribuan orang di dalam stadion. Ia hendak menolong The Jakmania. Dan ia tewas karena itu.

Memadamkan kebencian tidak lebih mudah dari ketika kita mulai menjalarkannya. Kebencian yang kita bina selama enam belas tahun ini telah menghasilkan tindakan-tindakan di luar kemanusiaan yang menjengkelkan, melahirkan kesedihan demi kesedihan yang memilukan.

Kita tidak bisa sekadar mengucapkan “Ricko harus jadi korban terakhir! Jangan ada lagi korban setelah ini!” atau ungkapan-ungkapan belasungkawa ala kadarnya. Tidak! Tidak bisa hanya begitu. Kita harus dengan keras melawan kebencian itu. Kita harus lebih keras dari usaha-usaha sebelumnya. Bukan hanya perdamaian yang harus kita usung, tetapi juga mengembalikan sepakbola dan perhubungan Viking-The Jakmania sebagai sesuatu yang layak dan wajar bagi kemanusiaan. Kita harus membangun kewajaran dalam sepakbola kita, menata sepakbola yang memberikan semangat kepada sebanyak mungkin orang. Bukan sebuah sepakbola yang mengorbankan nyawa demi nyawa.

Kita bukan hanya harus berhenti menyebarkan permusuhan tetapi juga melawan kebencian dengan sekeras-kerasnya. Ricko telah melakukanya, melawan kebencian itu dengan sekeras-kerasnya, dengan seluruh keberanian, martabat dan kehormatannya sebagai manusia.

Hari ini ada, jutaan anak-anak seusia Ricko enam belas tahun lalu sedang belajar menendang bola. Ibu Bapak mereka membelikan baju Persija, baju Persib. Anak-anak 5 -- 6 tahunan itu mulai memakainya. Mereka sedang belajar membangun kebanggaan. Kebanggaan akan kesebelasannya, akan kotanya, akan keberadaan dirinya.

Saya berjanji, kelak akan membelikan anak saya baju Persib dan mengajarkan kepadanya kebanggaan terhadap kesebelasan ini. Saya percaya saudara-saudara The Jakmania juga akan membelikan baju Persija untuk anak-anak mereka.

Jangan biarkan anak-anak ini, anak-anak kita, saling membunuh di suatu hari kelak.

Hentikan permusuhan ini.


Tulisan Terkait (Edisi Terkini)

IKLAN BARIS