• Ikuti kami :

Mencari Jejak Cahaya, Menelusuri Air Mata: Novel Sejarah dalam Kepungan Kisah Cinta

Dipublikasikan Ahad, 17 September 2017 dalam rubrik  Peristiwa

Akhir-akhir ini, novel Islami cenderung didominasi oleh kisah-kisah percintaan anak manusia. Sebut saja novel sekuel Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman El Shirazy masih bercerita seputar Fahri dan Aisha. Begitu pun Cinta di Ujung Sajadah karya Asma Nadia, meskipun novel ini berkisah tentang pencarian seorang anak akan sosok ibu, tetapi kita tetap memperoleh kisah percintaan yang kental antara Cinta dan Makky. Tidak begitu berbeda dari novel Tuhan Maha Romantis dari Azhar Nurun Ala yang mengangkat kisah romantis antara Rizal Rafsanjani dan kakak angkatannya di kampus, Annisa Larasaty, novel Pasir Pun Enggan Berbisik karya Taufiqurrahman Al Azizy pun merupakan cerita tragedi percintaan antara Agus dengan Reni. Keempat novel ini diterbitkan di tahun 2015 dan tiga diantaranya menjadi best seller.

Kita mengenal Habiburahman El Shirazy, Asma Nadia, dan Taufiqurrahman Al Azizy sebagai penulis novel yang beberapa karyanya diangkat ke layar lebar dan menjadi box office. Pembaca novel-novel mereka jumlahnya tidak sedikit, dan ini tentu pasar yang menjanjikan bagi industri perfilman. Kita pun tak memungkiri bahwa dalam kisah-kisah rekaan mereka ini terdapat pula nilai agama, moral, dan dorongan untuk senantiasa dekat serta berserah kepada Tuhan. Akan tetapi kita juga dapat menilai, cerita-cerita cinta selalu kental dalam novel-novel Islami yang banyak beredar. Novel semacam ini memang laku dan banyak digemari para pembaca. Tema-tema lain seolah tak mampu menarik pembaca dan penting untuk diangkat.

Di tengah arus utama yang demikian, Ahad (10/9/2017) peluncuran novel Jejak Cahaya dan Airmata karya Nexhma Sheera dilangsungkan di Gedung Rabithah Alawiyah, Jakarta Selatan. Novel sejarah perjuangan muslim Andalusia ini diluncurkan dengan format seminar sehari yang bertemakan Ilmu dan Peradaban. Acara ini menghadirkan lima orang pembicara dan terlaksana berkat kerjasama antara Ma’had ‘Aly Hujjatul Islam, Yayasan Adab Insan Mulia, Rabithah Alawiyah, serta NuuN id.

Pada seminar Sekretaris Umum Rabithah Alawiyah, Dr. Husin Alatas, memberikan pengantar singkat. Dalam sambutannya, Lektor Fisika Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengingatkan seluruh peserta mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam yang penting untuk diangkat dan diteruskan kembali oleh generasi kini.

Pembicara pertama dalam seminar dan peluncuran buku ini, Dr. Alwi Alatas mengatakan baru kali ini mengikuti peluncuran novel yang dilakukan seserius ini. Bagaimana tidak, acara ini dilaksanakan dalam format seminar sejak pukul 09.00 -  15.30 dengan dua sesi dan lima orang pembicara. Pada sesi pertama, dihadirkan tiga orang doktor, yakni Dr. Alwi Alatas, Dr. Wido Supraha, dan Dr. Dinar Dewi Kania. Sesi ini secara khusus membahas latar sejarah dari novel Jejak Cahaya dan Air Mata, yakni kejayaan Islam di masa lalu dan transmisi ilmu dari Islam ke Barat di abad pertengahan. Sementara itu Dr. Wido Supraha secara khusus mengulas persoalan pendidikan sains di Indonesia dan urgensi pengajaran sejarah sains di sekolah-sekolah.

Pada sesi kedua yang dilaksanakan mulai pukul 13.15 – 15.30, hadir dua pembicara muda yang giat dalam dakwah Islam, Muhammad Ardiansyah (pengasuh Pondok Pesantren Shou Lin at-Taqwa, Depok) dan Tri Shubhi Abdillah (Pemimpin Redaksi NuuN.id). Keduanya menyoal tentang bahasa dan peradaban. Jika Muhammad Ardiansyah berbicara tentang pentingnya Bahasa Arab dalam ilmu dan peradaban Islam, Shubhi Abdillah membahas kekeliruan pandang mengenai sastra, fungsinya bagi jiwa dan ditutup dengan ulasan ringkas novel Jejak Cahaya dan Air Mata.

Dr. Wido Supraha, ketua panitia kegiatan ini, menyatakan harapannya agar acara ini dapat memberi dampak yang positif.  “Kami melaksanakan kegiatan seminar sehari dan launching novel dari Ibu Nexhma Sheera yang berjudul Jejak Cahaya dan Airmata, dengan mengundang 5 pembicara karena tema dalam novel ini penting untuk membangkitkan kesadaran kaum muslimin. Umat Islam perlu didorong untuk kembali membongkar khazanah intelektual yang melimpah ruah. Ada catatan sejarah besar yang tertutupi mengenai kontribusi para ulama di masa lalu dalam ilmu pengetahuan dan tidak diangkat secara luas,” terang Dr. Wido.

Doktor dari UIKA Bogor dan pendiri Yayasan Adab Insan Mulia ini amat menekankan ketidakjujuran dalam narasi sejarah yang populer saat ini mengenai abad kegelapan di Eropa. Karena pada saat Eropa dilingkupi kegelapan, khususnya Eropa Barat, umat Islam justru sedang mencapai kegemilangan. “Sejarah adalah bentuk sains dari sains yang mudah menjadi alat propaganda untuk tujuan tertentu. Kami berharap seluruh peserta terbuka cara pandangnya untuk berkeinginan membangun sinergi bersama.  Kita bangun kembali peradaban Islam di atas cara pandang yang utuh dan benar terhadap sejarah pada khususnya,” imbuhnya.

Penulis novel ini merupakan doktor bidang pemikiran dari UIKA Bogor. Tidak mengherankan Nexhma Sheera alias Dr. Dinar Dewi Kania membuat peluncuran novelnya dalam bentuk seminar sehari. “Banyak hal yang mendorong saya menulis novel ini, terutama karena saya suka menulis novel dan merasa bisa berbagi ilmu ke berbagai kalangan melalui cara ini, menulis novel,” jelasnya sambil tersenyum. Dr. Dinar Dewi Kania tercatat sebagai seorang dosen di Universitas Trisakti dan STID Mohammad Natsir. Di STID Mohammad Natsir ia mengampu mata kuliah Sejarah Pemikiran Barat dan Seajrah Peradaban Islam. Selain itu, ia pun telah menerbitkan 12 jurnal dan 14 artikel di beberapa media. “Kalau artikel dan jurnal pemikiran, pembacanya terbatas, yang faham juga terbatas. Sementara kalau menulis novel lebih cair dan dapat secara langsung memberi motivasi, juga melembutkan hati pembaca dan penulisnya,” tambah Dr. Dinar.

Ibu tiga orang putri ini telah menerbitkan empat buku, dua diantaranya novel yang berlatar belakang peradaban. Ia mengaku menulis novel juga dimaksudkan agar persoalan-persoalan dalam pemikiran Islam juga bisa menyentuh banyak kalangan. “Sayang sekali, novel-novel Indonesia saat ini temanya kurang membangun, malah banyak juga yang "menyesatkan", padahal novel itu dikonsumsi mayoritas remaja dan anak muda. Saya memilih jalur menulis novel ini, karena untuk ceramah atau berbicara di depan remaja, saya akui kurang mampu. Kalau lewat novel, mudah-mudahan pemikiran saya tidak hanya bisa dipahami dan dikonsumsi anak-anak dan remaja, tapi juga ibu-ibu,” lanjut doktor kita ini.

Salah seorang peserta yang cukup antusias mengikuti jalannya acara, Azrul Fajri, seorang karyawan swasta yang menggemari sirah Nabi, sejarah, dan pemikiran Islam, menganggap acara ini memberinya informasi dan hal-hal baru. “Saya datang ke acara ini karena punya ketertarikan besar pada sirah, sejarah dan pemikiran Islam. Kegiatan ini sangat membantu dan informatif. Ada hal-hal baru yang saya peroleh dan beberapa perlu saya didalami.”

Tidak cukup sampai di situ, Saudara Azrul melihat bahwa umat Islam harus serius membangkitkan lagi peradaban Islam. Apalagi sekarang ini ia melihat sangat sedikit umat Islam yang peduli dan serius pada persoalan pemikiran dan sejarah. “Saya bahkan terfikir kita harus punya strategi atau roadmap agar umat Islam kembali membangkitkan kejayaannya di semua bidang ilmu, khususnya eksakta. Hal ini tentu butuh kerjasama antara berbagai kalangan, akademisi kampus, praktisi, korporasi, dan pemerintah. Saya percaya dalam umat ini banyak kalangan yang punya energi besar tapi tidak pernah berkumpul. Sehingga gerakan dan strategi ke arah kemajuan cenderung sporadis. Kita perlu ada organisasi yang mempertemukan banyak potensi untuk mengerjakan proyek-proyek tertentu. Misalnya yang disampaikan Dr. Wido untuk membuat materi ajar sains bagi anak sekolah. Hal semacam ini penting sekali untuk segera dikerjakan,” imbuhnya.

Dari peserta perempuan, kami menemui Saudari Jumiatun Diniyah dari Depok yang saat ini menjadi sekretaris Yayasan Peduli Sahabat. Ketertarikannya menghadiri acara ini disebabkan oleh upayanya yang tengah mengkaji Islamic Worlview dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, “Saya tahu kegiatan ini dari media sosial dan tertarik untuk ikut karena masih ada kaitannya dengan Islamic worldview. Selain itu saya sedang mencoba menyukai sejarah. Saya ingin tahu sejarah, tapi kalau baca buku sejarah kan berat. Nah, novel ini basic-nya sejarah, tentang sejarah Islam Andalusia, zaman kejayaan Islam. Jadi buat saya penting juga.”

Selain ketertarikannya untuk belajar Islamic worldview dan sejarah lebih banyak lagi, dari kegiatan ini, Saudari Jumiatun mendapat pandangan baru mengenai sastra. “Dulu saya tidak suka sastra, selama ini pengetahuan saya tereduksi bahwa sastra itu menye-menye, membuat kegundahan dan kegalauan. Tapi sekarang saya lebih terbuka, sastra penting untuk melatih kepekaan, ada cita rasa dan budi pekerti yang mempengaruhi diri kita. Ini penting sekali sebab, bagaimana mau membangun peradaban kalau tidak ada pengayaan sastra. Penting untuk mengubah paradigma tentang sastra. Saya sendiri semakin tertarik belajar sastra.”  

Peserta lain Saudari Afina, alumnus Psikologi UI yang kini tinggal di daerah Bojongkulur, Gunung Putri menyatakan: “Awalnya agak berat untuk hadir karena jauh dari tempat tinggal dan biayanya lumayan. Tapi sekarang ini pekerjaan saya mengurus coding mobile application, teknis banget. Jadi kangen sudah lama tidak ikut kajian seperti KFA (Kuliah Filasafat yang diampu Ustadz Adnin Armas). Mau ke INSISTS juga sama jauhnya. Saya merindukan belajar hal-hal yang konseptual begini. Alhamdulillah, rindu terobati sekali dan tidak menyesal dengan biaya yang harus dibayarkan.”

Dari bahasan-bahasan yang sudah lama tidak diikuti oleh Saudari Afina ini, sesi kedua acara ini mengingatkannya pada masa kecilnya yang gemar menulis, “Dulu waktu masih kecil, saya suka nulis dan ingin jadi penulis. Setelah dewasa, dengan cara fikir yang semakin kompleks, saya bertanya-tanya, memang apa gunanya sastra, apa manfaatnya, apa hanya untuk menuh-menuhin toko buku dan membuat orang terlena dari hal yang lebih penting. Sekarang sudah engga sering nulis. Tapi ternyata sastra bisa berguna jika dituangkan dengan cara yang benar dan nafas yang tepat. Menulis bukan hanya untuk melampiaskan emosi. Menulis juga bukan untuk sekadar menerbitkan buku atau dikenal banyak orang. Niat dan alasan menulis juga harus kuat.”

Acara ini ditutup pada pukul 15.30 setelah diskusi yang cukup hangat di sesi kedua. Meskipun ada beberapa peserta yang memilih untuk pulang sebelum acara berakhir, secara umum seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan serius dan antusias. Semoga kelak akan lebih banyak lagi novel-novel Islami yang mengangkat tema peradaban dan kesadaran literasi umat Islam pun bertambah tinggi seiring berjalannya waktu.


Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS