• Ikuti kami :

Mencari Rumah di Jakarta

Dipublikasikan Selasa, 24 Januari 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Ini Jakarta, semua-semua serbamahal. Umumnya kita tahu hal itu. Khususnya dalam mencari rumah untuk tempat tinggal. Harga tanah saat ini yang dua kali langit, tentu menunjang harga harga total sebuah rumah di bilangan Jakarta dan sekitarnya. Lantas bagaimana kalau kantong kita pas-pasan? Itu masalah.

Kebutuhan akan tempat tinggal bagi manusia bisa dikatakan sebuah kepastian. Karena itu, rumah, tanah, atau bentuk tempat tinggal lainnya akan menjadi barang rebutan. Dan bagi pihak-pihak tertentu hal ini dipahami sebagai potensi yang dapat meraup untung sebesar-besarnya. Apalagi jika diiringi dengan beragam fasilitas yang dapat memanjakan calon penghuni dan pemilik rumah. Singkatnya, harga akan menjadi tinggi tak terkendali. Masya Allah.

Di beberapa televisi swasta, biasanya saat akhir pekan, acara khusus yang menjajakan perumahan menjadi agenda tetap mingguan. Beragam bujuk rayu si pembawa acara menawarkan tempat-tempat hunian yang menggiurkan, kalau tidak ingat bahwa harganya itu mahal sekali. Tawaran-tawaran dekat dengan pintu tol kota, pemandangan tepi pantai, sarana bermain dan berolahraga yang luas, pusat-pusat perbelanjaan yang mewah, dan lain-lain berentet keluar dari bibir merah mungil sang pembawa acara. “Buruan, deh. Persediaan terbatas, lho …,” mantra pembawa acara yang memacu adrenalin untuk membeli dan membeli. Bisa-bisa kalap. Itu untuk kalangan yang berduit lumayan.

Di kota yang sama, di sudut lain, ada orang-orang yang berkeliling untuk mencari sewaan tempat tinggal. Harga yang cocok dengan kantong itu menjadi masalah agaknya. Kalau ada harga yang ramah dengan isi dompet, biasanya akan disertai dengan “sudah di-depe” oleh penjaga atau pemilik rumah. Maka berkelilinglah lagi itu calon penyewa rumah untuk mencari yang lainnya. Mudah-mudahan bisa dapat. Agak mahal tak apalah.

Di bilangan utara sebuah kota metropolitan, ibu kota negara ini, bertebaran kompleks-kompleks perumahan mewah yang besar-besar, mulai dari model cluster hingga city block. Tampak lengang, sebagian saja terisi penghuni. Menjadi kontras mengingat ada sebagian warga kota yang harus keluar-masuk gang-gang di sudut-sudut kota demi mendapatkan sebuah tempat hunian. Ini aneh. Keanehan ini hadir dalam masa-masa kontemporer ini.

Ternyata, bukan saat ini saja hal itu terjadi. Zaman pemerintahan yang semangat-semangatnya ber-Nefo, ber-Nasakom, dan ber-Marhaen-Marhaen-an, juga terjadi fenomena yang mirip dengan saat ini. Curahan hati seorang Thio Teek Hian yang dituangkannya dalam majalah Sunday Courier, 5 juni,1955, no. 23 hal 31—32 menunjukkan persoalan harga rumah yang selangit akibat permainan pebisnis-pebisnis yang kurang empati kepada masyarakat itu memang nyata, dan sudah sedari dulu nyata.   

 

Mencari Rumah di Jakarta   

        
Oleh: Thio Teek Hian

Sumber: Sunday Courier, 5 juni,1955, no. 23 hal 31—32

Sesungguhnya aku malu hati untuk menceritakan kepada pembaca mengenai suatu hal yang bersangkut paut dengan kepala karangan ini; sebab itu berarti hanya menunjukkan pada lingkungan ketololan dan ketidakbecusan aku dalam usahanya mencari rumah. Tetapi setelah aku dapat lihat bahwa manusia-manusia yang senasib dengan aku itu besar jumlahnya dan merata di mana-mana, berarti persoalannya kini sudah bersifat umum maka perasaan malu-malu kucingku itu akhirnya teredamku sendiri.

Dan baiklah aku mulia kisahnya itu sebagai berikut:

Aku berasal dari Jawa Tengah dan datang di Jakarta kira-kira lima tahun jalan. Tujuanku ialah sekadar untuk mencari “isi perut” sebagai manusia-manusia lainnya. Jadi legal dan lazim. Karena pada masa itu aku masih tergolong “joko tingting”, artinya belum beristri, maka selama periode itu aku masuk kost dan telah berpindah berkali-kali sampai akhirnya aku berhasil menemukan sebuah kost yang cocok dengan keinginanku yang terletak di lingkungan Tanah Abang. Sudah barang tentu bahwa di sini semuanya serbaterawat baik begitu rupa, sehingga aku merasakan seolah-olah tinggal dalam rumahnya sendiri.

Memang benar, bahwa sedianya aku berhasrat hendak menyewa sebuah rumah sekalipun serbakecil, sederhana, dan terbuat dari bilik, tapi astaghfirullah, bahwa untuk rumah yang sejenis itu pun aku tak sanggup menyewanya maklumlah sebab “uang kuncinya” saja sudah cukup membikin pusing dan pening kepala peminat, sedangkan aku bukan tergolong pegawai tinggi dengan gaji yang “tinggi” pula, jadinya aku mundur teratur. Lagi pula, seperti aku katakan di atas, bahwa aku toh belum beristri, masih sebatang kara, bebas, jadi persoalan “rumah” ini untuk sementara aku tangguhkan.

Tapi ternyata, bahwa lembah kehidupan manusia itu tidak selalu mendatar sebagai yang diduganya semula, melainkan sangat berliku-liku dan berjurang; sebab statusku sebagai “joko tingting” ternyata tak dapat dipertahankan lebih lama lagi, dan sementara itu aku telah dapat jodoh dari keluarga sedang saja. Kutambahkan dengan kalimat “sedang” di belakangnya sebagai penjelasan bahwa rumah tangga yang setingkat dengan ini biasanya tidak memiliki rumah yang cukup besar, dan dengan sendirinya kamarnya pun idem ditto. Ya, kalau andai kata aku beristrikan putrinya pemilik hotel, maka persoalan “rumah” ini lantas dapat diatasi. Tapi karena menurut falsafah yang benar mengatakan bahwa pernikahan tidak boleh dititikberatkan kepada segi kebendaan (materialistis) melainkan dengan adanya perpaduan hati dan cinta kasih mesra yang harmonis dari kedua sejoli itulah yang menentukan, maka bagiku perumpamaan yang akhir ini tidak menarik perhatian.

Dalam hubungan ini kalau boleh kumenyitir ucapan emas Presiden Soekarno yang antara lain mengatakan, bahwa kalau kita (bangsa Indonesia) harus mendapatkan dahulu syarat-syaratnya baru bisa merdeka, maka kapankah kita bisa merdeka? Sebab justru syarat-syarat itu barulah bisa didapat setelah bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya! Demikian presiden. Jiwa daripada rentetan kalimat ini rasanya tepat benar kalau dirumuskan menjadi begini: yah, kalau aku harus mendapatkan dahulu syarat-syaratnya (yaitu perumahan) baru bisa menikah maka kapankah aku bisa menikah? Berdasarkan pada dalil inilah maka walaupun syarat-syarat yang dimaksudkan itu belum kupenuhi, khususnya mengenai soal perumahan, tapi akhirnya kita menikah jua untuk sementara aku bonceng pada pihak istriku.

Memang sudah menjadi watakku sejak dahulu kala ingin mempunyai rumah tangga sendiri (tentu rumah sewa), maka semenjak aku beristri senantiasa memikirkan segi ini sungguh-sungguh.

Tapi sangat tidak diduga-duga bahwa usahaku itu banyak menjumpai kesulitan-kesulitan praktis, sebagai akibat dari timbulnya “mode” baru yang berlaku dalam masyarakat Jakarta, yaitu bahwa untuk mendapatkan rumah, betapa pun kecilnya, yang menentukan bukanlah faktor benar-benar kebutuhan seseorang akan rumah itu melainkan bergantung dari besar/tebalnya “uang kunci” itulah sebagai dasar mutlak! Oleh sebab itu tidak jarang kita menjumpai adegan-adegan yang saling bertentangan; di satu pihak bisa memiliki sampai dua, tiga buah rumah tetapi di pihak lain bagaikan menantikan embun di siang hari. Dan, kalau di antara para pembaca ada yang bertanya lalu berapa besarnya “uang kunci” itu,  maka jawabnya singkat saja tapi cukup seram, “Ribuan dah!” Lucunya, seperti yang tersimpul di dalam kalimatnya, maka yang dimaksudkan dengan “uang kunci” ialah biaya untuk mendiami rumah—jadi uang masuknya saja—sedangkan rumahnya tetap sewa, jadi bukan pemiliknya. Betapakah pincangnya keadaan masyarakat Jakarta dewasa ini!!

Dengan sendirinya “mode” tadi banyak menimbulkan kesulitan baru bagiku dalam banyak hal benar-benar merupakan … momok! walaupun demikian, namun aku tetap bertekad … mencari rumah.

Sebagai langkah pertama dan untuk mempercepat prosesnya, pikirku, sebab untuk menabung uang sebanyak ribuan bagiku niscaya hanya merupakan khayal belaka, maka kita berdua akhirnya bersepakat menjual sebagian barang-barang yang termasuk “sekunder” dan mempunyai harga Rp 5.350 setelah uang tersebut aku terima, maka hatiku agak lega walaupun jumlah itu masih jauh dari mencukupi. Patut pula ditambahkan bahwa seumur hidupku barulah kali ini pernah memegang uang juga sebanyak itu!

Dan sementara itu aku telah meminta bantuan dari beberapa kawan-kawan supaya mereka itu ikut memasang telinganya kalau-kalau ada “bilik” yang akan dioperkan dengan harga “murah”; sebab harapanku dengan jalan ini pasti tidak akan dicatut.

Sejak saat itu, maka saban sore sepulangku dari pekerjaan selalu sibuk mengadakan kontak kepada kawan-kawanku itu untuk menanyakan betapakah hasilnya. Tapi jelas, bahwa mereka selalu jawab, “Ah, belum ada,” “Masih kosong saja,” dan sebagainya yang menjemukan itu. Dan kalaupun suatu ketika mendapatkan berita “ada”, kemudian dengan hati berdebar-debar kutanyakan berapa uang kuncinya, maka terdengarlah jawabnya yang seakan memetir dan memekakkan “hanya … 14 ribu!” Ya, kembali roman mukaku mengerut-ngerut sambil meninggalkan kawan tadi dengan tanpa memberi komentar lagi.

Empat bulan telah berlalu dengan tenangnya, tapi aku masih tetap membonceng pada mertuaku, walaupun usahaku itu tidak pernah kendor sedikit pun. Lalu apa daya?

Tiba-tiba perhatianku beralih pada iklan-iklan dalam surat-surat kabar yang terbit di Jakarta. Sejak itu, aku yang biasanya kurang rajin membaca koran memaksa aku harus membaca. Tapi yang dibaca bukanlah beritanya sebagai orang-orang besar lainnya! Benar jua, bahwa hampir setiap hari selalu ada rumah-rumah yang akan dioperkan atau dijual, hanya kebanyakan tidak tertera berapa harganya melainkan harus berhubungan melalui surat-menyurat. Sudah barang tentu prosedur ini sangat merepotkan aku; sebab bukan saja aku kurang mahir berkorespondensi, bahkan juga paling segan, lagi pula alat-alatnya tidak lengkap. Tapi karena hasrat untuk mendapatkan rumah cukup besar, maka aku harus mengalah.

Buru-buru aku beli pena, tinta, sampul, kertas tulis, dan perangkonya. Ternyata bahwa untuk menyelesaikan ini saja sudah memakan waktu hampir setengah hari, sebab semuanya harus antre dan cari-mencari.

Di atas meja tulisku (sesungguhnya meja makan) yang penuh berserakan potongan-potongan iklan dan kertas tulis itu seolah-olah memberikan kesan bahwa aku dalam kesibukan yang luar biasa, padahal hanya akan menyelesaikan beberapa surat tadi, tapi sangat terasa kesulitannya. Maklumlah, sebab aku memang kurang pandai dalam segi ini. Untungnya, berkat bantuan yang tulus ikhlas dari istriku, akhirnya dapat menyelesaikan empat surat sekaligus pada malam itu juga. Setelah kububuhi prangkonya, segera kuposkan langsung ke Kantor Pos Pasar Baru dengan harapan agar lebih cepat diterimakan kepada yang bersangkutan. Lalu dengan hati berdebar-debar kita menantikan kabar ….

Seminggu telah lewat, namun belum juga datang jawaban. Sepuluh hari, sebelas, sampai dua puluh hari idem ditto. Tentu saja kita mulai gelisah dan perasaan optimismenya yang semula bernyala-nyala itu kini menjadi lumer. Pikirku, mungkinkah keempat surat itu tidak sampai kepada alamat mereka, tapi herannya mengapa tiada pengiriman kembali? Dan kalau andai kata sudah diterima mengapa tidak dijawab? Atau barangkali mereka tidak mengerti apa yang kumaksudkan sebab maklumlah, bahwa surat-menyurat pun ada tekniknya jua, bukan? Untuk menghemat waktu, pikirku lagi, maka kita tidak lagi mengharapkan balasan dari keempat surat itu.

Ternyata, bahwa empat bulan setelah itu, benar-benar tiada sepucuk surat pun yang datang kecuali sepucuk warkat pos dari nenekku menanyakan hal rumah. Ini pun belum sempat kujawab, sebab yang ditanyakan justru masih terkatung-katung persoalannya.

Sembilan bulan telah lewat, dan aku masih tetap mondok.

Pikirku, kalau demikian naga-naganya, mungkin tak akan beres walau 100 tahun lagi. Langkah selanjutnya sebagai perbaikan—pikirku—aku merubah pendirianku yang semula yang selalu menghindari dari “harga catut” dan kini aku telah mengadakan kontak dengan beberapa kantor makelar rumah. Aku maklum, bahwa jalan ini tentu akan lebih mahal. Tapi asal saja jangan sampai dicekik mentah-mentah, kurela. Memutuskan.

Sungguh membikin aku terperanjat seketika itu juga, ketika aku dipersilakan duduk oleh bung makelarnya pada hari berikutnya seraya menyodorkan kepadaku beberapa lembar daftar rumah-rumah yang dimaksud, yang berjumlah puluhan rumah itu. Pikirku, yah, aku telah sia-siakan watu sembilan bulan lamanya dengan tanpa hasil apa-apa, sebuah rumah pun tak berhasil menjumpakannya. Tapi di sini, bagaikan orang menjual buah, apakah gerangan? Dan setelah daftar tadi kubalik-balik lembarannya dengan penuh minat dan harapan, tiba-tiba … astaga, untuk kedua kalinya aku dikejutkan, dan kali ini bukanlah karena banyaknya daftar rumah itu yang membikin aku terheran-heran, melainkan … harganya! Sepuluh ribu, lima belas ribu, dua puluh dua ribu, bahkan ada yang sampai empat puluh lima ribu! Dan jumlah yang ribuan ini ialah sebagai “uang kunci” belaka jadi uang masuknya, sedangkan rumahnya tetap sewa.

Kepalaku makin pening dan hatiku pun makin mendongkol ketika aku mendapat “hiburan” dari bung makelarnya yang antara lain katanya: “jangan ragu-ragu, Bung, harga ini sudah cukup pantas dan murah, zaman sekarang buat apa simpan uang banyak-banyak, kan lebih baik dioperkan rumah saja!” Seakan-akan aku ini dianggapnya sebagai orang hartawan. Aku tak menjawab, hanya mengerlingkan mataku yang lebar itu ke arah matanya bung makelar yang sipit, hingga merupakan perpaduan yang kontras. Pada saat itu mulutku benar-benar terpaku erat-erat dan segan untuk berkata-kata. Melihat sikapku yang ganjil ini, maka bung makelar itu akhirnya berterus terang kepadaku, dan katanya lagi dengan sopannya: “Dan di samping ini, masih harus ditambahkan lagi dengan 5% untuk saya.” Kalimat yang akhir ini benar-benar membikin aku knock out dan dalam keadaan terhuyung-huyung aku meninggalkan bung makelar yang “baik budi” itu dengan tidak berkata apa-apa, sebab alam pikiran aku telah diliputi oleh uapnya angka-angka bilangan ribu itu.

Ternyata rumah-rumah yang mau disewakan memang banyak, kalau tidak hendak dikatakan berlimpah-limpah. Hanya karena dalam masyarakat Jakarta sekarang ini “rumah” telah dijadikan barang dagang yang bisa mendatangkan rezeki dan rahmat secara kilat dan geruisloos, maka dengan sendirinya dalam hal ini yang berbicara ialah “uang”. Mudah dimengerti, dan bagi manusia-manusia yang kantongnya tidak padat, sebagai aku ini, segala usahanya untuk mendapatkan rumah itu pasti akan sia-sia saja!!

Yah, entah berapa lama lagi aku harus bonceng ….

            
Epilog

Bisnis hunian memang menggiurkan. Ia tidak akan sepi dari pasar karena ini bagian dari kebutuhan pokok manusia. karena menggiurkan, berpotensi ekonomi besar, beberapa oknum pelaku bisnis ini berusaha memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi. Masyarakat, mau tidak mau akan bersedia dan berusaha sekuatnya untuk menggelontorkan sejumlah uang yang tidak kecil jumlahnya demi sebuah tempat berteduh.

Pernah zaman Orde Baru membuatkan Bank Tabungan Negara, salah satu fungsinya adalah memberikan kredit perumahan untuk rakyat. Namun, tetap saja masih banyak yang susah membeli rumah hingga saat ini.

Kalaulah dahulu, mungkin cukong-cukong yang menguasai akses kepemilikan rumah sehingga rumah sulit dijangkau oleh rakyat kebanyakan. Kalau sekarang, developer yang menggantikan peran para cukong. Perannya di mata masyarakat kebanyakan, sama: bikin harga rumah selangit.

Soal jual-beli, sewa-menyewa hunian ini, ada jurang antara kaum berada dengan masyarakat ekonomi kecil. Ini menjadi masalah menahun, bahkan puluh tahun. Kita butuh rumah tinggal yang sehat, dan layak bagi kemanusiaan kita dengan harga terjangkau.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS